Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 131. Tempat Asing


__ADS_3

"Mau ke mana sih?" tanya Khansa penasaran. Leon berdiri dan membangunkan Khansa, merengkuh bahunya dan mengajaknya kembali ke kamar.


"Udah, ikut aja," gumam Leon sembari meniti anak tangga.


Khansa segera mengganti pakaiannya. Leon pun tadinya hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans, kini mengambil jaket jeans berwarna biru. Tanpa sengaja, Khansa juga mengenakan jaket berwarna senada. Keduanya juga sama-sama mengenakan sepatu sneakers berwarna putih.


Leon mendekat saat Khansa selesai berganti pakaian. Ia merapikan cadar yang melekat di wajah Khansa, "Jangan pernah buka kecuali di depanku ya," ucap pria itu menangkup kedua Khansa. Dia tidak akan rela jika kecantikan istrinya juga dinikmati orang lain.


Khansa mengangguk sembari tersenyum. Ia menggerai rambutnya untuk menutupi jejak karya Leon yang sangat banyak. Leon mengenakan topi berwarna hitam untuk menyamarkan penampilannya. Mereka keluar, berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut.


"Leon, nenek kabarnya gimana?" tanya Khansa saat mengenakan sabuk pengaman.


"Aku diusir, nggak dibolehin pulang kalau nggak sama kamu," aku Leon mulai melajukan mobilnya perlahan.


Leon membuka atap mobil, cahaya mentari pagi menerpa tubuh keduanya. Udara yang berembus juga lebih alami jika dibandingkan dengan kesejukan AC. Sebuah kaca mata hitam bertengger di hidung mancung Leon.

__ADS_1


Khansa menoleh, "Kamu diusir sama nenek?" tanyanya heran.


"Iya, nenek tuh sayang banget sama kamu. Aku jadi berasa cucu pungut sedangkan kamu cucu kandung. Nenek marah besar sama aku," gurau Leon sambil tertawa.


Khansa pun menanggapinya dengan tawa yang lebar. "Apaan sih, nggak lucu deh," serunya tak beralih pandang dari wajah sang suami yang pagi ini tampak berseri. Khansa merasa semakin jatuh cinta pada pria di sebelahnya.


"Serius kok. Nanti kalau semua urusan selesai, kita pulang ke Villa ya. Nenek pasti khawatir," ajak Leon menggenggam jemari Khansa dan meletakkannya di paha. Satu tangannya masih sibuk mengemudi. Saat pemindahan transmisi, ia bahkan tidak melepas tautan tangannya.


"Iya. Mmm ... Leon," panggil Khansa ragu-ragu.


"Kenapa selama ini kamu tinggal sama nenek saja?"


Terlihat sekali perubahan wajah Leon, senyumnya tiba-tiba menghilang. Sorot matanya juga meredup. Pria itu terdiam, jakunnya naik turun seperti tengah menahan sesuatu. "Suatu saat kamu akan mengerti," sahutnya tanpa menoleh.


Khansa pun mengangguk tanpa bersuara lagi. Ia menguatkan genggaman tangannya. Menegaskan bahwa sekarang, ia tak sendiri. Karena mulai saat ini, bukan berjuang sendiri-sendiri, melainkan berjuang bersama.

__ADS_1


Tak terasa, Leon sudah sampai di sebuah pelataran luas. Khansa mengernyit saat melihat tempat yang asing baginya. Sebuah gedung tua yang cukup besar, namun banyak yang berjaga di sana.


Saat turun dari mobil, semua penjaga langsung mengepung mereka berdua sambil mencondongkan pistol. Khansa sangat terkejut. Kedua bola matanya melebar dengan degub jantung yang berdebar.


Mata Khansa melirik Leon yang bergeming, lalu berputar mengamati satu per satu orang-orang yang tengah mengarahkan moncong pistol padanya.


Dengan sigap, Khansa menendang salah satu lengan pria berbaju hitam itu dan mengunci lengannya. Tubuh Khansa menunduk mengambil pistol dengan cepat dan langsung meletakkannya di pelipis pria itu. Napasnya memburu dengan kilat mata yang tajam.


"Jangan bergerak!" seru pria lainnya yang meletakkan moncong pistol tepat di kepala belakang Khansa. Semua turut mengarahkannya pada Khansa.


"DEG!"


Bersambung~


Nanti aku lanjut lagi yaa... 😄 maap dikit. Ada sesuatuu...

__ADS_1


__ADS_2