
"Mau pilih yang mana? Kalau kredit harus plus bunga, kalau tunai minimal 2 jam lah ya," goda Leon menopangkan dagu di bahu Khansa.
Khansa menutup wajah dengan kedua tangannya. "Kenapa pilihannya berat semua," serunya dengan wajah memerah.
"Mana ada berat, yang ada bikin kamu ketagihan. Ya nggak?" Leon menaik turunkan kedua alisnya.
Khansa menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan senyumnya, melirik sang suami yang sudah memasang wajah mesumnya. Leon benar-benar menjadi sosok yang berbeda jika sedang bersamanya.
Tanpa berkata lagi, Leon merebahkan tubuh istrinya. Memulai setiap sentuhan dan cumbuan, memancing hasrat yang sempat tertahan. Menyatu dalam gelora cinta yang selalu membara.
Pagi yang sempurna untuk memulai hari yang indah. Leon terus memacu di atas tubuh Khansa, menghadirkan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Racauan dan ******* menggema di setiap sudut kamar. Menjadi saksi penyatuan pasangan pengantin lama namun masih terasa baru itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa masih merasa lemas dan gemetar di kedua lututnya. Napasnya juga masih memburu usai pelepasan berkali-kali setelah satu jam berlayar mengarungi samudera kenikmatan bersama Leon.
"Ayo! Keburu siang!" ajak Leon usai keduanya membersihkan diri dan bersiap.
"Gendong," rengek Khansa mengulurkan kedua tangannya. Bukan karena manja, tapi memang kedua kakinya seperti tidak bisa berdiri tegap. Rasanya masih melayang di udara.
Leon yang baru selesai mengikat tali sepatunya segera mendongak. Ia mengerutkan dahinya sembari tersenyum. Cukup terkejut dengan sikap Khansa yang tiba-tiba manja seperti itu. "Mau di depan apa belakang?" tawarnya berjalan menghampiri Khansa yang masih duduk di tepi ranjang.
"Belakang aja," sahut Khansa tersenyum lebar.
Leon segera berjongkok di depan Khansa. Melihat kaki Khansa masih telanjang, tangannya dengan sigap meraih sepatu dan memakaikannya. Khansa terkesima, apa pun yang dilakukan Leon selalu menyentuh hatinya. Senyum tak pudar dari bibir tipisnya.
"Terima kasih, suamiku!" ucap Khansa dengan tatapan tulus.
Leon menengadahkan pandangannya setelah selesai mengenakan flat shoes pada kedua kaki Khansa. "Sama-sama, Sayang. Bunganya ditunggu ya!" celetuk Leon beranjak sembari mencium kening Khansa.
"Kok pakai bunga? Kan udah kontan bayarnya," cebik Khansa.
"Oh, salah ya. Berarti ditunggu kontan-kontan berikutnya," goda Leon kembali berjongkok membelakangi Khansa.
Khansa tertawa sembari menggeleng, dia masih belum bisa mengimbangi gejolak suaminya yang begitu ganas. "Dasar mesum," cetus Khansa melompat pada punggung sang suami. Melingkarkan kedua lengan di leher pria itu.
__ADS_1
"Tapi suka 'kan?" tanya Leon menangkup pantat Khansa dengan satu tangannya, tangan lainnya menyampar sebuah paper bag lalu berjalan keluar.
"Iya sih, hahaha!" Tawa keduanya menyembur begitu saja.
Mobil sewaan beserta sang sopir sudah bersiap menunggu kedatangan mereka di loby. Seketika para karyawan resort turut merasakan kebahagiaan mereka berdua.
Sopir tersebut bergegas membukakan pintu penumpang saat melihat Leon dan Khansa dari kejauhan. Ia tersenyum sambil membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapanya.
Seketika Khansa memaksa ingin turun. Terlalu asyik mengobrol dengan suaminya, ia sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Leon justru semakin mengeratkan gendongannya.
"Pagi juga, Paman," sapa Leon balik mendudukkan Khansa di kursi.
"Kenapa? Berat tahu kalau gerak-gerak gitu," ucap Leon setelah duduk di sebelahnya.
Khansa menutup rapat wajahnya, "Malu," ucapnya dengan suara lirih.
Leon terkekeh melihatnya lalu memeluk Khansa dengan erat, menyembunyikan wajah cantik sang istri dalam dekapannya. Tak berapa lama, mereka telah sampai di salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di Bali.
"Lepas aja sepatunya, kita main air!" pinta Leon sebelum turun dari mobil.
"Oke!"
