
Suara bariton milik Leon menggema di ruang rawat inap itu. Dingin, tegas disertai tatapan mengintimidasi membuat Khansa sedikit gemetar. Apalagi saat kedua manik mata indahnya bertemu dengan mata elang Leon. Khansa menelan salivanya berkali-kali. Entah kenapa, tenggorokan serta mulutnya tiba-tiba mengering.
Sorot mata Leon seperti belati yang siap mengiris-iris mangsanya. Giginya bergemeletuk, helaan napasnya masih menderu-deru. Emosi, cemburu, marah bergelung menjadi satu.
Dengan cepat, Khansa memikirkan alasan yang logis. “Ma … maaf,” ucapnya terbata. Ia menghela napas panjang, membuang rasa sesak yang ada di dadanya. Apalagi, posisinya yang tak berjarak dengan Leon seperti itu.
Leon masih diam, Sebelah alisnya terangkat, sebagai isyarat meminta kelanjutan ucapan Khansa. Kedua lengannya masih mengungkung tubuh gadis itu.
“Aku tadi dalam perjalanan ke tempat Bibi Fida. Karena terlalu fokus, aku jadi mengabaikan semua pesan dan panggilan yang masuk,” jawab Khansa dengan suara lembutnya.
“Plak!”
Satu telapak tangan Leon menepuk dinding di samping wajah Khansa sangat keras. Desir angin dari gerakan itu pun sangat terasa. Khansa terjingkat, memejamkan matanya, menahan napas sesaat, dentum jantungnya bertalu kuat. Khansa tak mengerti, kenapa Leon justru terlihat semakin marah.
“Kenapa kamu tidak meminta bantuan padaku? Kenapa kamu membahayakan dirimu sendiri?” tegas Leon penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Untungnya Bibi Fida masih belum sadarkan diri. Tidak ada yang melihat maupun mendengar apa pun perdebatan pasangan itu.
Khansa mengerjapkan kedua matanya. Bulu mata lentik nan tebal milik Khansa saling bertumbukan saat ia berkedip. “Tuan Leon, aku hanya tidak mau merepotkan siapa pun. Karena memang aku sudah terbiasa melakukan sendiri. Lagi pula, sejak awal perjanjiannya kamu tidak boleh ikut campur urusan pribadiku.”
“Mulai sekarang perjanjian batal. Apa pun masalahmu menjadi masalahku juga! Jangan pernah bertindak sendiri lagi! Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi. Kamu akan tanggung akibatnya jika membangkang!” kecam Leon mencengkeram kedua bahu Khansa, gerahamnya mengetat dengan mata mendelik.
Leon benar-benar marah. Dia tidak suka Khansa membatasi hubungan mereka sampai sejelas itu. Khansa meringis merasa kesakitan, ia sungguh takut dengan sisi Leon yang seperti ini.
Perjanjian mereka memang hanya terucap melalui lisan saja. Tanpa adanya bukti hitam di atas putih. Bahkan saat itu sebenarnya Leon hanya diam, tidak memberi jawaban. Hanya saja, Khansa menganggap bahwa diamnya Leon adalah tanda setuju.
Leon mendengkus kasar, ia menunduk, memejamkan mata sejenak sembari mengatur napasnya, melihat Khansa yang meringis segera ia tersadar. Tangannya melepas cengkeraman itu, lalu menarik Khansa ke dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh gadis itu yang mampu menenangkan dirinya.
Leon mendekap erat tubuh Khansa. Gadis itu bergeming, bahkan kedua lengannya menggantung, tidak berani membalas pelukan itu. Meski ia merasakan sebuah kenyamanan di sana.
Perubahan sikap Leon membuatnya sulit mengerti bagaimana perasaan pria itu sebenarnya. Leon susah ditebak. Apalagi, Khansa memang sama sekali tidak punya pengalaman berhubungan dengan lawan jenis.
__ADS_1
“Maaf,” ucap Leon setelah mereka terdiam selama beberapa saat.
Sebuah foto yang salah kirim saja bisa membuat dirinya buru-buru pulang. Ditambah sikap Khansa terhadapnya saat ini membuatnya stress dan kehilangan kendali. Leon bingung sejak kapan Khansa mempengaruhi perasaannya.
Leon melonggarkan pelukannya, ponsel Khansa dimasukkan dalam saku kemejaya. Lalu memegang kedua lengan gadis itu. “Aku sudah menolongmu, jadi kamu harus berterima kasih padaku,” ujar Leon yang kini sudah mulai melembut.
Khansa mengangguk, “Iya, terima kasih telah menolongku, Tuan Leon,” ucapnya dengan polos.
“Apa kau tidak tahu bagaimana cara berterima kasih yang baik dan benar?” goda Leon memiringkan kepalanya. Satu lengannya bertumpu pada dinding tepat di samping tubuh Khansa, sedangkan tangan lainnya ia masukkan ke dalam saku celana.
