
Kilat tajam terpancar dari kedua mata elang Tiger. Pria berperawakan tinggi dan berparas tampan itu, menyeringai dingin. Kepalanya bergerak miring ke kiri, seiring dengan tatapannya yang memindai tubuh sexy Jihan. Satu tangannya memainkan rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lidahnya menjulur membasahi bibir yang sedikit berisi.
Seruan ludah yang ditelan Jihan bahkan terdengar di penjuru ruangan yang cukup besar itu. Manik sayunya memancarkan ketakutan. Ia mengerjap dengan cepat. Dadanya mulai berdetak tidak karuan.
"Tu ... Tuan," lirih Jihan terbata-bata. Ia memberanikan diri untuk menyapa pria itu, setelah beberapa lama mereka terdiam dalam keheningan. Hanya saling melempar pandang dengan tatapan berbeda.
Pria itu menegakkan tubuh, menggerakkan kepalanya hingga lehernya terdengar bergemeletuk. Satu sudut bibirnya terangkat, ekor matanya masih menatap sinis. Kaki panjangnya terayun hingga posisinya semakin dekat dengan Jihan.
Perempuan itu refleks memundurkan langkahnya, kedua kakinya diseret semakin menjauh dari pria di hadapannya. Panik semakin mendera, saat Tiger semakin merapat dengan tatapan lapar. Seolah hendak melahapnya hidup-hidup.
"Tuan mau apa?" Tubuh Jihan mulai gemeteran. Jantungnya bertalu kuat, dadanya seperti dipukul-pukul dari dalam.
"Aku mau ... kamu!" desis Tiger tepat di telinga Jihan. Tubuh wanita itu memang sangat menggoda, hanya dengan melihatnya saja, jiwa lelakinya bangkit seketika.
"Tidak, Tuan! Tolong jangan!" elak Jihan semakin ketakutan. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Dia sudah tidak punya apa-apa, juga tidak punya siapa-siapa sekarang.
Jihan masih trauma, ia pernah memberikan segalanya, termasuk mahkota terindah pada lelaki yang sangat dicintainya. Namun, perjalanan cintanya harus berakhir tragis. Beruntung dia tidak sampai mengandung benih Hendra.
Belahan dada Jihan yang basah, memperlihatkan lekukan yang memukau di mata Tiger. Gerakan kasar dada perempuan itu semakin membuat hasratnya menanjak. Rok span yang dipakai, berjarak satu jengkal saja dari pinggang. Ia memang tidak punya pakaian layak pakai. Sejak dulu penampilannya selalu sexy dan menggoda.
Punggung Jihan terbentur dinding ruangan itu. Kepalanya terus menggeleng, air matanya mulai menyeruak dari kedua manik kelamnya saat pria itu menghimpit dan mengurungnya.
"Dengar! Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan! Apa pun itu!" tandasnya terdengar seperti nada ancaman. Tangannya langsung mencengkeram benda kenyal di dada Jihan dengan kasar.
Jihan tersentak, matanya membelalak dan menahan napas untuk sesaat. "Tolong lepaskan saya, Tuan!" Jihan masih mencoba mempertahankan diri. Meski sekujur tubuhnya melemas karena getaran hebat.
"Ya! Tapi nanti setelah kamu melayani aku!" tegas Tiger tidak menerima penolakan.
"Enggak, Tuan. Tolong jangan lakukan itu!" pekik Jihan menahan lengan kekar Tiger.
Tiger mendengkus saat menerima penolakan dari perempuan itu. Darahnya mendidih dengan rahang mulai mengeras. Tangannya mencengekeram kuat dagu runcing Jihan, mengarahkan matanya tepat pada tatapan tajamnya.
"Beraninya kamu menolakku!" berang Tiger dengan nada tinggi tepat di wajah
Jihan memejamkan matanya kuat, napasnya tercekat dan jantungnya seolah tertancap ribuan jarum.
Tiger semakin merapatkan tubuhnya hingga tak berjarak. Pria itu dengan rakus dan ganas melahap bibir Jihan. Tidak ada belas kasih meski Jihan meronta dan lelehan air mata mengalir begitu derasnya, membasahi pipi wanita itu.
