Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 211. Big Surprise


__ADS_3

Sebuah banner berukuran besar kini berkibar tepat di bawah helikopter tersebut. Dan yang membuat Khansa tercengang adalah deretan huruf yang tercetak pada kain yang melambai di udara.


Rangkaian huruf itu membentuk sebuah kalimat yang seketika membuat sudut mata Khansa kembali berair. "Happy Graduation My Sasa!"


Tak lama berselang, ribuan kelopak mawar berhamburan dari helikopter tersebut, menghujani bumi. Khansa berlari tepat di bawah heli tersebut, kendaraan udara itu sedikit bergerak naik agar tidak terlalu dekat dengan Khansa. Ia tahu pasti siapa pelakunya.


Perempuan itu mendongak dengan mata terpejam. Kedua tangannya direntangkan, menikmati hujaman kelopak mawar yang begitu harum memasuki indera penciumannya.


"Sasa!" Suara yang sangat familiar terdengar di telinga wanita itu.


Seketika kedua matanya terbuka. Ia melihat ada beberapa anggota keluarganya yang sedang mencengkeram balon celebration yang siap diterbangkan. Mereka semua mengenakan dress code berwarna putih sesuai dengan warna favorit Khansa.


"Nenek!" teriaknya kemudian sedikit menyingsing baju toganya dan berlari menghampiri wanita tua itu.


Sepasang sneakers putih yang membungkus kakinya tidak menyulitkan Khansa untuk berlari. Ia tidak menggunakan high heels karena tidak mau kesulitan berjalan.


Khansa menghambur ke pelukan nenek dengan sangat erat. "Nenek! Sasa kangen!" pekiknya dengan air mata yang mengalir deras. Kerinduan yang membuncah selama bertahun-tahun kini terobati. Biasanya hanya jumpa virtual, kini bisa bertemu secara langsung.


"Selamat atas kelulusanmu, Sayang!" ucap nenek menepuk punggung Khansa. Khansa hanya mengangguk karena menangis.


"Aunty mama!" Di tengah keharuan dua wanita beda usia itu, terdengar suara imut nan menggemaskan di telinga mereka.


Khansa melepas pelukan sang nenek, pandangannya menunduk. Ia menemukan gadis kecil yang cantik dan gembul. Anak yang tidak pernah absen menghubunginya setiap hari melalui ponsel ibunya.


"Sayang!" Khansa melebarkan mata sembari menutup mulutnya, tidak menyangka akan bertemu dengan gadis cilik itu untuk pertama kalinya. Ia sempat kehilangan jejak saat kelahirannya. Dan satu tahun kemudian, baru ditemukan setelah Jihan muncul dengan aura yang berbeda.


Benar kata Leon, Jihan bahkan bersembunyi demi melindungi anaknya. Salah satunya takut diambil Khansa dan Leon. Meski ada alasan lain yang lebih mendominasi. Anak itu menjadi sumber kekuatan Jihan, dia akan melakukan apapun demi putri kesayangannya.


"Aunty mama, mau peluk juga!" celoteh gadis berusia 4 tahun itu merentangkan kedua tangan mungilnya.


Kasih sayang Khansa tidak berubah bahkan sejak gadis cantik itu masih berupa gumpalan darah. Ia sampai meminta agar dipanggil aunty mama, saking sayangnya Khansa dengan anak itu. Setiap hari Khansa sangat antusias mengobrol dengan Cheryl sebelum beraktivitas.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Sini!" ucap Khansa menjatuhkan tubuhnya, melambaikan tangan membuat Cheryl berlari menghambur ke pelukan Khansa. "Emmm ... kesayangan aunty!" ucapnya lalu menciumi kedua pipi gembul anak itu dengan gemas.


"Mama nggak ikut, Sayang?" tanya Khansa mencari keberadaan Jihan.


Gadis itu menggeleng. "Mama sibuk!" gumamnya mengerucutkan bibir.


"Ah yasudah, kalau gitu kita juga bakal sibuk sekarang! Main sepuasnya di sini sama aunty!" seru Khansa mengalihkan kesedihan Cheryl.


"Yeeeeyyy!" serunya bertepuk tangan dengan ceria.


Semua turut tersenyum melihat kebahagiaan dari dua perempuan beda generasi itu. Fauzan mendekat, membuat Khansa kembali berdiri. "Ayah," gumamnya pelan.


Fauzan menjulurkan tangannya. Khansa terdiam, melirik tangan dan wajah ayahnya bergantian. Fauzan mengernyit melihat ekspresi putrinya itu.


