
Khansa mematung, mata indahnya tak berkedip ketika menatap sang ayah. Siang semakin terik, hawa panas tidak mampu mengusir mereka dari tengah jalan raya. Mata Fauzan sudah memerah. Ia melangkah semakin dekat dengan putrinya.
"Sa," panggil sang ayah yang kemudian tenggorokannya tercekat.
Khansa mengembuskan napas kasar, ia tersenyum samar, menyambut ayahnya dengan merentangkan kedua lengan kecilnya. "Ayah," ucapnya lirih lalu menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Fauzan mengambur, memeluk Khansa dengan erat. Tangannya menahan kepala Khansa dalam pelukannya. Menumpahkan segala tangis kerinduan dan penyesalan.
"Maaf, Sasa pernah kasar sama Ayah," ujar Khansa menyadari kesalahannya. Bagaimanapun Fauzan ayah kandungnya. Darah, tidak akan bisa digantikan dengan air.
Fauzan meregangkan tubuhnya, membingkai kedua pipi Khansa dan mengusapnya dengan lembut. Kepalanya menggeleng berulang kali, "Tidak, Nak. Ayah yang sudah sangat keterlaluan sama kamu. Bahkan apa yang kamu lakukan tidak ada apa-apanya. Pukul lagi sepuas kamu, ayah memang brengsek!" gumamnya meraih tangan Khansa dan menamparkan ke pipinya. Namun Khansa segera menahannya.
"Jangan seperti itu, Yah. Sekarang ibu dan kakek sudah bahagia di sana. Saatnya kita membuka lembaran baru. Asalkan jangan sampai ayah terjerumus lagi ke dalam lubang yang sama." Khansa berucap lembut dengan mata berkaca-kaca. Ikhlas itu satu kata yang mudah diucapkan meski sulit dilakukan.
Satu tangan Khansa terangkat, menekan dada Fauzan yang masih berdebar dengan kuat, napasnya berembus pelan, tatapannya begitu meneduhkan, "Lihat dan rasakan orang-orang tulus dengan hatimu, Yah. Jangan hanya melihat dengan mata yang bisa saja dimanipulasi. Juga janganlah mudah diperbudak nafsu. Baik harta ataupun wanita," lanjut perempuan itu pelan namun menusuk tepat di jantung Fauzan.
Fauzan menyadari kesalahannya. Sebuah tamparan keras dari putrinya, terasa lebih menyakitkan daripada tamparan menggunakan tangan yang sakitnya bisa hilang setelah beberapa saat.
Khansa mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, menyelipkan pada tangan sang ayah, "Pulanglah ke rumah, Yah. Pintunya masih terbuka lebar untuk Ayah. Dan mulai besok, ayah bisa kembali memimpin perusahaan lagi. Semua sudah berjalan dengan normal. Ayah punya menantu yang hebat, kalau bukan karenanya Sasa tidak tahu apa yang terjadi pada perusahaan kita," sambung Khansa menoleh pada sang suami.
Pria muda itu tentu saja terkejut, ia menjadi salah tingkah saat semua mata tertuju padanya. "Ah, kamu bisa aja, Sayang. Bukan hanya aku yang kerja. Semua karyawan kooperatif, jadi tidak terlalu sulit untuk menstabilkan kondisi Perusahaan Isvara," ucap Leon.
"Tidak, Nak. Ayah tidak pantas menerimanya. Bahkan untuk menyandang gelar Isvara saja, ayah merasa sangat tidak pantas," ucap Fauzan menunduk.
Khansa menepuk salah satu bahu Fauzan, "Yah, apa ayah lupa dengan semua perintah kakek? Bukankah kakek sudah mempercayakan semuanya pada Ayah. Tebus semua kesalahan ayah, jaga peninggalan kakek dengan baik. Oh iya, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan mengenai Keluarga Ugraha. Tapi, ayah istirahatlah dulu. Nanti malam kami akan datang ke rumah." Gadis itu hanya ingin meluruskan amanat sang kakek pada ayahnya.
Khansa meraih tangan ayahnya lalu menciumnya. Pria itu terpaku, hatinya benar-benar terenyuh. Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Matanya seolah terbuka lebar, kemana ia selama ini? Yang tidak bisa melihat kelembutan dan ketulusan Khansa. Hal itu semakin membuatnya terperosok dalam penyesalannya.
"Maaf, karena sempat membentakmu, ayah mertua," ucap Leon yang mengejutkan Fauzan dari lamunannya. Pria tampan itu melakukan hal yang sama dengan istrinya. Meraih tangan Fauzan dan menciumnya.
Leon lalu berbalik dan berjalan pelan masuk ke mobil. Mereka bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Fauzan yang merasa tersentuh hatinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Fauzan kembali menarik kesadarannya. Berbekal uang dari Khansa, ia bisa pulang naik taksi. Sepanjang perjalanan Fauzan bersandar dan memejamkan mata. Dadanya sesak ketika mengingat semua ketamakan dan keserakahannya hingga menyakiti Khansa. Namun, tidak ada dendam sedikit pun dari perempuan itu.
Setibanya di rumah, Fauzan merasakan kesunyian menelusup hatinya. Pria itu mengedarkan pandangannya, membuka kembali ingatannya di setiap sudut rumah itu.
Kenangan indah semasa hidup bersama Stefanny, lalu pertengkarannya hingga saat ia kehilangan semuanya. Kini otaknya memutar seluruh perjalanan hidupnya. Yang semakin membuatnya sesak penuh penyesalan.
