
Bara nampak berpikir sejenak sembari memutar bola matanya, "Eumm ... enggak kok," sahutnya mendorong gadis itu agar segera masuk mobil.
Tampak sekali binar kebahagiaan dari raut wajah gadis itu. Ia semakin bersemangat menjalani harinya. Bara sudah siap melajukan mobilnya, tangan kirinya mengacak rambut Emily, "Dasar labil!" ucapnya tersenyum.
Di tempat berbeda, Khansa tengah menemani suaminya di kantor. Tepatnya dipaksa, karena perempuan itu tidak mengerti dengan urusan kantor seperti itu.
"Tuan, semua sudah siap!" ucap sang sekretaris melebarkan pintu yang sudah terbuka.
Leon menaikkan pandangannya, kemudian mengangguk. Pria itu berdiri mengancingkan jasnya, mengulurkan lengannya pada Khansa. Khansa yang tidak mengerti pun menyambutnya. Keduanya berjalan keluar menuju ke ruang meeting.
"Leon, aku nggak ngerti apa-apa, loh!" bisik Khansa di tengah perjalanan mereka.
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa," sahut Leon menoleh melebarkan senyumannya.
Sampailah mereka masuk ke sebuah ruangan, di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul. Kebanyakan dari mereka adalah para wanita.
Khansa mengernyitkan dahinya ketika melihat mereka satu per satu. Leon duduk di kursi paling depan menghadap para wanita tersebut. Sedangkan Khansa diminta duduk di sebelahnya. Sepi, sunyi, Leon menatap mereka satu per satu dengan mata elangnya. Yang ditatap hanya berani menundukkan kepala.
"Kalian tahu kenapa saya undang di sini?" tanya Leon tanpa basa basi. Para wanita itu menggelengkan kepala.
"Jawab!" sentak Leon bersuara tinggi.
"Ti ... tidak, Tuan," sahut mereka terbata-bata. Suara Leon yang menggelegar cukup membuat kejut jantung bagi mereka.
Khansa mengusap bahu Leon yang menegang. Ia sendiri tidak tahu apa rencana suaminya itu. Khansa hanya diam dan memperhatikan. Namun tangannya terus bergerak di punggung sang suami berharap bisa mengurangi emosinya.
"Angkat kepala kalian! Lihat baik-baik!" tegas Leon.
Tidak ada yang berani menaikkan pandangannya, mereka saling lirik satu sama lain. Tubuh mereka sudah panas dingin dengan irama detak jantung yang sudah berantakan.
"Angkat!" berang Leon lebih keras.
Serentak mereka mengangkat pandangan, tepat mengarah pada Leon dan Khansa. Di bawah meja meeting itu, tangan dingin para wanita itu saling bertaut. Mereka meneguk ludah berat saat bertemu dengan tatapan membunuh Leon.
"Kalian lupa apa yang sudah kalian lakukan pada istri saya?" tanya Leon menekankan setiap kata yang terucap.
Genggaman tangan para wanita itu semakin erat. Mereka baru sadar pernah menjelekkan Khansa, mengumpat dan juga merendahkan gadis bercadar itu.
"Ma ... maafkan kami, Tuan. Kami salah!" ucap salah satu dari mereka.
"Iya, Tuan. Kami mohon maaf karena sudah berkata tidak pantas pada Khansa ...."
__ADS_1
"Panggil dia nyonya!" teriak Leon memotong ucapannya.
"Maaf." Keringat dingin terus mengalir di keningnya melihat kemarahan Leon. "Maaf, Nyonya. Kami salah."
Mereka tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Degub jantung yang sudah seperti lari marathon, ditambah tatapan Leon seperti singa yang akan melahap mangsanya, menambah getaran ketakutan di tubuh mereka.
"Leon, sudahlah. Aku sudah melupakannya," ucap Khansa pelan. Leon menoleh dengan mata mendelik.
"Lain kali, dijaga bicara dan ketikannya. Jangan hanya karena kalian ngefans dengan seseorang, kalian mendewakannya, selalu menganggapnya baik dan benar. Lalu menjatuhkan orang yang kalian anggap rivalnya. Apa yang ditampilkan di ranah publik, terkadang tidak sama dalam kenyataannya. Jangan mudah terhasut karena opini yang belum tentu benar. Kalau tidak tahu, lebih baik diam. Jangan mudah terbawa suasana," papar Khansaa dengan pelan dan wajah tenangnya.
Leon mengepalkan kedua tangannya, susah payah ia kumpulkan orang-orang yang pernah menyakiti istrinya itu, ternyata dimaafkan begitu saja.
"Kamu mau kasih hukuman apa, Sayang?" tawar Leon semakin membuat wajah mereka memucat.
"Tidak usah. Aku sebenarnya sudah kebal dengan hal-hal seperti ini. Buat pelajaran kalian semua aja agar lain kali tidak menghakimi perbuatan orang tanpa bukti!" tegas Khansa menatap mereka dingin.
