Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 204. Drama sebelum Terbang


__ADS_3

"Sudah jam 5, Sayang!" Leon menginterupsi pelukan hangat ayah dan anak itu.


Khansa segera melepas pelukannya, Fauzan beralih memeluk menantunya. "Terima kasih! Terima kasih sudah menggantikan kebahagiaan Sasa yang telah lama menghilang."


"Sudah tugas saya ayah mertua! Nanti kalau ada yang datang lamar Jihan, terima saja. Dia akan bertanggung jawab atas kehamilan Jihan," cetus Leon menepuk punggung Fauzan.


Fauzan terdiam, ia menoleh pada Khansa. Sebuah anggukan lembut dari Khansa semakin meyakinkannya. "Baiklah," ucap pria paruh baya itu.


Leon dan Khansa segera melenggang pergi dari kediaman Isvara, Khansa lebih banyak diam. Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh, tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibirnya. Pikirannya pun kosong, bibirnya terkatup rapat meski Leon terus mengajaknya berbicara.


Sesampainya di Villa Anggrek, Khansa langsung turun dengan kepala menunduk. Leon pun turun dan segera menggenggam kedua tangan Khansa. Menaikkan dagu wanita itu yang ternyata matanya sudah berlapis cairan bening.


"Sayang, biarkan anak itu tumbuh dengan kedua orang tuanya. Aku yakin, Jihan bisa menerimanya kelak. Meskipun akan membutuhkan waktu. Dan aku sangat yakin, kalau anak itu lahir, Jihan tidak akan mau menyerahkan pada orang lain. Kita balik posisinya, jika kamu berada pada posisi Jihan, apa kamu mau menyerahkan anak yang sudah kamu kandung sembilan bulan dan kamu lahirkan, kamu kasih ke orang lain begitu saja?" papar Leon memberi Khansa pengertian. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Khansa.


Khansa menggeleng kuat, air matanya kembali luruh di kedua pipi mulusnya. Leon paham yang dirasakan istrinya, hati wanitanya memang itu memang selembut sutera. Leon memeluknya, membelai kepala Khansa perlahan.


"Sayang boleh, tapi jangan pernah berharap memilikinya. Dia milik orang tuanya. Kelak kita pasti bisa mendapatkannya sendiri. Semangat, Sayang! Hei, calon dokter nggak boleh cengeng! Ayo buruan mandi! Pesawat kita sudah siap loh!" ujarnya menatap jam di pergelangan tangan lalu menyeka kedua manik Khansa yang basah.


"Aku harus memastikan dulu, anak itu baik-baik saja. Baru setelah itu aku bisa ikhlas dan tenang," ujarnya pelan menatap sendu sang suami.


"Iya, aku ngerti. Kita pantau dari jauh, jangan berharap lebih. Aku nggak mau kamu sakit lagi nantinya!" jawab Leon menenankan.


Drama pun segera berakhir. Mereka bergegas mandi dan bersiap. Semua orang sudah berkumpul di Villa, Hansen, Emily, Simon dan Gerry. Mereka berniat mengantar keberangkatan Leon dan Khansa.


"Loh, udah rame aja!" seru Khansa saat menuruni tangga. Orang-orang itupun beranjak berdiri.


Gaun putih berbahan sutera, setinggi lutut membalut tubuh rampingnya. Rambut panjangnya berwarna kecokelatan digerai menambah keanggunan perempuan itu. Sebuah mantel tebal dan syall menggantung di lengan kirinya. Tangan kanannya bertautan dengan telapak tangan lebar milik Leon.


"Perginya dadakan, kayak tahu bulat!" celetuk Simon mengerutkan bibirnya.


"Kakakmu nih, yang buru-buru!" cebik Khansa melirik suaminya.


"Kami mau mengantar kakak ipar ke bandara," ujar Hansen.


"Harusnya enggak usah repot-repot," elak Khansa merasa sungkan.


Langkah kakinya terhenti tepat di hadapan saudara-saudaranya itu. Emily tidak bersuara, namun manik matanya sudah memerah. Tidak bisa membayangkan bagaimana mereka berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama.


"Nenek juga ikut!" serobot nenek Sebastian yang baru muncul dari kamarnya.


Khansa berbalik, "Nenek!" ucapnya menghampiri.


"Jangan larang nenek!" tukasnya sebelum Khansa berbicara.


