Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 109. Ketahuan


__ADS_3

"Jangan-jangan, Khansa ada hubungan juga sama Tuan Hansen dan Simon?" ucap Jihan berpendapat.


Yenny menoleh, "Bisa jadi," balasnya mengangguk. "Ayo kita ikuti mereka," lanjut Yenny meletakkan pakaian yang sempat ia pilih tadi.


Dengan semangat, Jihan pun mengangguk dan mengikuti sang kakak. Keduanya mengendap-endap di belakang dua tuan muda itu. Sesekali pura-pura menyentuh barang yang dilaluinya.


Ternyata Hansen dan Simon pindah ke lantai 3 menuju foodcourt. Jihan dengan beberapa kantong belanja di tangannya sedikit kesulitan mengikuti. Hendak menitipkannya, tapi takut kehilangan jejak dua pria itu.


Mereka duduk di restoran Jepang yang ada di mall tersebut. Yenny dan adiknya duduk di restoran itu juga. Tak berapa lama, seorang pria tampan berpakaian non formal bergabung di meja Hansen.


"Sudah lama?" tanya Leon mendudukkan diri.


"Enggak kok, baru selesai meeting. Nggak kerja?" Hansen balik bertanya setelah melihat penampilan Leon yang hanya mengenakan kaos berwarna putih, celana jeans dan jaket kulit berwarna hitam.


Leon menggeleng, lalu menuangkan arak yang baru saja disajikan oleh pelayan. "Enggak," sahutnya singkat.


Yenny yang melihat kedatangan Leon segera berdiri, ia berjalan mendekati meja para pria itu meninggalkan adiknya yang kerepotan sendiri. Senyum ia sunggingkan di bibir merah mudanya.


"Hai, Tuan Sebastian. Kita bertemu lagi," ucapnya dengan nada manja.


Leon hanya memutar bola matanya ke atas sambil menenggak minuman di tangannya. Tanpa menjawab, ia kembali meletakkan gelas yang kosong.


"Boleh saya bergabung tuan-tuan?" tanya Yenny menawarkan diri.


"Tidak!" sahut Leon tegas.


Simon sudah mulai memasang badan untuk mengusirnya. Namun Yenny memaksa duduk di sebelah Leon, mendekatkan kepalanya di telinga Leon, "Tuan, saya masih punya satu permintaan lagi yang harus kamu penuhi kalau lupa," ujarnya dengan nada sensual.


Leon menjauhkan tubuhnya, merasa tak nyaman dengan perempuan itu. Ia hanya memicingkan mata dengan tajam sembari menahan emosi.


"Katakan lalu pergi sekarang juga!"


"Heh, kau buta ya? Kakakku terganggu dengan kehadiranmu!" sentak Simon mendelik. Leon menaikkan tangannya, mengisyaratkan agar sepupunya itu tetap duduk.


Sementara itu, netizen yang begitu gercep segera mengabadikan kebersamaan mereka dan mengupload di media sosial. Termasuk foto-foto Hansen bersama Emily tadi, yang mengundang banyak kekaguman dan mencocokkan dua pasangan itu.


"Apa permintaanmu, setelah itu jangan ganggu saya lagi," ucap Leon kembali menuangkan anggur dan meminumnya.


"Sangat mudah, aku ingin Tuan menikahiku," ucap Yenny menatap dalam pria di sebelahnya.


Leon menoleh dan menyemburkan minumannya tepat mengenai wajah Yenny. "Aaargh!" pekik wanita itu merasa jijik.


Ia segera meraih tissu dari dalam tasnya dan mengusap wajahnya perlahan. Hansen hanya menjadi pengamat antara dua orang itu sembari mengetuk-ngetukkan jari di meja secara perlahan. Simon sudah menyimpan banyak pertanyaan, namun masih bisa ia tahan karena rasa penasaran yang membumbung tinggi.


"Apa kamu bilang?" tanya Leon menatapnya tajam.

__ADS_1


"Ya, itu adalah permintaan ketiga saya, Tuan," jawab Yenny tersenyum meski dalam hati kesal karena disembur minuman beralkohol tepat di wajahnya. Masih menyisakan aroma yang menyengat. "Eeee saya harus ke toilet dulu. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan ini," sambungnya segera beranjak ke toilet untuk mencuci mukanya.


Jihan sudah asyik menikmati makanannya. Seharian berputar-putar, membuatnya kelaparan. Ia tak peduli kejadian sekitarnya.


Sorot mata Hansen dan Simon memancar dengan tatapan penuh intimidasi. Ketiga pria itu saling diam, sampai pelayan menyajikan makanan keadaan masih sama. Hening, tanpa ada yang berbicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Khansa ketus sembari mengerutkan keningnya.


"Kamu, masih sama seperti dulu. Dingin, misterius, diam-diam menghanyutkan. Btw, sudah lama ya kita tidak bertemu," ucap Jane menyunggingkan senyum.


Khansa hanya menatapnya menyelidik. Sepengetahuan Khansa, hubungannya dengan Jihan tidak baik semenjak tragedi di bar dulu. Dalam hatinya bertanya-tanya. "Saya tidak ada waktu untuk berdebat denganmu!" ucapnya lalu melenggang pergi.


