
Emily tersentak saat ia tersadar berada di pelukan seorang pria. Ia menjauhkan tubuhnya dan menatap Hansen. Keduanya terdiam, menyelami keindahan iris hitam masing-masing. Buru-buru Emily melepas genggaman tangannya dari kemeja Hansen.
"Ah, maaf," ucap Emily yang wajahnya memanas dan salah tingkah.
Gadis itu menyeka air matanya, membalikkan tubuh, matanya mengeliling mencari keberadaan Khansa. Ia segera menghampiri Khansa.
"Sa?" panggil Emily menyentuh lengan Khansa.
Senyum lebar tersungging di wajahnya. "I'm Ok, Bestie," balasnya menyambut tangan Emily.
"Aku nggak nyangka ternyata pria itu adalah Leon," seru Emily memeluk Khansa. "Kalau bukan negara hukum sudah kubunuh saat ini juga. Dasar penipu kelas kakap!" gumam Emily dengan nada geram.
Khansa masih berusaha menetralkan hatinya. Ia bingung bagaimana bisa kalung itu berada di tangan Yenny dan mengaku sebagai penyelamat Leon. Sekarang dia mengerti maksud ucapan Leon tempo hari.
"Ternyata ini yang dia bilang berhutang nyawa, cih. Hutang nyawa apanya? Pantesan waktu kamu cerita tuh aku kayak nggak percaya. Emang bisa sebaik itu? Si muka dua sampai-sampai mau nolongin orang. Yang ada memeras dan menipu orang! Emak sama anak sama-sama busuk!" gerutu Emily melipat kedua lengannya menyaksikan kemarahan Leon.
Tak berapa lama Khansa menerima sebuah telepon. Ternyata dari rumah sakit yang mengabarkan mengenai kondisi Bibi Fida. Buru-buru Khansa meninggalkan tempat itu, Emily pun turut berlari di belakangnya.
"Sa, mau kemana?" tanya Emily menyentuh tangan Khansa.
"Rumah sakit, ada kabar dari Bibi Fida," ucap Khansa sedikit bergetar.
"Tunggu! Aku pamitan dan ambil tas dulu!" sergah Emily kembali masuk.
"Tapi ...." Khansa ingin mencegahnya, namun Emily keburu pergi. Padahal ia harus mengisi acara yang akan segera dimulai pagi itu.
Khansa berpapasan dengan Gerry yang berlari masuk ke dalam gedung. Gerry berhenti sejenak membungkukkan separuh tubuhnya. "Nyonya," sapanya.
"Iya, Asisten Gerry," balas Khansa dengan suara lembutnya.
Dengan langkah tergesa, Emily menghampiri Khansa lagi lalu menarik lengan Khansa. Jarak tempat parkir dengan gedung cukup jauh. Khansa hanya mengangguk pada Gerry untuk berpamitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Leon mengedarkan pandangannya, tak menemukan Khansa di mana pun. Emily pun tak terlihat. Ia segera bertanya pada sang asisten yang berdiri di sampingnya.
"Sasa mana, Ger?" tanya Leon panik saat tak menemukan istrinya.
"Barusan keluar, Tuan," sahut Gerry mengulurkan tangannya menunjuk pintu keluar.
Leon membelalak, "Apa? Kamu urus yang di sini. Pastikan tidak ada media mana pun yang mengeskpose muka saya. Kalau sampai ada yang kecolongan, tuntut dengan denda dan sanksi yang berat! Kalau perlu ancam izin publisnya dan pidanakan. Lalu, bersihkan nama Sasa. Pastikan wanita itu ...." Ucapannya terjeda, menunjuk Yenny yang meringkuk kesakitan di lantai. "Hancur tak bersisa!" tegasnya penuh penekanan.
Leon berlari keluar, namun tiba-tiba berhenti dan kembali lagi. Ia menepuk bahu Gerry yang hampir mengumpulkan para awak media. "Satu lagi, netizen yang sedari tadi mencibir dan menghina Sasa jangan sampai ada yang lepas satu pun!" ucap Leon mengedarkan tatapan elangnya dengan napas memburu.
"Baik, Tuan," jawab Gerry membungkuk. 'Mana dulu nih yang harus dikerjakan?' gumamnya menggaruk kepala.
Setelah mengatakannya, Leon kembali berlari mengejar Khansa. Ia khawatir, ada yang akan mengincarnya saat ini. Hansen menepuk bahu Leon, "Jangan panik! Tenang aja, di sini biar kami yang urus," ucap Hansen yang diangguki oleh Simon.
"Terima kasih!" ucap Leon melanjutkan langkahnya.
Kepergian Leon, membuat para tamu segera menyerang Yenny. Mereka melempari wanita itu dengan jeruk, kue, mengguyurnya dengan air mineral, bahkan ada yang sampai meludahinya.
