
Di tempat yang berbeda, Hansen menghentikan mengunyah makanan untuk mendengarkan jawaban Emily. Ia sudah mengikuti kegiatan gadis itu sampai tengah hari, berharap segera membalas lamarannya. Hansen bukan pria yang suka bertele-tele, juga tidak banyak berbicara namun lebih suka bertindak cepat untuk mendapatkan sesuatu.
Sedangkan Emily juga tersentak saat diingatkan kembali. Ia belum mempersiapkan jawaban apa pun. Apalagi dia selalu membayangkan dilamar pria dengan cara yang romantis agar terkenang sepanjang hidupnya. Namun sepertinya tidak berlaku bagi Hansen. Pria datar dan dingin yang selalu bertindak semaunya.
"Terima apa nih?" gumam Bara mendekatkan kepalanya di antara Hansen dan Emily.
"Mau tahu aja!" sembur Hansen mendorong kepala Bara.
"Woylah! Kira-kira dong, Ganteng. Salah satu aset Emily ini. Asal kamu tahu ya, Emily bisa secantik ini karena hasil karya tangan aku. Dulu mana mau dia kesentuh make up. Pakaian aja juga sembarangan!" cebik Bara mengusap dahinya.
Emily tertawa sembari mengusap lengan Bara. Hansen menatap tidak suka. Ia menoleh lalu meletakkan sisa makanan di sebelahnya. Sudah tidak ada nafsu untuk melanjutkan.
"Hansen, kalaupun aku menjawab iya, kamu juga harus bisa menerima Bara di sampingku. Dia sama aku satu paket. Aku nggak bisa kalau tanpa dia. Dia support terbesar aku selama menjadi artis. Bara yang memanage semua kerjaan aku. Dalam artian, Bara sudah seperti abang sekaligus mamaku selama di sini. Dan aku yakin, kamu tidak akan bisa menerimanya," papar Emily tersenyum namun dengan mata berkaca-kaca.
Emily menggenggam lengan Hansen, menatapnya dalam, "Maaf ya, Han. Aku pengen berkarir dulu untuk saat ini."
Hansen menelan salivanya, nampak sekali raut kecewa dari pria tampan itu. Pandangannya beralih lurus ke depan. Dadanya bergemuruh kuat. Tanpa berucap apa-apa Hansen berdiri lalu melenggang pergi. Genggaman tangan Emily terlepas.
Air mata menyembur dari kedua manik indah Emily. Ia menangis karena telah menyakiti Hansen. Melihat punggung Hansen yang semakin menghilang, Emily semakin sesenggukan.
"Bar!" ucapnya sesenggukan.
Bara segera memeluk gadis itu, mengusap kepalanya perlahan. "Kali ini aku nggak bisa kasih solusi, Baby. Dirimu sendiri yang tahu ukuran kebahagiaanmu. Urusan fisik dan dunia kerjamu aku bisa benahi. Tapi urusan hati, aku nggak bisa ikut campur," ujar pria itu.
"Gue udah nyakitin dia, Bar. Dia pasti marah banget sama gue!" Emily masih menangis dalam pelukan Bara.
"Kalau jodoh enggak akan kemana, Baby! Aku bakal selalu support apa pun keputusan kamu. Ini kita harus pindah lokasi loh. Profesional kalau kamu mau fokus sama karir. Kalau berubah pikiran bangun dan kejar manusia kulkas itu sebelum jauh," ucap Bara membelai rambut panjang Emily.
Gadis itu meregangkan pelukannya. Ia menatap Bara yang tersenyum sambil mengangguk. Emily berdiri melepas heelsnya lalu berlari mengejar Hansen. Namun terlambat, Hansen sudah naik sebuah mobil dan semakin menjauh bahkan hilang dari pandangannya.
Napasnya tersengal-sengal, keringat juga mulai membasahi keningnya. Emily berbalik, berjalan pelan dengan kepala menunduk dalam. Bara sudah membersihkan bekas makannya. Ia juga bersiap untuk meninggalkan lokasi syuting pertama Emily.
"Yaampun, Baby!" pekik Bara saat Emily berdiri di depannya.
"Gue terlambat, Bar," gumamnya pelan.
Kedua kaki Emily memerah, ia berlari di jalan raya yang sangat panas tanpa alas kaki. Bara mendudukkan Emily. Dengan cekatan ia membersihkannya, sesekali meniup-niup kaki gadis itu.
"Kita pulang aja. Enggak bakal bisa lanjut kalau kamunya kayak gini, nanti aku izin sama Pak Sut," ajak Bara kembali memakaikan sepatu Emily.
__ADS_1
Bara meletakkan barang-barang Emily di mobil. Lalu menarik gadis itu segera masuk dan mengantarnya pulang ke villa. Pria itu mengembuskan napas beratnya. Ia cukup mengerti, Emily masih labil karena usianya yang memang masih sangat muda. Apalagi saat ini sedang berada di puncak karirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Derap langkah kaki serentak Khansa dan Leon menggema di lorong rumah sakit saat hendak masuk ke ruangan Gerry. Ia sudah diberitahu sebelumnya oleh Mario, pimpinan bodyguard mereka.
Leon membuka pintu perlahan, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kosong, tidak ada siapa pun di ruangan tersebut. Namun televisi dan AC masih menyala.