Leon mengembuskan napas berat, tubuhnya melemas. Susah memang punya istri berhati lembut. Ia pun segera membebaskan orang-orang tersebut.
"Baiklah, karena istri saya sudah memutuskan seperti itu kalian bisa pulang. Tapi ingat! Jangan sampai saya mendengar berita yang tidak-tidak mengenai kami. Atau kalian akan tanggung akibatnya!" ancam Leon dengan lantang.
"Ba ... baik, Tuan. Terima kasih banyak. Terima kasih, Nyonya. Permisi," ucapnya beranjak berdiri membungkukkan separuh tubuhnya. Diikuti yang lain. Setelahnya Leon menepiskan tangan untuk mengusir mereka semua.
"Leon! Nanti ada yang masuk!" elak Khansa menahan kepala suaminya.
"Tidak akan!" sahut pria itu mengeratkan pelukannya.
Khansa tersenyum, membalas pelukan itu sama eratnya. Setelah beberapa saat, ia melepas pelukan itu. Menatap suaminya dengan intens membuat Leon menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa?" tanya Leon melihat tatapan tidak biasa dari Khansa.
"Aku punya satu keinginan, aku harap kamu mau melakukannya," ucap Khansa dengan ragu.
"Katakanlah," sahut Leon membelai rambut Khansa.
Wanita itu menghela napas panjang. Memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan Fauzan! Mulai hari ini Anda dibebaskan. Seseorang telah memberikan jaminan untuk Anda!" ucap seorang petugas polisi yang membuka pintu dari jeruji besi itu.
Fauzan yang tadinya meringkuk di lantai buru-buru menaikkan pandangan. Seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Kedua matanya mengerjap berulang.
__ADS_1
"Sa ... saya, Pak?" tunjuk Fauzan pada dirinya sendiri.
"Ya! Lepaskan baju tahanan itu," lanjut pria berseragam itu.
Fauzan masih tercengang, dia lalu melepas baju orange yang sudah ia kenakan sejak beberapa waktu lalu. Sepasang kakinya melangkah perlahan, pikirannya menerawang siapa kira-kira yang mau memberikannya jaminan untuk membebaskannya.
"Siapa yang memberikan jaminan itu, Pak?" tanya Fauzan dengan suara pelan.
"Mungkin mereka masih ada di luar sekarang," sahut polisi tersebut.
"Terima kasih banyak, Pak!" lanjut Fauzan menjabat tangannya lalu segera berlari keluar.
Fauzan mengedarkan pandangannya. Meski napasnya sudah tersengal-sengal, ia masih berusaha lari untuk menemukan siapa yang membebaskannya. Hingga matanya menemukan seseorang yang sangat ia kenal.
"Khansa," gumamnya lirih.
Tampak Khansa hendak memasuki mobil usai berjabat tangan dengan seorang pria yang sepertinya adalah pengacara. Leon juga sudah bersiap di balik kemudi. Dan mobil hendak ia lajukan. Fauzan segera berlari sekuat yang dia bisa, meski fisiknya tidak begitu kuat, ia tetap mempercepat larinya mengejar mobil tersebut.
"Khansa! Khansa!" teriak Fauzan di tengah larinya.
Fauzan menoleh, menemukan sebuah belokan untuk putar balik karena jalan yang searah. Fauzan pun berbalik arah, ia berlari menuju jalan yang akan dilalui putrinya itu.
Pria paruh baya itu berhenti di tengah jalan raya, membungkukkan tubuhnya mengatur napas yang tersengal-sengal. Kedua tangan bertumpu pada lututnya. Keringat juga sudah membasahi kaos yang ia kenakan. Wajahnya pun mengkilap karena keringat tersebut.
Leon menginjak pedal rem saat melihat seseorang berdiri tepat di hadapannya. Ia menggeram marah. Segera turun dari mobil dan berteriak. "Hei! Kalau mau mati jangan di sini. Cari rell kereta api sana yang tidak bisa mengerem mendadak!" berang Leon berkacak pinggang di depan mobilnya.
Fauzan menegakkan tubuhnya. Wajahnya tampak memucat dengan bibir bergetar. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada. "Maaf, Tuan. Bolehkah saya bertemu dengan Khansa sebentar saja," mohon Fauzan mengiba.
Leon tersentak saat sadar yang ia marahi ternyata ayah mertuanya. Khansa turun dari mobil tersebut. Ia berjalan perlahan dengan pandangan mengarah pada Fauzan.
"Sa!" panggil Fauzan dengan suara bergetar.
Bersambung~
🙄 Lu maunya apa, Tong?
MasLe; Yang penting ke mana mana ama gw, thor!
😒 Yaudah sih! Ikutin aja.
__ADS_1