"Leon, ngapain?" ucap Khansa berdiri di depannya.
Pria itu mendongak, "Kan mau gendong kamu," sahutnya berdiri.
"Enggak ah, malu banyak orang," elaknya meraih lengan Leon, melingkarkan tangannya dengan erat.
Leon tersenyum sembari mengacak rambut Khansa. Keduanya berjalan menyusuri pasir putih sesekali kaki mereka diterjang ombak. Tiba-tiba Leon melepaskan lilitan tangan Khansa.
"Tunggu di sini bentar," ucapnya berlari meninggalkan Khansa.
Perempuan itu menurut, ia asyik menikmati pemandangan pantai yang sangat jarang ia temui. Berisiknya ombak, namun desir angin begitu menenangkan.
"Pakai ini dulu ya," ucap Leon meregangkan lengan Khansa, mengenakan pelampung.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Khansa terkejut saat tiba-tiba Leon muncul di belakangnya.
"Udah ikut aja," sahut pria itu singkat, berputar untuk memasang kancing pelampung tersebut hingga melekat di tubuh Khansa.
Gadis itu mencebikkan bibirnya, namun tetap menyambut tangan Leon dan menyamakan langkah pria itu. Pasangan itu cukup menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Setiap langkahnya selalu ada beberapa pasang mata yang menatap kagum. Khansa mencoba mengabaikannya, belajar dari Leon yang terus melangkah dan menatap ke depan.
"Kita mau naik ini?" tanya Khansa saat langkah mereka terhenti tepat di samping jetski.
Leon menoleh, menganggukkan kepala sambil tersenyum. Khansa tampak sangat antusias. Leon segera menaikinya dan menyalakan mesin tersebut.
"Naik!" ucap Leon mengedikkan kepala.
Tanpa menunggu lama, Khansa segera duduk di belakang Leon. Kendaraan laut itu segera dilajukan oleh Leon. "Sa! Pegangan yang erat!" teriak Leon menoleh, suaranya teredam suara mesin.
"Iya!" balas Khansa juga berteriak. Tubuhnnya semakin merapat pada punggung Leon. Kepalanya bersandar dengan lengan yang melingkar erat di perut suaminya.
Leon menaikkan kecepatannya, gerakannya meliuk-liuk sesekali sedikit melonjak karena hantaman ombak. Di tengah lautan lepas, Khansa tiba-tiba melepas pelukannya. Leon sedikit panik, ia memelankan laju jetski tersebut.
"Sa! Mau ngapain?" teriaknya menoleh ke belakang.
Khansa berdiri berpegangan pada dua pundak Leon. "Tambah kecepatannya Leon! Ini seru!" pekik Khansa menikmati desir angin yang berembus kencang menerpa tubuhnya.
"Serius ni? Kalau jatuh gimana?" tanyanya khawatir.
"Gunanya pelampung apa, Sayang! Iih gemes deh!" ucapnya menunduk berbicara di telinga Leon.
Pria itu tersenyum lebar, rasanya ingin melayang karena dipanggil sayang. "Ok! Sekarang, lepaskan semua beban yang ada di dadamu. Tinggalkan semua kenangan pahit dan kesedihanmu di hamparan laut lepas ini. Siap ya!" ucap Leon menaikkan kecepatannya semakin berjalan ke tengah lautan.
Khansa mengangguk, kembali menegakkan tubuhnya. Matanya terpejam mengingat perjalanan hidupnya. Di mana ia harus dipaksa dewasa oleh keadaan, dipaksa kuat untuk bertahan hidup sendirian dan dipaksa ikhlas ketika kehilangan orang-orang yang dia sayang.
Khansa menghela napas panjang, dadanya mulai merasa panas dengan gemuruh emosi yang membuncah, kedua tangannya berada di pipinya. Lalu mengeluarkan semua rasa sesak itu melalui tenggorokannya. "Aaaaaaaaaaa!!" teriak Khansa sepuas-puasnya. "Aaaaaaaa!!"
Gadis itu melakukannya berulang-ulang, terus berteriak dengan linangan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Setitik kelegaan kini mulai menjalar di hatinya. Tiba-tiba sebuah ombak yang cukup besar kembali menabrak kendaraan Leon. Khansa yang tidak berpegangan terjebur di tengah lautan lepas.
"Sasa!" pekik Leon menghentikan laju jetski nya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung~
Anu nya travelling sendiri yaa... mon maap saya takut menjabarkannya 😂😂😂 🤫🤭 othornya masih volos... 😆😆