
Bara yang tidak sabar meraih asal sebuah sweater berwarna kunyit. Dada Bara hanya berjarak beberapa inchi saja hingga aroma sabun menguar di indera penciuman Jennifer.
"Ya ampun! Sabar dong, Kak!" sentak Jen berbalik dan mendorong dada bidang Bara.
"Kelamaan!" balas pria itu meraih sweater tersebut lalu merebut celana yang sudah diambil oleh Jennifer.
Bara melenggang lagi ke kamar mandi. Ia tidak mungkin mengganti pakaian di kamar itu. Sedangkan Jennifer, menangkupkan kedua tangan di dada sembari senyum-senyum sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Emily, Bara dan Jennifer bergegas menuju salah satu butik ternama di Kota Palembang. Sepanjang perjalanan, Jen asyik menscroll berbagai model gaun melalui gawainya. Memilah dan memilih yang sekiranya cocok dengannya, sesekali mencuri pandang pada Bara yang duduk di balik kemudi.
Pria itu tampak abai dan cuek. Hanya fokus dengan jalan yang dilaluinya. "Baby, nggak sekalian sama Sasa?" tanya Bara mengintip Emily dari kaca spion yang menggantung di depannya.
Jennifer yang buru-buru mengangkat pandangan, mengurai senyum manis di bibir tipisnya dengan bertopang dagu.
"Udah kok, dia berangkat dari Villa Anggrek. Langsung ketemu di sana. Biasalah, suaminya nggak mau jauh-jauh. Jadi mereka berangkat berdua aja," sahut Emily melirik sejenak kembali fokus pada tab di tangannya.
"Pria semacho itu tapi bucin, uuhh meleleh!" gumam Bara.
"BUGH!" Emily memukul bahu Bara dengan gulungan majalah yang ada di sebelahnya.
"Aduh!" rintihnya. "Bercanda, Baby! Tega banget, astaga!" Tubuhnya mencondong sedikit ke arah kanan menghindari pukulan telak adiknya.
"Buruan nikah aja deh, biar lempeng. Seneng banget bikin hatiku was was," desah Emily mengerucutkan bibirnya.
"Ya, nanti kalau ada yang mau," jawab Bara malas, karena lelah selalu dipojokkan untuk menikah.
Padahal ia sendiri enggan. Masih takut menjalin hubungan dengan lawan jenis, karena sakitnya dikhianati masih terasa bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Aku mau!" gumam Jen pelan sekali masih tersenyum menatap ke depan.
Emily menoleh ke sampingnya, "Kamu ngomong apa, Jen?" tanya Emily yang tidak jelas mendengar gumaman Jennifer.
"Eh! Engg... enggak, Kak. Enggak!" jawabnya gugup.
__ADS_1
Emily kembali fokus dengan gadgetnya, sehingga membuat Jennifer mengembuskan napas lega. Ia menyeka keringat yang tiba-tiba muncul di keningnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa dan Leon sudah sampai terlebih dahulu. Mereka memilih secara langsung gaun-gaun mewah yang berjajar pada display butik tersebut, jika cocok tinggal menyesuaikan ukurannya. Karena dalam waktu satu bulan tidak mungkin bisa membuat gaun dengan rancangan baru.
"Sayang!" panggil Khansa saat keluar dari ruang ganti.
Leon tampak memejamkan mata, menyandarkan kepala pada sandaran sofa. Akhir-akhir ini, dia sering mengantuk di waktu pagi hari.
"Bisa-bisanya tidur!" gumam Khansa menggelengkan kepala.
Khansa berjalan mendekati suaminya, menyentuh sebelah pipinya dan sedikit membungkuk. Hingga wajah mereka saling bertatapan. Leon terkejut dengan sentuhan itu, menepisnya kuat dan membuka matanya dengan cepat.
"Ah! Maaf, Sayang! Maaf!" ucap Leon meraih tangan Khansa dan menciumnya. Merasa bersalah karena menepisnya tadi.
Khansa tersenyum, "Tidak apa-apa. Ngantuk banget ya calon daddy," balasnya bersuara lembut.
"Iya, nggak tau kenapa akhir-akhir ini sering mengantuk kalau pagi," keluhnya menegakkan punggungnya.
