Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 29 : Kejutan


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, masih tidak ada jawaban dari dalam kamar nenek. Khansa saling pandang dengan Leon, sepersekian detik keduanya menjadi panik dan menerobos masuk ke dalam kamar.


"Nenek!" seru Khansa dengan dada berdegub kuat.


Leon berlari hingga hingga mencapai tepi ranjang nenek. Wanita tua itu tampak terbaring lemah di atas ranjang. "Nek! Nenek!" panggil Leon berlutut meletakkan telapak tangannya pada dahi sang nenek.


"Nenek demam, Sa!" ujar Leon menoleh pada sang istri.


Tanpa berucap apa pun, Khansa segera berbalik menuju kamarnya. Ia mengambil peralatan untuk memeriksa keadaan nenek. Selain itu, dia juga meminta pelayan menyiapkan air hangat untuk mengompresnya.


"Leon, nenek tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja," lirih nenek dengan mata yang masih tertutup rapat.


Leon meraih jemari nenek dan mencium punggung tangannya. "Iya, Leon tahu. Nenek pasti baik-baik saja," sahut pria itu.


Sesampainya kembali di kamar, Khansa segera naik ke ranjang. Memeriksa detak jantung, pupil mata dan juga denyut nadi sang nenek. Ia tampak menghela napas lega, lalu menusukkan sebuah jarum perak pada pergelangan tangannya untuk melancarkan peredaran darah.


"Gimana, Sayang?" tanya Leon beralih duduk di tepi ranjang.


"Nenek hanya butuh lebih banyak istirahat saja. Daya tahan tubuhnya menurun," ujarnya merapikan kembali alat-alatnya.


"Sudah nenek bilang, nenek tidak apa-apa. Kalian saja yang terlalu panik," gumamnya lemah berusaha tersenyum dan membuka kedua matanya.


Tak berapa lama, ada pelayan masuk membawakan pesanan Khansa. Segera, Khansa meminta untuk meletakkannya di atas nakas. Khansa dengan cekatan meremas washlap dalam air hangat lalu menempelkannya pada kening nenek.

__ADS_1


"Bi, tolong buatin sup ya. Nanti langsung bawa ke sini kalau udah siap," ucapnya pada pelayan tersebut.


"Baik, Nyonya," sahut sang pelayan membungkuk lalu pamit undur diri.


Khansa turut merebahkan tubuhnya di sebelah nenek. Memeluk wanita tua itu, melingkarkan lengannya di perut sang nenek. "Nenek, Sasa punya kejutan untuk nenek," gumamnya pelan di telinga sang nenek.


"Apa itu, Sa?" tanya nenek mengangkat satu lengannya dan membelai pipi Khansa.


"Mmm ... janji ya nenek jangan nangis," ucap wanita itu.


"Haduh, jangan bikin nenek penasaran dong, Sa," tambah nenek mengerutkan keningnya.


Khansa menyentuh lengan nenek, menciumnya sejenak lalu meletakkannya pada perutnya yang masih rata. "Di sini, mulai tumbuh calon cicit nenek," terang Khansa menatap haru Nenek Sebastian.


"Oh, Ya Tuhan! Akhirnya ...." Nenek tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Karena tangisnya sudah tak bisa terbendung. Kedua wanita itu saling berpelukan erat. Khansa yang tadinya tidak menangis pun kini ikut mengeluarkan air mata.


"Bukankah nenek sudah berjanji untuk tidak menangis?" ucap Khansa dengan suara seraknya, mengusap punggung rapuh nenek. Bahkan sampai tak peduli kain washlap di keningnya terjatuh.


Leon turut memeluk nenek dari belakang. "Maaf ya, Nek. Kami baru bisa memenuhi keinginan nenek. Doakan Sasa dan kedua cicit nenek sehat sampai lahir nanti," ucapnya meremas lengan nenek.


Nenek melonggarkan pelukannya. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan menatap Leon. "Dua, Leon?" tanya nenek.


"Iya, Nek. Nenek akan mendapat cicit kembar!" jawab Leon semakin membuat nenek terisak.

__ADS_1


Khansa dan Leon sama-sama merebahkan kepala di bahu nenek. Dengan gemetar kedua tangan nenek menepuk pipi kedua cucunya itu. Rasa sakit pun mulai memudar, terganti dengan kemelut kebahagiaan yang menguar di kamar tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eee ... saya, anu, belum, Om. Belum pengen nikah. Hehe," jawab Bara terbata-bata mendapat pertanyaan tiba-tiba itu.


"Kalau sudah nemu yang cocok, jangan kelamaan! Atau mau barengan sekalian sama Emily?"


"Eh! Enggak, Om. Enggak! Biar Emily dulu aja deh. Hansen sepertinya udah kebelet," celetuk Bara melirik calon adik iparnya itu.


Seketika Hansen melebarkan kedua matanya. Ia hendak menyerang Bara namun segera ditahan Emily yang menertawakannya. "Udah, udah. Emang bener kok!" Emily menambahkan sambil tertawa.


"Baiklah, kalau begitu kalian segera siapkan segala sesuatunya. Kalau butuh bantuan Ayah katakan saja!" ucap Tuan Mahendra.


"Terima kasih banyak, Ayah," ucap Emily tersenyum lembut.


Pria itu mengangguk sembari mengusap puncak kepala Emily. Ia tidak mengira akan dipertemukan dengan anak yang dicari-cari sejak lama. Identitas yang disembunyikan orang tua angkatnya membuat Tuan Mahendra kesulitan menemukan Emily.


"Hansen antar Emily pulang, Yah. Dia masih recovery. Jadi harus banyak istirahat," ucap pria itu menautkan jemarinya dengan tangan Emily.


"Iya! Hati-hati," balas sang ayah.


Mereka pun keluar kamar serentak. Dan tepat di depan pintu, semuanya fokus dengan Alexa yang kini berdiri di sana. Masih tergambar jelas raut kesedihan yang menguar dari wajah pucatnya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2