Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 85. Bukan Papa Angkat Biasa


__ADS_3

“Ah, tenang saja aku pasti datang, kirimkan saja nomor kamarnya,” sahut Maharani dengan senyum manisnya.


Maharani juga punya niat yang sama, Arief Wandana tidak bodoh dan tidak akan investasi pada Fauzan dengan cuma-cuma. Tentu saja ia akan meminta imbalan.


Mereka berdua tidak sadar, bahwa saat ini tengah menjadi sorotan banyak orang. Sikap mereka tidak mencerminkan seorang ayah angkat dengan putrinya.


Sebaliknya, Jihan justru sangat senang sedari tadi melihat seorang Arief Wandana memperlakukan ibunya begitu. Ia merasa bangga karena sang ibu mendapat perlakuan spesial dari orang besar seperti Arief.


Khansa juga senyum-senyum sendiri dari tadi sambil mengamati layar ponselnya. Tidak ada yang tahu senyuman di balik cadar dan juga apa yang dia lakukan.


“Woy!”


Tiba-tiba Jihan datang menghampiri dan menggebrak meja di depan Khansa, membuatnya terlonjak kaget. Meski begitu, Khansa tetap berusaha tenang. Kedua iris hitam Khansa menatap Jihan, tangannya dengan santai meraih ponsel dan memasukkannya ke dalam hand bag miliknya.


“Apa?” tanya Khansa memutar bola matanya.


“Ngapain lo mantengin nyokap gue ampe segitunya? Aah, pasti iri ‘kan? Hahaha! Lihat deh, ibu aja diperlakukan spesial oleh seorang Arief Wandana. Kamu tahu, banyak orang-orang memujanya. Apalagi para pebisnis di kota ini, karena kontribusinya yang sangat besar. Kamu? Punya nggak orang besar, orang kaya yang memperlakukan kamu dengan spesial kayak gitu?” pamer Jihan mendekatkan kepalanya pada Khansa.


Seketika Khansa memundurkan tubuhnya. Tidak ada minat sedikit pun menanggapi ocehan perempuan itu. Khansa meraih satu gelas minuman dan menyesapnya perlahan.


“Oh aku lupa. Mana ada sih yang mau deket sama pembawa sial! Lagian para simpananmu itu paling cuma bentar doang terus udah bosen di tendang deh. Hahaha! Kasian deh lo!” ejek Jihan tertawa sembari menutup mulutnya. Ia kembali menegakkan tubuh. Melihat Khansa yang diam saja, Jihan semakin gencar.


“Nggak bisa jawab? Berarti semua bener ya, duh tragis banget sih nasib lo,” imbuh Jihan mencoba memanasi.


Khansa masih mengabaikan Jihan. Ia menganggap seolah tidak ada orang di sekitarnya. Khansa beranjak berdiri dan menghampiri Fauzan yang sedang berbincang dengan para rekan bisnisnya.


“Ayah, kok ibu bisa semesra itu sih sama orang asing. Padahal sama ayah yang suaminya aja enggak kayak gitu. Terus kata Jihan, ibu dapat perlakuan spesial loh, Yah dari Arief Wandana,” adu Khansa dengan polosnya.


Fauzan menoleh pada Khansa, ia sama sekali tidak merasa bersalah pada gadis itu. Saat ini fokusnya pada Arief Wandana.

__ADS_1


“Heh, Khansa! Dia itu papa angkatnya ibu. Jelas lah ibu diperlakukan spesial seperti itu. Nggak usah nyebar hoaks deh!” sembur Jihan tidak terima.


Khansa masih berpura-pura polos. Ia mengangguk-anggukkan kepala, “Oh, papa angkat. Tapi kok nggak risih ya seintim itu. Aku sama ayah aja nggak pernah sedekat itu. Kamu? Kamu juga nggak pernah ‘kan sedekat itu sama ayah? Atau jangan-jangan ….”


Khansa sengaja menggantungkan ucapannya sembari menatap ke depan. Di mana Maharani dan Arief semakin bergerak dengan mesra. Bahkan dari tatapan keduanya terlihat berbeda. Bukan tatapan seorang ayah pada putrinya.


Fauzan dan orang-orang pun mengalihkan pandangannya ke depan. Benar saja, saat ini musik semakin slow. Gerakannya semakin lambat. Bahkan posisinya semakin intim saja.


Kedua tangan Maharani melingkar di leher Arief, sedangkan tangan Arief merengkuh pinggang wanita itu dengan posesif. Mereka terus bergerak perlahan, tanpa jarak di antara tubuh mereka. Sesekali berbincang dan tertawa bersama.


Melihat itu, orang-orang mulai meragukan hubungan ayah angkat dan putri antara Arief Wandana dan Maharani. Fauzan pun merasakan hal yang sama.