Jane meraih tangan Khansa hingga tubuh Khansa berbalik dan menatap ke arah tangannya, "Ke depannya kita akan menjadi keluarga," gumam Jane tersenyum.


"Cih, nggak sudi!" Khansa menghempaskan tangannya dengan kasar lalu melenggang pergi.


Buru-buru ia melangkah ke parkiran. Karena Emily sudah menunggunya di sana. Benar saja, Emily mengetuk-ngetuk jemarinya pada setir mobil. Khansa segera duduk di kursi penumpang dengan wajah kesal.


"Kusut amat tu muka," cetus Emily memperhatikan Khansa.


"Eh, gimana? Sudah beres?" Khansa mengalihkan pembicaraan.


"Beres dong!" jawab Emily mengangkat kelima jarinya. Khansa menyambutnya, menepuk telapak tangan Emily dengan keras.


Petugas itu percaya begitu saja. Karena ucapan Emily yang begitu lembut dan sangat meyakinkan. Kecantikannya pun membius para kaum adam hingga lupa akan prosedur SOP di rumah sakit tersebut.


"Makasih ya, Emily!" ucap Khansa lalu memeluk sahabatnya itu.


"Sama-sama, Bebskii. Maharani gimana?" tanya Emily penasaran.


"Udah sekarat," ujar Khansa menutup mulutnya lalu keduanya tertawa bersama.


Emily teringat sesuatu, segera melepas pelukannya, menyalakan mobil dan mengenakan seatbelt.


"Tapi kita harus kembali ke mall tadi!" ucap Emily serius memundurkan mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Khansa tersentak, segera mengenakan seatbelt dengan wajah penuh tanya. "Ada apa?"


"Buka instagram," jawab Emily singkat, fokus ke jalan raya.


Mobil merah itu melaju begitu cepat. Tanpa bertanya lagi, Khansa mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sosial media itu dan melihat topik hangat yang sedang naik daun dengan caption dua couple goals.


Jujur saja, Khansa sedikit nyeri melihat foto Yenny yang begitu dekat dengan Leon. Tapi saat melihat ekspresi Leon dan juga kedua saudaranya, Khansa merasa sedikit tenang. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah kembali menginjakkan kaki di lantai mall tersebut.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Emily saat menaiki lift ke lantai foodcourt tersebut.


"Tentu saja," balas Khansa tersenyum. Ia selalu bersikap tenang dalam menghadapi musuh-musuhnya.


Emily menarik lengan Khansa dan duduk di kursi tepat di belakang Leon. Ketiga pria itu saling diam, Simon dan Hansen masih fokus menatap Leon. Sedangkan yang diperhatikan makan dengan lahapnya.


Tak berapa lama, Yenny sudah kembali dari toilet. Ia kembali duduk di sebelah Leon, bahkan mendekatkan kursinya. Emily yang melihatnya sudah mengepalkan tangan. Mata Khansa tak sedikit pun lepas dari mereka.


"Bagaimana Tuan Sebastian? Kamu bersedia 'kan memenuhi permintaan terakhir, yaitu menikahiku. Kamu sudah berjanji akan memenuhi semuanya," ucap Yenny membuat Leon tersedak.


Buru-buru Yenny menepuk punggung Leon namun segera mengelaknya. Simon menyodorkan air putih, menatap tajam kakaknya dengan napas memburu.


"Tidak bisa!" jawab Leon dengan tegas.


"Loh, kenapa? Kamu berhutang nyawa loh sama saya!" sanggah Yenny mengerutkan keningnya.


"Kalau kau mau, ambil saja nyawa saya sebagai gantinya. Karena saya sudah mempunyai nyonya Sebastian!" jawab Leon dengan tegas.


"Apa? Kamu mencoba membohongi saya?" Yenny terkekeh.


"BRAAAKK!!!"


Sebuah kursi ditendang oleh Emily hingga membentur kursi yang diduduki Leon. Mereka semua terkejut, menoleh ke belakang. Leon menangkap sorot mata tajam dari manik indah Khansa. Dadanya berdegub kencang, bola matanya sedikit melebar.


"Ayo Emily," ajak Khansa beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.


"Sasa!" teriak Leon berusaha mengejar dua gadis itu.


Bersambung~


😆: Nah lo.... nah lo... kapokmu kapan mas😌?



😭: Jangan entar kamu diserang readers ga bisa lanjut 😋


Mas Le: Seneng banget lu bnyak yang bela!


😌: Iya laah, Mas. Kaget banget bangun tidur liat komen, gift, vote juga. Masya Allah sekali.. Makasih ya ukhty, akhy... aku padamu 😘


Mas Le: Buruan beresin! Gw gak mau ya jadi duda gembel.


😂😂😂😂😂😂😂😂 mampoeess!


Kalau ada yang nanya target komen berapa thor? jawabannya UNLIMITED ya cintaa.. sebanyak-banyaknyaa... abis ini aku mau rekaman dulu karena udah berhari2 libur. tapi kalau ujan deres pake petir gak bisa sih. nanti lanjut deh.

__ADS_1


Mas Le: Gaya lu thor!


😌: Tenang mas, kita beda jalur. Rekamanku sebatas bacain novel kok. dengerin deh. Nahkan promo lagi 🤣🤣


__ADS_2