
Tembuss 😭😭😭 karena dipaksa... wkwkwkwk. Aku up di komen 470, semoga pas lolos genep 500 biar kalian gak ada utang 🤣🤣🤣
Happy readings tayang, siapin jantungnya okay 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang yang terik di perusahaan Isvara, Fauzan tengah menikmati kejayaannya lagi dalam sekejap. Tiba-tiba, “Om!” Sebuah lengan kurus dan putih melingkar di lehernya.
Fauzan terkejut, matanya yang sedari tadi fokus dengan ponselnya, kini mendongak dan membelalakkan mata. Dengan cepat pria itu berdiri sambil membuka kacamatanya. Pria itu sama sekali tidak sadar ada seseorang yang masuk ke ruangannya.
“Jane! Ngapain kamu ke sini?” tanyanya memundurkan langkah.
“Aku mau belanja, Om,” ucap Jane melangkah lalu bergelayut di lengannya.
“Bukannya kemarin sudah aku kasih sepuluh juta?” pekiknya melepaskan lilitan tangan Jane.
Gadis itu mengerutkan bibirnya. Matanya memicing tajam, “Sepuluh juta dapet apa, Om? Lagian semalam Om sudah aku kasih servis sampai puas ‘kan? Aku minta bayaran dong!” todong gadis itu merapatkan kepalanya pada Fauzan.
Fauzan pun menjadi panik. Dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya, tangannya mengulur untuk membekap mulut gadis itu. Matanya melotot tajam, “Jaga bicaramu! Ini di kantor! Aku bunuh kamu kalau ada yang mendengarnya,” ancamnya dengan nada geram.
Jane merasa sekujur tubuhnya merinding melihat wajah garang Fauzan dengan mata menyala merah. Jane mengangguk pelan, sehingga pria itu menurunkan lengannya kembali.
“Ma ... maafkan aku, Om,” ucap Jane gugup. Kakinya bergerak hendak mendekat, namun dengan cepat Fauzan menaikkan kelima jari untuk menahannya.
“Jangan mendekat! Pulanglah ke apartemen!” perintah Fauzan semakin pusing dengan tingkah Jane yang semakin berani.
Padahal selama ini, gadis itu sangat penurut. Menjadi budak nafsu Fauzan saat melampiaskan keinginannya yang membuncah. Bahkan Jane dibelikan sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Fauzan lebih sering menghabiskan waktu dengan gadis itu dibandingkan dengan Maharani. Apalagi mereka sering terlibat pertengkaran hebat ditambah skandal Maharani yang terkuak. Hal itu membuat Fauzan semakin mencari kepuasan di tempat lain. Dan itu, berhasil ia dapatkan dari Jane.
Sedangkan Jane tentu dengan senang hati akan melakukannya. Apalagi dia mendapat imbalan yang sangat tinggi. Jane bisa berfoya-foya tanpa harus mengemis belas kasih dan berada dalam bayang-bayang Jihan.
“Baiklah, aku tunggu Om di apartemen ya,” bisik Jane dengan suara sensual sembari membelai lembut pipi Fauzan.
Dengan langkah anggun, Jane keluar dari ruangan Fauzan. Pria itu mengembuskan napas berat, mengendurkan simpul dasi di lehernya. Pandangannya mengedar dengan waspada.
Jane berjalan dengan mengangkat dagunya, ia tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang terus memperhatikannya. Ini pertama kalinya gadis itu menginjakkan kaki di perusahaan milik Fauzan. Bibirnya tersenyum sinis disertai tatapan yang tajam.
"Eh itu siapa? Kok bisa masuk ke ruang presdir tanpa janji sih?" tanya salah satu resepsionis saat Jane sudah melewati loby.
"Nggak tahu juga," jawab teman satunya mengendikkan bahu.
Penampilan Jane sangat glamour. Riasan di wajahnya juga semakin cetar. Lagaknya sudah seperti nyonya di sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Emily kembali merapatkan penutup wajahnya saat mobil sudah terparkir sempurna di rumah sakit. Mereka berdua turun bersamaan dari mobil berwarna merah yang mengkilap itu.
