Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 140. Laboratorium Raksasa


__ADS_3

Hansen masih bergeming walau ditarik-tarik oleh Emily. Telinganya seolah tuli, tidak mendengar omelan Emily yang seperti kereta express itu. Wajahnya yang datar dan terus menatap ke depan membuat gadis itu semakin geram.


"Hanseeeen!" teriak Emily tepat di telinga pria itu.


Kakinya menginjak pedal rem dengan kuat, gesekan ban mobil dan jalan raya bahkan terdengar sangat keras. Tubuh mereka terhuyung ke depan. "Bahaya tahu nggak?!" sentak Hansen menatap tajam perempuan di sebelahnya.


Emily nampak berkaca-kaca, namun pandangannya enggan beralih dari pria itu. Marah, sedih bergelut menjadi satu. Sekeras dan sekuat apa pun wanita, pasti akan dipatahkan oleh bentakan dari laki-laki.


Ia diam dengan deru napas yang kasar. Kedipan lembut matanya, menjatuhkan bulir bening yang mengalir di kedua pipinya. Hansen merasa bersalah karena tanpa sengaja membentaknya. Ia menunduk sembari menghela napas panjang.


"Maaf," ucapnya dengan nada rendah lalu kembali menjalankan mobilnya.


Deru mesin mobil lebih mendominasi suasana. Emily malas berucap lagi. Dia pun pasrah dibawa pria itu kemanapun. Teringat dengan ucapan sang papa, membuatnya mencoba menyingkirkan pikiran buruk yang hinggap di otaknya. Tapi kesal juga kalau dibentak-bentak. Papanya saja tidak pernah membentaknya.


Hansen menghentikan kendaraan roda empatnya di basement perusahaan supplier bahan kimia terbesar di Kota Palembang. Langit yang sudah menggelap, menyebabkan suasana di kantor itu terasa sunyi. Hanya ada beberapa satpam yang bertugas saja.


Buru-buru pria itu bergegas turun dan membukakan pintu untuk Emily. Gadis itu bergeming menatap ke arah kakinya. Hansen turut mengarahkan pandangannya ke sana. Ia melihat jari-jari kaki Emily yang terus bergerak tanpa alas kaki.


"Turunlah. Apa mau nunggu di sini? Tapi aku sedikit lama," tanya Hansen mengedikkan kepala. Ia bahkan menjulurkan tangan untuk membantu Emily.


Emily mengedarkan pandangannya. Suasana basement tampak mencekam, ia tidak akan berani jika berdiam diri sendirian di tempat itu. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri saat membayangkan hal-hal menyeramkan di kepalanya.


"Ikutlah." Emily menjajakkan kedua kakinya di lantai basement itu.


Tiba-tiba Hansen berjongkok, Emily membelalak sembari merapatkan rok pendeknya. Ternyata Hansen melepas salah satu sepatunya dan menyodorkan pada kaki putih dan mulus milik Emily. "Pakailah," ucap pria itu.


'Oh, hampir aja aku berpikir yang tidak-tidak,' gumamnya dalam hati mengembuskan napas kasar.


Satu tangan Emily menyentuh bahu Hansen untuk berpegangan. Kaki kecilnya memasuki sepatu pantouvel berukuran jumbo. Ia menginjak bagian tumitnya. Kemudian, Hansen beralih pada kaki yang lain.


Bibir Emily menyunggingkan senyuman tipis, merasakan debaran halus pada dadanya. Hatinya serasa dihujani ribuan bunga. "Ini yang dinamakan sweet di dunia nyata nggak sih? Biasanya juga cuma akting," ucap Emily pelan tidak bisa menahan senyumannya.


"Sudah, ayo." Hansen kembali berdiri, mengulurkan tangan untuk menuntun Emily. Ukuran sepatu yang lebih besar dari kakinya, membuat Hansen siap menjadi pegangan ketika gadis itu kesulitan berjalan.


Hansen memimpin jalan dengan pandangan lurus ke depan. Kakinya menapak tanpa alas kaki. Ekspresinya masih sama saja, datar. Sedangkan Emily menggenggam erat telapak tangan hangat milik Hansen. Ia terharu dengan perhatian pria itu.


Mereka kompak melangkah masuk ke gedung bertingkat tanpa melepaskan tautan tangannya. Sebuah lift mengantarkan keduanya mencapai lantai teratas. Hansen mengajaknya ke ruang kerjanya.


"Sepi sekali," gumam Emily yang merasakan hawa dingin di sepanjang lorong.


Meskipun Hansen mendengarnya, dia enggan untuk membalas ucapan gadis itu. Melangkah panjang dan tegas hingga masuk ke ruangannya.


Emily memandang kagum desain ruang kerja Hansen. Ada sebuah lemari kaca yang berukuran cukup besar. Isinya adalah segala jenis APD ketika akan memasuki ruang penelitian. Hansen baru melepas tangannya, ia segera mengambil jas berwarna putih, penutup kepala, masker, sarung tangan dan sepatu khusus.


