Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 139. Salah Tingkah


__ADS_3

Leon mengerutkan keningnya, ia duduk di tepi ranjang Khansa sembari menggenggam jemari lentik perempuan itu. "Ketemu siapa?" tanyanya pelan.


Khansa menghela napas panjang, menoleh pada Leon, "Fauzan," sahutnya datar.


"Tidak untuk sekarang!" tolaknya tegas. Tatapan Leon berubah tajam dengan geraham yang mengetat.


"Tapi ...."


"Kamu sadar nggak? Kamu sudah membahayakan dirimu sendiri demi menolongnya! Dan sekarang kamu ingin menemuinya? Kamu mau aku membunuhnya?" tukas Leon menggeram namun dengan nada pelan.


Khansa tersentak kaget, ia terdiam beberapa saat melihat nyalang merah dari mata elang Leon. Bibir Khansa terkatup rapat, tidak berani menyanggah ucapan Leon yang tampak tidak main-main.


"Pulihkan dulu tubuhmu, jangan pikirkan apa pun di luar sana!" lanjutnya membelai kepala Khansa. Gadis itu pun mengangguk pasrah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berbeda suasana di dalam mobil, Emily terus menggerutu dengan sikap Hansen yang seenaknya sendiri. Pria itu hanya tersenyum tipis, sembari fokus menyetir. Dia sama sekali tidak menjawab omelan Emily yang tiada jeda.


Saat mobil terhenti di depan kediaman Khansa, Hansen membuka sabuk pengamannya lalu mendekat ke punggung Emily yang membelakanginya. Gadis itu terlonjak kaget saat berbalik, hampir saja bertumbukan dengan bibir tipis Hansen.


Jarak keduanya begitu dekat, membuat Emily melebarkan mata indahnya. "Kamu mau ngapain?" serunya menyilangkan kedua tangan di dada.


"Kamu!" Hansen semakin mendekat membuat darah Emily berdesir kuat. "Berisik!" ucap pria berkaca mata itu tepat di telinga Emily.


Hansen lalu segera turun meninggalkan Emily yang tengah mengatur napasnya. "Aduh, sumpah lama-lama bisa meledak nih deket-deket dia!" gumam Emily menepuk-nepuk dadanya menghela napas panjang lalu menyusul setelah beberapa saat.


"Lama banget sih!" cibir Hansen yang menunggunya masuk karena pintu sudah dibuka oleh salah satu pelayan.


Emily membalas tatapan itu tak kalah tajam, disertai dengan bibir yang mengerut. Ia memang kagum pada pria itu. Namun lebih banyak rasa jengkel.


Gadis itu melewati Hansen sambil memicingkan mata. Segera ia naik ke lantai dua dengan langkah cepat, mencari apa yang diminta oleh Leon. Meski tidak mengerti, namun ia yakin bahwa ini untuk kebaikan Khansa.


Hansen menyandarkan tubuhnya di ambang pintu. Mengamati Emily yang sedang mengobrak-abrik isi lemari Khansa. Ia mengeluarkan semua pakaian Khansa. Kebanyakan pakaian sewaktu masih kecil. Emily hampir frustasi karena tidak menemukan apa yang ia cari. Bahkan sampai helaian kain terakhir dari lemari.


"Gimana bentuknya sih? Nggak ada apa pun loh!" gumam Emily memasukkan kepala untuk lebih memastikannya lagi, namun nihil.


Hansen mendekat, ia turut berjongkok di sebelah Emily. Gadis itu tak sadar, separuh tubuhnya masih sibuk di dalam lemari. Sedangkan Hansen mengibaskan satu per satu pakaian Khansa.


"Sepertinya ini deh," ucap Hansen memungut satu plastik berisi beberapa kertas bekas serbuk. Suaranya mengejutkan Emily.

__ADS_1


"DUGH!"


"Aaww!" rintih Emily yang kepalanya terantuk lemari. Ia mundur sembari mengusap ujung kepalanya. Tanpa di duga, punggungnya justru membentur tubuh Hansen. Mereka terjengkang dengan Emily menindih dada Hansen.


Kedua tangan Hansen refleks menyentuh bahu Emily, keduanya saling bertatapan. Seruan jantung mereka berirama dengan keras.


"Ma ... maaf!" ucap Emily menegakkan tubuhnya setelah menarik kembali kesadarannya. "Kamu sih, ngagetin!" sentak Emily yang wajahnya bersemu merah.


"Ya abisnya kamu bikin kamar Khansa kayak kapal pecah. Mana nggak nemuin apa-apa pula. Terlalu ambisius tanpa pengamatan!" cibir Hansen beranjak berdiri, menepuk celananya yang tidak kotor.


"Uuhh dasar!" seru Emily kesal.


"Apa?" ucapnya dingin.


"Kulkas double pintu!" umpat Emily berjalan keluar terlebih dahulu.