Khansa tersenyum sambil memeluk lengan wanita baya itu. Semua orang segera keluar menuju mobil. Tiga buah mobil mewah berjajar di pelataran. Gerry buru-buru membukakan pintu mobil limousin yang berbadan panjang dan berwarna hitam mengkilap itu.


Nenek terlebih dulu dipersilakan Khansa masuk, dan disusul olehnya. Saat Leon hendak naik dan duduk di sebelah Khansa, Emily buru-buru menarik lengan Leon.


"Kali ini aja, biarin aku sama Sasa. Besok juga bakal sama kamu terus!" pinta Emily memohon.

__ADS_1


Melihat Emily yang begitu sedih, Leon pun beralih duduk di belakang bersama dua tuan muda lainnya. "Jagain Sasa, dia masih takut naik mobil," bisiknya saat melalui Emily.


Gerry menutup pintu mobil setelah semua masuk dan beralih duduk di depan mendampingi Paman Indra. Mobil mulai melaju perlahan. Khansa memejamkan matanya kuat, dadanya berdebar hebat, Emily merebahkan kepalanya di bahu Khansa. Mengusap lembut lengannya itu.


"It's ok, Sayang. Semua akan baik-baik saja," gumam Emily.


Nenek pun merasakan perubahan pada Khansa. Ia turut menenangkan Khansa yang menegang. Jemarinya menyeka keringat yang membasahi kening Khansa. Padahal AC mobil sudah menyala.


"Buka matamu, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa, aman," ucap nenek.


Perlahan, manik indah Khansa mulai terbuka. Napasnya yang berat lama kelamaan mulai memelan. Perasaannya lebih tenang dengan kehadiran nenek dan Emily yang tiada henti memberinya sugesti.


Mobil melaju hingga masuk ke bandara, berhenti tepat di landasan khusus pesawat pribadi milik Leon. Gerry dengan sigap membukakan pintu untuk atasannya, sembari menundukkan kepala.


"Sasa, bersenang-senanglah. Jangan mikir apapun. Fokus saja dengan sekolahmu ya!" ucap nenek membingkai wajah mungil Khansa.


"Iya, Nek. Nenek sehat-sehat ya. Tunggu Sasa sukses dan membanggakan nenek," Khansa balas memeluk wanita renta itu. Wanita yang tulus menerimanya apa adanya.


Nenek berusaha menahan tangisnya. Ia tidak mau melepas kepergian cucunya dengan kesedihan. Nenek menepuk pelan punggung Khansa, "Kau ini kebanggaan nenek, Sa. Dari dulu sampai kapanpun!" tandasnya dengan tegas. Khansa hanya tersenyum.


Ia beralih pada Emily yang menangis terisak. Memeluk sahabatnya yang selalu ada disaat-saat terpuruknya. "Hei, aku mau sekolah. Bukan mau perang," celetuk Khansa mengusap punggung sahabatnya itu.


"Kita nggak pernah pisah lama sebelumnya, Sa!" sahutnya sesenggukan.


"Masih bisa komunikasi, 'kan? Buruan nikah biar kamu nggak kesepian!" Khansa meregangkan pelukannya.


"Aku mau nungguin kamu. Kalau aku nikah, kita harus ngadain resepsi bareng!"


"Enggak apa-apa! Aku mau kita naik panggung pengantin bareng-bareng sama pasangan kita. Bukannya di atas pelaminan sendiri!" sindir Emily melirik Leon dengan tajam.


"Dulu emang ada sesuatu, jadi harus sendiri!" Khansa membela suaminya.


"Ya makanya aku mau nanti kita resepsi bareng. Aku nggak mau tahu. Pernikahan kalian harus go public dan spektakuler. Aku nggak akan nikah sebelum kamu pulang!" tegas Emily yang seketika membuat Hansen menautkan alisnya.


Khansa melirik ke arah suaminya untuk meminta jawaban. Leon tersenyum sembari mengangguk, setuju dengan permintaan Emily. "Baiklah! Aku berangkat dulu ya!" pamitnya kembali memeluk Emily dan nenek bersamaan.


Hansen dan Simon pun saling berpelukan dengan Leon. Mendoakan yang terbaik untuk saudara sepupunya itu. Leon juga beralih memeluk sang nenek sangat lama. Wanita yang selalu mencurahkan seluruh kasih sayangnya, selalu memberikan yang terbaik untuknya.


