
Leon hanya menanggapinya dengan senyum. Tidak mengiyakan namun juga tidak menampik. Ia melangkah pelan menaiki anak tangga satu per satu. Sedangkan Khansa, jangan ditanyakan lagi. Gadis itu sedang berperang dengan debaran jantung yang ada di dalam rongga dadanya.
“Bukain dong,” ucap Leon menundukkan pandangan.
“Hem? A … apa?” tanya Khansa terkejut.
“Pintunya lah, kamu pikir apa?” ledek Leon tertawa.
Khansa mencebik, bisa-bisanya dia berpikiran yang tidak-tidak. Ia mengulurkan tangan, menarik handel pintu lalu mendorongnya. Sehingga pintu pun terbuka dengan sempurna.
Leon melangkah masuk, berhenti sejenak untuk menutup pintu dengan kakinya. Khansa tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Leon merebahkan tubuh mungil Khansa di ranjang dengan perlahan. Kedua lengannya bertumpu di atas ranjang tepat di kedua sisi kepala Khansa.
Keduanya manik mata mereka saling beradu, hanyut dalam tatapan penuh kerinduan. Bayangan keduanya tercetak jelas pada iris hitam pasangan mereka.
“Jangan seperti ini, aku merasa sesak,” ucap Khansa lirih menahan napasnya.
Leon terkekeh, “Aku bahkan belum ngapa-ngapain kamu sudah merasa sesak?” gurau Leon berdiri dengan tegak.
Tangan lebarnya meraih dasi yang masih terikat rapi di lehernya. Mengendurkan simpul tersebut lalu melepasnya. Khansa beranjak dengan cepat hendak pergi dari kamar.
Secepat kilat, tangan Leon menahan pergelangan tangan Khansa hingga langkah gadis itu terhenti. “Kamu mau ke mana?” tanya Leon menaikkan sebelah alisnya.
“Aku mau mengambil hadiah untukmu,” sahut Khansa.
“Hadiah?” tanya Leon memastikan.
Khansa mengangguk, “Iya. Aku beli oleh-oleh buat kamu. Tunggu sebentar,” jawab Khansa melepaskan cengkeraman tangan Leon, berlari kecil keluar kamar.
Khansa masih meninggalkan oleh-olehnya di lantai bawah. Karena tadi ia belum sempat meletakkannya di kamar. Dan keburu diangkut oleh Leon.
Kakinya melangkah bersemangat hingga mencapai anak tangga terakhir. Pandangannya mengeliling sembari mengingat-ingat dimana ia meletakkannya tadi.
Bibirnya terulas senyum tipis saat melihat sebuah paper bag yang ada di meja kecil tak jauh tangga.
Khansa mengayunkan kakinya perlahan, meraih paper bag itu dan memeluknya. “Apa Leon akan menyukainya?” gumamnya dengan hati berdebar.
__ADS_1
Kepalanya mendongak, menatap pintu kamar yang masih terbuka. Khansa menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia kembali naik dan bersiap dengan kemungkinan yang terjadi.
“Le ….” Khansa berhenti di ambang pintu. Kalimatnya bahkan menggantung dengan bibir sedikit terbuka dan mata yang enggan berkedip.
Leon tengah membuka kemeja juga kaos dalamnya, menyisakan punggung putih bersih yang kekar. Leon berbalik, perut yang sixpack tercetak jelas di pandangan Khansa. Matanya refleks menatap ke area itu, jantungnya bertalu kuat. Tenggorokannya tiba-tiba mengering meski sudah berkali-kali menelan saliva.
“Ngapain?” tanya Leon yang masih melihat Khansa bergeming bahkan tak menjawab pertanyaan Leon.
Pria itu melangkah mendekat, kedua kaki Khansa seolah tertancap kuat tidak bisa digerakkan. Leon meraih lengan Khansa dan menariknya masuk. Gadis itu menurut saja, tanpa melakukan perlawanan.
Kemudian Leon menutup pintu dan menyandarkan punggung Khansa di sana. Menahan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Khansa.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Leon dengan tatapan mengintimidasi.
Tubuh Khansa menegang, kepalanya mengangguk pelan, matanya tak beralih dari manik Leon.
“Apa?” Suara Leon terdengar sensual. Satu tangannya terangkat, jemari panjang milik Leon bergerak pelan di pipi Khansa.
Khansa menutup matanya sejenak, merasakan sentuhan yang menggetarkan jiwanya. Menarik napas panjang lalu menyodorkan paperbag yang sedari tadi di pelukannya hingga membentur dada bidang Leon.
