
Aroma desinfektan yang sangat kuat menyeruak di indera penciuman Khansa. Perlahan ia mengerjapkan kedua mata, silaunya cahaya lampu membuatnya kembali terpejam. Khansa menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam, ia kembali memaksa membuka kedua matanya.
"Sasa!" seru Emily menghambur ke pelukan sahabatnya itu.
"Em ... Emily," lirih Khansa mengernyitkan alisnya.
Emily hanya membalasnya dengan isak tangis menggema. Hansen mengusap bahu kekasihnya yang bergetar hebat. Ia tiba satu jam yang lalu setelah mendapat kabar dari Hansen. Pria itu juga menceritakan semua yang menimpa Leon dan Khansa. Mata gadis itu sembab karena terus menangis sedari tadi. Membuat Khansa semakin bingung.
"Emily, ada apa? Sebentar, aku dimana?" Khansa masih linglung, kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Emily pun menegakkan tubuhnya dan menggenggam tangan Khansa.
Ia mengedarkan pandangan, hanya menemukan ruangan luas serba putih, selang oksigen yang membantu pernapasannya juga infus yang menggantung, cairannya mengalir dalam urat nadinya. Khansa meneguk ludahnya, dadanya berdenyut nyeri saat kembali mengingat kecelakaan beberapa jam yang lalu. Kedua matanya memejam kuat.
"Leon! Di mana Leon? Dia baik-baik saja 'kan?" Khansa memaksakan diri untuk beranjak bangun. "Aaarrhh!" rintihnya ketika merasakan sakit di bagian perut dan bagian bawahnya.
"Sasa, tenanglah. Kamu harus bedrest," ucap Emily masih dengan isakan kecil.
Dia tak kuasa menahan tangisnya. Emily memaksa untuk merebahkan kembali tubuh Khansa, namun perempuan itu mengelak sambil menahan sakit yang teramat sangat.
Khansa menepis lengan Emily, menatap tajam sahabatnya itu. Dadanya berdegub hebat saat tidak menemukan suaminya di ruangan itu, "Leon baik-baik saja 'kan? Katakan padaku di mana Leon sekarang?" pekik Khansa mulai menyemburkan air mata.
"Kakak tenanglah, saat ini fokus dulu untuk pemulihanmu," sahut Simon mendekat ke ranjang pasien. Ia menatap iba pada perempuan yang sudah beberapa bulan ini menjadi kakak iparnya.
Khansa menarik napas panjang, "Kenapa perutku sakit sekali!" Kepalanya mendongak, air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
"Sasa, kamu yang sabar." Emily kembali merengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya. "Demoy terpaksa harus dikeluarkan, karena kamu mengalami pendarahan hebat, Sa!" lanjutnya terbata-bata menahan tenggorokannya yang tercekat. Pelukannya semakin kuat menahan tubuh Khansa yang terasa melemah dan hampir merosot.
Seperti terkena sambaran petir tepat di jantungnya hingga membuat detaknya berhenti beberapa detik. Jiwanya seolah lepas dari raganya.
"A ... apa?" Sesak! Dadanya teramat sesak seperti terhimpit beban yang sangat berat! Ia sampai sulit untuk bernapas. Air matanya jatuh dengan begitu derasnya. Kedua tangannya terkepal kuat. "Kenapa! Kenapa Tuhan nggak pernah adil padaku? Kenapa selalu mengambil orang-orang yang aku cintai? Kenapa Emily?" jerit Khansa menangis histeris.
Tidak ada yang bisa diucapkan Emily, hatinya seperti tertusuk tombak api melihat Khansa seperti ini. Dia pun ikut menangis histeris dan mengusap punggung Khansa naik turun, meski tidak bisa meredakan kesedihannya.
Hansen dan Simon pun sampai turut menitikkan air mata. Mereka tidak tega melihat Khansa, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Setelah hampir satu jam menumpahkan segala tangisnya, Khansa sudah cukup tenang. Rasa sakit di hatinya lebih terasa dibandingkan sakit di tubuhnya. Emily menyeka kedua mata Khansa yang masih mengalirkan air mata. Bengkak, mata jernih yang biasanya memancarkan cahaya kini meredup dan berubah merah.
__ADS_1
"Antarkan aku pada Leon!" gumam Khansa sangat pelan dengan nada dingin dan pandangan kosong.
"Tapi, Kak ...."
"Antarkan aku sekarang juga!" teriaknya memotong ucapan Simon dan menatapnya tajam.
