
Khansa berjalan pelan menyusuri lorong ruangan rawat ibu Zahra. Sebelumnya, ia juga mampir ke kantin untuk membelikan makanan pada anak itu.
Ia mengetuk pintu dengan perlahan, melenggang masuk setelah Zahra membukakan pintu. Senyum sumringah segera menghiasi bibir mereka.
"Hai, Ra. Nih, makan dulu. Ibu sudah sehat?" tanya Khansa menyerahkan sebuah kantong plastik berisi makanan dan minuman.
"Sudah, Tante Dokter. Terima kasih banyak," sahutnya membuka lebar pintu tersebut memberikan jalan pada Khansa.
Segera dokter cantik itu melenggang masuk, mendekati ranjang ibunya Zahra. Nampak wanita itu duduk bersandar dan berkaca-kaca ketika melihat kedatangan Khansa. Zahra sudah menceritakan semua kebaikan Khansa pada mereka, bahkan membebaskan biaya perawatan hingga sembuh.
"Dokter, terima kasih banyak bantuannya. Semoga Allah membalas semua kebaikan, Dokter," ucap ibu tersebut menangis sembari meraih tangan Khansa.
"Sama-sama, Bu. Lekas sehat ya, demi Zahra."
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak dibantu oleh dokter." Ibu itu menunduk menyeka air matanya.
Khansa turut berkaca-kaca, meremas tangan ibu tersebut lalu berucap, "Bu, Zahra mengingatkan saya sewaktu kecil. Namun sayangnya, dulu ibu saya tidak bisa diselamatkan. Saya tidak ingin Zahra juga merasakan apa yang saya rasakan. Lagi pula, suami ibu juga pernah menolong saya sewaktu kecil. Jangan sungkan, Bu. Anggap saja ini balasan saya untuk kebaikan Bapak Ryan," papar Khansa.
Selang beberapa waktu, mereka lebih tenang setelah sedikit membuka masa lalu yang cukup menggores luka di hati mereka.
__ADS_1
"Lalu, ibu tinggal di mana?" tanya Khansa.
"Kami tinggal di yayasan kasih bunda, Dokter."
"Ada banyak yang tinggal di sana, Bu? Apa semacam panti asuhan?"
"Betul, Dokter. Ada sekitar 50an anak beserta pengurusnya."
Khansa pun berminat untuk mengundang mereka semua ke resepsi pernikahannya. Kebahagiaannya selalu membuncah ketika hidupnya bisa bermanfaar bagi orang-orang di sekitarnya. Apalagi untuk orang-orang yang membutuhkan.
"Bu, kalau begitu nanti tanggal 29, saya dan suami ada acara kecil-kecilan. Kami mengundang ibu ke alamat ini. Tolong hadir sekitar pukul 4 sore ya, Bu. Ajak semua pengurus dan anak-anak yang ada di yayasan tersebut," ucap Khansa memberikan kartu namanya.
"Sama sekali tidak, ibu. Kami tunggu kedatangannya. Kalau begitu kami pamit ya, Bu. Semoga segera pulih dan diperbolehkan pulang. Oh ya, untuk kontrol, ibu cukup perlihatkan kartu ini agar dibebaskan biayanya," jelas Khansa dengan ramah.
"MasyaAllah, sekali lagi terima kasih banyak, Dokter!" seru ibu Zahra diiringi tangis haru.
Khansa mengangguk sopan. Ia pun segera berpamitan karena ponselnya terus berdering sedari tadi. Siapa lagi pemanggilnya jika bukan sang suami, si bayi besar.
Saat kembali menuju ruangannya, Khansa segera menambah pemesanan catering dan harus tersedia sore hari. Acara resepsi sebenarnya digelar malam hari, hanya saja Khansa takut ibu Zahra dan yang lainnya akan merasa minder jika turut bergabung dengan para tamu Leon.
__ADS_1
Selain itu, Khansa juga memesan souvenir di toko online islami. Karena mayoritas, mereka beragama islam. Khansa memilih paket terbaik dan lengkap untuk gift pada yayasan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat mencapai pintu ruangan dan memasukinya, ponselnya kembali berdering. Khansa terkekeh ketika menangkap raut kesal Leon yang kini menatapnya. Gerry sudah kembali ke kantor lagi, ia terpaksa harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan sang boss.
"Katanya sebentar! Nggak usah balik sekalian!" geram Leon dengan tatapan tajam.
Khansa mendengkus, memasukkan ponsel ke saku jasnya, lalu buru-buru mempercepat langkah agar segera mencapai suaminya. "Uluh-uluh, bayi gedeku ngambek," gumam Khansa langsung duduk di pangkuan Leon. Kedua tangannya menangkup pipi Leon dan membelainya lembut.
Leon membuang muka, meski sembari menahan senyum karena suka dengan istrinya yang agresif. 'Sepertinya harus sering ngambek nih,' gumam Leon dalam hati tertawa puas.
"Eh, udah di sini kok masih nelepon mulu sih, Sayang!" ucap Khansa yang masih mendengar dering ponselnya.
"Enggak, bukan aku. Siapa tuh yang telepon?" selidik Leon memicingkan mata.
"Eh, bukan? Kirain kamu!" ucap Khansa dan meraih benda pipih itu lagi untuk melihat sang penelepon.
Bersambung~
__ADS_1