"Itu biasanya dirasain bumil, sih. Tapi berhubung kamu sayang banget sama kami, jadi kamu deh yang ngerasain," celetuk Khansa meraba sebelah pipi Leon.
Ini acara besar yang akan ditonton oleh jutaan orang, pria itu tidak akan rela jika lekuk tubuh istrinya dinikmati semua orang.
"Haiihh, pelan-pelan 'kan bisa!" cebik Khansa memutar tubuhnya, menghentakkan kaki untuk kembali masuk ke ruang ganti, bersama salah satu karyawati butik tersebut.
Leon menepuk bibirnya, "Astaga! Dia ngambek!" sesalnya karena tidak sengaja berteriak.
Lima belas menit berlalu, Khansa kembali keluar dengan gaun lainnya. Leon sudah menunggunya sedari tadi, berdiri di depan pintu dengan tangan yang masuk ke saku celana.
"Sayang, maaf! Aku nggak sengaja berteriak!" ucap Leon menangkap pergelangan tangan Khansa.
Ia sadar, Khansa tengah berada pada mode mood swing. Mudah menangis, mudah marah, yang terkadang ia sendiri merasakannya. Benar-benar harus menghirup kesabaran sebanyak-banyaknya.
"Hmm, ini gimana? Bagus 'kan? Simpel. Enggak terlalu terbuka juga." Khansa pun kembali ceria usai sang suami menyadarinya.
__ADS_1
"Boleh! Ini cocok. Lagian kamu jangan terlalu lelah karena harus mencoba banyak gaun," balas Leon perhatian, ia takut Khansa kelelahan karena terlalu banyak mencoba gaun yang cukup ribet itu.
"Deal, Nyonya? Kami akan ukur dulu agar bisa pas di badan Nyonya ya," tawar sang pegawai.
"Jangan terlalu pas! Kamu bisa menyakiti calon anak-anakku!" tandas Leon menatapnya tajam.
"Oh, baik, Tuan. Kami akan menyesuaikannya," sahut pegawai itu membungkuk dan segera melakukan tugasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Emily segera masuk bersama Jennifer ketika mobil sudah terparkir di halaman butik yang sama dengan Khansa. Ia segera meminta beberapa gaun yang dipilih untuk ia coba. Begitupun dengan Jennifer yang sedari tadi memilih di mobil.
"Kak Han nggak ke sini, Kak?" tanya Jenn ketika menunggu para pegawai menyiapkan gaun mereka.
"Bentar lagi mungkin. Dia ada meeting yang nggak bisa ditinggal. Katanya sih langsung nyusul!" ucap Emily.
Mereka segera digiring ke ruang ganti, yang otomatis bertemu dengan Khansa dan Leon. Emily segera memeluk dan mencium kedua pipi sahabatnya itu.
"Kamu udah dapat?" tanya Emily.
"Yang ini, tinggal sesuain ukurannya," jawab Khansa menunjuk dengan matanya.
"Wah, ini cocok banget emang sama kamu. Aku mau cobain dulu ya," ucap Emily melenggang ketika gaunnya sudah disiapkan.
Dalam ruang ganti Emily selalu mengirimkan gambar pada Hansen untuk meminta persetujuan. Pria yang tengah meeting itu pun terbelah konsentrasinya. Meski begitu, ia tetap berusaha profesional juga memberi komentar tiap gambar yang dikirim Emily.
Sedangkan Jennifer tampak sedang berputar-putar di depan cermin di bilik lain. Ia mencoba keluar untuk meminta pendapat Emily.
Namun yang ditemukan hanya Bara yang duduk dengan membaca sebuah buku yang tersedia di meja. Sedangkan Leon tengah mencoba tuxedo yang senada dengan gaun Khansa.
"Kak Bara! Kak Bara! Aku cantik nggak?" tanya gadis itu bergaya dan sesekali berputar dengan gaun berwarna biru navy sepanjang lutut itu.
Bara mengangkat pandangan. Menopang kepala dengan satu lengannya. Ia tampak terdiam mengamati.
Bersambung~
__ADS_1
Ah elu, Bar... bikin bocil kelepek2.. 💕😌