
"Biar nggak malu-maluin!" cetus Bara cuek membereskan kembali alat-alat tempurnya.
"Iih jahat banget mulutnya!"
Jen memberengut kesal, jawaban yang terlontar tidak sesuai dengan bayangannya. Ia pikir akan ada sesuatu romantis yang keluar dari manusia super cuek satu itu. Ternyata salah.
"Buruan! Tinggal nih? Udah nggak ada orang loh!" ajak Bara yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu dengan koper di tangannya. Jemarinya sibuk menyibak rambutnya yang sudah rapi dengan pomade favorit.
"Iya! Iya! Sabar!" sahut Jen menghentakkan kakinya malas.
Dua insan itu pun terdiam sepanjang perjalanan. Bara sesekali melirik sekilas, merasa aneh dengan gadis yang biasanya rusuh dan cerewet itu tiba-tiba diam seribu bahasa.
"Jen! Lu marah?" tanya Bara sesekali melirik ke arah gadis di sampingnya.
"Enggak!" jawab Jennifer ketus, tanpa menoleh. Ia lebih asyik memperhatikan lampu jalan dan pepohonan yang dilaluinya.
"Kok diem aja? Sariawan? Biasanya nggak ada jeda kalau ngomong," timpal pria itu lagi.
"Lagi males aja!" sahut Jen. Masih membuang pandangannya keluar jendela.
Bara mengembuskan napas berat. Kini hanya deru mesin mobil yang mendominasi. Keduanya sama-sama terdiam tak bersuara. Bara fokus mengendarai mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kok banyak karangan bunga ya? Aduh Leon mabuk nggak ya nanti!" ucap Emily saat memasuki kawasan taman terbuka tempat mereka hendak melaksanakan resepsi.
"Selama masih di dalam mobil sepertinya enggak!" sahut Hansen menguasai setirnya.
Puluhan karangan bunga ucapan selamat berjajar rapi dan berhimpitan sepanjang jalan. Baik itu untuk Hansen dan Emily, maupun pasangan pengantin lama Leon dan Khansa.
Tak hanya dari kalangan artis dan para pebisnis kelas atas. Banyak juga dari masyarakat yang sangat mengagumi Leon dan Khansa, terutama dalam mengelola Rumah Sakit mereka. Sungguh, banyak sekali yang merasa terbantu atas kebijakan yang dibuat oleh mereka.
Bahkan sepanjang jalan masuk banyak masyarakat yang berdiri mengular di tepian jalan hanya sekedar mengucapkan selamat dan mendoakan pasangan fenomenal tersebut. Fans Emily pun juga turut bergabung di sana. Mereka membawa berbagai bentuk tulisan atau banner.
Saat melihat mobil pengantin melaluinya, mereka bertepuk tangan meriah bahkan ada yang berteriak histeris. Emily pun tersenyum ramah melambaikan tangan ke arah fansnya.
Berbagai kamera dari ponsel mereka sorot ke arah Emily, tidak ingin melewatkan momen yang sangat penting itu. Semua media sosial kini dipenuhi laman pernikahan megah Emily, Hansen.
__ADS_1
Kabar yang tersiar di seluruh penjuru kota, tentu menggerakkan hati mereka dengan tulus tanpa mengharapkan apa pun. Karena orang yang tulus tentu akan mendapat ketulusan pula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang dikendarai Hansen berhenti tepat di depan pintu utama. Ia segera turun menyerahkan kunci pada salah satu staff penjaga. Lalu berjalan setengah berputar membukakan pintu untuk Emily.
Hansen menjulurkan lengannya, yang disambut Emily dengan suka cita. Senyum merekah tersungging dari bibir gadis itu. Ia menjajakkan kaki jenjangnya di atas red carpet yang membentang luas.
"Khansa sama Leon belum sampai ya?" gumam Emily sembari merapikan gaunnya.
Hansen mengedarkan pandangan, "Mobilnya belum ada, tunggu aja di dalam," ajak Hansen. Emily mengangguk, ia menggenggam kuat lengan kokoh Hansen kemudian berjalan beriringan.
Para tim WO sudah bersiap pada tugasnya masing-masing. Mereka semua sudah berpakaian rapi, mengenakan jas untuk laki-laki dan kebaya dengan bawahan kain batik untuk perempuan, lengkap dengan alat komunikasi di genggaman mereka.
"Nanti periksa ya, yang pakai parfum jangan bolehin masuk. Terus kalau ada yang bawa kado atau amplop, suruh tinggal aja di mobil," ucap Emily mengingatkan penerima tamu.
"Siap, Nona Emily!" sahut beberapa petugas penerima tamu.
Emily dan Hansen segera melenggang masuk setelah disapa dengan sopan beberapa Tim WO, yang berpapasan dengannya. Pandangan Emily mengedar, takjub dengan dekorasi yang sangat mewah sesuai permintaan.
