
Di tengah kebingungan yang melanda semua orang, tiba-tiba dua buah layar besar yang berada di sisi panggung, memutar sebuah video yang sama. Semua perhatian kini terpusat ke sana.
Emily dan Hansen memutar tubuhnya, menghadap layar proyeksi yang sangat besar itu. Semua kamera pun kini beralih merekam video tersebut.
Sederet foto-foto dan video kebersamaan Emily dan Khansa sejak mereka masih kecil, remaja hingga saat ini. Terdapat keterangan tanggal dan momen di setiap gambar kebersamaan mereka.
Emily terkejut, ia menutup mulutnya tak menyangka. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca. Tak berapa lama, denting musik mulai menggema. Sebuah suara yang sangat lembut dan merdu mendayu di telinga.
...Sahabat, coba kita arungi...
...Lautan luas kita seb'rangi...
...Gunung yang tinggi 'kan kita daki...
...Tak merasa letih...
...Melangkah ku ke ujung samudera...
...Kar'na tanpa kamu, aku hampa...
...Sahabatku di setiap langkah...
...Kau selalu ada...
...Kamu begitu berarti...
...Dan istimewa di hati...
...Selamanya rasa ini...
...Sahabat takkan terganti...
...Dan ingatlah hari ini...
...Sampai kita tua nanti...
...Sahabat tidak pernah pergi...
...Selamanya di dalam hati...
^^^(Sahabat Tak kan Terganti^^^
__ADS_1
^^^by Anneth dan Betrand)^^^
Sontak, semua mata kini mencari-cari sumber suara yang merasuk pendengaran mereka. Dari pintu masuk yang gelap, muncul seorang perempuan dengan gaun yang menyala-nyala. Begitu memukau, terpana dengan kehadiran wanita yang bercahaya di tengah kegelapan acara.
Khansa berjalan begitu anggun, pelan, menatap lekat sahabatnya di atas pelaminan sembari menyanyikan lagu tersebut. Namun, di tengah-tengah lagu, suara Khansa mulai bergetar. Sekuat tenaga menahan agar suaranya tetap stabil.
Akan tetapi tidak bisa. Khansa menangis, bahkan sampai sesenggukan. Mengingat bagaimana sahabatnya itu selalu menguatkannya dalam kondisi terpuruk, selalu memberikan support disaat dia minder, selalu membantunya berdiri disaat ia berkali-kali terjatuh, selalu ada disaat semua orang membuangnya, menjauhinya dan selalu menjadi tameng ketika ada yang menyakitinya.
Lagu tetap dilanjutkan oleh backing vocal. Emily segera turun dengan tergesa-gesa, gaun miliknya juga sama seperti Khansa. Berkilauan cahaya ketika gelap, karena mereka memilih konsep yang sama.
Dua perempuan itu lalu bertemu di tengah lantai dansa. Mereka saling memeluk begitu erat, begitu kuat, keduanya sama-sama menangis sesenggukan.
Bukan hanya mereka berdua, keharuan pun juga turut dirasakan semua orang yang hadir. Bahkan jutaan penonton live streaming, turut menitikkan air mata haru. Melihat kedekatan mereka sejak kecil, saling menjaga, saling melindungi dan saling menyayangi dengan tulus sampai sekarang, tanpa mengharap imbalan.
"Sasa! Aku sayang banget sama kamu!" seru Emily sesenggukan.
"Aku juga sayang banget sama kamu Emily. Semoga kita terus bahagia ya!" balas Khansa dengan suara seraknya. Emily mengangguk beberapa kali.
Sampai lagu berakhir, mereka baru melepas pelukan. Beberapa Tim WO menghampiri, membantu menyeka air mata yang membasahi wajah para pengantin itu. Untung saja, make up mereka waterproof. Sama sekali tidak terpengaruh dengan deraian air mata mereka.
Tepuk tangan bergemuruh menggema di taman luas malam itu. Lampu utama mulai menyala, mulai dari depan dan berjalan merembet hingga ke panggung pelaminan. Semua tamu undangan berdiri, memberikan standing applaus untuk dua sahabat itu.
Leon yang memberikan ultimatum secara langsung untuk memperlihatkan betapa sempurnanya istrinya itu. Wanita yang pernah dihujat, dicaci maki, dirundung, ternyata memiliki kecantikan paripurna.
Mata bulat yang jernih, hidung kecil yang sangat mancung, bibir tipis berbalut make up sempurna, meluluh lantakkan semua tamu.
Masih tercengang dan menganga kagum, kini mereka dikejutkan dengan para suami yang sedang berduet membawakan sebuah lagu populer berjudul Angel Baby.
"Em, serius mereka nyanyi?" Khansa menatap tak percaya.
Emily menggeleng, "Enggak tahu deh, Sa. Tapi kayaknya bukan lipsing juga. Tuh semua alat band dimainkan," gumam Emily yang juga menatap ke arah pria di depannya.
