
Emily sudah bersiap untuk keluar. Hansen yang sedari tadi diam saja segera beranjak, berdiri di samping istrinya dan menggamit lengan kurus itu.
Gaun malam untuk resepsi kali ini tidak terlalu membuat Emily kuwalahan. Karena lebih simpel namun terlihat elegant, akan tampak cahaya yang berpendar mengitari gaun itu ketika berada dalam kegelapan.
Masih terlihat pancaran permusuhan antara Bara dan Hansen. Entah kenapa sepertinya dua orang itu sulit untuk menyatu. Hanya lemparan tatapan tajam dari sorot mata keduanya.
"Aku tadi lihat Jen. Dia nggak pulang ya?" tanya Emily sembari melangkah beriringan dengan Hansen.
"Ya, dia masih di sini. Temen-temen kamu sama sopir aja ya. Pusing kepalaku denger rengekan-rengekan mereka!" balas Bara dengan ketus.
"Ya! Ya! Terserah abang aja. Daripada nanti stress. Aku yang pusing!" celetuk Emily.
Langkah kaki mereka terhenti di teras. Orang tua Emily pun sudah bersiap sedari tadi menunggu putri kesayangannya itu. Di halaman sudah banyak sekali para wartawan yang sibuk mengambil gambar Emily dan Hansen sejak keluar dari rumah.
"Kok mereka malah di sini sih?" gerutu Emily menatap kakaknya.
"Udah biarin aja. Yang penting nggak ada yang berani ganggu kalian. Nah, tuh hadiah dari Leon dan istrinya," tunjuk Bara ke halaman.
Emily terperangah, manik matanya membelalak dengan sempurna. Hansen sama terkejutnya, namun dia bisa menutupinya dengan wajah datarnya.
"Yaampun! Keren banget!" pekik Emily kegirangan.
Sebuah mobil klasik yang langka berwarna hitam pekat, dengan dihiasi berbagai pita dan bunga, semakin mempercantik mobil tersebut.
Emily melenggang santai bersama Hansen, high heels yang tinggi sedikit memaksanya berjalan anggun.
"Aaaa! Ini keren banget!" serunya memeluk mobil tersebut.
Bara membukakan pintu untuk Emily, "Tunggu apalagi? Buruan masuk!" tegas Bara mengedikkan kepala.
Emily segera beralih ke kursi penumpang. Bara melindungi kepalanya yang sudah dibentuk oleh hair stylish, dengan mahkota kecil yang memperindah tatanan rambutnya.
Hansen juga segera duduk di balik kemudi, "Enggak ada sopirnya nih? Pengantin nyetir sendiri?" gumamnya menyalakan mesin mobil klasik tersebut.
"Sini aku setirin! Kamu naik ke atap!" balas Bara dengan ketus.
"Galak amat kakak ipar!" tukasnya tanpa menoleh.
__ADS_1
"Udah sana, Bang! Jen jangan ditinggalin!" Emily mendorong kakaknya lalu menutup pintu. Ia menurunkan kaca jendela lebar-lebar, melambaikan kedua tangannya menatap Frans dan Monica yang tengah tersenyum ke arahnya. Berangkat dulu ya! Ma! Pa! Langsung nyusul 'kan?" seru pengantin itu.
"Iya, ini langsung berangkat. Hati-hati Hansen!" pesan sang ayah mertua.
Hansen mengangguk, menyalakan klakson lalu melaju dengan kecepatan sedang. Diikuti dengan beberapa mobil pengawal, teman-teman Emily dan beberapa kerabat dekat.
Kilatan kamera sedari tadi menghujani pasangan itu, mengambil setiap momen bahagia artis kebanggaan bersama salah satu konglomerat di kotanya. Mereka berlomba membuat berita terhangat yang tentunya akan langsung trending di jagat maya.
Para wartawan bergegas untuk menuju lokasi resepsi. Meski sebenarnya mereka sudah berbagi tugas dengan rekan kerjanya. Tetap saja mereka harus bergabung dalam acara spektakuler malam itu.
"Bagus banget ya, Sayang! Sasa tahu banget apa yang aku inginkan!" seru Emily memperhatikan desain interior mobil unik tersebut. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah kotak yang cukup besar di atas dashboard. "Eh, apa nih?!" tanyanya meraih kotak berwarna maroon itu.
