
"Dion! Tambah kecepatan!" pekik Leon memiringkan tangkinya mencegah cairan itu tumpah. Satu kakinya mendorong pintu mobil hingga tertutup rapat.
"Baik, Tuan!" sahutnya menaikkan laju mobil.
Tujuh pasang mata penumpang mobil tersebut membelalak dengan lebar saat melihat api yang juga berjalan mengikuti mobil mereka. Irama detak jantung berdentuman dalam dada mereka.
"Leon," lirih Khansa menoleh dengan wajah memucat.
Pria itu hanya mengangguk dan berkedip lembut, memberi isyarat melalui sorot mata pada sang istri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tetap saja Khansa merasa khawatir, angin yang bertiup kencang pada malam hari itu cukup membuat laju api menjalar dengan cepat mengikuti mobil mereka.
"Semuanya, lepaskan helm dan baju pelindung kalian! Setelah mobil berhenti, segera keluar!" teriak Leon memerintah.
Tanpa banyak tanya, mereka segera melakukannya. Satu persatu atribut tersebut dilepas. Khansa mengikat rambutnya yang terburai. Ia lalu beralih membantu Leon melepaskan helm pria itu yang telapak tangan lebarnya menutup lubang tangki tersebut.
"Leon," panggil Khansa berkaca-kaca. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia menatap Leon dan api yang mengejarnya bergantian.
Beruntung jalan yang mereka lalui cukup sepi. Mobil lain yang ditugaskan Leon sudah stanby di lokasi. Jaraknya semakin dekat, Dion mengambil ancang-ancang untuk menghentikan mobil tersebut.
Tanpa disangka, ternyata telapak tangan Leon tak mampu menutup rapat lubang pada tangkinya. Cairan yang merupakan bahan bakar tersebut berhasil menerobos dan terus menetes. Api masih menjalar mengikuti mereka.
"Hentikan mobil di tepi jurang, Dion! Kasih jarak satu meter!" perintah Leon.
Sopir tersebut berusaha tenang, meski dalam hati gusar. Ia terus mengembalikan fokus agar berhenti sesuai dengan instruksi. Tangan dan kakinya mulai gemetar. Kepanikan dan ketegangan dirasakan semua penumpang.
Hingga akhirnya, Dion berhasil menghentikan mobil satu meter dari jurang yang begitu dalam. Leon segera menggeser pintu mobil, buru-buru turun menjajakkan kedua kakinya di tanah lembab. Lengannya terayun sekuat tenaga, melemparkan tangki tersebut ke jurang. Setelahnya melepaskan semua atribut yang masih melekat di tubuhnya.
"Semua sudah turun?" tanya Leon pada Khansa yang hanya dijawab sebuah anggukan.
Leon melemparkan bajunya ke dalam mobil, lalu kembali menutupnya. "Dorong mobil ini ke jurang, cepat!" pekik Leon pada semua orang yang ada di sana.
Mereka segera bahu membahu mendorong mobil tersebut hingga jatuh ke jurang. Dalam tiga kali dorong, mobil beserta seluruh isinya terguling, tak lama kemudian suara ledakan kembali memekakkan telinga. Tanah yang mereka pijaki pun terasa bergetar.
Leon segera merangkul bahu Khansa dan membenamkan kepala wanita itu dalam dekapannya. Napas mereka semua terengah-engah. Api dengan cepat melahap habis kendaraan itu. Karena masih ada sisa-sisa bahan bakar pada tangki2 lainnya.
__ADS_1
Leon berbalik masih dengan Khansa dalam dekapannya, "Ada yang terluka? Ayah, apa kau baik-baik saja?" tanyanya saat melihat Fauzan terduduk di jalan raya.
Fauzan mengangguk cepat, napasnya tersengal-sengal. "Ya, Ayah baik. Hanya sedikit terkejut saja," ucapnya mendongak.
"Yang lain?" seru Leon menatap satu per satu.
"Aman, Kak!" sahut Hansen. Simon hanya mengangkat ibu jarinya ke atas sembari memamerkan deretan giginya.
"Siap! Tidak ada yang terluka, Tuan!" sambung para anak buahnya.
Khansa menoleh pada gudang besar milik Hendra, dari jarak yang sangat jauh masih terlihat kobaran api yang menyala terang menjulang tinggi ke langit. Dia memperhatikan dalam diam. Matanya memicing dengan tajam. Ada setitik kelegaan di hatinya. Setidaknya, perusahaan Hendra tidak bisa memproduksi obat-obatan illegal lagi.
Rombongan Leon akhirnya berpindah mobil satunya. Mereka bergegas meninggalkan lokasi. Khansa masih memeluk Leon dengan erat. Leon memberi instruksi untuk mengantarnya pulang ke rumah.