Khansa mengulurkan tangannya yang segera diterima oleh Emily. Dua perempuan muda itu berjalan sangat anggun dan tenang dengan jemari saling bertautan, untuk saling memberi kekuatan. Senyum miring mulai tersungging di bibir mereka masing-masing di balik cadar dan masker yang dikenakan.
"Kamu udah tahu ruangannya, Sa?" tanya Emily.
"Bukan hal sulit, Yenny selalu posting apa pun yang bisa menarik rasa iba para netizen!" jawab Khansa menoleh pada Emily.
"Iihh nggak bisa dibiarin ini," elak Emily tidak terima.
Khansa menautkan kedua alisnya, "Apanya?"
"Aku nggak terima kamu yang lebih up to date!" jawab Emily cemberut.
Khansa tertawa, "Tenang aja, mahkota ratu gosip masih bertahan di kepalamu. Aku nggak berniat untuk merebutnya," celetuk Khansa membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Usai menaiki sebuah lift, langkah mereka memelan. Khansa mengisyaratkan bahwa ruangan sudah di depan mata. Saat sudah sampai, dua gadis itu berpisah.
"Okey, butuh waktu berapa nih? 10? 15 atau 20 menit?" tanya Emily.
"Emm ... sepertinya 15 menit cukup," jawab Khansa meletakkan jari telunjuknya di dagu.
Sedangkan Khansa mengembuskan napas berat sembari memegang handel pintu. Membukanya dengan perlahan lalu masuk dan kembali menutup pintu, tak lupa memutar kuncinya.
Khansa berjalan sangat pelan, matanya tak lepas dari wanita paruh baya yang terlihat semakin kurus berbaring di ranjang pasien. Kulitnya sudah terlihat pucat, mulutnya sedikit terbuka.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Maharani mengerjapkan mata. Ia mengira, Yenny yang datang. Namun saat pandangannya menangkap Khansa, matanya membelalak dengan sempurna.
"Hai Maharani!" sapa Khansa berdiri tepat di sebelah ranjang.
Manik indah Khansa bergerak menelisik pada sekujur tubuh Maharani. "Ckckckck!" decaknya menggeleng-gelengkan kepala.
"Mau ... apa kamu, hah?" ucap Maharani tersengal. Ingin sekali berteriak namun tertahan, hingga membuat sesak di dadanya.
"Mau bersiap-siap untuk layat!" celetuk Khansa melipat kedua lengannya di dada.
Tangan Maharani sudah mengepal, matanya memerah melihat ke arah pintu. Berharap bala bantuannya akan datang.
"Cari siapa? Anak-anak kesayanganmu?" Khansa mencebik. "Mereka bahkan memilih untuk shopping dari pada harus menunggui ibunya. Anak macam apa mereka. Padahal, ibunya sedang berjuang hidup dan mati. Dasar anak-anak tidak berguna!" Khansa mulai memancing emosi Maharani, ia berjalan dari ujung ke ujung ranjang lagi.
"Jaga bicaramu!" Deru napas Maharani terdengar begitu kasar, matanya melotot dan berusaha bangun namun kembali terhempas di ranjang. "Asal kau tahu, Yenny bisa membalikkan semuanya. Dia datang untuk menghancurkan kamu, Khansa. Hah! Hah! Hah!" tawanya terputus-putus berikut juga helaan napasnya yang semakin pendek-pendek.
__ADS_1
Khansa menunduk tepat di atas muka Maharani. Mata cerahnya menatap dengan begitu tajam. Siap menyobek-nyobek mangsa di depannya. "Wuuuu, takut." Khansa tertawa terbahak-bahak lalu diam seketika, wajahnya berubah dingin, "Tapi boong! Hahaha. Tenang aja Maharani, kesuksesan anak kesayanganmu itu tidak akan bertahan lama."
Tangan Khansa meraih gelas yang ada di atas nakas, mengangkatnya tinggi-tinggi, "Kamu lihat, anggap ini adalah Yenny dengan segala kesuksesannya," ucap Khansa lalu melepas gelas itu dari ketinggian.
"PYARRRRR!"
