
Leon bergeming, tidak menolak maupun mengiyakan permintaan Khansa. Bibirnya kaku dan susah digerakkan, manik matanya terus bergerak tak tentu arah karena penuh kebimbangan.
"Eee ... aku ...." Leon menelan saliva untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
"Leon, kita enggak bisa diem aja! Selain karena aku ingin menyelamatkan janin itu, aborsi juga sangat berbahaya bagi ibunya!" Khansa merapatkan tubuhnya pada Leon. Ia menangkup kedua pipi Leon dan mengangkat wajahnya agar saling berhadapan. Keduanya saling menatap lekat.
“Berapa lama bayi itu akan lahir?" tanya Leon masih mengikat manik Khansa dengan mata tajamnya.
"Sembilan bulan," sahut Khansa.
"Tapi, aku takut." Leon memutus kontak mata mereka terlebih dahulu.
Khansa memejamkan matanya sejenak. Ia menurunkan kedua lengannya lalu duduk di atas trotoar. Napasnya mulai tidak teratur, pikirannya bercabang ke mana-mana. Di satu sisi, ia tidak bisa memaksa Leon, namun di sisi lain, Khansa juga tidak bisa membiarkan janin itu digugurkan.
Di tengah kekalutannya, Khansa memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya. Karena di sini sangat sulit mendapatkan transportasi tersebut.
Ketiga orang itu mematung dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara sampai beberapa waktu kemudian, sebuah mobil berhenti di hadapan mereka.
Khansa segera beranjak dan berbincang dengan driver tersebut. "Pak, tolong antarkan perempuan itu sampai ke alamat ini. Ingat, harus sampai di rumah. Saya akan mengikuti dari belakang. Kalau dia minta turun di tengah jalan, tolong jangan dituruti," pintanya lalu menyerahkan uang beberapa lembar seratus ribuan.
"Baik, Nona!" ujar driver tersebut.
Khansa beralih pada Jihan, memapahnya masuk ke mobil. "Nanti kita bicarakan lagi. Tenangin diri dulu, okay?" ucapnya menepuk bahu Jihan.
Jihan mengangguk dengan pandangan kosong. Jiwanya serasa terombang-ambing. Air matanya masih berjatuhan. Khansa menutup pintu perlahan dan meminta sang sopir untuk segera berangkat. Tatapannya masih mengarah pada laju mobil tersebut hingga menghilang di ujung tikungan.
"Aku akan meminta Tiger untuk bertanggung jawab."
Suara Leon membuat Khansa segera membalikkan badannya. Leon melangkah dengan pelan, hingga mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Aku nggak yakin, Leon," sahut Khansa pelan.
"Aku bisa memaksanya!" kekeuh Leon memeyakinkan.
"Bukan, bukan itu maksudku. Kita bisa memaksa Tiger, tapi tidak dengan Jihan. Aku bisa melihat, bagaimana tubuhnya gemetar ketakutan saat mendengar nama Tiger. Sorot matanya juga diliputi emosi, amarah, takut dan sakit hati menyatu menjadi satu. Ini bukan satu hal yang mudah bagi perempuan yang mengalami pelecehan seksual," papar Khansa menatap lekat sang suami.
__ADS_1
Leon menarik pinggang Khansa, hingga tubuhnya saling menempel. Binar mata penuh cinta memancar dan saling bertautan, "Kamu cocok jadi dokter psikiater, Sayang," gumam Leon dengan dada berdegub hebat hanya dengan melihat manik indah yang berkedip lembut milik istrinya.
"Hmm ... memang itu keinginanku. Setelah lulus menjadi dokter, aku mau mengambil jurusan psikiater. Supaya kita bisa berproses bersama. Dan kamu akan menjadi pasien pertamaku, Tuan Muda," balas Khansa melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh sang suami.
Leon memeluk erat perempuan itu. Wanita yang penuh kejutan di hidupnya. Wanita yang selalu luar biasa, bukan hanya dari segi kemampuan, namun juga memiliki hati seluas samudera. Terus ditempa masalah dalam hidup, membuatnya begitu tegar juga punya pemikiran dewasa meski usianya masih sangat muda.
Leon mendekatkan bibirnya perlahan, keduanya larut dalam suasana. Tak peduli lalu lalang kendaraan yang melintas. Dunia seolah milik mereka berdua. Namun tiba-tiba klakson panjang dari truk besar memekakkan telinga hingga mengejutkan mereka berdua.
Serentak pasangan itu terjingkat dan saling menjauh. Ekspresinya sama-sama terkejut dengan debaran jantung yang bertalu kuat. Pandangannya mengarah pada kendaraan besar pengangkut kayu yang sudah menjauh itu. Kemudian saling beradu tatap lagi dan tertawa kompak.
"Malu banget Leon!" bisiknya melenggang pergi, wajahnya memanas.
Leon hanya mengedikkan bahu cuek, ia segera menyamakan langkah Khansa lalu menautkan kedua tangannya dan menyeberang jalan bersama-sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jihan mengernyitkan alisnya saat mobil yang mengantarkannya berhenti di depan sebuah rumah yang sangat familiar. Ia bergeming menatap bangunan besar dua lantai di hadapannya.
