
Sebuah layar televisi yang terpajang di dinding ruangan serba putih tengah menayangkan kejadian kebakaran hebat gudang perusahaan Hendra. Sebuah bangunan luas itu habis terbakar beserta semua bahan produksi untuk stok dua bulan ke depan.
Tuan Ugraha yang sudah sadar, kini membelalakkan kedua matanya. "Bu, benarkah berita ini?" tanya pria itu bersuara lirih.
Dadanya berdebar semakin keras. Semakin lama ia semakin merasa nyeri yang teramat sangat. Tangannya menekan dada, napasnya menjadi sesak. Ia mengerang kesakitan dengan mata terpejam. Seluruh tubuhnya menjadi kaku.
Nyonya Ugraha pun tersadar dari keterkejutannya. Ia panik melihat kondisi suaminya. Tangannya gemetar menekan tombol emergency di atas ranjang pasien.
"Yah!" panggilnya dengan suara bergetar. Ia tidak bisa melanjutkan kalimat karena tenggorokannya tercekat. Ketakutan kini menjalar di sekujur tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Derap langkah kaki Hendra yang berlarian panik, menggema di lorong rumah sakit. Napasnya pun tersengal-sengal, ia harus meninggalkan meeting penting karena menerima kabar bahwa sang ayah tengah collaps dan tidak sadarkan diri.
"Ibu! Apa yang terjadi?" tanya Hendra menyentuh lengan ibunya yang menangis tersedu-sedu di depan ruangan.
Kedatangan Hendra membuat Nyonya Ugraha semakin menangis. Ia langsung menghambur ke pelukan putranya. Meledakkan tangis sekeras-kerasnya.
Tangan pria itu bergerak naik turun di punggung sang ibu. Berharap bisa memberi sedikit ketenangan. Beberapa saat kemudian, wanita itu mengendurkan pelukannya. Ia menaikkan pandangan menatap putra semata wayangnya.
"Apakah berita yang beredar itu benar?" tanyanya dengan sangat pelan.
Hendra menunduk, tidak berani menatap kedua manik sayu ibunya. Nyonya Ugraha mencengkeram kuat jas yang dikenakan Hendra. "Jawab Hendra! Apakah gudang kamu habis terbakar?" serunya menuntut semakin mencengkeram jas lelaki itu.
Anggukan lemah dari Hendra menegaskan bahwa kejadian itu memang benar adanya. Nyonya Ugraha menutup mulutnya yang terbuka, air matanya semakin deras mengalir di kedua pipinya. Ia kembali menabrak dada bidang Hendra, "Dan ayahmu semakin drop karena melihat berita itu tadi!" jeritnya di tengah isak tangis yang menggaung di lorong tersebut.
Tubuh pria itu semakin melemas, dadanya terasa terhimpit beban yang sangat berat. Ia berusaha menguatkan diri. "Bu, ayah pasti baik-baik saja," ucapnya pelan menahan perih di hatinya. Membayangkan hal terburuk yang akan terjadi.
Tak berapa lama, dokter keluar dari ruangan. Pria berjas putih itu, mengembuskan napas berat sembari menatap anak dan istri pasiennya.
Hendra melonggarkan pelukannya. Ia segera beralih menatap dokter tersebut. "Bagaimana ayah saya, Dok?" tanyanya. Sang ibu pun segera memutar tubuhnya untuk mendengarkan penjelasan dokter.
"Mohon maaf, dengan berat hati, Tuan Ugraha dinyatakan meninggal dunia pada hari ini, tanggal 25 Februari pukul 10:30 WIB. Kondisi beliau memang sempat membaik dan dalam tahap resusitasi. Namun, karena mengalami syok, kembali memperburuk keadaan jantungnya. Seluruh tim medis sudah berusaha maksimal, tapi Tuhan berkehendak lain, mohon bersabar," papar dokter yang menangani Tuan Ugraha.
Setelah mengatakannya, dokter pun melenggang pergi. Meninggalkan Hendra dan ibunya yang masih mencerna penjelasan sang dokter. Sontak, dunia mereka seolah berhenti. Kabar yang diterima seperti sambaran petir yang meledak dalam dadanya.
"Katakan dokter salah, Hendra. Itu semua nggak bener 'kan? Ayah kamu baik-baik saja 'kan?" teriak Nyonya Ugraha tidak percaya.
Hendra membisu, tubuhnya terhuyung dihantam beban berat secara bertubi-tubi. Air matanya mulai menyeruak dan hampir menetes.
"Hendra! Katakan dokter tidak benar!" pekik wanita itu lagi.