"Perfect!" gumam Emily berbinar. Ia sangat puas, benar-benar melebihi ekspektasinya.
Di sisi kanan dan kirinya juga ada berbagai rangkaian bunga, lilin untuk menambah suasana romantis, bunga-bunga hias yang menggantung disertai lampu-lampu hias yang menjuntai dari langit-langit. Menambah kesan mewah di sana.
"Tetep kece 'kan ya, walaupun tanpa bunga asli," ucap Emily terkekeh.
"Iya," sahut Hansen singkat. Bukan karena tidak suka, hanya saja Hansen bingung harus berekspresi bangaimana. Semua sudah terwakilkan oleh Emily.
Sepasang pengantin itu masih bergandengan tangan menuju pelaminan dan duduk di sana sembari menunggu Leon dan Khansa. Betapa terpukaunya Emily, ketika melihat dekorasi yang sangat sempurna di matanya.
Ribuan lampu yang menjuntai indah dan dibentuk sedemikian rupa, bahkan mengalahkan keindahan dekorasi yang dirangkai dari berbagai bunga.
"Selera bayi-bayi Leon memang elegan ya, Sayang. Ckckck! Bahkan sejak dalam kandungan," gumam Emily berhenti sejenak menikmati tempat mewah tersebut.
__ADS_1
Kening Hansen mengernyit bingung, "Kok bisa?" tanyanya penasaran.
Emily melempar tatapan ke arah suaminya. "Iya, kan Leon yang minta agar dekorasinya tanpa bunga asli sama sekali. Dan itu karena dia mual tiap ada bunga. Jadi konsepnya bener-bener berbeda dari yang lain. Bahkan kata Wedding Organizernya aja, ini adalah first impression mereka. Keren nggak sih? Pertama kali aja sekeren ini," serunya dengan sangat bahagia.
Hansen tersenyum, meraih lengan Emily dan mencium punggung tangannya. Ia tidak begitu peduli dengan dekorasinya. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan sang istri.
"Ayo duduk!" ajak Hansen menaiki panggung megah dan super mewah itu.
Tak berapa lama, rombongan keluarga besar Hansen dan Emily telah sampai. Mereka sama terpukaunya seperti Emily. Kemudian satu per satu tamu undangan mulai berdatangan.
Pemeriksaan berjalan ketat, selain melaksanakan perintah klien, tim keamanan juga memindai tubuh mereka dari benda-benda berbahaya atau benda tajam dengan sebuah scanner.
Para awak media berlomba untuk mencari angle terbaik. Mereka segera mendekat setelah sedari tadi hanya diperbolehkan mengambil gambar dari jarak jauh saja. Beberapa stasiun televisi swasta menayangkan acara ini secara live.
Kursi tamu mulai penuh, namun sampai saat ini Leon dan Khansa belum juga tiba. Emily pun menjadi khawatir dibuatnya. Ia duduk dengan perasaan was-was dan tak tenang.
"Aduh, coba telepon deh. Acara sudah mau dimulai loh. Aku takut mereka kenapa-napa. Semua keluarga dari Villa Anggrek juga belum tiba!" seru Emily sedikit panik.
Ia mencengkeram buket bunga, sedang tangan lainnya mencengkeram lengan Hansen. Hansen berusaha tenang sembari mengetukkan jari jemarinya di atas layar benda pipih itu.
"Nggak diangkat, Sayang," ucap Hansen semakin membuat Emily ketakutan.
"Sayang gimana ini?!" Emily sudah berkaca-kaca.
Bara yang baru sampai bersama Jennifer, kini segera beralih ke atas panggung karena melihat kekalutan dari raut wajah Emily.
"Ada apa?" tanya Bara duduk di kursi yang dekat dengan Emily.
"Sasa sama Leon belum sampai. Mereka nggak bisa dihubungi! Aku takut mereka kenapa-napa!" seru Emily.
"Sstt! Tenanglah, mungkin terjebak macet!" Bara mengusap punggung adiknya.
Beberapa waktu berlalu, tiba-tiba seluruh lampu utama padam. Hanya lampu-lampu hias yang menyala, dan lilin di sepanjang lantai dansa. Seluruh tamu undangan pun kebingungan.
"Loh! Ada apa sih ini?!" seru Emily semakin panik. Dalam konsepnya, tidak ada acara pemadaman lampu utama kecuali nanti ketika sesi dansa.
"Sayang, tenanglah dulu!" Hansen meremat jari jemari Emily yang terasa sangat dingin.
__ADS_1
Bara segera turun untuk menemui Tim WO yang bertanggung jawab. Ia tidak ingin ada sesuatu yang mengacaukan acara adik kesayangannya itu.
Bersambung~