“Ini! Ini untukmu,” ucap Khansa.
Tangannya merosot meraih benda di dadanya, bersentuhan dengan jemari lentik Khansa dan menggenggamnya.
“Leon lepasin,” rengek Khansa mencoba menarik tangannya. Namun tidak bisa, karena Leon menggenggamnya dengan kuat.
“Apa ini?” tanya Leon mengangkat pandangannya lagi hingga bersitatap dengan Khansa.
“Buka aja, maaf aku belinya pakai kartu kredit yang kamu kasih,” ucap Khansa dengan polosnya.
Leon tertekeh, mendekatkan kepalanya lalu mendaratkan sebuah ciuman yang cukup di kening Khansa. Tubuh Khansa terasa lunglai, lemas tak berdaya. “Kartu itu milikmu, nggak perlu minta maaf. Makasih ya hadiahnya,” ucapnya terdengar menenangkan. Khansa tersenyum namun menundukkan kepala.
“Apa ada hal lain yang ingin kamu ucapkan?” lanjutnya mengangkat dagu Khansa agar menatapnya.
Khansa mengerlingkan mata, tengah berpikir dan sepertinya tidak ada hal lain yang ingin dia sampaikan. Kepalanya menggeleng pelan. “Engg … nggak ada,” ucap Khansa dengan ragu-rahu.
“Masa? Yakin?” goda Leon semakin mendekatkan kepalanya.
__ADS_1
Khansa semakin merapatkan tubuhnya pada pintu, matanya sedikit melebar dengan tubuh menegang.
“Memangnya, kamu nggak kangen sama aku?” tanya Leon dengan nada sangat pelan.
Diam, Khansa tak bisa menjawab. Hanya bola matanya bergerak ke kiri dan kanan mengikuti gerakan manik Leon yang tajam namun tersirat kerinduan yang dalam.
Tanpa menunggu jawaban, Leon menarik tubuh Khansa dalam dekapannya. Menopangkan kepala di ceruk leher wanita itu. Melepaskan kerinduan yang selama beberapa hari membelenggu hatinya.
“Aku sangat merindukanmu, Sa,” ucapnya menghirup aroma wangi yang menguar dari bahu Khansa. Leon merasa lebih rileks, kepenatan dalam bekerja seolah terlepas begitu saja. Hidupnya terasa damai tanpa beban.
Khansa tersentak, namun hatinya seperti dihujani ribuan bunga. Hingga tiada kata yang mampu dia ucap, debaran jantungnya sudah menjawab semuanya.
Tangan kurus Khansa perlahan terangkat, membalas pelukan hangat Leon. Ia juga sangat merindukan pria itu. Senyum tak henti terukir di bibir tipisnya.
Setelah beberapa saat, Leon merangkulnya dan mengajak duduk di tepi ranjang. Ia pun mendaratkan tubuhnya tepat di samping Khansa.
“Boleh dibuka?” tanya Leon mengangkat paper bag meminta persetujuan.
“Jangan!” seru Khansa dengan cepat.
Leon berhenti, lalu mengangkat kepalanya sembari mengerutkan keningnya bingung.
“Jangan ditunda-tunda, sekarang aja,” tutur Khansa diiringi tawanya.
Leon melirik, mengangkat kedua sudut bibirnya hingga senyum lebar kini terbentuk dan menambah ketampanan pria itu. Dengan gemas tangan lebarnya menangkup pucuk kepala Khansa, lalu mengacak rambutnya. Khansa hanya tertawa, hatinya menghangat.
Leon beralih lagi pada paper bag tersebut. Meraih sebuah kotak mewah berwarna hitam yang dibalut dengan pita berwarna emas. Perlahan, Leon membukanya, tampak sebuah jam tangan mewah berwarna silver menyilaukan mata.
“Wow, Vacheron Constantin! Ini ‘kan cuma diproduksi sebanyak tujuh buah di dunia!” seru Leon dengan mata berbinar. “Makasih banyak ya, Sa,” ujarnya bersemangat karena tidak pernah menduga Khansa akan perhatian padanya.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Khansa.
“Tentu saja, ini sangat spesial bagiku, karena kamu yang memilihnya!” Leon sangat menyukai hadiah yang diberikan oleh Khansa. Lalu memeluk gadis itu lagi dan menghujani kecupan di puncak kepalanya.
Bersambung~
Kalau up sekaligus jan hanya scroll ya 😁 like komengnya jugaa...
__ADS_1
lope youu... sekebon cabe 😘🌶🌶