Gelas itu terjatuh ke lantai, serpihannya berhamburan di sana. Suara pecahan menggelegar dalam ruangan itu. Dada Maharani semakin berdenyut nyeri. Emosinya membuncah hingga ubun-ubun. Kepalan tangannya mengetuk-ngetuk ranjang, keinginannya sangat kuat untuk mencekik Khansa saat itu juga.
"Hancur, Maharani! Dan seperti itulah nanti Yenny. Tak berguna, hancur hingga serpihan terkecil sampai tidak bisa dipungut!" Sneakers Khansa menginjak dan memutar pecahan gelas itu hingga benar-benar menjadi serpihan.
"Brengsek!" Maharani tersengal-sengal. Matanya memejam merasakan nyeri yang teramat sangat di dadanya. "Kamu ... tidak akan bisa melakukannya. Karena ... sebentar lagi ... Yenny akan menjadi nyonya Sebastian! Dan ... kamu, tidak bisa ... melakukan apa pun!" ucapnya tersengal-sengal. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh Maharani.
Khansa tertawa dengan puas, bahkan sampai terpingkal-pingkal. "Rani ... Rani. Teruslah bermimpi sampai gila atau bahkan sampai mampus! Karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Gadis itu mendekatkan bibirnya di telinga Maharani yang menggeram marah. Kedua tangan Maharani mencengkeram seprei yang membalut kasur busa yang menopangnya. Matanya melirik tajam ke arah Khansa. Namun sama sekali tidak membuat Khansa gentar sedikit pun.
"Kau tahu tidak? Sebenarnya Yenny bisa saja menjadi nyonya Sebastian sejak dulu. Tapi kau justru menyodorkan aku untuk menggantikannya. Jadi, sebenarnya salah siapa?" ucap Khansa masih di dekat telinga Maharani.
"Kau pandai sekali membual, Khansa! Aku ... tidak akan percaya begitu saja!" elak Maharani.
Khansa kembali menegakkan tubuhnya, lalu meraih sesuatu dari dalam tasnya. Ia melebarkan sebuah akta pernikahan yang sah di mata hukum tepat di hadapan Maharani. Khansa sedikit merunduk.
"Buka matamu lebar-lebar Maharani. Di sini tertera jelas nama dan foto kami bersanding. Sah di mata hukum dan negara. Suamiku, Leon Sebastian. Konglomerat terkaya yang misterius di kota ini. Suamiku bukan pria yang sekarat dan hampir mati. Terima kasih banyak Maharani, kamu telah menikahkan aku dengan orang yang tepat. Hahaha!" papar Khansa kembali tertawa dengan puas.
Wajah Maharani mendadak pias. Sekujur tubuhnya bergetar, dadanya seperti ditindih beban yang sangat berat sampai kesulitan bernapas.
"Menyesal? Percuma. Semoga kamu tidak mati sekarang. Karena aku suka melihat kamu semakin tersiksa. Ini balasan untuk pelakor dan pembunuh ibuku!" ucap Khansa dengan kejam lalu berbalik meninggalkan Maharani yang kesakitan.
Saat membuka pintu, Khansa berpapasan dengan seseorang. Khansa menatapnya dengan tajam, tapi tidak dengan perempuan di hadapannya itu.
Bersambung~
Huwaaaaa..... terhuraa dengan syemangat kalian semuaaa.. antusiasnyaa, smp akun2 first komen selama di NT jg muncul.. gituu dong, kan akunya jg semangat 😂😂 makasih yaa 😘 Padahal rencana mau aku up besok. Tapi tembus.. hahaha. Baiklah Baiklaah..
Kita lihaatt inii sampai berapaah kepuasan Anda miskahh 😂 Kebayar kan komen banyak2...awokwokwok...
😱 : Maap, MasLe ... nunggu giliran ya... jan marah2, nanti tua sebelum waktunya... Jelek banget mukamu, Mas. Suwer deh😆😆!"
Betewe, Hadiahnya boleeh lah yaa dilempar 🤭🤭
Mas Le : Sejak kapan lu jadi matre thor?
😱 : Eh, astagfirullah. Maap Mas Le, maap, hilap 🤧 ... seiklasnya pembaca aja deh ya 😁😁
__ADS_1
Lopenya sekebon rambutan. Tapi milik tetangga, cabeku abis. awokwokwokk...