Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 44. Adu Domba


__ADS_3

Khansa memutar bola matanya, beralih menatap Jihan dan Jane di hadapannya, kemudian membalas, “Aku sudah ada di bar 1949. Cari aku di room C5.” Khansa menekan tombol sent lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


“Eum … Jihan, ada yang mau aku bicarakan,” ucap Khansa menatap saudara tirinya itu.


“Ini kita juga lagi ngobrol. Ngomong aja kali,” sahut Jihan menekan-nekan gelang di tangannya, tanpa melihat Khansa.


Khansa mendengkus kesal, “Bukan di sini. Aku ingin kita bicara berdua aja di luar,” ajak Khansa melirik Jane di samping Jihan.


“Hah, kenapa bukan Jane saja yang keluar?” Jihan enggan untuk bangun.


Jane memutar pandangannya jengah dalam hati ia menggerutu karena seperti tidak dianggap oleh Jihan.


“Tidak, kasihan kalau dia sendirian di luar. Ayolah, tidak akan lama. Ini sangat penting,” ucap Khansa lagi semakin meyakinkan.


“Haiih, kau selalu menyebalkan, Khansa!” cebik Jihan namun ia pun beranjak berdiri. Merapikan rok mininya sebentar, menoleh pada Jane. “Kau tunggu di sini dulu ya, Jane.”


Jane hanya mengangguk, dua perempuan itu segera keluar dari ruangan. Kini hanya ada Jane seorang di dalam ruangan, karena merasa bosan, ia pun menuangkan wine dan menenggaknya perlahan hingga habis beberapa gelas kecil.


Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka saat Jane mulai mabuk, ia di ambang batas kesadaran dan wajahnya memerah.


Sepasang kaki panjang berbalut pantouvel kini membentur lantai ruangan bar tersebut. Hendra mengedarkan pandangannya. Namun tidak melihat keberadaan Khansa di sana. Justru hanya melihat Jane yang tengah mabuk sendirian.


Keningnya mengernyit diiringi sebuah decakan. Tangannya merogoh ponsel di saku dan melakukan panggilan pada Khansa. Namun berkali-kali tidak bisa dihubungi. Khansa sengaja mematikan ponselnya.


“Di mana kamu, Sa?” geramnya kembali membuka history chat untuk memastikan tempat yang ditunjukkan oleh Khansa.


Sebenarnya, Jane terlahir dari keluarga kalangan menengah ke bawah. Hanya saja, ia beruntung berteman dengan Jihan.


Selama ini, Jane selalu mendapatkan pakaian, tas dan sepatu branded bekas dari Jihan. Kesombongannya hanya sebatas dari barang branded bekas.

__ADS_1


Sebenarnya Jane tidak begitu menyukai Jihan. Ia seperti diperbudak oleh Jihan yang selalu seenaknya sendiri, juga tidak pernah menghargainya.


Jane juga sangat membenci Khansa. Di matanya, Khansa lebih murahan dari Jihan, tapi hidup Khansa malah sempurna begitu. Iri, dengki menggerogoti hatinya hingga ia mau apa saja demi menjatuhkan Khansa.


“Di mana Khansa?” tanya Hendra dengan dingin.


Jane tidak berani melihat Hendra karena Hendra adalah pujaan hati Jane. Lagi pula Hendra adalah salah satu putra tampan dari empat keluarga terhormat di Palembang, seperti pangeran berkuda putih.


Kedua bola mata Jane mengarah pada pintu. Ia memastikan bahwa situasinya aman saat ini.


Kemudian, Jane beranjak berdiri. Ia membawa sebuah gelas berisi wine ke arah Hendra dan menawarkan padanya.


“Tuan, Anda mau minum? Aku akan menemanimu. Kenapa cari gadis sialan itu? Apa dia berulah dan membuat Tuan marah?” tanya Jane yang sedikit mabuk.


Jane sedikit sempoyongan, hingga bisa meraih lengan Hendra mencekalnya dengan kuat. “Ayo, minumlah bersamaku, Tuan. Ini akan sangat menyenangkan,” gumam Jane mendongak dan berbisik di telinga Hendra.


