
Langkah Khansa terhenti, tubuhnya menghadap sang suami, keduanya saling menatap lekat. Leon meraih sesuatu di kantung celananya, lalu menggantungkan tepat di depan Khansa.
"Apa kamu mau cari ini?" tanya Leon menatap kalung dengan liontin giok merah yang berkilauan di bawah sinar matahari.
"Kok bisa ada sama kamu?" tanya Khansa menautkan alis sembari menyentuhnya.
Leon beralih menyibak rambut panjang Khansa lalu melingkarkan di leher jenjangnya. "Hansen yang menemukannya," ucap Leon mengecup leher itu sekilas yang membuat Khansa bergeser seketika.
"Leon! Nggak tahu tempat?!" semburnya melotot tajam.
Leon hanya terkekeh ringan sembari melingkarkan lengan di bahu sang istri. "Yaudah, ayo balik!" ajaknya memutar langkah.
Buru-buru Khansa mencegahnya. Ia bergerak hingga dari lilitan lengan kekar Leon terlepas. "Tunggu! Aku mau cari seseorang," ujarnya kembali melenggang masuk.
Semakin dekat dengan pintu utama, dadanya semakin bertalu kuat. Namun keinginan dan rasa penasaran yang membuncah mampu menggerus semua rasa takutnya. Leon setia mendampingi istrinya meskipun tidak mengerti maksud dan tujuan perempuan itu.
"Yah, masih tutup gimana dong?" tanya Khansa saat melihat bar yang dituju belum buka. Ia memilih duduk di sebuah kursi stainless yang ada di teras bar.
"Mana ada bar yang buka jam segini, Sayang? Lagian mau ngapain sih?" Leon duduk di sebelahnya.
Khansa terlihat semakin tidak tenang. Ia memejamkan mata sambil memijit kedua pelipisnya. Dan itu mengundang kepanikan suaminya. Dengan gerakan cepat, Leon menangkup kedua pipi istrinya. Menamatkan tatapannya pada kedua manik indah sang istri.
"Ada yang sakit? Tolong jangan bikin aku khawatir," tanyanya.
"Leon, sebelum kamu datang nyelametin aku, Jihan lebih dulu nolongin aku. Dan aku bisa melihat emosi, ketakutan dan luka yang begitu dalam dari gestur tubuhnya. Dia sempat memukuli Tiger sambil terus berteriak histeris, meluapkan kemarahannya. Aku takut terjadi apa-apa sama dia," cerita Khansa yang masih menyimpan sekelumit rasa penasaran sekaligus khawatir dengan gadis itu.
Ingatan Leon pun kembali terbuka beberapa waktu lalu. Keningnya mengernyit, bola matanya nampak bergerak perlahan. Ia lalu melepaskan lengannya dari Khansa. Beralih mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Gerry! Kirimkan alamat Maharani sekarang juga!" tegasnya setelah sambungan tersambung. Dia teringat, dulu Gerry pernah ingin memberikan laporan mengenai Maharani.
"Baik, Tuan!" jawabnya patuh tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
Tak lama sebuah notif diterima Leon. Ia mengamati jalur yang harus dilalui untuk mencapai sebuah titik. Khansa memperhatikan dalam diam menahan kegelisahan.
"Sayang, dia nggak baik-baik saja. Aku pernah memergoki Tiger melecehkannya," ucap Leon memasukkan kembali ponselnya.
Khansa syok mendengarnya, kedua manik indahnya membelalak lebar, mulutnya pun menganga. Leon menarik lengan Khansa yang masih larut dalam keterkejutannya. "Ayo, sebelum terlambat!" ajak pria itu.
Keduanya segera berlari menuju parkiran, lalu melesat pergi menuju kediaman Maharani. Membayangkan posisi Jihan saat ini pasti sedang berada di titik terendahnya. Meski dulu sering berselisih, Khansa yakin semua karena pengaruh Maharani. Jihan hanya gadis polos yang manja, dia akan terbentuk sesuai dengan apa yang membentuknya.
Di tengah perjalanan, Khansa melihat perawakan yang mirip dengan Jihan sedang naik ke atas pembatas jalan. Satu kakinya sudah melangkah, bersiap untuk menjatuhkan diri ke dasar jurang yang begitu dalam. Khansa segera menepuk-nepuk bahu Leon dengan keras. "Leon! Berhenti!" teriak Khansa berulang-ulang.
Pria itu segera memelankan gas dan menghentikan laju motornya. Baru menoleh dan hendak bertanya, Khansa sudah melompat turun dan berlari ke seberang jalan.
"Jihan!" pekik Khansa menangkap perut Jihan, menariknya hingga tubuh mereka berguling di tanah.
"Jihan apa yang kamu lakukan?" seru Khansa bergerak bangun.
Leon yang sampai di sana segera membantu Khansa bangun dan membersihkan sekujur tubuhnya yang kotor. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya sambil meraih daun kering dari rambut Khansa. Wajahnya penuh kekhawatiran, Khansa menggeleng pelan, "Enggak," sahutnya.
"Ji, bangunlah!" ucap Khansa lembut.
Jihan justru semakin menangis. Ingin rasanya berlari sejauh mungkin, tapi tidak bisa. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia sangat malu dan takut bertemu dengan Khansa.
