
Pekikan Leon tentu saja mengundang perhatian semua orang. Khansa berdehem sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, untuk menutupi rasa malunya.
"Halo, Tuan dan Nyonya Sebastian. Selamat datang di Wedding Organizer kami. Sungguh sebuah kebanggaan bagi kami bisa terpilih oleh orang-orang besar di kota ini."
"Berisik! Cepat berikan konsepnya!" ketus Leon meliriknya dengan tajam.
"Sayang!" tegur Khansa mendelik, lalu segera meminta maaf pada wanita berpakaian rapi dan dandanan yang sangat tebal itu. "Maaf, suami saya sedang sensitif," aku Khansa merasa tidak enak.
Emily dan Hansen segera duduk berseberangan dengan Leon. Sedangkan dua wanita tim WO menyunggingkan senyum lebar dan mendaratkan bokongnya di ujung sofa samping mereka.
"Oh, tidak apa-apa, Nyonya. Kami paham. Perkenalkan, saya Rara sebagai manager di Florest Wedding Organizer, berikut beberapa contoh dekorasi outdoor maupun indoor sebagai referensi." Rara berucap lembut sembari menyerahkan dua buah tab ke hadapan dua pasangan fenomenal itu.
Sedikit grogi yang ia rasakan, karena tentu ini menjadi tolak ukur dan menjadi proyek yang sangat besar, jika kedua pasangan tersebut mengambil konsep dari mereka.
Satu persatu berbagai dekorasi dijelaskan dengan detail setiap keunggulannya. Khansa sangat antusias melihat berbagai rangkaian bunga yang indah di sepanjang karpet merah hingga panggung yang megah.
Berbeda dengan Leon, wajahnya justru masam dan terus menghela napas panjang sedari tadi. Kesal sekali melihatnya. Emily dan Hansen pun tampak saling berunding.
"Emily, indoornya bagus banget. Tapi outdoor juga keren sih," ucap Khansa setelah melihat berbagai konsepnya.
"Iya, kita pakai outdoor aja, Sa. Cuaca 'kan dukung juga nih, udah masuk musim kemarau. Dan lagi, biar menyatu dengan alam," sahut Emily antusias.
"Tunggu! Itu bunganya pakai apa?" Leon menginterupsi.
__ADS_1
Rara pun dengan sigap menjelaskan bahwa bunga-bunga yang dipakai biasanya perpaduan antara bunga import dan lokal yang langsung dipetik dari kebun bunga berkualitas tinggi.
"Tidak bisa! Jangan pakai bunga-bungaan kayak gitu!" tolak Leon dengan tegas.
Sontak semuanya terpaku mendengarnya. Terutama tim WO yang tengah menangani mereka. "Eeee ...." Rara tampak berpikir keras.
Khansa segera menjelaskan mengenai kondisi Leon, bahwa suaminya itu tidak bisa menghirup aroma bunga. Dan karenanya ia meminta solusi supaya dekorasi tetap hidup meskipun tanpa bunga asli.
"Oh! Selamat atas kehamilannya, Nyonya. Kami turut bahagia. Baiklah kalau begitu, kami akan menggunakan opsi lain. Yaitu, kami bisa membuat rangkaian dari beragam lampu hias yang akan dipadukan dengan bunga-bunga hias!" papar Rara dengan percaya diri meskipun dadanya saat ini berdegub hebat.
"Apa sudah pernah ada sebelumnya?" Emily menimpali.
"Belum, Nona. Ini adalah first impression. Sesuatu yang baru untuk tim kami, menyajikan yang terbaik tentunya!"
"Dalam waktu satu bulan?" tambah Khansa.
"Tentu, Nyonya. Kami akan memberikan yang terbaik, walaupun ini pertama kali bagi kami!" semangat Rara disertai senyuman lebarnya.
"Baik, kalau begitu. Kami percayakan pada kalian. Semoga sesuai ekspektasi kami."
Setelah deal dengan konsep dekorasi mereka menentukan ukuran panggung, lantai dansa, kemudian semua rencana yang akan diselenggarakan.
Tugas yang cukup berat dan mendadak, namun tim WO tersebut sangat siap bekerja keras demi kemajuan Florest Wedding Organizer jika berhasil melakukannya dengan baik.
__ADS_1
"Undangannya cuma acara resepsi aja ya. Karena acara sakral kami, tidak boleh dihadiei siapapun kecuali keluarga terdekat! Dokumentasi hanya dari tim WO saja, jangan sampai bocor di media mana pun," ucap Emily mengingatkan.
"Baik, Nona. Kami mengerti."
"Daftar undangan akan kami kirim melalui email. Dan satu lagi, kasih note untuk para tamu, jangan membawa amplop atau kado jenis apa pun. Dan yang paling penting, jangan memakai parfum apa pun!" Leon menambahkan.
Rara dan rekannya terhenyak. Mereka kompak mengerjapkan bulu mata lentiknya bersamaan. Bahkan mulutnya sedikit terbuka. Sebuah permintaan yang tak lazim membuat mereka setengah tak percaya.
Hansen dan Emily hanya tertawa saja mendengar permintaan aneh dari sepupunya itu. Namun apa daya, keduanya pun harus mengiyakan apa pun kemauan Leon dan Khansa.
"Apa yang lucu?!" seru Leon mengerutkan dahinya.
Khansa tersenyum canggung. "Iya, Mbak. Dari pada nanti suami saya pingsan sepanjang acara!" Khansa menambahkan, dan segera dicatat oleh asisten Rara.
"Baik, Tuan, Nyonya!" sahut Rara mengangguk dengan senyum cantiknya.
Hampir tiga jam mereka berdiskusi banyak hal. Hingga tak terasa waktu menjelang senja. Leon khawatir pada Khansa, merengkuh bahunya, mendekatkan bibir pada telinga istrinya. "Kamu jangan sampai kecapean, Sayang!" bisiknya dengan pelan.
Khansa melirik ke hadapannya, yang mana mereka pura-pura sibuk dan tidak melihat. "Iya udah, kalau gitu jika ada informasi yang kurang bisa langsung hubungi kami ya, Mbak," pamit Khansa mulai beranjak dari duduknya.
Diikuti Leon, Emily dan Hansen yang kemudian saling berjabat tangan. Dua pasangan itu segera pulang ke tempat masing-masing.
Bersambung~
__ADS_1
Iih gemes! Kok nggak gantung 🤣