"Hansen, Simon, terima kasih bantuannya. Maaf, aku tinggal dulu. Khansa harus beristirahat," pamit Leon ketika mobil telah mengantarkannya ke kediaman Isvara. Fauzan juga bergegas turun.
"Sama-sama, Kak. Lain kali ajak kita lagi," seru Simon melambaikan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka duduk di tepi ranjang, kepala Khansa masih bersandar di dada Leon. Pria itu khawatir sesuatu terjadi dengan istrinya. Ia meraba pipi Khansa, "Sayang!" panggilnya.
Tidak ada jawaban, Khansa hanya mengeratkan pelukannya. Leon pun membelai kepala Khansa sesekali mengecup keningnya. "Kamu baik-baik saja? Bicaralah, jangan bikin aku takut," ucap Leon lagi.
Akhirnya Khansa mendongak, ia tersenyum lebar saat menatap manik elang suaminya. "Aku baik-baik saja. Aku cuma seneng aja, soalnya kamu udah nggak marah lagi sama aku," ungkap Khansa kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Leon.
Leon menghela napas lega, Khansa baik-baik saja. Ia tidak akan bisa marah lama-lama dengan istrinya itu. Leon kembali memeluknya dengan erat. Merebahkan kepalanya pada puncak kepala Khansa sembari memejamkan mata, menghirup aroma sang istri yang selalu menjadi support system untuk tubuhnya.
"Eh, Sayang. Kamu belum makan dari siang loh!" Tiba-tiba Leon mengingatkan.
"Lagi nggak pengen makan," balas Khansa memainkan jari telunjuknya di dada sang suami.
"Kok gitu? Nggak bisa dibiarin nih. Nanti kamu sakit! Ayo makan dulu!" Leon mengendurkan pelukan. Kepalanya menunduk menatap sang istri.
__ADS_1
Khansa menggeleng, "Enggak, perut aku begah rasanya."
Leon menangkup kedua pipi Khansa, menatap manik matanya bergantian. "Kalau kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri, gimana mau sayang sama orang lain? Makan, walaupun sedikit."
Pria itu beranjak berdiri. Menarik lengan Khansa memaksanya keluar dari kamar sebelum menuai protes dari wanita itu. Leon menarik kursi lalu mendudukkan Khansa di sana. Ia beralih menuju kamar dekat dapur, mengetuk pintu asisten rumah tangga untuk memintanya menghangatkan makanan, lalu kembali pada istrinya.
"Kenapa sih?" tanya Leon saat melihat Khansa menumpukan kepala di meja. Tangan Leon menjulur, membelai puncak kepala Khansa.
Gadis itu seperti menahan sesuatu. Ia hanya menggeleng pelan. Sampai saat nasi dan beberapa lauk sudah berjajar di meja, Khansa justru menutup mulut dan hidungnya. Asap nasi yang mengepul di udara menyeruak dalam indera penciumannya.
Perutnya memberontak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar melalui tenggorokannya. Berkali-kali ia menelan saliva, menahan gejolak hasrat ingin muntah. Keringat dingin sudah mulai bermunculan di wajahnya.
"Terima kasih, Bi," ucap Leon setelah semua terhidang.
"Sama-sama, Tuan. Permisi," sahut sang pelayan lalu pamit undur diri.
Leon beralih menatap Khansa, keningnya mengerut dalam saat melihat reaksi Khansa yang menurutnya aneh. Ia pun berinisiatif untuk mengambilkan nasi dengan beberapa sendok sayur dan sepotong ayam bakar.
Leon lalu menyuapkan nasi beserta lauknya di balik cadar yang dikenakan Khansa. Meski ragu, perempuan itu tetap membuka mulutnya. Mengunyah dengan perlahan dan berusaha menelannya walaupun terasa teronggok di tenggorokan.
"Manja banget sih," ucap Leon tersenyum kembali mengambil suapan kedua.
"Leon!" Khansa menutup mulutnya. Ia sudah tidak tahan lagi menahan gejolak perutnya. Khansa pun berlari menuju toilet yang ada di dekat dapur, membuka cadarnya dengan cepat. Lalu memuntahkan semua yang ada di perutnya.
"Sasa!" teriak Leon panik mendengar istrinya muntah-muntah. Ia segera berlari menghampiri, menekan tengkuk Khansa dan juga kepalanya yang sudah basah karena keringat. Khansa masih terus muntah walaupun hanya cairan yang keluar.
"Sayang, kamu kenapa?" seru Leon khawatir masih memijit lembut tengkuk dan kepala Khansa.
Bersambung~
😟 A ... aa... aapa??
__ADS_1
😰😰 ja ... jangan lah...