Jarinya menjulur pada kepemilikan Jihan, memainkannya dengan sedikit kasar. Jihan mengernyit, merasakan sakit tak berperi. Tubuhnya melemas karena sedari tadi terus meronta. Meski sama sekali tidak ada perubahan apa pun. Ia tidak bisa mengelak kekuatan Tiger yang sudah terbakar gairah. Penolakan Jihan, membuat Tiger semakin ingin menerjangnya.
__ADS_1
"Kau terus meronta, tapi tubuhmu tidak bisa menolaknya!" cibir Tiger saat gadis itu mengejang dan mengeluarkan cairan dari kepemilikannya.
Pria kejam itu menyeringai dingin. Dengan sekali tangkap, dia menggendong Jihan dan melemparkannya di sofa. Tidak ada yang bisa dilakukan perempuan itu selain menangis pasrah. Segala rasa berkecamuk dalam hatinya. Takut, marah, sakit bercampur aduk jadi satu.
Dengan kasar Tiger membabi buta merobek pakaian yang dikenakan Jihan. Melihat kemolekan gadis itu, Tiger semakin bersemangat. Tangannya mencengkeram kedua lengan Jihan, menguncinya di atas kepala. Kaki Jihan terus menendang-nendang namun Tiger segera menguncinya. Dan dalam sekali hentakan, ia pun mengoyak milik wanita itu.
"Cih! Sok nolak tapi ternyata ...." cebik Tiger saat mengetahui kondisi Jihan yang sudah tidak perawan sambil terus memacu di atas perempuan itu, menuntaskan hasratnya.
'Tuhan! Apa belum cukup semua cobaan yang kau berikan untukku?' jerit Jihan dalam hati memejamkan matanya, lelehan air matanya semakin deras. Dadanya teramat sesak, seperti ada beban berat yang menghantamnya.
Seperti binatang buas yang berhasil menangkap mangsa, Tiger terus bergerak mencari kepuasannya. Tanpa perasaan, mengabaikan jeritan dan air mata Jihan. Hingga menghentak sekuat tenaga, saat meledakkan benih di dalam rahim perempuan itu.
Pikiran Jihan sudah berhamburan kemana-mana. Hancur tak berbentuk lagi. Hatinya terasa teremas tangan-tangan tak terlihat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa bersemangat menyambut mentari yang baru saja mulai menanjak. Pagi-pagi sekali, ia sudah mematut dirinya di depan cermin. Bersiap untuk pergi liburan sesuai rencananya bersama Leon.
Leon sudah sibuk sedari pagi, mengurus berbagai bahan pokok yang hendak dikirim untuk warga desa sesuai keinginan Khansa. Ya, Khansa ingin berbagi sedikit untuk orang-orang desa.
Walaupun banyak di antaranya yang sering mengolok gadis itu, karena dianggap pembawa sial keluarga. Namun Khansa tidak peduli, ia tetap memberikannya pada seluruh warga desa.
"Barang-barang udah siap dikirim, Sayang!" ujar Leon merapatkan tubuhnya pada Khansa, menopang dagunya di bahu sang istri, mengganggu wanita itu berdandan.
"Oh ya? Cepet banget. Bisa nggak ini lepas dulu, enggak bisa gerak nih," sergah Khansa menyentuh lengan Leon yang melingkar erat di perutnya.
"Kalau nggak bisa gimana?" bisik Leon menghirup dalam-dalam bahu Khansa yang terbuka. Menyimpannya dalam memori sebagai support system terbaik untuk tubuhnya selama ini.
Leon justru semakin bergelayut manja, Khansa merinding. Ia sedikit mendorong kening Leon. "Ayolah, nanti kesiangan, Leon!" cebiknya dengan kesal.
"Leon!" gertaknya lagi saat Leon masih juga tak beranjak. "Ah yaudahlah, kita nggak jadi pergi aja!" rajuk Khansa berdecak sebal.
Leon terkekeh, mood yang mudah berubah membuatnya suka sekali menggoda Khansa. Ia melonggarkan pelukannya lalu mencium pipi Khansa. "Aku sih seneng aja kalau nggak jadi pergi. Kita habisin waktu di kamar aja. Aku udah terlanjur nggak kerja hari ini," ucap Leon mengerlingkan mata.
Khansa hanya memicingkan mata dengan tajam, "Iih kok gitu sih? Enggak peka banget!" cibirnya.