“Emm … bukankah, tadi aku sudah mengucapkannya? Dua kali malah,” sanggah Khansa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
Padahal AC di ruangan itu cukup dingin. Namun, telapak tangannya basah, berkeringat sedari tadi. Keningnya juga mulai basah akan bulir keringat.
“Sepertinya aku perlu mengajarimu,” ujar Leon menyunggingkan senyum menyeringai.
Dari tatapannya, Khansa bisa menebak apa yang diinginkan oleh Leon. Seketika ia menjadi panik. Leon sudah membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Namun dengan cepat Khansa mencegahnya, meletakkan kelima jarinya pada bibir Leon.
Leon menegakkan tubuhnya, merengkuh pinggang Khansa, menariknya semakin merapat pada tubuhnya hingga tak berjarak. Khansa tersentak, ia tak sempat menghindar. Kedua tangannya refleks memegang pinggang Leon.
Manik matanya yang indah membulat, bibirnya di balik cadar sedikit terbuka. Leon sedikit menunduk menatap lekat gadis itu. Darahnya berdesir kuat.
Ruangan yang sunyi, hanya terdengar denting monitor detak jantung Bibi Fida. Namun ternyata, suara detak jantung Leon dan Khansa terdengar lebih kencang.
Leon merapikan anak rambut Khansa dengan lembut. Sungguh, kedua lutut Khansa saat ini terasa lemas.
“Apa hubungan kamu dengan Hendra?” tanya Leon penasaran.
“Dia … dia menyembunyikan Bibi Fida selama ini,” jawab Khansa sekenanya. Karena ia masih berusaha menahan jantungnya yang hampir terlepas dari sarangnya.
“Bukan itu yang aku tanyakan! Apa hubungan kamu dengan Hendra?” ulang Leon lagi, kali ini kembali dengan tatapan mengkilat tajam.
__ADS_1
Khansa menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Aku enggak ada hubungan apa-apa dengan Hendra,” ujarnya.
Leon masih nampak belum puas dengan jawaban Khansa. Pria itu tidak memalingkan pandangannya sedikit pun dari mata indah Khansa. Tatapan mengintimidasi yang membuat merinding seketika.
“I … itu, dulu sewaktu kecil, kami pernah dijodohkan. Tapi sekarang kami tidak ada hubungan apa-apa. Lagi pula, dia itu calon suami Jihan sekarang,” jelas Khansa sejujur-jujurnya.
“Begitukah?” Leon menaikkan satu alisnya. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang Khansa.
“Iya.” Khansa mengangguk mantap.
“Hemm, baiklah. Aku percaya. Namun, harus kamu ingat status kamu sebagai Nyonya Sebastian. Kamu tidak boleh dekat dengan pria mana pun! Mengerti?” Leon mengingatkan Khansa agar paham dengan status Khansa sendiri.
Khansa mengangguk, lalu menjawab, “Tentu saja.”
Leon menjulurkan tangan ingin menyibak cadar Khansa.
Sementara itu, di luar ruang rawat inap itu, Simon sibuk menempelkan telinganya di pintu, terus bergerak mencari posisi yang tepat, mencuri dengar kegiatan kakak beserta kakak iparnya itu. Sedangkan Hansen bersandar pada dinding, melipat kedua lengannya dengan pandangan mengarah pada langit yang bertabur bintang.
“Mon! Bisa nggak kurangi jiwa kekepoanmu itu!” tegas Hansen tanpa menoleh.
“Ish, Kakak nggak penasaran apa gimana bucinnya Kak Leon?” sanggah Simon memelankan suara.
Gerry yang sedari sibuk dengan gawainya hanya melirik dua orang itu sekilas lalu kembali fokus menyelesaikan pekerjaan tuannya yang tertunda. Esok, tinggal menyerahkan untuk diperiksa oleh Leon.
“Emang apa yang kamu denger?” tanya Hansen berjalan pelan memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Bersambung~
Hari ini 5 bab... happy readings.. like komennya jangan cuma di akhir ya guys😭😭
Btw... Thankyou banget yg masih mau baca nunggu2in tulisan recehku ini. Tapi tolong dong jangan disama2in, apa lagi sama author famous yg dipromoin di segala penjuru medsosnya nopeltoon. Kesannya kok aku copas terus motong2. Apa nggak baca pengumuman di bab 1? Kalo gak mau baca juga gpp, aku gak maksa. Kan remuk hati aing...
__ADS_1
Apalah aku Cuma othor kremes remahan upil. Semangatku Cuma dari kalian semua gengss, sama mbak editor yang baik banget ❤💞 Lopee sekebon cabe, kalo perlu pinjem kebonnya pak lurah juga buat yang selalu support karya ini, melalui vote, like, komen dan giftnya. Maap ga bisa bales atu atu yaa... 😘😘