Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 31 : Cantik Paras dan Hatinya


__ADS_3

"Ada apa, Sayang?!" teriak Leon namun percuma. Karena Khansa sudah melenggang jauh meninggalkannya.


Leon pun segera turun tanpa memarkirkan mobilnya, berlari mengejar sang istri yang membuatnya khawatir. Kedua kakinya melangkah panjang hingga kini berhenti tepat di belakang istrinya yang sedang berjongkok menangkup kedua bahu seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun sedang menangis memeluk lututnya di lantai.


Hati Khansa tergerak untuk mencari tahu apa dan mengapa gadis sekecil itu menangis seorang diri tanpa didampingi siapapun. Itu mengingatkan masa kecilnya dulu.


"Dek," panggil Khansa membuat anak itu mendongak. "Kenapa menangis? Kamu sama siapa?" tanyanya lembut, tidak tega melihat wajah sendu anak itu.


"Ibu," gumamnya menangis sesenggukan.


"Nama kamu siapa? Di mana ibumu?"


"Zahra, ibu ...." sebut Anak itu kemudian menunjuk ke dalam UGD.


Segera Khansa mengajaknya masuk untuk melihat kondisi ibunya. Kebetulan hanya ada satu pasien, Khansa yakin wanita yang terbaring di atas brankar adalah ibu dari anak itu.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Khansa menyentuh lengan wanita itu. Kedua matanya membelalak karena merasakan denyut nadinya yang sangat lemah, bahkan nyaris menghilang. Ia lalu mendongak menatap dokter jaga yang menggelengkan kepala perlahan dengan raut penuh penyesalan.


"Dokter, maaf kami gagal menyelamatkannya," ucap dokter jaga.


Zahra, gadis kecil yang berhijab itu meluruh ke lantai. Ia tentu mengerti maksud perkataan sang dokter. Tangisnya pecah seketika. "Astagfirullahalazim," gumamnya membungkuk merasakan dadanya seperti dihantam beban yang sangat berat.


"Tidak! Kita nggak boleh nyerah!" seru Khansa memeriksa embusan napas yang sudah tidak terasa. Lalu meraih stetoskop dengan cepat, untuk mencari detak jantungnya.


Tubuh Khansa gemetar, air matanya mulai menyeruak dari kedua netra indahnya. Ia seperti de javu melihat dirinya sendiri yang kehilangan ibunya sejak usia dini.


Wanita itu kini naik ke atas ranjang, kedua kakinya berlutut di antara tubuh pasien. Segera Khansa melakukan resusitasi jantung dan paru sebagai suatu usaha untuk mengembalikan fungsi jantung dan parunya. Ia menekan dada pasien dengan kedua tangannya sesuai prosedur.


"Ya Allah! Engkau sudah mengambil ayahku. Kenapa kini Engkau ambil ibuku!" jerit Zahra bersujud di lantai dengan tangisan yang menggema. "Ampuni aku ya Allah! Tapi aku belum siap kehilangan ibu. Aku tidak bisa! Allahu Akbar! Laa ilaaha illallah!" Anak itu terus berteriak menggemakan takbir dan tahlil bergantian diiringi deraian air mata.


Semua petugas medis yang melihatnya turut prihatin dan sedih melihat nasib anak itu. Dengan tegar membawa ibunya sendirian ke rumah sakit. Dan kini justru harus menerima kondisi sang ibu yang berada di ambang kematian.


Dada Khansa bergetar mendengarnya. Ia semakin berusaha keras untuk terus memompa dada pasien itu. Air matanya pun tidak berhenti mengalir. Keringat mulai membasahi keningnya, ia terus berusaha dan tidak ingin menyerah.


Hingga setelah beberapa kali melakukan resusitasi, pasien itu berhasil mengambil napas seolah terkejut sampai dadanya terangkat dan kembali terhempas di ranjang. Khansa merapatkan kedua matanya dengan napas tersengal-sengal dan penuh kelegaan.

__ADS_1


Akhirnya jantung dan paru pasien itu kembali berfungsi. Khansa segera turun dari brankar, di tangkap oleh Leon, perawat dan dokter jaga segera memasang selang oksigen untuk membantu memperlancar pernapasan pasien. Juga membenarkan kembali infus yang terpasang di lengan pasien tersebut.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Leon menangkup kedua bahu Khansa.


Wanita itu mengangguk sembari mengatur napas. Ia lalu berlutut tepat di samping Zahra. Mengusap punggung gadis kecil itu dengan lembut. "Ibu, akan segera sembuh," bisik Khansa di telinga gadis kecil itu.


Zahra segera menegakkan punggungnya. Wajah dan matanya memerah. Ia menatap Khansa seolah tak percaya. "Benarkah?" tanyanya dengan suara serak.


Khansa mengangguk cepat, Zahra segera beranjak dan berlari mendekati ranjang ibunya. Ia bisa melihat napas ibunya kembali normal walaupun masih menutup matanya rapat.


Lagi-lagi gadis kecil itu bersujud sambil menangis begitu keras. "Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah!" teriaknya penuh rasa syukur.


Leon membantu istrinya berdiri, mendampingi kemanapun wanita itu bergerak. Tidak sedikit Leon kehilangan jejak langkah istrinya.


"Dokter, lanjutkan pemeriksaan. Suster, tolong panggil bagian administrasi untuk mendaftarkan pasien ini," titah Khansa pada tim medisnya.