Leon mundur lalu mengacak rambut Khansa, ia masih tertawa geli, "Yaudah aku tunggu di luar ya. Sekalian pamit sama nenek!" sahutnya meraih kunci mobil, ponsel dan ipadnya. Ia lalu melenggang pergi meninggalkan Khansa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Perjalanan memakan waktu hampir 3 jam untuk sampai di pedesaan yang dituju oleh Leon dan Khansa. Mereka segera turun dari mobil setelah sopir keluarga menghentikannya di depan rumah kepala desa. Kedatangan Khansa dan Leon bersamaan dengan beberapa truk besar yang mengangkut berbagai bahan pokok.
Rumah yang berhimpitan, membuat seluruh warga berhamburan keluar rumah ingin melihat keriuhan yang terdengar di telinga mereka. Matanya membelalak saat menemukan Khansa berdiri di pelataran rumah kepala desa sambil berbincang hangat.
"Paman, masih ingat dengan saya?" Khansa membuka suara setelah berjabat tangan.
"Khansa bukan?" tanya pria matang itu ragu.
"Benar, Paman. Yang dulu pernah hampir diusir juga dari desa lama jika saja Paman tidak membantuku," terang Khansa lagi dengan suara halusnya.
Banyak warga yang terhasut, menganggap Khansa adalah gadis cilik pembawa sial yang dibuang keluarganya sendiri. Mereka khawatir kesialan akan menimpa tempat tinggal mereka saat itu, sehingga hampir mengusir Khansa jika saja tidak ada pembelaan dari sang kades dan segelintir warga yang tinggal di dekat rumah kecil Khansa dulu.
"Oh, yaampun lama sekali kita tidak berjumpa. Apa kabar, Sa. Mari masuk!" ajaknya mempersilakan.
"Terima kasih, Paman. Tapi kedatangan Khansa ke sini untuk memberikan sedikit bantuan agar dibagikan pada warga desa sini. Semoga bisa bermanfaat."
Kepala desa itu terperangah saat pandangannya mengarah pada beberapa truk besar yang berjajar di sepanjang jalan. Tak hanya itu, para warga desa pun turut membelalak tak percaya. Mereka malu, terutama yang dulu menolak keras kehadiran Khansa.
"Ini, banyak sekali, Nak!" seru pria paruh baya itu.
"Paman, ini sekaligus sebagai ucapan terima kasih Khansa karena sudah diperbolehkan tinggal di sini. Terutama, beberapa warga yang dulu sering bantu Khansa. Oh ya, Paman. Ingat enggak dengan laki-laki yang pernah Khansa tolong selepas kecelakaan?" tutur Khansa, pria tua itu mengangguk sembari membenarkan kaca mata.
Khansa menoleh pada suaminya, melebarkan senyum lalu meraih lengan pria tampan itu agar merapat kepadanya. "Ini orangnya, yang sekarang menjadi suami Khansa, Paman," ujarnya memperkenalkan Leon.
Leon menundukkan kepalanya, menjabat tangan kades itu sembari memperkenalkan diri, sekaligus mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang pernah menolongnya bersama Khansa dulu.
Para warga segera berkumpul mengelilingi Khansa. Mereka meminta maaf atas sikapnya terdahulu. Mereka menyesal karena mudah terhasut omongan buruk mengenai Khansa. Meskipun gadis itu sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Karena dari sana, justru melecut semangat Khansa melanjutkan hidup, giat mempelajari banyak hal dan menjadi lebih baik di segela hal.
Khansa juga memberikan uang pada orang-orang yang dulu sering membantunya. Ia tidak akan pernah bisa melupakan kebaikan orang-orang itu.
"Kalau begitu, langsung dibagikan saja, Paman sembakonya," ujar Khansa.
Mereka sangat antusias bergotong royong menurunkan sembako tersebut dan membaginya. Saat Khansa dan Leon hendak berpamitan, keduanya terperanjat kaget. Matanya menemukan seseorang yang tidak pernah disangka-sangka. Perempuan paruh baya yang penampilannya berubah drastis duduk di kursi roda berada di barisan paling belakang.
Khansa dan Leon lalu saling pandang di tengah keterkejutannya. "Maharani!" gumam keduanya bersamaan.
Bersambung~
Hai Bestie, masih nungguin nggak? Maap ya kemarin libur. Soalnya gak bisa konsen, lagi nungguin sodara di rumah sakit. ya walaupun dua malam gak tidur, tapi gak bisa konsen ngetik. hehehe...
__ADS_1