Bukan menyambut tangan sang ayah, Khansa justru memeluk erat pria paruh baya itu. Meski tidak terlalu dekat, ia masih ada setitik rindu untuk sang ayah.


"Selamat ya, Nak," ucap Fauzan dengan suara bergetar membalas semakin erat. Bangga sekaligus malu bercampur menjadi satu.


"Selamat kakak ipar! Hansen sedang ada kunjungan ke Bali. Biasalah," ucap Simon menyerahkan buket uang seratus ribuan yang entah ada berapa lembar di dalamnya.


Bisingnya deru mesin dan baling-baling, menyita perhatian banyaknya mahasiswa lain. Mereka berhamburan keluar ruangan menyaksikan kejutan besar untuk perempuan yang pernah mereka anggap aneh dan sok misterius. Mereka ternganga melihatnya, sampai terbesit rasa iri di benaknya.


Sesi foto-foto pun dimulai. Keluarga besarnya sudah membawa fotrografer terkenal untuk mengabadikan momen istimewa Khansa. Setelah beberapa gaya, Khansa menoleh ke sama kemari mencari keberadaan suaminya. Raut wajahnya kembali kecewa ketika tak menemukan pria itu.


"Kamu cari Leon ya?" tebak nenek yang langsung membuat Khansa meringis. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


Nenek membalikkan tubuh Khansa diikuti semua anggota keluarga. Mereka bisa menyaksikan langsung helikopter yang tengah mendarat di pelataran yang sangat luas itu.


Pintu heli terbuka, sebuah karpet merah terbuka gulungannya hingga terbentang dan berhenti tepat di hadapan Khansa. Wanita itu tercengang, apalagi saat sesosok pria tampan yang ia cari sedari tadi kini keluar dengan stelan jas berwarna putih membawa buket mawar merah yang cukup besar di tangannya.


"Leon? Ini beneran Leon?" tanya Khansa tidak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja! Memangnya ada yang ketampanannya menandingi cucu nenek satu itu?" seloroh nenek dengan bangga.


Khansa tak bisa menahan bibirnya lagi untuk menyunggingkan senyum yang sangat lebar. Bahagia dan haru membuncah di hatinya. Langkah kaki Leon semakin mendekat, hingga tepat berada di depan Khansa, Leon berjongkok dan mengulurkan buket bunganya.


"Happy Graduation, Chagiya!" ucap Leon menundukkan kepala.


"BUGH!"


Kepalan tangan nenek menghantam tengkuk dan punggung Leon. Semua orang terkejut seketika saat nenek tiba-tiba menyerangnya. Leon meringis sembari memutar tubuhnya menghadap sang nenek.


"Aduh, Nek! Leon salah apa?" ucapnya tidak terima.


"Masih tanya salah apa? Kurang ajar kamu! Berani-beraninya menyebut nama wanita lain di depan istrimu!" pekik nenek berkacak pinggang.


Semua orang lantas tertawa terbahak-bahak, hanya Leon yang berdecak kesal karena keromantisannya buyar seketika. Khansa melangkah lalu memeluk lengan nenek san bersandar di bahunya. "Nek, Chagiya itu bukan nama perempuan lain. Tapi itu panggilan sayang Leon untuk Sasa," bisiknya lembut.


"Benar seperti itu?" seru nenek memutar bola matanya dan kini tepat mengarah pada Leon yang menatapnya kesal namun tidak berani mengungkapkan kekesalannya. Hanya wajahnya saja yang berubah muram.


"Iya, nek!" lanjut Khansa mengangguk dengan senyuman hangat.


"Ya nenek 'kan tidak tahu! Yasudah lanjutkan saja!" ucapnya acuh melepas lilitan tangan Khansa.


Leon menarik lengan Khansa dan merapatkan tubuhnya. "Basi, Nek. Gagal romantis jadinya. Sayang, selamat sekali lagi! Semoga ilmu kamu bermanfaat untuk banyak orang seperti impianmu selama ini!" ucapnya merengkuh bahu Khansa dengan satu tangannya.


Lalu mendaratkan ciuman di kening wanita itu meski sedikit terganggu dengan topi segilima dengan seutas tali yang menjulur ke bawah.


"Heh! Ada anak di bawah umur!" sentak nenek menarik bahu Leon.


"Om Papa!" panggil anak itu dengan manja mendongak ke arahnya.


Bersambung~

__ADS_1


Tiger pisah sangkar sama SaLe ya bestie 😄 mampirlah... ramein... 😁😁



__ADS_2