Hansen menaikkan kedua alisnya lalu tertawa dengan panggilan baru yang disematkan untuknya. Ia berjalan pelan, memasukkan barang yang ditemukannya ke dalam saku celana.


Emily menghentakkan kakinya, bergegas keluar dengan emosi. Rasa kesalnya membuncah, ah lebih tepatnya malu. Tanpa sadar ia terus berjalan menuju gerbang yang menjulang tinggi itu.


"Emily! Kau mau ke mana?" teriak Hansen mendekati mobilnya.


"Pulang!" serunya tanpa menoleh.


"Taksi lah!" sahut gadis itu mempercepat langkahnya.


Hansen hanya mengerutkan dahi, masuk ke mobil dan melajukannya. Ia menurunkan kecepatan, saat berpapasan dengan Emily.


"Nggak mau bareng nih?" tawar Hansen membuka jendela lebar-lebar.


"Enggak!" ketus Emily menyebikkan bibir.


"Yaudah," balas Hansen cuek, lalu kembali melajukan mobilnya.


Sesampainya di depan gerbang, Emily mengedarkan pandangannya dari ujung jalan ke ujung lainnya. Ia tidak menemukan taksi satu pun yang lewat. Padahal hari sudah menjelang malam.


"Dih, dasar nggak tanggung jawab!" gerutu Emily melipat kedua lengannya.


Mobil Hansen melaju dengan sangat pelan. Mata pria itu terus menatap spion, mengawasi pantulan bayangan Emily yang terlihat sangat kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba Emily berlari begitu kencang ke jalan raya. Hansen menginjak pedal rem hingga mobil itu terhenti.


"Hansen! Tolong!" teriaknya ketakutan.


Dua ekor anjing liar tengah mengejarnya sambil terus menggonggong. Emily sangat ketakutan, sandal rumahnya sampai putus sebelah. Ia hampir kehabisan napas dengan kaki yang terseok.


"Hansen! Berhenti! Tolong!" pekik Emily yang berlari sambil menoleh ke belakang.


Hansen segera turun dari mobilnya, ia berlari menangkap tubuh Emily, menyembunyikannya di balik pungung lebarnya. Pria itu meraih ranting yang cukup besar di pinggir jalan untuk mengusir anjing liar tersebut sampai benar-benar pergi.


Hansen berbalik, ia menyentuh kedua bahu Emily bergetar hebat, keringat mengguyur seluruh tubuhnya. Napasnya terengah-engah dan hampir menangis.


"Udah, anjingnya udah nggak ada. Tenang ya," ucap Hansen memeluk gadis itu.


Dada Emily sudah seperti dinamite yang siap meledak. Usai berlarian layaknya orang kesetanan, ditambah pelukan dari pria tampan itu. Tubuhnya teras lemas seketika.


"Emily, kau baik-baik saja?" tanya Hansen yang masih mendekapnya.


Emily mendorong tubuh Hansen. "Baik-baik aja apanya? Kamu nggak lihat aku hampir mati ketakutan!" serunya berkacak pinggang.


"Kan kamu sendiri yang nggak mau bareng?" elak Hansen melipat kedua lengannya.


"Ya dibujuk dong, Han. Buset bener-bener batu yah ni orang. Pantesan jomblo, pasti nggak ada yang mau!" sindir Emily dengan sinis.


Hansen memutar bola matanya malas. Ia jengah jika harus berdebat, di pinggir jalan pula. Untung saja suasana sepi. Hansen melenggang dengan cepat menuju mobil dan membuka pintu penumpang.


Emily hampir saja mengumpat sebelum pria itu kembali dan menggendong Emily ala bridal style. "Eh!" sentak gadis itu terkejut, refleks kedua tangannya mengalung di leher Hansen. Ia meneguk ludahnya dengan kasar.


Mereka lalu melanjutkan perjalanan, Emily mengatur napas dan degub jantungnya yang antah berantah. Sedangkan Hansen hanya diam fokus melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.


"Ini ke mana? Bukannya arah pulang ke sana?" tanya Emily menunjuk ke belakang mobil. "Han, kamu mau bawa aku ke mana? Jangan-jangan kamu mau jual aku ya. Han, please aku mau pulang!" rengek Emily menarik-narik jas yang dikenakan Hansen.


Bersambung~


~Eh ini harinya HanLy ya 😅😅 SaLe biar napas dulu deh. Mereka lagi siap-siap.


😌 Siap-siap ngapain, Thor?


~ Rahasia doong 🤭🤭

__ADS_1


BTW, besok mungkin telat lagi upnya yaa.. harus bantu emak masak dulu lumayan banyak dari sebelum subuh. Jadi mgkn agak siangan. Gaskeuund laah vote, gift dan komennya 😍😍😚 Mamaciiew yaa....



__ADS_2