"Baik, Dok!" sahut mereka serempak.


Beberapa waktu berlalu, Khansa meminta untuk mendata nama pasien itu dan memberikan perawatan seperti biasa, tanpa membebankan biaya sepeser pun.


Khansa menyentuh bahunya, gadis itu mendongak dengan pancaran sendu sekaligus bahagia. "Aamiin, semoga ibu lekas sembuh ya," ucap Khansa menepuk puncak kepala gadis itu.


Usai pendataan pasien dan mendapat kamar inap, Khansa beralih menuju ruangannya. Leon masih setia mengekori di belakangnya. Tak henti-hentinya pria itu dibuat kagum oleh sang istri.


"Kamu nggak ke kantor, Sayang?" tanya Khansa mengenakan jas putih kebanggaannya.


"Enggak! Tidak ada hal urgent. Aku lagi nggak pengen jauh dari kamu! Sepertinya anak-anak maunya deket sama papa. Iya 'kan, twins?" sapanya membungkuk dan menciumi perut datar Khansa.


"Alesan aja terus. Anak-anak nggak ngapa-ngapain dikambing hitamkan," celetuk Khansa memicingkan mata.


Leon menegakkan punggung kekarnya, ia terkekeh sembari menarik pinggang dan merapatkan tubuh mereka. "Sekalipun aku pergi, pikiran dan hatiku tidak akan bisa tenang. Jadi hari ini, izinkan suamimu ini mendampingi istrinya yang cantik hati dan parasnya," ucap Leon menunduk hingga hidung mancung mereka saling bertabrakan.


"Gombal banget sih sekarang!" cibir Khansa tertawa meregangkan pelukan Leon karena sudah jadwalnya untuk praktik.


"Padahal dalam hati seneng banget tuh, kayak bunga yang lagi bermekaran," ucap Leon.

__ADS_1


"Anda sotoy, Tuan Muda!" Khansa mengerlingkan mata lalu segera beranjak dari ruangannya menuju ruang praktik.


Sudah ada deretan pasien yang menunggu kedatangan dokter psikiater tersebut. Banyak sekali yang suka dan cocok dengan cara penanganan Khansa, sehingga antrian selalu ramai jika wanita cantik itu sedang berada di jam praktik.


Satu per satu pasien hilir mudik untuk berobat, ada juga yang berkonsultasi. Leon mendengkus kesal jika ada pasien gendernya laki-laki. Ia menjadi gerah sendiri, melihat Khansa bercengkerama ramah dengan lawan jenis selain dirinya. Sudah tahu itu memang tugasnya, tapi entahlah kekesalan itu muncul begitu saja.


Leon mengendurkan dasinya dengan dan membuka dua kancing teratasnya. Ia membuang pandangan ke luar jendela. Melihat pemandangan di luar gedung untuk meredam rasa kesalnya.


Empat jam berlalu begitu cepat, Khansa harus beristirahat terlebih dahulu. Tubuhnya sangat mudah lelah. Padahal ia sudah mengkonsumsi segala jenis vitamin dan penguat kandungan terbaik. Namun tetap saja, kondisinya sudah tak sama lagi seperti sebelum hamil.


"Huuft!" Khansa menghela napas panjang sembari menyandarkan punggungnya. "Sus, silakan istirahat dulu," ucap Khansa pada asistennya.


"Baik, Dok. Permisi," balasnya membungkuk lalu melenggang pergi.


"Sayang, ke kantin yuk!" ajak Khansa menoleh pada suaminya.


"Hemm!" gumam Leon tanpa menoleh.


Khansa mengernyitkan dahinya. Ia menggeleng pelan lalu beranjak menghampiri suaminya. Tangannya mencekal lengan Leon lalu mengajaknya pergi.


Sepanjang lorong Khansa terus mengoceh, namun Leon hanya menanggapinya dengan deheman saja. Dadanya masih bergemuruh hebat hingga membuatnya malas bersuara.


Sesampainya mereka di kantin rumah sakit bernuansa cafe, keduanya segera memilih tempat duduk di balkon. Khansa sangat menyukai suasana terbuka ditemani hilir mudik angin yang menyapa. Seorang waitress segera menghampiri menyerahkan buku menu. Khansa memilih berbagai menu untuk santap siang mereka.


Leon mengeluarkan rokoknya, seharian ini dia sudah absen dari nikotin itu. Diambilnya satu batang dan mengapitnya di mulut. Buru-buru Khansa merebutnya dan mematahkan satu batang rokok itu. Leon tersentak kaget.


"Jangan merokok di depan orang hamil jika kamu tidak ingin membahayakan anak-anak kita," cetus Khansa dengan tatapan tajam.


Leon mengusap wajahnya kasar. Hampir saja ia melakukan kesalahan fatal. "Aku lupa, Sayang," desisnya merapatkan kursi di samping Khansa. Tubuhnya segera merunduk hingga sejajar dengan perut Khansa. "Maaf, Sayang. Papa lupa. Untung kalian punya mama yang hebat!" gumamnya mencium dua kali perut Khansa.


"Leon!" panggil Khansa menepuk punggung suaminya.


Leon yang masih asyik bercengkerama dengan calon anaknya, kini menegakkan tubuhnya. Khansa menunjuk ke seseorang yang duduk tak jauh darinya. "Itu!"


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2