“Aku bicara apa adanya kok. Sesuai yang aku lihat. Aku sama sekali nggak ada niat nyebarin hoaks. Semua orang juga bisa melihatnya,” imbuh Khansa mengedarkan pandangannya.


Tampak, orang-orang mulai termakan ucapannya. Mereka mulai membincangkan hubungan Maharani dengan pria itu.


“Kalau dipikir-pikir bener juga ya? Masa ada papa angkat yang seperti itu. Apalagi anaknya ‘kan sudah berkeluarga,” seru seorang wanita menanggapi.


Kondisi di aula itu semakin riuh karena mereka saling mengutarakan pendapat mereka masing-masing.


“Eh bener ‘kan, Bu? Saya aja nggak pernah loh sampai sedekat itu dengan ayah saya. Bagaimana mungkin yang hanya ayah angkat bisa sampai seperti itu coba?” Khansa semakin memperkeruh keadaan.


“Heh, Khansa! Lo kalau nggak tau apa-apa nggak usah ngebacot deh!” seru Jihan tidak terima.


“Loh, aku cuma mengucapkan apa yang aku lihat aja kok. Tuh, ibu-ibu aja setuju kok. Satu server sama pemikiranku. Mungkin kamunya aja yang lemot, Ji,” balas Khansa terkekeh.


Tidak ada yang tahu bahwa Fauzan saat ini menggeram marah. Matanya menatap nyalang ke arah Maharani dan Arief yang masih berdansa penuh kehangatan. Kedua tangannya terkepal dengan napas yang menderu.


“Iya, aku setuju sama pendapat Khansa. Emang nggak terlihat seperti papa angkat dan anak kok. Malah justru seperti ….” Salah satu ibu-ibu yang masih muda menggantungkan ucapannya. Ia melirik ke arah Fauzan yang mukanya sedang tidak bersahabat.

__ADS_1


“Aku pun lihatnya begitu. Sedari tadi sebelum dansa malah. Berlebihan aja kalau papa angkat kok sampai gelayutan manja seperti itu. Padahal udah dewasa. Iiihh aku aja risih lihatnya,” cibir ibu lainnya.


“Padahal sama suaminya enggak ya.”


Khansa mengulum bibirnya kuat-kuat. Berharap ia masih bisa menahan tawanya sampai puncaknya nanti. Semua orang terus membincangkan hal itu.


Emosi Fauzan memuncak sambil memandangi Arief Wandana. Sedangkan yang ditatap masih tidak sadar. Dua sejoli itu bagai pasangan remaja yang tengah dimabuk asmara.


Di tengah gemuruh dada Fauzan yang bergejolak, tiba-tiba ada seorang wanita baru masuk ke aula. Wajahnya sangat cantik dengan tubuh sexy dan sangat modis. Maharani tidak ada apa-apanya, hanya seujung kukunya saja.


Pandangan wanita itu mengeliling, sampai akhirnya tepat mengarah pada suaminya yang sedang berdansa mesra dengan wanita lain. Kedua matanya menatap nyalang, napasnya menderu dengan kasar, detak jantungnya kian bertambah berkali lipat karena emosi.


Ya, dia adalah Nyonya Wardana, istri dari Arief Wardana. Ia melangkah dengan tegas semakin mendekati area dansa, kedua tangannya berkacak pinggang, ditambah ia melihat tangan Maharani meraba-raba rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Wanita itu semakin tidak bisa menahan amarahnya lagi. “Heh! Wanita ******!” teriaknya menggelegar hingga menyita perhatian seluruh tamu undangan.


“Pertunjukan, dimulai,” gumam Khansa dalam hati mendudukkan diri di kursi, menghadap ke depan.


Rupanya Khansa diam-diam mengirim video dan foto pada nyonya Wandana. Berkat Emily, bukan hal yang sulit untuk bisa menghubungi wanita itu.


Mendengar teriakan yang tidak asing di telinganya, Arief Wandana menoleh. Matanya membelalak saat melihat istrinya berdiri dengan dipenuhi emosi.


Arief segera melepaskan rengkuhannya, mendorong Maharani agar menjauh darinya. Lalu meninggalkan Maharani dan berlari ke arah istrinya sendiri dengan ketakutan.


Bersambung~


Heh abis... Mas Le mana 😭😭😭


Rinduu yaa?? ... iya sama aku juga rindu ama manisnya Sa_Le 😭😭


Semoga jumat turun outline lagi deh. biar sabtu bisa up. Dan semoga aku masih waras biar bisa lanjut. wkwkwk ... mon maaf jika ada kesalahan dan kekhilafan yaa~

__ADS_1


💞💞🌶🌶


 


__ADS_2