
“Kak,” panggil Jihan berbisik ketika melihat Hendra masih terpaku tanpa suara. Pria itu menjadi tidak fokus melamar Jihan. Setiap ucapan Khansa terus terngiang di telinganya, hingga mengganggu konsentrasinya.
Lelucon Khansa membuat suasana semua orang seperti naik roller coaster. Mereka saling pandang saat melihat Hendra yang masih bergeming dengan tatapan kosong.
“Eh, kenapa Hendra diem aja ya?” bisik seorang tamu pada teman di sebelahnya.
“Iya, nggak capek apa jongkok lama gitu nggak ngapa-ngapain. Jangan-jangan gara-gara Khansa,” balas temannya tersebut.
Mereka mengendikkan kedua bahu, kembali menatap ke tengah di mana prince dan princess acara malam ini berada.
“Tapi Khansa tadi emang bikin kejut jantung sih. Aku syok banget loh dengernya, sumpah. Eh ternyata bercanda. Bercandanya nggak lucu ih,” gumam seorang remaja yang seumuran dengan Khansa.
“Iya, justru bikin merinding. Kalau beneran apa jadinya si Jihan ya?” balas rekannya.
“Entahlah, bisa jadi langsung lompat ke bawah sana kali,” celoteh yang lainnya sambil terkekeh.
“Ehm! Nak Hendra, biar nggak kemalaman, sebaiknya acara inti segera dilaksanakan.” Maharani berdehem untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya. Ia sendiri nampak was-was sedari tadi.
“Oh, iya,” sahut Hendra mengulurkan kembali cincin di tangannya, mendongakkan kepala hingga bersitatap dengan manik Jihan, ia mengembuskan napas kasar lalu berkata, “Jihan Isvara, will you marry me?” Singkat, tegas dan lantang.
Khansa meraih ponsel dari dalam hand bag mewahnya. Ia mengeluarkan seringai tajam. Lalu mengetikkan sesuatu pada benda pipih itu. Usai menekan tombol sent, Khansa memasukkan kembali ponselnya, juga meletakkan minuman yang sempat ia teguk satu kali itu. Dalam hati, Khansa tengah menghitung mundur.
Jihan sangat kesal, tapi dia tidak ingin terjadi hal yang tak diinginkan. Ia segera mengulurkan tangan putihnya diiringi senyum yang sangat lebar, “Kak Hendra, aku bersedia menikah denganmu,” ujar Jihan dengan nada manja.
‘Tiga, dua, satu,’ gumam Khansa dalam hati.
Tepat saat Hendra mau menyematkan cincin berlian di jari manis Jihan, terdengar notif pesan yang sangat nyaring di ponsel Hendra.
Entah kenapa, ia merasa tidak bisa mengabaikan pesan itu. Segera ia menurunkan tangannya, meraih ponsel di saku jas lalu membukanya.
“Apa?” gumamnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya terpaku, matanya membulat lalu beranjak berdiri dan memasukkan kembali cincinnya di saku celana. Jihan melotot tak percaya. Begitu pun dengan orang-orang di sekitarnya, mereka saling pandang dengan membelalakkan mata, juga mulut yang terbuka.
Hendra melangkah panjang menuju ke arah Khansa dan meraih lengannya. “Sasa! Ikut aku sekarang juga!” tegas Hendra mengetatkan rahangnya.
“Eh, mau ke mana, Kak?” seru Khansa pura-pura terkejut, padahal dalam hati tertawa. Gadis itu menatap Jihan yang tengah frustasi. Ia sangat puas melihatnya. Hendra menarik lengan Khansa menjauh dari acara, menuju sebuah villa mewah yang berdiri gagah tak jauh dari acara tersebut.
“Kak Hendra! Tunggu! Kakak mau ke mana?!” Jihan berteriak saat melihat calon suaminya justru menjauh bersama wanita lain. Pria itu sama sekali tak mendengar teriakan Jihan. Ia terus melangkah dengan geram, tidak melepaskan lengan kurus Khansa.
“Kak Hendra! Kamu tidak bisa mencampakkan aku seperti ini!” teriak Jihan lagi mengangkat gaun mewahnya, lalu berlari mengejar Hendra. Pria itu masih menulikan pendengarannya. Ia juga tak peduli dengan gunjingan orang-orang di sekitarnya.
“Wah, jadi sebenarnya gimana? Hendra nggak beneran cinta sama Jihan? Kok dia malah pergi sama Khansa?” Seorang tamu pun berargumen.