Hendra merengkuh tubuh ibunya, mengajaknya memasuki ruangan. Langkah kakinya terasa berat saat melihat petugas medis melepas alat-alat penunjang kehidupan Tuan Ugraha. Tubuh pria tua itu sudah terbujur kaku, matanya terpejam dengan erat.
Nyonya Ugraha langsung berlari dan menghambur memeluk suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya, tidak terima ditinggalkan sang suami untuk selama-lamanya.
Sedangkan Hendra, tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Sakit, nyeri, hancur berkeping-keping. Tangannya segera menopang dinding yang ada di sampingnya. Tulang-tulangnya seolah terlepas, kedua kakinya tidak bisa menahan beban tubuhnya. Ia merosot ke lantai, tangisnya pun pecah saat itu juga.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Tolong segera urus administrasi agar jasadnya bisa segera dipulangkan," ucap salah satu suster mengingatkan. Hendra hanya mengangguk, meski tatapannya tak beralih dari ranjang ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Emily mondar mandir di depan ruang IGD sembari menggigit kuku-kukunya. Ia panik sekaligus khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Khansa. Dadanya berdebar sangat kuat. Bahkan sampai lupa menghubungi Leon.
Entah sudah berapa lama ia berjalan seperti setrikaan. Tak terasa kedua kakinya sampai terasa lelah. Pandangannya mengeliling mencari kursi duduk. Mundur beberapa langkah, lalu mendaratkan tubuhnya di kursi berbahan stainless sambil memukul-mukul betisnya.
"Keluarga Khansa!" seru seorang dokter setelah beberapa saat.
"Saya, Dok! Saya!" Emily segera beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri.
"Apa suaminya ada?" tanya sang dokter.
Emily mengerutkan keningnya. Dia semakin berpikiran buruk. Dentum jantungnya sudah seperti dinamite yang hampir meledak. "Apa yang terjadi sama Sasa, Dok? Apa ada hal yang serius? Suaminya bekerja, apa tidak bisa dengan saya saja? Dok, katakan yang jelas!" Gadis itu justru menimpali dengan kalimat bertubi-tubi.
"Begini, menurut hasil tes darah, pasien positif ...."
"Positif apa?" teriak Emily memotong ucapan dokter. Dia tidak sabar dengan dokter tersebut yang menurutnya bertele-tele.
"Positif hamil, tapi untuk lebih jelasnya silakan langsung menuju poli kandungan. Saya akan berikan surat rujukannya biar tidak perlu menunggu antrian," jelas sang dokter.
Emily membulatkan kedua matanya, mulutnya pun menganga lebar. "Ha ... hamil?" ucap Emily terbata.
"Dokter, ini suratnya," seru sang perawat menunjukkan surat rujukan pada dokter spesialis.
Suster segera masuk dan tak lama kemudian, ia keluar bersama Khansa yang dipapah, ia sudah sadar sedari tadi. Wanita itu tidak mau didorong dengan kursi roda. Meski masih sedikit pusing, tapi dia masih bisa menahannya.
"Sasa! Kamu kuat jalan?" tanya Emily meraih lengan Khansa satunya.
"Kuat! Aku nggak apa-apa, kok. Kenapa kalian memperlakukan aku seperti orang sakit?" Khansa justru bertanya balik.
Emily terperangah, ia bahkan berjalan mondar-mandir sampai kedua kakinya ngilu karena mengkhawatirkan kondisi Khansa. "Kamu tidak ingat kalau tadi pingsan? Kamu bahkan membuatku hampir gila!" ujar Emily mengerutkan keningnya.
Khansa memutar bola matanya, ia tampak sedang berpikir. "Oh iya, aku sangat mual waktu mencium aroma nasi dan kepalaku terasa berputar-putar," jawabnya setelah berhasil mengingatnya.
"Aaaaa! Bestie! Berarti benar!" pekik Emily memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat.
"Aduh, Emily! Apanya yang benar?" Khansa nampak kebingungan.
Emily melepas pelukannya, ia tidak menjawab pertanyaan Khansa dan beralih pada suster di sebelahnya.
"Suster, di mana ruangannya?" Emily nampak sangat antusias.
"Mari saya antar, Nona!" Suster itu memimpin jalan.
Khansa dan Emily mengikuti langkah perempuan berseragam putih itu. Tangan Emily memeluk lengan Khansa dengan posesif. Meski bingung, Khansa tetap mengikutinya.
__ADS_1
"Tunggu! Kita ngapain ke sini Emily?" tanya Khansa menghentikan langkah saat suster membukakan pintu masuk ke ruang dokter Spesialis Obgyn, lalu menyerahkan rekam medis Khansa beserta surat rujukan dokter umum padanya.