"Maaf, Nona. Kita sudah sampai di tempat tujuan," ucap sang sopir menengok ke belakang karena tidak melihat gerakan penumpangnya.
Matanya menatap nanar bangunan itu. Dadanya bergemuruh hebat dengan perasaan yang campur aduk. Jihan tidak tahu jika pada akhirnya dia akan dibawa ke tempat ini. Sepanjang perjalanan, dia hanya melamun saja.
Cukup lama ia berdiri di tepi jalan dengan kepala mendongak. Dadanya seperti terhantam palu besar, sesak sekali. Ia menyeka air mata yang keluar tanpa permisi, lalu berbalik dan hendak berlari pergi.
Namun sebuah tangan mencekalnya hingga langkahnya terhenti. Jihan menatap jemari lentik dan putih yang mencengkeram lengannya kuat. Lalu beralih menatap wajah orang tersebut.
"Mau ke mana? Masuklah!" ucap Khansa yang baru sampai di sana.
"Tap ... tapi ...."
"Tenang aja, dulu aku yang beli rumah ini. Eh bukan, suamiku yang membelinya." Khansa menoleh pada suaminya, menyunggingkan senyum lembut dan manja. Leon mengulurkan telapak tangan lebarnya pada puncak kepala Khansa, dan mengacaknya gemas.
Jihan menjatuhkan tubuhnya di bawah kaki Khansa. Kepalanya tertunduk dalam, "Maaf, Sa!" ucapnya tertahan karena tenggorokan tercekat. Apalagi mengingat dulu ia dengan sengaja menjual seluruh aset-asetnya.
Khansa terkejut, ia sedikit menunduk dan memegang bahu Jihan. "Hei, kamu anak yang baik. Mungkin kalau jadi kamu aku akan melakukan hal yang sama demi kesembuhan ibuku. Melakukan segala cara untuk menyelamatkan nyawa wanita yang telah melahirkan kita." Mata Khansa berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maharani beruntung punya kamu. Ayolah, apa kamu tidak ingin kelak seperti itu? Anakmu akan mengorbankan apa pun untuk menyelamatkan hidupmu?" lanjutnya semakin membuat Jihan tergerus dalam kubangan dilemanya.
"Sayang, aku pergi sebentar," bisik Leon lembut di telinga Khansa sembari mengecup pelipis sang istri.
Khansa kembali berdiri tegap, ia menoleh pada sang suami yang kembali mengenakan helmnya dan buru-buru pergi. "Mau ke mana?" teriaknya menghampiri.
"Enggak akan lama kok. Tunggu di sini ya!" Leon menyalakan mesin motornya dan melajukannya perlahan.
"Hati-hati!" teriak Khansa yang hanya dibalas ibu jari Leon yang terangkat ke atas.
Helaan napas panjang Khansa embuskan. Ia kembali pada Jihan yang masih betah di posisinya. Bersimpuh di atas tanah mereka pijaki.
Khansa mengulurkan lengannya tepat di hadapan Jihan. "Ayo masuk Jihan!" ajaknya.
Jihan masih malu, ia merasa tidak pantas mendapat sambutan hangat dari Khansa. Secara tidak langsung Khansa menamparnya dengan begitu keras. Bukan melalui fisik, namun mentalnya. Hingga satu komitmen muncul dengan sendirinya. Keinginan untuk membalas semua kebaikan Khansa, menebus semua dosa yang pernah ia lakukan pada wanita itu.
"Ah lama!" cebik Khansa menarik paksa lengan Jihan dan mengajaknya masuk.
Semua pelayan dan penjaga terkejut dengan kedatangan Khansa bersama Jihan. Khansa lalu mengumpulkan semua maid, meminta agar ikut menjaga Jihan dengan baik sekaligus menjelaskan kondisinya saat ini yang tengah mengandung.
Mereka pun terkejut dengan pernyataan Khansa. Namun, sama sekali tidak berani bertanya ataupun mengelak. Hanya mengiyakan semua perintah Khansa.
"Sekarang tolong siapkan makanan dan kupasin buah-buahan ya, Bi!" pinta Khansa.
"Baik, Nyonya!" sahut beberapa pelayan mengangguk hormat.
"Terima kasih," ucap Khansa lalu mengajak Jihan duduk di kursi tamu.
Khansa mengembuskan napas lega. Menoleh pada Jihan yang masih tertunduk malu. Ia lalu menyentuh perut Jihan yang masih datar sambil mengusapnya lembut. "Hai, baby. Kamu yang kuat ya, Nak. Jangan bikin mamamu kerepotan. Nanti kalau udah lahir, kamu ikut sama aunty!" Khansa seolah berbincang dengan janin dalam kandungan Jihan.
Jiwa keibuannya keluar begitu saja. Rasa sayangnya muncul bahkan sejak masih berupa gumpalan darah. Meskipun bukan darah dagingnya.
'Kenapa aku baru sadar, kalau Khansa begitu baik. Andai waktu bisa diputar kembali. Maafin aku, Sa!' gumamnya dalam hati memejamkan mata hingga bulir bening lagi-lagi berjatuhan membasahi kedua pipinya.
"Apa?" pekik seseorang menggelegar di penjuru ruangan, yang sontak mengejutkan Khansa dan Jihan.
__ADS_1
Bersambung~