
Di tengah-tengah meeting bersama para manajemen dan jajarannya, ponsel Leon memekik membuat semua orang terdiam. Ia segera mengambilnya, selalu stanby takut terjadi sesuatu dengan Khansa.
Dan benar saja, baru meletakkannya di telinga setelah menggeser slide, terdengar suara panik di ujung telepon. Leon mendelik tanpa suara. Dadanya berdenyut nyeri. Tanpa berucap apa pun, ia langsung beranjak dari kursinya dan berlari keluar hingga membuat semua orang kebingungan.
Leon bergegas ke rumah sakit, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak dapat dipungkiri, tubuhnya gemetar sepanjang jalan. Ia fokus dengan jalan yang dilalui, berulang kali mengembuskan napas berat meski tak mampu melegakan sesak di dadanya.
"Sial!" teriak Leon ketika mobilnya tidak dapat bergerak terjebak kemacetan.
Kepalanya mau pecah rasanya. Leon membuka jas dan melepas lilitan dasi dengan kasar. Mobilnya sama sekali tidak bisa bergerak. Matanya mengeliling mencari cara agar bisa keluar dari kemacetan itu.
Assisten Gerry langsung mengambil alih, tak lama berselang ia mengakhiri meeting siang itu. Khawatir terjadi sesuatu, dia segera melacak keberadaan sang boss. Keningnya mengernyit, melihat titik keberadaan Leon yang tidak bergerak.
"Tuan mau ke mana?" Gerry memperjelas titik lokasi tersebut. Ia dapat melihat kemacetan yang ada di sana.
Gerry berpikir sejenak, dilihat dari raut wajah Leon yang tampak sangat khawatir, ia pun takut terjadi sesuatu. Segera pria itu berlari menuju parkiran. Ia meminjam sepeda motor salah satu satpam dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Lima belas menit kemudian, sepeda motor itu bisa menelusup melalui celah-celah mobil yang sama sekali tidak bisa bergerak. Leon sudah berdiri di tengah jalan sambil berkacak pinggang di bawah teriknya mentari siang itu.
"Tuan!" teriak Gerry melambaikan tangan.
__ADS_1
Leon memutar langkah ketika mendengar suara tak asing. Terlihat sang assisten turun dari motor dan melepaskan helmnya di seberang jalan. Kaki panjangnya melangkah cepat.
"Hah! Gerry!" ucap Leon menepuk bahu lelaki itu. "Sasa sedang perjalanan ke rumah sakit. Tolong kamu bawa mobilku," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.
Barulah Gerry mengerti. Ia mengangguk, mengenakan helm pada Leon dan menyerahkan kunci. "Hati-hati, Tuan. Semoga nyonya baik-baik saja," ucap Gerry.
Leon hanya mengacungkan ibu jarinya saja. Buru-buru mengendarai sepeda motor tersebut melalui jalan-jalan tikus. Hatinya yang kacau membuatnya tak bisa berpikir jernih. Gemuruh dadanya kian meningkat. "Sayang, tunggu aku!" gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya di rumah sakit, Khansa segera diperiksa oleh dokter kandungan usai mengatakan keluhannya. Tanpa harus menunggu antrian.
"Dokter! Air ketubannya semakin menipis. Kedua bayi Anda harus segera dikeluarkan!" ucap dokter kandungan ketika melakukan USG.
"Ini bisa saja terjadi pada setiap kandungan, Dok! Dokter tetap rileks, jangan panik. Kami akan melakukan yang terbaik," sahutl dokter kandungan itu. Ia lalu beralih pada asistennya, "Suster segera siapkan ruang operasi, sekarang!" titahnya yang segera diangguki oleh perawat.
Nenek terus menenangkan Khansa, memberi kekuatan pada wanita hamil itu. Ia terus menangis, takut terjadi apa-apa dengan kedua bayinya.
"Nek! Leon mana?" tanyanya di tengah isak tangis. Jemarinya meremas tangan sang nenek.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Dia sedang dalam perjalanan," ucap nenek menenangkan.
Seluruh prosedure sudah diselesaikan. Nenek terpaksa menandatangani semua surat-suratnya karena Leon belum bisa dihubungi lagi.
Khansa sudah memasuki ruang operasi, dokter anastesi sudah mulai menyuntikkan bius separuh tubuhnya. Tidak ada hal lain yang dipikirkan Khansa sekarang, kecuali anak kembarnya. Sesekali manik matanya terpejam hinga lelehan air mata mengalir deras di pelipisnya.
Leon berhenti tepat di depan loby. Ia menurunkan standar motor, lalu berlari meninggalkan motor tersebut serampangan. Bahkan helmnya masih menutupi wajah.
"Tunggu! Tunggu! Apa-apaan Anda memarkirkan sepeda motor sembarangan?" sentak satpam menarik kemeja Leon.
Emosi Leon membuncah, ia menepis tangan yang lancang mencegah langkahnya lalu memberi bogem mentah di wajah satpam itu.
"Woy! Berhenti!" rekan satunya berteriak saat Leon melenggang masuk.
Leon baru teringat dengan helmnya. Ia melepas dengan cepat lalu melempar helm itu ke lantai. Wajahnya memerah dan dipenuhi kucuran air keringat. Sepasang mata elangnya melotot dengan tajam. "Apa? Mau apa kalian, hah?" teriak Leon menggelegar.
Kemejanya kusut, tanpa dasi dan tanpa jas yang biasanya rapi membalut tubuh kekarnya. Dan kali ini sungguh berbeda. Deru napasnya berembus begitu kasar. Dadanya naik turun dengan cepat.
Dua satpam itu membelalak, "Ma ... aafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau...."
__ADS_1
"Aaargghh! Brengsek!" teriak Leon lalu berlari menuju bagian informasi.
Bersambung~