“Lepas! Aku hanya mau bertemu Khansa!” tegas Hendra tidak mengalihkan tatapannya dari ponsel di genggamannya.


Hendra tak mempedulikannya, aroma alkohol sangat menyengat. Jelas wanita itu sedang mabuk.


“Ruangan ini jelas ruangan yang dikirim Khansa. Apa dia berbohong?” gumamnya pada diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Khansa membawa Jihan berputar di bar itu. Bibirnya menyungging tipis tanpa ada yang melihatnya. Ekor matanya melirik perempuan yang tengah berjalan angkuh di sampingnya.


“Ini sebenarnya kita mau bicara di mana sih? Dari tadi cuma muter-muter nggak jelas!” keluh Jihan yang mulai kesal.


Khansa hanya diam saja, terus melangkah, menuntun Jihan mengitari tempat itu sembari mengira-ngira waktu yang tepat untuk kembali ke ruangan tersebut.

__ADS_1


“Eumm … Jihan, gimana kabar ibumu? Oiya, selamat ya pesta mu waktu itu ramai banget.” Khansa menyeringai padahal kalimat tersebut mengandung sindiran.


Tapi bukan Jihan namanya, kalau tidak bermuka tembok. Juga tidak akan pernah mau mengakui kesalahan dan kekalahan.


“Tentu saja, beruntung sekali ada Kak Hendra. Berkat dia acaraku semakin meriah, karena kedatangan salah satu orang terkaya di Kota ini. Dan banyak yang mengatakan iri padaku. Kamu nggak tahan ya lihat kemesraan kami. Makanya cepet-cepet pulang! Minta dianterin sama simpanan pula,” cetus Jihan yang sebenarnya iri saat melihat Khansa diperlakukan bak putri oleh manager hotel waktu itu.


Khansa menghentikan langkahnya. Mereka telah sampai di sebuah lorong yang cukup sepi, tak banyak orang lalu lalang melaluinya.


“Tidak! Kamu salah besar jika berpikiran seperti itu.” Khansa melipat kedua lengannya di dada. “Lagian kenapa aku harus iri kalau aku bisa mendapatkan yang lebih dari itu,” cetus Khansa yang sebenarnya hanya ingin menjatuhkan Jihan.


Tiba-tiba ia kembali teringat dengan Leon. Pria yang selalu ada saat dirinya berada dalam keadaan crusial.


‘Ah, tidak! Aku tidak boleh terlalu bergantung padanya. Kamu harus kuat, Sa.’ Khansa berucap dalam hati.


Tak dapat dipungkiri darahnya berdesir saat mengingat pria itu. Rasa khawatir menelusup dalam hatinya mengenai keadaan pria itu. Namun juga belum sanggup jika nanti akan bertemu kembali. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Leon terhadapnya saat pria itu kembali.


“Oiya, aku ingatkan sama kamu Jihan. Sesuatu yang kamu dapatkan dengan cara licik, akan berakhir dengan tragis. Kalian berdua sangat cocok kok. Aku malah bersyukur sampah seperti dia lepas dariku. Dan kamu bangga mempunyai sampah yang sudah kamu anggap seperti permata,” ujar Khansa dengan sarkastis.


Jihan mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Khansa memutuskan kembali ke ruangan itu. Ia yakin akan melihat streaming live yang keren setelah ini.


“Dasar jalangg!” pekik Jihan menghentakkan kedua kakinya kesal.


“Apa kamu bilang? Jalangg kok teriak ******,” decih Khansa kembali melangkah ke ruangan pesanan Jihan tadi.


Jihan menggeram marah, saat hampir menjambak rambut Khansa, pintu sudah dibuka oleh Khansa, namun gadis itu segera menyingkir memberikan jalan untuk Jihan.


Disaat yang bersamaan, Jane sedikit mabuk, meracau ke mana-mana. Jane memaksa menawari wine tersebut pada Hendra. Namun gadis itu terhuyung dan terjatuh ke dalam pelukan Hendra.


Jihan membelalakkan kedua matanya, mulutnya menganga, luapan emosi memuncak dengan segera Jihan mendekat langsung bertanya, “Jane, kamu sedang apa, hah!?” sentak Jihan berapi-api.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2