"Mana orangnya?" tanya Leon melangkah masuk mengamati sekeliling.
"Di toilet mungkin, tuh infusnya nggak ada," sahut Khansa menunjuk tiang penyangga infus dalam keadaan kosong.
Manik Leon yang tajam menemukan ponsel Khansa yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih untuk memastikannya. "Sayang, ini ponsel kamu," ucap Leon mengulurkannya pada Khansa.
"Ah, iya!" ucap Khansa berbinar meraih benda pipih itu.
Ia segera mengotak-atik untuk melihat isinya. Tidak ada hal yang mencurigakan atau bahkan membahayakan. Semuanya aman, Khansa pun mendesah lega sambil memeluk ponselnya.
"Nih, yang baru!" ujar Leon menyerahkan ponsel yang masih bersegel.
Khansa membelalak, "Serius? Padahal kemarin aku bercanda!" pekik Khansa membolak balikan kardus elektronik itu. Ponsel mewah keluaran terbaru.
Gadis itu tersenyum lebar. Ia merasa menjadi orang yang diistimewakan oleh Leon. Khansa melingkarkan lengannya di leher Leon, berjinjit lalu mencium bibir Leon. Meski harus terhalang cadar, Leon cukup terkejut sekaligus bahagia.
"Makasih, Sayang!" ujarnya lembut.
Tanpa mereka sadari, Gerry memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Ia hampir kembali masuk ke toilet kalau saja Leon tidak memanggilnya.
"Gerry!"
Khansa membelalak, buru-buru ia melepas rengkuhan lengannya. Ia jadi salah tingkah merasa terpergok bermesraan dengan suaminya. Bukan hanya sekali bahkan ini adalah yang kesekian kalinya.
"Iya, Tuan!" ucap Gerry menunduk. Satu tangannya dibebat dengan perban. Wajahnya masih banyak luka lebam.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Leon mendekat, merebut infus yang ada di tangan asistennya itu.
Leon membantunya berjalan menuju ranjang. Khansa sedikit merapikan ranjang pasien itu lalu mundur beberapa langkah. Wajahnya masih memerah karena malu.
"Sudah lebih baik, Tuan. Terima kasih sudah menyelamatkan saya. Bagaimana dengan Nyonya?" ucap Gerry mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kami baik-baik saja asisten Gerry. Tapi sayangnya kami tidak menemukan Tiger kemarin!" sambar Khansa membalas ucapan Gerry.
Gerry mengembuskan napas berat, "Sebenarnya Tuan Tiger hanya ingin memancing Tuan Leon saja. Dia juga ingin memastikan siapa istri Tuan. Maaf, saya tidak berhati-hati, Tuan," ujarnya menundukkan kepala.
Leon menoleh bersamaan dengan Khansa. Mereka baru mengerti tujuan penyekapan asisten Gerry. Leon meraih tangan Khansa dan menggenggamnya. Ia tersenyum, meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tidak apa-apa. Saya juga salah, karena ceroboh tidak memberimu perlindungan. Yang terpenting sekarang, kamu sudah selamat. Lain kali hati-hati dan tetap waspada," Leon menepuk salah satu bahu Gerry.
Pria itu meringis karena Leon menepuk di bagian yang sakit. Khansa segera menepis tangan Leon, "Kamu menyakitinya, Leon," ucapnya mengarahkan tatapan iba pada Gerry.
"Oh, maaf. Makasih Ger, ponselnya selamat," celetuk Leon melepas tangannya, mengalihkan pembicaraan.
"Itu, saya minta Mario mengambil di mobil waktu saya di keroyok, Tuan! Untung saja ponselnya aman keduanya," sahut Gerry menggaruk kepalanya.
Setelah berbincang cukup lama, Leon segera pergi dari sana. Ia memutuskan untuk pulang ke Villa Anggrek, karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.
"Aku langsung ke ruang kerja ya," pamit Leon saat mereka sudah masuk Villa. Khansa mengangguk, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Cukup lama Leon berkutat dengan laptopnya. Sesekali menelepon Hansen yang kebetulan sudah kembali mendarat di Palembang. Hingga sore menjelang, Khansa mengetuk ruang kerja Leon, lalu menyembulkan kepalanya dari pintu yang terbuka.
"Masih lama?" tanya Khansa.
"Bentar lagi, sini!" Leon melambaikan tangannya agar istrinya mendekat.
Khansa melenggang masuk dan kembali menutup pintunya. Seperti biasa, Leon akan meminta Khansa duduk di atas pahanya. Gadis itu melihat sekeliling terlebih dahulu, trauma ada orang lain selain mereka berdua. Setelah memastikan tidak ada siapa pun, Khansa mendaratkan bokongnya di atas paha Leon.
"Kamu tahu rumah sakit ini?" tunjuk Leon pada layar laptopnya.
Khansa menajamkan matanya, "Eumm ... Rumah sakit milik Keluarga Ugraha 'kan?"
Sebuah anggukan menjadi jawaban Leon. Ia memeluk Khansa dari belakang sembari menopangkan dagu pada bahu perempuan itu. "Sebentar lagi, akan ada berita yang menggemparkan," cetus Leon tersenyum menyeringai.
Bersambung~
Ciyee.. galau berduaa 🤫
__ADS_1