Tubuh Fauzan merosot ke lantai, ia menangis dan berteriak dengan keras. Mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Mencoba menghilangkan peyesalan terdalamnya. Tapi tidak bisa, semua sia-sia. Waktu tidak akan bisa diputar kembali. Selamanya, Fauzan akan tercekik dengan rasa sesalnya.
Sesuai janjinya, Leon dan Khansa tiba di rumah saat malam hari. Mereka membawa banyak makanan. Ini pertama kalinya Khansa makan malam satu meja dengan ayahnya setelah puluhan tahun lamanya. Begitu pun dengan Leon, pertama kali makan satu meja dengan ayah mertuanya.
"Sa, apa kamu akan tinggal di sini bersama ...." Fauzan menggantungkan ucapannya. Ia merasa sungkan menyebut nama Leon.
"Panggil saja Leon, Ayah," tukas Leon yang tahu kecanggungan Fauzan.
"Ah, baik Le ... Leon," balas Fauzan terbata.
Khansa menghentikan sejenak makannya. "Kami tinggal bersama nenek, Yah. Sesekali, kami akan main ke sini," ucap Khansa mencairkan suasana.
Setelah makan malam, Leon dan Khansa membeberkan semua tindakan keluarga Ugraha, tentu saja disertai semua bukti. Fauzan benar-benar terkejut dan tidak menyangka. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimanapun juga Fauzan turut berperan pada pengobatan kakek. Rasa bersalah semakin menyeruak di hatinya.
"Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?" Fauzan menyugar rambut dengan kedua tangannya. "Lalu apa rencana kalian?" tanyanya kemudian.
Leon mengambil alih pembicaraan. Dia menjelaskan beberapa rencana untuk memberi pelajaran pada keluarga tersebut. Suasana sudah semakin menghangat, tidak secanggung saat mereka baru bertemu. Leon juga meminta sang ayah agar memanggilnya dengan nama saja.
Hingga tak terasa malam semakin larut, Leon pun mengakhiri perbincangannya karena Khansa sudah mulai mengantuk. Beberapa kali wanita itu menguap dan menyandarkan kepalanya di sofa.
"Malam ini menginap saja di sini, tidak baik melakukan perjalanan di tengah malam," tawar Fauzan pada anak dan menantunya.
Leon beralih menatap istrinya. Ia akan menuruti setiap ucapan perempuan itu. Khansa mengangguk, saat mereka saling bersitatap. "Yasudah kalau begitu, kami pamit dulu, Yah. Ayah juga segera beristirahat besok 'kan sudah mulai ke kantor lagi," balas Khansa melenggang ke kamar dengan menggenggam tangan Leon.
Senyum yang lebar dan anggukan menjadi balasan dari ucapan Khansa. Fauzan menghela napasnya. Menatap nanar punggung putrinya yang kini direngkuh oleh lengan panjang Leon.
__ADS_1
"Stef, putri kita sudah tumbuh dewasa. Dia pasti sangat cantik sepertimu. Bahkan hatinya juga selembut kamu. Maaf, aku pernah menyia-nyiakan kalian," gumam Fauzan kembali menitikkan air mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari terus berganti, tak terasa waktu kepulangan Emily pun tiba. Ia sudah meminta Bara untuk merapikan barangnya semalam. Dan pagi-pagi sekali dia harus melakukan penerbangan sesuai tiket yang dipesankan Bara beberapa hari lalu.
Emily terkejut saat Bara sudah menerobos masuk kamarnya. Pria itu juga sudah sangat rapi berkemeja panjang dengan dua kancing terbuka. Emily mengernyitkan dahinya. "Mau ke mana, Bar?" tanya gadis itu mendekat.
"Ikutlah!" jawab Bara melangkah masuk membawa koper kecil Emily. Namun sebelumnya ia pergi ke walk in closet dan kembali setelah beberapa saat dengan jaket warna pink di tangannya.
"Hah? Ngapain ikut?" Emily bertanya setelah pria itu muncul.
Bara mengenakan jaket tersebut ke tubuh Emily, lalu mengenakan sebuah masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Aku tahu, kamu pasti nggak tidur. Takutnya kenapa-napa di jalan. Makanya aku harus mastiin kamu kembali dengan selamat. Tidak boleh ada yang lecet sedikitpun!" tegas Bara kembali meraih koper Emily lalu berjalan mendahului gadis itu.
Emily tersenyum hingga kedua matanya semakin menyipit. Ia berlari mengejar Bara sambil merengkuh lengannya. "Barbara! Makasih banyak ya. Lo selalu ada dan selalu jagain gue. Lo juga bisa handel semua jadwal syuting gue. Nggak tau deh gimana jadinya kalau nggak ada lo, Bar. Jangan tinggalin gue," ungkap Emily merebahkan kepalanya manja di lengan pria itu.
Bara mendecih sembari memicingkan mata. "Yang ada elu, Baby, yang bakal ninggalin gue! Buruan dah, sejam lagi kita terbang!" sahutnya mendorong kepala Emily, lalu melanjutkan langkahnya.
"Palembang! I'm coming!" teriak Emily bersemangat mengangkat kedua tangannya.
"Kenapa nggak teriak Hansen! I'm coming!" goda Bara terkekeh geli.
"Paan sih!" cebik gadis itu merengutkan bibirnya namun tak urung juga membentuk senyum di bibir tipisnya.
Bersambung~
Ciiyeee senengnyaa.... uhuuk!! Bar, Lu gak ada niatan tobat? Padahal bnyak fansmu 🤣
__ADS_1