"Nenek sehat terus ya!" bisik Leon dengan suara parau.


"Jaga Sasa dengan baik, Leon!" pinta sang nenek yang hampir menumpahkan air matanya.


"Pasti, Nek!" Leon mencium kening sang nenek.


Setelahnya Leon dan Khansa saling bergandengan, menaiki tangga masuk ke dalam jet yang sudah siap lepas landas sejak tadi. Keduanya berhenti di ujung tangga, melambaikan tangannya pada orang-orang yang mengantarkan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang dari kediaman Khansa, Tiger bergegas pulang menuju resortnya. Mendengar kabar Leon akan segera pindah ke luar negeri, membuatnya bertekad untuk segera bertemu dengan Milano. Tidak peduli apapun yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


Milano akan kembali ke Jakarta, ketika sudah bertemu dengan Leon. Namun aksesnya selalu tertutup, seperti ada pagar menjulang tinggi yang menghalangi pertemuan keduanya.


Mobil sport mewah yang dikendarai Tiger melesat dengan kecepatan tinggi. Ia pun langsung berhenti tepat di depan penginapan Milano. Buru-buru pria itu turun dan berlari hingga depan pintu.


"Tok! Tok!"


Tiger mengetuk keras benda persegi itu. Dia melakukan berulang dan terkesan tidak sabar. Diiringi dangan detak jantung yang bergelombang hebat.


"Ayah!" teriaknya sambil terus mengetuk.


"Ceklek!" pintu terbuka dan muncullah pria paruh baya dengan tatapan tak bersahabat.


Tiger menelan ludahnya kasar, ia menarik napas panjang dan berusaha tenang mendapat tatapan nyalang dari pria yang sudah membesarkannya seorang diri itu.


"Ayah! Leon hendak pindah ke luar negeri!" ucapnya menundukkan kepala.


"Apa?! Kapan mereka berangkat?" sahut Milano. Ini pertama kali dia mau berbicara dengan Tiger sejak kemarahannya di rumah sakit waktu itu.


"Kemungkinan sore ini, Yah!" sahut Tiger dengan hati menghangat. Karena sang ayah sudah mau berbicara dengannya.


Milano masuk sebentar, Tiger menunggunya tanpa diminta. Tak berapa lama, Milano kembali keluar dan mengunci pintu kamarnya.


"Antar Ayah bertemu dengannya!" pintanya.


Tiger mengangguk, berlari dan membukakan pintu samping kemudi untuk sang ayah. Milano duduk dengan gelisah. Tiger menyilangkan sabuk pengaman dan memasangnya. Ia segera berlari duduk di balik kemudi.


Tanpa basa-basi kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Atap yang sedari tadi terbuka, perlahan ditutup rapat, demi kesehatan ayahnya.


Tidak peduli lelah yang bergelayut di tubuhnya, Tiger memfokuskan pandangan pada jalur yang mereka lalui. Rela bolak balik dari desa ke kota, menempuh perjalanan panjang dengan tergesa, asalkan bisa berdamai dengan orang-orang yang pernah ia sakiti.


"Tunggu di sini sebentar, Yah!" ujar Tiger turun dari mobil setelah berhenti di depan kediaman Isvara.


Tiger menanyakan keberadaan Leon pada penjaga gerbang. Mereka menjelaskan bahwa Leon beserta istrinya sudah keluar sejak satu jam yang lalu.


Pria itu kembali ke mobil dengan napas tersengal. Tangannya mencengkeram erat setir mobil. Milano mengernyitkan alisnya. "Ini rumah Leon?" tanya pria paruh baya itu mengamati bangunan yang luas dan cukup besar itu.


"Sepertinya rumah istrinya, Yah. Penjaga bilang, mereka sudah keluar sejak satu jam yang lalu."


Tiger menoleh, menatap raut kecewa dari sang ayah. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia kembali menyalakan mesin mobil dan bergegas pergi dari sana.


"Kita cari bandara terdekat, Yah. Siapa tahu bisa bertemu dengannya!" ujar Tiger menginjak pedal gas dengan kuat-kuat. Satu tangannya sibuk membuka google maps untuk menemukan tempat yang ia tuju.


Bersambung~



🤔Apa Sasa, Sayang???


Sasa; Lu gak minta di vote? Kan senin, Thor.

__ADS_1


Enggak mau maksa lagi. Dipaksa itu sakit 🙃


__ADS_2