"Lebih jelasnya kita langsung masuk saja ya," ajak Emily menarik lengan Khansa.
Dokter tersebut menyapa dengan ramah dan penuh senyum. "Selamat siang, silakan duduk."
"Dokter! Segera periksa sahabat saya. Apa benar ia sedang hamil?" seru Emily dengan antusias.
Dokter membaca sekilas hasil pemeriksaan Khansa, lalu menanyakan mengenai keluhan dan hari terakhir menstruasi. Meski masih ragu, Khansa menjawabnya dengan hati berdebar tak karuan.
"Coba kita langsung cek melalui USG ya agar lebih akurat. Silakan naik ke ranjang," tunjuk dokter pada ranjang pemeriksaan di sebelahnya.
"Ayo, hati-hati!" Emily mulai menjadi posesif. Ia memapah Khansa yang bahkan sudah terlihat lebih segar, tidak sepucat sebelumnya.
Khansa merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut. Seorang suster membantunya menaikkan selimut dan gaun yang dikenakannya, lalu sedikit mengoles gel pada perut bagian bawah. Khansa sedikit menegang. Begitupun dengan Emily yang juga merasa tegang bercampur penasaran sembari menatap layar monitor tanpa berkedip.
Perlahan dokter mulai menggerakkan alat di atas permukaan kulit yang diolesi gel tadi. Dokter cantik itu menyunggingkan senyumnya dengan lebar, membuat Emily semakin penasaran. Sedangkan debaran jantung Khansa semakin tak terkendali. Kedua tangannya bahkan mencengkeram seprai dengan sangat kuat.
"Wah, selamat ya karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Kantong janin sudah terbentuk, usia janin 6 minggu. Masih sangat kecil sebesar kacang," papar sang dokter sembari menatap pasiennya.
Terkejut sekaligus haru kini menyelimuti dua perempuan yang saling menatap itu. Khansa sama sekali tidak menduga akan mendapatkan keturunan dalam waktu secepat ini di usianya yang masih terbilang cukup muda.
"Pada trimester pertama harap diperhatikan baik-baik ya, Nyonya. Karena masih sangat rentan untuk mengalami keguguran. Pola makan dijaga, harus yang memenuhi gizi, jangan sampai stress atau kelelahan. Saya akan memberi resep vitamin, obat mengurangi mual dan kapsul tambah darah diminum rutin ya, Nyonya. Lakukan pemeriksaan setiap satu bulan sekali atau setiap ada keluhan," lanjut dokter tersebut mengakhiri pemeriksaan.
"Tapi saya beberapa hari ini nggak bisa makan nasi gimana ya, Dok? Pasti selalu mual dan muntah. Baru nyium asapnya aja, sudah mual dan pusing," keluh Khansa saat kembali duduk di hadapan dokter, diikuti Emily.
"Itu hal yang wajar kok pada trimester pertama. Bisa digantikan dengan makanan lainnya yang mengandung karbohidrat, buah-buahan, sayur. Ditambah dengan susu hamil juga lebih bagus," saran sang dokter lalu mengeluarkan sebuah buku berwarna pink.
Dia mulai menanyakan beberapa informasi untuk mengisi buku kesehatan tersebut. Khansa menatap nanar ketika buku itu diserahkan bersamaan dengan hasil USG. Rasanya masih tidak percaya. Kedua tangannya gemetar saat menerimanya.
"Terima kasih banyak, Dok!" seru Khansa menjabat tangan wanita itu lalu beranjak keluar dari sana diikuti Emily.
Sesampainya di luar, Emily kembali memeluk Khansa dengan erat. "Jaga baik-baik ponakan aku ya. Aaaa ... bentar lagi ada yang manggil aku aunty!" serunya sangat bahagia.
"Iya aunty, eh ya kamu tadi sudah telepon Leon belum?" tanya Khansa melonggarkan pelukannya.
"Hehe, belum. Aku enggak ingat siapa-siapa. Yang aku pikirin cuma keadaan kamu aja. Maaf!" sahut Emily penuh sesal sembari mengusap perut datar Khansa.
"Enggak apa-apa, justru bagus. Biar aku aja nanti yang kasih kejutan buat dia," balas Khansa membesarkan hati sahabatnya. Mereka segera melenggang pergi menebus obat, lalu meninggalkan rumah sakit tersebut.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka mengudara hingga telinga Hendra yang akan mengurus administrasi sang ayah. Ia berdiri tak jauh dari dua perempuan itu. Kedua tangannya tampak mengepal dengan kuat.
Bersambung~
__ADS_1
Gimana ya reaksi suami Sasa🤗 nungguin nggak? Nunggu nggak? Enggak yaudah....