"Jihan," Khansa memeluk tubuh gadis itu. Meyakinkan dirinya, bahwa semua baik-baik saja. Tangan Khansa menggenggam jemari Jihan yang terasa sedingin es.
"Kenapa kamu nggak biarin aku mati aja, Sa! Aku udah nggak punya siapa-siapa. Hidupku udah nggak berguna lagi! Hancur semuanya hancur!" gumam Jihan di tengah isakannya.
Khansa mengusap pelan lengan Jihan, membangunkan perempuan itu hingga mereka duduk saling berhadapan. "Jangan bicara seperti itu, Ji. Kamu lupa aku juga pernah kehilangan semuanya. Hidupku lebih hancur dari kamu, karena dulu aku masih belia. Tapi kamu lihat, sekarang aku mendapat penggantinya. Hidup itu berputar, Ji. Mungkin saat ini kamu memang sedang di bawah, tapi yakinlah. Suatu saat nanti kamu akan kembali pada puncak teratas kebahagiaan," cecar Khansa membenarkan duduknya.
Jihan tertunduk malu, rambutnya semakin berantakan tertiup angin yang berembus dengan kencang. "Maafin aku, Sa! Kesalahanku padamu di masa lalu bagaikan gunung, tak terhitung besarnya. Mungkin ini balasan untukku," ucapnya tanpa berani menoleh.
"Sakit sih emang. Tapi kalau terus diingat-ingat selamanya kita nggak akan pernah merasakan hidup tenang dalam kedamaian. Ji, jadikan masa lalu sebagai pembelajaran. Kamu ingat, aku pernah bilang hidup itu tabur tuai? Mulai sekarang, taburlah kebaikan. Agar kamu pun kelak akan menuai kebaikan pula. Semua yang kamu lakukan, akan kembali pada dirimu sendiri." Khansa mengusap lembut lengan Jihan.
__ADS_1
Leon semakin terkagum-kagum dengan wanitanya. Entah terbuat dari apa hatinya. Bagaimana dia bisa lepas dari jerat cinta wanita itu? Hidupnya akan lebih hancur jika kehilangannya. Sekarang ia semakin yakin dengan langkahnya, membawa perempuan itu pergi sejauh mungkin menghapus semua kenangan buruk.
"Tapi hidupku sudah hancur sekarang, Sa! Aku ingin mati saja!" ucap Jihan menyeka air matanya yang terus membanjir.
"Apa semua karena Tiger?" cetus Khansa yang sontak membuat Jihan mengangkat kepalanya. Pucat, wajahnya sangat pucat seputih kapas.
Jihan mengangguk, tangisnya pun pecah tak terbendung. Khansa merengkuh tubuhnya, memeluk erat perempuan itu. Mencoba menenangkannya, mengusap pelan punggung Jihan yang terus bergetar hebat ketika nama itu terdengar di telinganya.
"Apa mengandung anaknya?" tembak Leon yang tepat mengenai sasaran.
Jihan mendongak, lalu kembali menunduk dalam. Khansa mengguncang kedua bahu Jihan. Matanya memerah menatap Jihan, "Katakan Jihan! Apa benar kamu mengandung anak Tiger?" ulang Khansa menahan gejolak amarah.
Sebuah anggukan kecil menjawab pertanyaan keduanya. Isakan Jihan semakin terdengar keras. "Bantu aku menggugurkannya, Sa. Aku nggak mau mengandung anak dari penjahat seperti dia. Tolong, Sa! Aku nggak mau melahirkannya."
"JIHAN!" teriak Khansa menggelegar disambung sebuah tamparan yang sangat keras di pipi Jihan.
Jihan meringis menyentuh pipinya. Sedangkan Leon segera berjongkok dan memeluk istrinya. "Sayang, tenang," bisiknya di telinga Khansa.
"Dia mau membunuh anak yang tak berdosa Leon!" Khansa menunjuk Jihan dan menatap nyalang ke arah suaminya. "Gimana aku bisa tenang, hah? Kamu tahu 'kan gimana rasanya kehilangan? Kamu tahu gimana sakitnya ketika kita kehilangan calon anak kita? Sakit Leon! Sakit!" Khansa berteriak dengan deraian air mata.
Leon menariknya ke dalam dekapan. Jihan tersentak mendengar ungkapan Khansa yang kehilangan calon anaknya. Dilema pun kini menghampirinya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
Perlahan Khansa mendorong dada suaminya. Menggenggam erat jemari Jihan, menatapnya penuh permohonan. "Jihan! Kalau kamu tidak mau merawat anak itu, berikan pada kami! Tolong jangan pernah menyakitinya. Tidak peduli siapa pun ayahnya, bagaimana bejatnya ayahnya. Anak itu tetap suci. Kami janji akan merawat dan membesarkannya," pinta Khansa dengan suara bergetar.
Rasa kehilangannya saja masih begitu menyesakkan dada. Tapi kini justru dengan teganya seorang ibu ingin membunuh darah dagingnya sendiri. Tidak! Khansa tidak akan pernah membiarkannya.
Lalu Khansa beralih pada Leon, maniknya yang basah bersirobok dengan mata elang Leon. "Sayang, kamu mau 'kan merawat bayi tak berdosa itu?"
Bersambung~
Hadeeh Ji... Ji... cari mati kamu ngomong gitu depan Sasa.
__ADS_1