
DEG!
Jantung Yenny seperti terkena tombak api, yang melahap habis detaknya. Tubuhnya mendadak kaku.
"Apa?" Yenny terkejut sambil menggelengkan kepalanya, "Enggak, Anda pasti salah. Ini nggak mungkin," ucap Yenny tidak percaya sambil tertawa, matanya melirik pada amplop tersebut.
"Silakan dibaca dan dipahami isinya, Nona. Saya akan kembali menemui Anda dalam waktu tiga hari jika pembayaran belum diterima oleh klien saya," tegas pria bernama Haidar itu.
Yenny mengangkat pandangannya kembali, menatap mata pengacara itu bergantian dengan amplop tersebut. Dia meraihnya dengan kasar.
"Anda jangan coba-coba membodohi saya, ya?!" pekik Yenny mengangkat jari telunjuknya.
Haidar tersenyum tanpa ikut terpancing dengan emosi Yenny. "Dalam amplop tersebut, ada bukti yang menguatkan bahwa Tuan Sebastian telah menikah."
Wajah gadis itu mulai memerah, gemuruh dadanya sudah berdentuman sedari tadi. Meski dalam hati ia tidak percaya dengan kenyataan ini.
Yenny menyobek ujung amplop itu dengan kasar, mengeluarkan isinya. Lembaran pertama adalah surat pernyataan resmi menikah, meski nama nyonya Sebastian hanya tertera inisial saja. Lembaran kedua adalah surat pengalihan harta atas nama nyonya Sebastian, sedangkan yang terakhir surat tuntutan dari nyonya Sebastian.
Yenny membelalakkan mata sangat lebar. Mulutnya juga menganga, kedua kakinya melemas, tulang-tulangnya seolah terlepas dari tempatnya. Tubuhnya terhuyung hingga harus berpegangan pada dinding di sebelahnya.
Namun detik berikutnya, Yenny tertawa terbahak-bahak. Kemarin ibunya dinyatakan koma, dan sekarang dia dituntut untuk mengembalikan uang sebesar itu dalam waktu tiga hari. Pijakan kakinya seolah berguncang seketika.
"Saya enggak percaya! Hahaha!" teriak Yenny merobek-robek kertas itu hingga kecil-kecil. Lalu mengamburkannya ke atas hingga serpihan kertas itu menghujani dua orang yang saling berhadapan. Sepertinya kewarasan Yenny sedang terganggu.
Haidar mengurai senyum melihatnya, wajahnya santai. "Tidak masalah, itu hanya dokumen copyan. Sedangkan yang asli masih ada di tangan saya. Jangan lupa bayar tagihannya, Nona. Kami tunggu itikad baiknya. Jika tidak, bersiaplah untuk masuk bui. Saya permisi," pamit Haidar sedikit membungkuk lalu pergi meninggalkan Yenny.
Sepeninggal pengacara tersebut, tubuh Yenny merosot ke lantai. Panas dingin kini mendadak menyerang tubuhnya. Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Yenny mengusak rambutnya dengan kasar. Air mata mulai menyeruak dari kedua iris hitamnya. Hatinya memaksa untuk tidak percaya. Tapi semua bukti-bukti itu sangat kuat.
"Aaaaarrghhhh!" teriak Yenny menekuk kedua lututnya, memeluk dengan erat. Ia menangis menyembunyikan mukanya.
Jihan yang mendengar teriakan sang kakak berlari keluar. Dia tersentak kaget melihat remukan kertas yang berserakan di lantai, ditambah kakaknya yang menangis di lantai.
"Kak," panggil Jihan menyentuh bahunya. "Ada apa?" tanyanya kemudian.
Yenny hanya terisak, tak menjawab pertanyaan adiknya. Jihan ikut duduk di sebelahnya, namun tidak berani berucap lagi. Ia sendiri seperti kehilangan arah sejak ibunya sakit.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Yenny mengangkat kepalanya. Matanya masih memerah, isakannya masih terdengar nyaring. Buru-buru dia masuk ke ruangan mengambil ponselnya. Jihan mendongak, menatap nanar juga bingung dengan kondisi sang kakak. Ia lalu turut beranjak dan masuk ke ruang rawat ibunya.
Di dalam ruangan, Yenny tampak sedang mondar-mandir sambil menempelkan ponselnya di telinga. Sudah beberapa menit dia menunggu suara nada sambung berganti dengan sebuah jawaban dari seberang.
Jihan mendesah kasar, ia tidak mengerti apa-apa. Namun kepalanya ikut pusing melihat kakaknya mondar-mandir seperti itu. Jihan mendudukkan tubuhnya di sofa masih memperhatikan kakaknya.