"Baik, sebentar aku ambilkan kursi roda." Simon hendak memutar tubuhnya dan melenggang pergi. Namun teriakan Khansa menghentikan langkahnya seketika.
"Tidak perlu! Cukup tunjukkan saja di mana ruangannya!" seru Khansa lagi.
Simon beralih menatap Hansen, pria berkacamata itu mengangguk. Ia pun kembali dan membawakan infus Khansa. Emily membantunya turun dari ranjang. Ketika gadis itu hendak memapahnya, Khansa menggerakkan bahunya. "Aku bisa sendiri!" tuturnya merebut infus di tangan Simon lalu melepas selang oksigen dan menggeletakkannya di ranjang tersebut.
"Tunjukkan!" tegasnya dengan seringai dingin.
"Baik, Kak. Hati-hati!" ujar Simon memimpin langkah diikuti Khansa. Emily menoleh pada Hansen, hatinya teramat sakit melihat Khansa seperti itu. Hansen memeluknya, merebahkan kepala gadis itu lalu melangkah serentak, mengawal Khansa dari belakang.
Khansa berada di lantai 3, tepatnya di ruangan bersalin setelah menjalani proses kuretase. Sedangkan Leon berada di ruang VVIP yang terletak di lantai 5 rumah sakit tersebut. Sunyi, rasanya sangat mencekam berada di dalam lift. Hawa dingin menyusup ke tubuh mereka bertiga, seiring dengan dinginnya Khansa saat ini.
Dan saat pintu terbuka otomatis, manik mereka langsung menangkap Gerry, Mario dan seorang pria paruh baya bersama ... Tiger. Seketika aliran darah di tubuh Khansa seolah mendidih, jantungnya berdetak berkali-kali lipat.
"Pembunuh!" desisnya penuh penekanan. "Puas kamu telah membunuhnya, hah?" jerit Khansa mengoyak dada Tiger dengan seluruh kekuatannya. Kemarahannya mampu mengesampingkan rasa sakit dan tubuh lemahnya.
Tiger diam dan menatap dua manik mata Khansa yang dipenuhi luka. Wajahnya begitu sembab namun seluruh tubuhnya menegang menahan amarah.
"Tiger! Iblis mana yang merasuki tubuhmu? Kenapa kamu selalu merampas kebahagian Leon? Sudah cukup lama dia menderita, Tiger! Apa kamu masih kurang puas bertahun-tahun menyakitinya? Merebut apa yang menjadi miliknya?" teriak Khansa menggelegar.
Semua orang yang ada di sana hanya menjadi penonton saja. Emily hendak melerai, namun Hansen menahannya. Membiarkan Khansa menumpahkan segala amarahnya.
"Kau sudah merebut semua hartanya! Kau bahkan bisa merebut kasih sayang ayahnya. Pernahkan kamu berpikir sedikit saja mengenai perasaannya? Dia sakit, Tiger! Sakit jiwa raganya. Kenapa kamu serakah ingin merebut semuanya disaat Leon mulai menuai sedikit kebahagiaan! Di mana hati kamu, di mana? Leon bahkan tidak ingin membalasmu, dia tidak ingin menyakitimu. Tapi kamu terus-terusan ingin menghancurkannya!" pekik Khansa memukul-mukul dada Tiger dengan sangat keras.
"Katakan, sekarang kamu mau apa? Harta kekayaannya lagi? Akan aku berikan! Semua harta bersama sudah dialihkan atas namaku. Ambil semuanya biar kamu puas! Tapi jangan ambil nyawanya, Tiger! Aku mohon! Sudah cukup Leonku menderita selama hidupnya! Tolong hentikan ambisimu!" Tangisnya kembali pecah. Kedua tangannya masih mengepal kuat sesekali memukul pria itu yang masih bergeming.
Pria paruh baya yang berdiri di sebelahnya terhenyak mendengar semua ucapan Khansa. Selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang persetuan hebat anak-anaknya. Ya, dia adalah Milano Sebastian. Ayah dari Leon dan Tiger.
"Ah ya. Satu lagi! Apa kamu berambisi ingin memilikiku karena pengakuan kekasihmu dulu? Kau ingin balas dendam, iya?" pekik Khansa melotot tajam. "Kamu bahkan lebih percaya jal*ng itu dari pada adikmu sendiri. Asal kau tahu, Leon tidak pernah melakukan hal serendah itu, Tiger! Dia pria terhormat!" desisnya menghempaskan tubuh Tiger hingga terbentur dinding.