Entah sejak kapan Hansen turun dari panggung, mereka tidak menyadarinya. Dan kini berdampingan dengan Leon yang menggendong Cheryl di lengan kiri, sembari bernyanyi.
Teriakan demi teriakan disertai tepuk tangan menggelegar terdengar semakin meriah. Mereka histeris melihat dua manusia yang terkenal dengan dingin dan ketegasannya di hadapan publik tengah menyanyikan sebuah lagu spesial untuk istri-istrinya.
Berbeda dengan Khansa dan Emily yang justru mematung dengan dada yang berdebar tidak karuan. Ini memang hal yang pertama kali dilakukan oleh pasangan mereka. Ternyata di balik sikap tegas suaminya, ada suara emas tersembunyi.
Cheryl melingkarkan lengannya erat di leher Leon. Ia juga tersenyum lebar sedari tadi melihat kemeriahan acara tersebut. Leon dan Hansen kini melangkah semakin mengikis jarak dengan istrinya.
__ADS_1
Hansen langsung meraih tangan Emily dan menggenggamnya. Sedangkan Khansa yang menahan senyumnya, bersandar di bahu sang suami, melempar tawa pada Cheryl.
Lagi-lagi tepuk tangan memeriahkan suasana ketika lagu berakhir. Dua pasangan itu saling berpelukan erat dengan pasangan masing-masing.
"Sejak kapan kamu bisa menyanyi?" tanya Khansa dan Emily bersamaan.
Leon dan Hansen hanya mengedikkan kedua bahunya. Kemudian mereka naik ke panggung, duduk di double set singgasana. Leon juga membawa Cheryl duduk bersama mereka. Terlihat seperti anaknya sendiri. Mata bulat gadis kecil itu begitu takjub melihat semua keindahan dan kemegahan di sana.
Acara kembali dilanjutkan sesuai dengan konsep mereka. Beberapa sambutan yang sudah diwakilkan, hiburan band besar dan terkenal di tanah air, berdansa bersama, menikmati perjamuan dan diakhiri pembagian souvenir dari dua pasangan fenomenal itu.
Tetap seperti rencana, hanya saja, Leon dan Hansen menambahkan emas 24 karat masing-masing satu gram dibalut bersamaan dengan souvenir yang disiapkan Khansa dan Emily.
Tak hanya tamu undangan saja, semua kru televisi, wartawan dan Tim WO juga mendapatkannya. Bahkan masyarakat awam yang tadi berjajar menyambut di tepi jalan, diminta Khansa untuk turut masuk dan mendapat pelayanan yang sama. Untung saja, mereka memesan banyak makanan dan souvenir. Sehingga tidak kekurangan apa pun.
Sejarah di sepanjang kehidupan mereka. Pertama kalinya menghadiri acara resepsi tanpa boleh membawa apa pun, dijamu dengan banyaknya makanan mewah, dan pulang dengan berbagai souvenir mewah.
Melihat ketulusan Khansa, semakin membuat mereka terkagum-kagum dengan perempuan itu. Banyak sekali dari mereka yang menyesal karena pernah turut menjadi hatters pada masanya.
Begitupun dengan Leon Sebastian yang pernah digadang-gadang pria berpenyakitan, ternyata sehat dan memiliki ketampanan seperti seorang pangeran.
Tibalah pada sesi acara terakhir. Yaitu pelemparan buket bunga pengantin yang hanya dilakukan oleh Hansen dan Emily. Mereka sudah membelakangi audience.
Para jomblo sudah bersiap menerimanya di depan panggung. Bara hanya duduk tenang di kursinya. Simon, Jennifer dan para teman-teman Emily antusias menunggu saat menegangkan ini.
"Baik, Tuan dan Nyonya Hansen. Dalam hitungan ketiga, silakan dilempar buket bunganya ya. Audience silakan bersiap-siap! Satu! Dua! Tiga!" teriak MC.
Bunga melambung tinggi di atas kepala mereka. Emily dan Hansen segera berbalik, melihat siapa yang beruntung mendapatkannya.
"Punyaku!" teriak Jen berusaha menangkapnya. Ia sampai berjalan mundur dengan kedua tangan menjulur ke atas.
"Woy! Jen! Masih kecil. Giliran gue nih!" Simon tidak mau kalah.
Teriakan histeris dan saling berdesakan terlihat rusuh di depan panggung. Namun ternyata bunga itu melambung jauh dan jatuh tepat di tangan Bara.
"Yeyy! Dapat!" seru Jen yang menangkap bunga tersebut di tangan Bara, saking semangatnya ia sampai terjatuh. Refleks Bara menarik pinggang gadis itu hingga mendarat di pangkuannya.
Bersambung~
Gaunnya ada di IG ya @sensen_se ... kalo mau liat... nyalanya kek gimana di kegelapan. bagus banget 😭
__ADS_1
anak papa macan juga gak mau kalah dong ya 😍
btw bentar lagi tamat ya 🤗