"Aaarrghhh! Sialan!" Yenny melempar ponselnya hingga membentur dinding. Jihan terkesiap, bahkan terlonjak kaget. "Kenapa Leon tidak mau mengangkat teleponku?! Aku butuh penjelasan darinya!"
Yenny mengomel seraya berkacak pinggang. Deru napasnya terdengar sangat kasar. Emosinya membuncah hingga ubun-ubun. Kepalanya berdenyut sangat kuat.
"Leon siapa, Kak?" tanya Jihan penasaran.
"Bukan urusan kamu!" teriak Yenny melotot tajam pada adiknya itu.
Jihan menelan salivanya, cepap-cepat ia menundukkan kepala karena ketakutan. Saat ini sudah tidak ada yang akan membelanya lagi. Ibunya sekarat, ayahnya tak peduli, hanya sang kakak yang dia punya saat ini.
Yenny meraih tasnya lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sakit. Yenny mendatangi Fauzan di kantornya. Perjalanan yang ditempuh tidaklah lama.
"Ayah," panggil Yenny saat sudah sampai di ruangan ayahnya.
Fauzan terkejut, dalam hati mendesah lega karena ia berhasil mengusir Jane yang pagi tadi sudah absen ke kantor.
Yenny melangkah lalu duduk dengan kasar. "Balikin 10 milyar dalam 3 hari, Yah," pinta Yenny to the point.
"Apa?! Apa maksudmu?" teriak Fauzan mengerutkan kedua alisnya.
"Balikin saja!" Yenny balas membentak.
Fauzan berdiri lalu mengitari meja, langkahnya terhenti di sebelah Yenny. "Seluruh uangnya sudah digunakan untuk biaya operasional bisnis baru Ayah yang sempat terbengkalai. Mana bisa dicabut? Uang sudah masuk ke vendor-vendor juga untuk gaji para karyawan," jelas Fauzan.
Yenny mengembuskan napas kasar, "Pakai uang perusahaan dong. Bukannya sudah mulai banyak yang kembali memberikan investasi?" sanggahnya.
"Itu sangat tidak mungkin, karena untuk menutup hutang saja masih belum cukup, Yen," ucap Fauzan memelas.
"Ayah nggak becus ya mengelola perusahaan?!" cibir Yenny mendongak menatap remeh pria di sebelahnya.
__ADS_1
Setelah mengatakannya, Yenny bergegas pergi dari kantor Fauzan. Ia membanting pintu itu dengan sangat keras, sampai sekretaris Fauzan terlonjak kaget.
Langkah Yenny penuh emosi. Dia bingung harus berbuat apa. Saat ini, yang bisa dilakukannya hanyalah berusaha tenang, dan menolak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leon sedang berada dalam perjalanan bersama Gerry. Ia sengaja tidak mau mengangkat panggilan telepon dari siapa pun, kecuali panggilan dari Khansa.
"Tuan, Anda yakin mau ke sana lagi?" tanya Gerry saat mereka berhenti di lampu merah.
"Jalan saja! Tidak usah banyak tanya! Tunjukkan tempatnya!" pekik Leon menatap tajam.
"Baik, Tuan!" sahut Gerry dengan cepat.
Perjalanan yang ditempuh sangat panjang dan cukup melelahkan. Leon meminta Gerry untuk mengantarkannya kembali ke desa. Karena ia sendiri tidak tahu pasti di mana letaknya.
Sepanjang jalan terasa sunyi, suasana semakin terasa dingin. Leon tidak mau berbicara apa pun. Pandangannya terus mengarah keluar jendela. Mengamati setiap jalan yang mereka lalui.
"Tuan, kenapa tidak menyuruh orang saja. Kan biasanya tinggal terima laporan," ucap Gerry karena merasa sangat jenuh.
"Mmm ... aku hanya ingin memastikannya sendiri!" jawab Leon tegas tanpa menoleh. Masih menopangkan dagu pada jendela mobil.
Bersambung~
Bebskiii, maaf ya.... seharian kemarin eror aplikasiku. masa kek gini mulu nge log out sendiri terus, sampe lelah hayati. Padahal sinyal full, udah update versi baru juga.
Mengeselin sekali kemarin tuh. Jadi aku tidur karena masih recovery juga... wkwkwk. abis ini aku mau tidur lagi.
Love you all 😘.. sekebon cabe, sekandang sapi, sejagat, segerobak, se- apa lagi 😅😅
😩: Asyem sekali kau ini, Mas Le!
__ADS_1
MasLe: Yang wangi cuma Sasa 🤪