“Emm … bisa jadi ya,” balas temannya dengan ragu. Mata mereka tak lepas dari drama yang seru malam itu.
Jihan cukup kesulitan berlari. High heels lancip yang sangat tinggi ditambah ekor gaunnya yang sangat panjang dan berat membuatnya sedikit riweh.
“Kak Hendra! Jangan pergi!” pekik Jihan hampir menangis.
“Aaarggh!” Tanpa sengaja, ekor gaun Jihan terinjak kakinya sendiri hingga membuat kain berbahan tille bertabur berlian itu sobek dan ia terjatuh di atas karpet merah.
“Astaga Jihan, kasihan sekali kamu. Calon tunangannya malah memilih pergi dengan saudara tirinya,” gumam salah satu tamu menatapnya iba.
“Kalau dibuat sinetron bagus nih. Saudara tiriku merebut calon tunanganku,” sambung yang lainnya lalu tertawa terbahak-bahak.
“Bukan-bukan, tunanganku kabur bersama saudara tiriku, hahaha!” cibir yang lainnya.
“Sama aja ogeb!” sembur temannya menepuk kepala gadis itu lalu mereka pun tertawa bersama-sama.
“Eh jangan gitu, kesian tau lihatnya. Coba kalian kalau di posisinya Jihan?” Seorang wanita paruh baya menghentikan cibiran mereka.
Namun tak bertahan lama, karena mereka melanjutkan tawanya bersama. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang merekam kejadian tersebut, ada juga yang mengambil foto Jihan yang terlihat sangat kacau itu.
__ADS_1
Jihan menangis tersedu-sedu. Masih terduduk di lantai. Maharani datang membantu Jihan berdiri. “Ya ampun, Sayang,” ucapnya iba pada putrinya.
“Ngapain kalian semua mengerumuninya? Bukannya membantu Jihan malah menjadikannya bahan ejekan. Bubar! Bubar semua!” teriak Maharani membubarkan kerumunan di sekitar Jihan.
Jihan melepas kedua high heelsnya. Maharani memapah Jihan untuk duduk di kursi tak jauh dari jangkauannya. Lalu mengambilkan minuman untuk putrinya itu. Fauzan pun juga turut mendekat, Jihan masih sesenggukan.
“Minumlah dulu, Ji,” ucap Maharani.
Jihan menerimanya dengan tangan gemetar. Maharani mengambil beberapa helai tissu dan menyeka air mata Jihan.
Maharani tidak menyangka akan ada begitu banyak hal yang terduga di pesta pertunangan ini. Ia duduk di depan Jihan, menggenggam erat jemari putrinya yang berubah dingin itu.
“Harusnya kalian tidak perlu mengundang Khansa.” Fauzan berpendapat.
“Siapa yang mengira akan ada kejadian seperti ini, Zan? Khansa memang sang pengacau!” geram Maharani mengelus bahu Jihan yang masih bergetar hebat karena tangisnya.
“Tetep aja semua salah kamu! Masa tidak bisa memprediksi hal seperti ini. Kamu selalu saja bikin malu keluarga. Sudah berapa kali kamu melempar kotoran di wajahku, hah?!” Fauzan menyudutkan istrinya.
“Kamu kenapa sih selalu nyalahin aku terus? Aku selalu salah di matamu!” teriak Maharani.
Awalnya Maharani ingin mengundang Khansa untuk mempermalukannya, siapa sangka akhirnya Khansa justru menghancurkan pesta pertunangan tersebut.
“Memang itu ‘kan yang sering kamu lakukan. Selalu bikin malu keluarga. Mau ditaruh di mana muka ini!” seru Fauzan mengusap wajahnya dengan kasar.
Jihan yang mendengar pertikaian orang tuanya, menutup kedua telinganya. Air matanya semakin mengucur deras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hendra memasuki villa masih tak melepaskan lengan Khansa. Ia menarinya ke lantai atas, lalu masuk ke dalam sebuah kamar dan menguncinya.
Hendra mencengkram pundak Khansa yang indah, “Apa maksud pesan yang kamu kirimkan ini?” geram Hendra menekankan ucapannya.
__ADS_1
Pandangan Khansa berbinar dan tersenyum dingin, bola matanya menatap tajam, “Kamu tidak bisa baca laporan pemeriksaan dari rumah sakit, ya?” sindirnya.
Bersambung~