"Mengecewakan! Ternyata kamu sebusuk itu!" pekik seorang netizen membentaknya.
"Iya! Udah maling malah teriak maling! Mampus aja sana di penjara!"
"Kesalahan terbesarku adalah pernah mengagumimu! Menjijikkan sekali!"
Dunianya seketika menggelap. Semuanya hancur tak bersisa. Yenny hanya bisa menangisi nasib tragis yang dialaminya. Menutup wajah dengan lengannya, sampai polisi datang menghalanginya. Membangunkan perempuan itu dan menggiringnya ke kantor polisi.
Sesuai perintah, Gerry segera menyelesaikan tugasnya. Pagi itu menjadi hari yang paling sibuk baginya. Dia juga harus bekerja dengan kilat. Menelepon pengacara untuk mendampinginya, juga membuat surat pernyataan pada semua awak media agar tidak ada mempublish tentang Leon Sebastian sama sekali. Jika terbukti ada yang melanggar, akan menanggung konsekuensinya.
Tentu saja berlaku juga untuk mereka yang mengabadikan melalui ponselnya. Gerry meminta semua orang yang hadir menandatangani surat pernyataan tersebut. Hansen dan Simon pun ikut turun tangan membantu asisten Leon itu.
"Benar-benar menguras tenaga!" gumamnya pelan sedikit bisa bernapas lega. "Ya Tuhan! Gimana caranya mencari mereka yang menghina Nyonya?" Gerry menepuk keningnya.
Setelah beberapa lama, Gerry meminta memutar salah satu video dari kameramen stasiun televisi. Ia lalu menunjuk satu per satu orang yang jelas terlihat mencibir Khansa. Mengumpulkannya untuk mendapat identitas mereka satu per satu. Hukuman, akan diserahkan pada yang paling berkuasa. Siapa lagi kalau bukan Leon Sebastian.
__ADS_1
Acara pagi itu pun sedikit kacau. Waktu yang ngaret berjam jam. Ditambah beberapa pengisi acaranya pun meninggalkan lokasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leon berlari keluar, pandangannya mengeliling pada area yang begitu luas. Hingga akhirnya ia bisa menemukan perempuan yang ia cari-cari sedari tadi, bibirnya tersungging senyum yang cukup lebar.
"Sasa!" teriak Leon melangkah cepat masih bertahan dengan senyumannya.
Khansa yang hendak mencapai mobil menghentikan langkahnya. Sedangkan Emily sudah duduk di kursi kemudi mobilnya. Lebih tepatnya mobil milik Leon.
Kening Khansa mengerut dalam saat manik matanya melihat Leon dari kejauhan. Tak hanya itu, ia juga menangkap seorang pria dari arah samping, seorang pria yang memakai hoodie berwarna hitam tampak mencurigakan. Kepalanya tertutup, juga mengenakan masker dan kacamata hitam. Khansa menatapnya dua pria itu bergantian.
"Sa, tunggu!" seru Leon lagi mempercepat langkahnya.
Pria berhoodie itu pun juga mempercepat langkahnya. Kedua tangannya bersembunyi di dalam saku. Khansa membelalakkan mata ketika salah satu tangan pria itu mengeluarkan pisau lipat. Jelas sekali ia menargetkan Leon. Karena pandangannya terus mengarah pada pria tampan itu.
"Leon," gumam Khansa menaikkan sedikit gaun panjangnya. Ia sedikit kesulitan melangkah. Khansa juga melepaskan heels yang melekat di kakinya agar mempermudah larinya.
Leon mendesah lega, karena Khansa juga berjalan cepat ke arahnya. Ia pikir, Khansa juga tidak sabar ingin menemuinya. Senyumnya semakin lebar. Fokusnya hanya tersita pada Khansa seorang, mengabaikan sekitarnya. Jarak mereka semakin dekat, namun lebih dekat pria berhoodie itu.
Jantung Khansa berpacu kuat seperti berlarian di dalam dada, ia semakin mempercepat langkah bahkan hampir berlari. Gaun yang panjang membuat gerakannya terbatas. Ingin menendang pria itu tapi tidak bisa. Mata Khansa berkaca-kaca, "Leon!" teriak Khansa melompat mengambur ke pelukan Leon, tepat saat pria misterius itu menghunuskan pisau pada Leon.
Bersambung~
Eh eh eeeh.... Udahan dulu ya Cintaa 😘😘
🙃: Weehh jangan dong Mas Le.. 🥺
Mas Le: Up lagi woy!
🙃: Maap insyaAllah enggak. Mau ngamen, Mas 😌
__ADS_1
Hadiah sama votenyaa... makasih banyak yaaa 😍😍 syemangat komennya juga makasihh..yuhuuu... lope deeh sekebon cabe merah yang gak pedes 😄