__ADS_1
Tiger hanya menunduk, tidak berani membantah perkataan Khansa. Karena memang semua benar adanya. Apalagi saat ini ada ayahnya.
Hansen segera memberi kabar ketika Leon mengalami kecelakaan. Milano bergegas berangkat menuju rumah sakit yang ditunjukkan oleh Hansen. Ia juga menghubungi putra sulungnya agar segera datang ke rumah sakit pula. Yang ternyata tanpa sepengetahuannya, Tigerlah dalang dari semua ini.
"Tunggu! Apa maksud semua ucapanmu?" tukas Milano menarik bahu Khansa hingga menghadap padanya.
Manik mata Khansa semakin tajam saat melihat pria itu sangat mirip dengan suaminya. Ia sangat yakin bahwa pria paruh baya itu adalah ayah dari sang suami.
"Ayah mertua," ucapnya pelan dan tenggorokannya kembali tercekat. Kening Malino mengernyit heran, ia sama sekali tidak mengetahui pernikahan putra bungsunya.
"Perkenalkan, saya Khansa. Istri dari putra yang Anda siksa sedari kecil. Putra yang selalu Anda bedakan dengan anak Anda yang lain." Khansa menyeka air matanya dengan kasar.
"Apa?" Milano tampak terkejut.
"Tuan Sebastian yang terhormat. Tahukan anda? Semua ini terjadi karena akar permasalahan ada pada Anda! Saat Leon kehilangan ibunya, kenapa Anda justru menyalahkan dia? Dia juga sama merasa kehilangan, Tuan! Kenapa Anda membencinya dan melampiaskan semua kekesalan juga kesedihan pada Leon? Leon juga sama sakitnya ditinggalkan oleh ibunya. Dia juga sedih, Tuan!" Air mata Khansa lagi-lagi menganak sungai. Seolah sumbernya tidak pernah habis.
Emily turut menangis histeris, Hansen mendekapnya dengan erat. Kemejanya sudah teramat basah oleh air mata kekasihnya. Gerry dan Mario tertunduk dalam. Simon dan Hansen menatapnya dengan tajam. Karena mereka pun tahu sepak terjang Leon.
Tubuh Khansa luruh ke lantai, ia berlutut di hadapan Milano. Kepalanya menunduk dalam. "Anda tahu, efek kekerasan yang selalu anda terapkan sejak Leon masih kecil?" Khansa mendongak hingga kembali bersitatap dengan Milano.
"Dia mengalami trauma, Tuan! Bahkan dia sempat menolak kehadian calon anaknya. Karena apa? Karena dia takut menjadi ayah yang gagal. Dia takut kelak anaknya akan mengalami hal yang sama seperti masa kecilnya. Ketakutannya bahkan mengalahkan rasa bahagianya." Khansa berusaha berdiri dibantu oleh Simon. Kedua lututnya bergetar hebat.
"Dan setelah Leon bisa melawan traumanya, setelah Leon berjuang untuk sembuh dengan berbagai macam terapy dan obat," Dada Khansa mengembang dan mengempis dengan kuat. Sakit sekali, hatinya hancur tak bersisa. "Setelah Leon mulai bisa menerima anaknya, Tiger telah membunuhnya!" teriak Khansa beralih pada Tiger dan memukul wajah pria itu dengan kuat.
Milano terpaku, pikirannya mendadak kosong. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menyanggah semua kalimat Khansa.
"Kau pembunuh, Tiger!" jeritnya memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa begitu sesak.
Emily tak kuasa membiarkan Khansa seperti itu. Ia beralih memeluk wanita itu. Menekan darah yang sedari tadi mengalir dari punggung tangannya. Tubuhnya melemas, Emily dan Simon membantunya untuk duduk. Emily pun duduk di sebelah Khansa, Khansa lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Emily.
"Apa? Jadi kamu yang menyebabkan Leon mengalami trauma Milano?!" Suara seseorang menggelegar di ujung lorong setelah mendengar semua teriakan Khansa. Ia melangkah cepat lalu menampar pria itu begitu keras.
Bersambung~
Jujurly aku nyesegh banget ngetiknya. Mataku mpe sembab π€§ pedih mataku.wkwkwk... Entah nyampe ke kalian nggak ya air matanya ππ
__ADS_1
Sudah dulu ya dua bab isinya gendut semua... jan lupa di vote voteπ like komennya jan di sini aja ya. atasnya juga βΊ makasih apresiasinya.