"Kamu tunggu saja di sini, kalau bosan bisa nonton televisi," ujar Hansen yang sudah siap dengan seluruh APD melekat di tubuhnya.


"Hei, kamu mau ninggalin aku sendirian? What the hell?" pekik Emily menghadang langkah Hansen.


"Kalau mau ikut ambil APD sana! Lima menit dari sekarang!" seru Hansen menatap jam di lengannya.

__ADS_1


Emily membelalak, "Tu ... tunggu! Apa aja nih? Kok cuma lima menit sih. Aduh aku nggak ngerti. Jangan ditinggal, okay?" serunya panik membuka lemari kaca di depannya dengan terburu-buru.


Gadis itu mengenakannya dengan asal. Ini merupakan pengalaman pertama Emily, jadi wajar saja jika tampak kacau dan berantakan. Hansen terus menatap lengannya bergantian dengan Emily, pria itu terus tersenyum di balik masker KN95.


"Satu menit lagi!" ucap Hansen melipat kedua lengannya.


"Hei! Tuan muda" sentaknya. "Aiiss, gue paling benci diburu-buru kayak gini. Kalau gue nggak takut sendirian juga bakal milih di sini aja," gegerutunya kesal. Ingin sekali melempar batu ke kepala Hansen.


Emily berlari menghampiri Hansen yang ada di depan pintu. Pria itu menilik penampian Emily dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kedua tangannya menjulur merapikan rambut Emily yang masih keluar dari penutup kepalanya, lalu membenarkan masker dan mengancingkan jas putih yang nampak kebesaran di tubuh mungil Emily. Gadis itu bahkan sempat menahan napasnya, kedua matanya enggan berkedip melihat wajah tampan pria di depannya.


"Kalau sudah masuk ke sana, jangan pernah minta keluar sebelum aku selesai," ucap Hansen memperingati.


"Oke, aku jadi penasaran," serunya mulai bersemangat setelah Hansen memutar tubuhnya dan mulai berjalan.


Mereka memasuki sebuah ruangan khusus, bukan sembarang orang bisa masuk. Karena pintu berbahan kaca yang sangat tebal itu, akan terbuka otomatis hanya melalui sensor retina.


Hansen melepas kaca matanya, tubuhnya berdiri tegap, menepatkan matanya tepat pada alat sensor. Terdengar suara kunci yang berputar dan pintu otomatis terbuka.


"Waaaaahh! Keren!" Emily berdecak kagum melihat teknologi yang luar biasa di matanya. Mulut dan matanya sudah tidak terkondisikan. Terbuka dengan lebar sambil menggelengkan kepala.


"Hei! Mau masuk apa tidak?" seru Hansen menyadarkan Emily. Buru-buru gadis itu masuk mengekori Hansen. Pintu otomatis tertutup dan terkunci.


"Gimana cara keluarnya? Kalau dia lama gimana? Ah tapi ini seru banget. Sial nggak bawa HP. Aah sumpah ini keren! Kayak di film-film," sorak Emily mengedarkan pandangannya.


Mereka harus melalui beberapa pintu lagi. Yang mana setiap pintu ada banyak mesin yang sangat besar. Dan setiap memasukinya harus menggunakan sidik jari atau scan retina.


Semakin masuk, Emily semakin terkagum-kagum. Ia tidak pernah menyangka bisa memasuki laboratorium raksasa seperti itu.


"Jangan sentuh sembarangan!" seru Hansen mengejutkannya. Emily mengangguk dengan cepat.


"Duduklah di sini! Ingat, jangan sentuh apa pun. Jangan buka masker atau APD lainnya! Bisa membahayakan nyawamu," ancam Hansen membuat Emily bergidik ngeri.


Gadis itu meneguk ludahnya kasar, detak jantungnya juga tiba-tiba meningkat. "Iya," Lagi-lagi Emily hanya bisa mengangguk. Ia duduk di sofa tunggal dengan sebuah meja kecil di depannya.


Selain mesin dan tooling, Emily juga menemukan kulkas dua pintu. Ia terkekeh geli, karena setiap melihat benda itu sensor otaknya langsung mendeteksi wajah Hansen.


Sedangkan Hansen masuk ke ruangan yang lebih kecil, keseluruhan dindingnya terbuat dari kaca. Keningnya mengernyit saat melihat Emily tertawa sendiri. "Kenapa dia?" Pria itu hanya menggeleng lalu memulai penelitiannya.


Sebelumnya ia melihat perkembangan dari botol-botol bekas yang pernah ditemukan Khansa, namun masih belum terlihat. Ia lalu mengeluarkan bungkus yang ditemukannya. Ada beberapa yang masih menyisakan serbuk itu, memudahkannya untuk melakukan penelitian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Emily berulang kali menguap, dia merasa sangat bosan. Sudah tiga jam lamanya menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa. Perutnya juga mulai bergejolak ingin diisi.


"Gila, lama banget," gerutunya menatap Hansen yang masih sibuk di dalam sana.


Matanya terus tertuju pada pria itu. "Kalau lagi serius kayak gitu, damage-nya yaampun. Eh dia 'kan memang selalu serius. Mana pernah senyum tu orang? Kaku kali bibirnya," cibir Emily menutup mulutnya yang terus tertawa.


Emily lalu berjalan menuju kulkas yang tak jauh darinya. Ia pikir isinya makanan atau minuman. Ternyata bukan, semua adalah bahan kimia yang harus disimpan dalam suhu rendah.

__ADS_1


"Astaga, bisa-bisa mati kelaparan aku!" gumam Emily meremas perut rampingnya di balik jas putih yang membalut tubuhnya. Ia pun kembali membanting tubuhnya di sofa. Menyandarkan kepala hingga lama kelamaan matanya terpejam, tidak kuat menahan kantuk.


Tepat lima jam lamanya, Hansen berhasil menyelesaikan semuanya. Kini ia sedang menunggu hasil print out yang akan diserahkan pada Leon besok. Ia sudah berhasil menemukan kandungan serbuk itu beserta efek sampingnya.


Hansen melempar pandangan keluar, di mana Emily sudah tidur sambil duduk di sofa. Setelah hasilnya keluar semua, Hansen memasukkannya pada amplop bersegel. Ia lalu keluar dari ruangan itu menghampiri Emily.


"Emily, bangun," panggil Hansen mengusap pipi Emily.


Tidak ada pergerakan apa pun. Hansen meraih ponsel di saku jasnya. Iseng dia membidik wajah Emily yang terdongak dari berbagai posisi. Pria itu tertawa melihat hasil potretnya.


"Eeenggghh!" Emily meregangkan tubuhnya setelah beberapa saat. Hansen masih berdiri di depannya sambil melipat kedua lengannya.


Perlahan kelopak matanya terbuka dan mengerjap pelan. Ia pikir sedang bermimpi, namun lama-lama pandangannya semakin jelas. Emily terperanjat, ia menatap sekeliling sambil mengucek matanya.


"Jam berapa sih ini? Udah selesai?" tanyanya dengan suara malas.


"Jam 11," sahut Hansen dengan santai.


"Hah? Jam 11? Aduh, mama sama papaku pasti nyariin. Ayo buruan anter aku pulang! Mana nggak bawa apa-apa lagi. Harusnya kalau kamu mau nyulik aku tuh bilang-bilang dulu, biar aku bisa siap-siap!"


Hansen langsung menutup mulut Emily dengan telapak tangannya agar berhenti berbicara. "Aku sudah izin sama papa kamu."


Emily mengelak lengan Hansen, "Terus tanggapan papa gimana?"


"Katanya kalau kamu ngrepotin suruh lempar kandang buaya!" goda Hansen melangkah keluar.


"Hah?! Enggak lucu! Hahaha!" ucap Emily mengekori Hansen.


Mereka pun meninggalkan tempat steril itu. Segera melepas atribut mereka dan bergegas pulang. Hansen ingin mengajaknya mampir makan malam terlebih dahulu, namun Emily menolak karena benar-benar lelah dan mengantuk. Sehingga, Hansen langsung mengantarnya pulang.


"Emily," panggil Hansen saat Emily akan turun dari mobilnya. Gadis itu menoleh.


"Terima kasih sudah menemaiku malam ini," lanjutnya.


"Ya 'kan kamunya maksa! Bosenin nggak boleh ngapa-ngapain, nggak boleh sentuh ini itu, cuma liatin doang tuh jenuh banget," cebik Emily mengalihkan tatapannya ke depan.


Hansen mengacak rambut Emily, "Memang begitu safety nya. Udah sana tidur. Lain kali aku culik lagi. Selamat malam," ucap Hansen tersenyum.


Emily justru menautkan kedua alisnya saat melihat Hansen bisa tersenyum dan berucap lembut padanya. Ia menurunkan kedua kakinya, menunduk lalu melepas sepatu Hansen. "Oiya, ini sepatunya. Makasih ya untuk hari ini. Bener-bener wow banget. Hati-hati, selamat malam!" ucap Emily meletakkan sepatu Hansen di dalam mobil, menutup pintu dan melambaikan tangannya.


Hansen masih menatap Emily sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelahnya ia menelepon Leon.


"Halo, Kak. Hasilnya sudah keluar. Mau aku antar sekarang?" tanya Hansen setelah Leon mengangkatnya.


"Ok! Aku tunggu!" sahut Leon menutup sambungan teleponnya.


Bersambung~


Uweehhh banyaak... Sabar ya abis ini jatah SaLe... Tapi saiya mau tidur dulu.. gakuat. maap kalo ada typo ya.. tandai aja 🌶😘

__ADS_1



Iyo, Mas...sabar...


__ADS_2