"Jangan dibuka sekarang. Nanti malem aja setelah acara selesai! Awas jangan ngintip!" Terdapat catatan kecil di atas kotak tersebut, dibubuhi tanda tangan Leon dan Khansa.
"Apa, Sayang?" Hansen bertanya sembari fokus dengan jalan.
"Nggak tahu. Katanya dibuka nanti setelah acara," tutur Emily meletakkan kembali kotak tersebut.
"Oh, yaudah," sambung Hansen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pasalnya, rumah sudah sepi. Sopir keluarga sudah mengantar Frans dan Monica, juga ada yang mengantar teman-teman Emily.
"Je!" seru Bara mengetuk pintu. Tidak terdengar sahutan apa pun. Bara mengetuknya lagi dan berseru lebih keras.
"Pletak!"
"Aduh, Kak!" seru Jennifer meringis kesakitan sembari mengusap keningnya. Tepat disaat gadis itu membuka pintu, bersamaan dengan Bara yang hendak mengeraskan ketukannya.
"Maaf! Maaf! Lagian, kamu sih nggak nyahut!" ucap Bara refleks menyentuh pipi Jennifer, sedang tangan satunya mengusap kening gadis itu.
Jen terpaku, ia menahan napasnya sejenak merasakan sentuhan dari Bara. Manik matanya sampai enggan berkedip menikmati pahatan Tuhan yang begitu indah di hadapannya.
"Isshh ini siapa yang make up in sih?" seru Bara ketika pandangannya menyapu wajah Jennifer yang berbalut make up bold.
"Aku sendiri, Kak. Hehe," jawab Jennifer mengerjap berulang-ulang untuk mengembalikan kesadarannya.
"Dandan itu sesuai usia. Jangan dewasa sebelum waktunya! Kayak janda anak lima tahu nggak?" cibir Bara mengejeknya.
__ADS_1
"Buset! Segini cantiknya dibilang janda!" sembur Jen berkacak pinggang.
Tanpa bicara lagi, Bara menarik lengan Jennifer, kembali masuk ke kamar dan mendudukkannya di kursi rias. Dengan cekatan pria itu membuka tas make up Emily dan menguasai wajah Jennifer.
"Iihh Kakak, kenapa dihapus sih?!" elak Jennifer memundurkan kepala.
"Udah! Diem. Percaya sama aku!" sahut Bara meyakinkan.
Bara meraih dagu lancip Jennifer, mulai membersihkan wajah itu dengan kapas putih yang ditetesi cleasener.
Jen menurut, dadanya berdenyut ketika menyadari jarak wajah keduanya sangatlah dekat. Ia dapat mengamati ketampanan pria itu dengan sangat jelas. Hatinya berbunga-bunga saat ini. Tubuhnya bahkan melemas menerima sentuhan-sentuhan dari Bara.
"Apa kita nggak terlambat, Kak?" tanya Jen masih menatap lekat lelaki itu.
"Diem deh, biar konsen dan cepet kelar!" semburnya menatap manik Jennifer sekilas.
"Deg!"
Pancaran mata Jennifer seolah membius. Tautan pandangan itu enggan terlepas. Keduanya seolah terhipnotis dan tak ingin melepas.
"Kak! Katanya mau cepet kelar?" ucap Jen membuat Bara gelagapan.
Ia segera melepas dagu Jennifer, menegakkan tubuh kekarnya. Lalu mulai menyiapkan peralatan make up. Bara tidak ingin terjebak dalam situasi seperti itu lagi.
Dengan cekatan, Bara memoles wajah cantik gadis itu. Jen pun menurut saja, bibirnya tertahan agar tidak tersenyum. Meski dadanya seolah berperang di dalam sana, Jen tetap enggan memalingkan mata dari pria tampan di hadapannya.
"Nah! Kalau gini 'kan lebih keliatan fresh!" ucap Bara setelah beberapa saat.
Bara menggerakkan kepala Jennifer tepat pada cermin di hadapan mereka. Terlihat jelas wajah cantik yang memang lebih terlihat fresh dengan make up natural.
Tak sampai disitu, Bara juga mengubah tatanan rambut Jennifer. Membiarkan tergerai di belakang dan diikat separuh, kemudian mengambil beberapa helai, merapikannya hingga menjuntai indah di kedua sisi wajahnya.
"Kak!" panggil Jennifer yang semakin kagum dengan pria itu. Pria ulet, sabar dan telaten. Dadanya semakin meletup-letup di dalam sana.
"Hmmm!" gumam Bara meneliti kekurangan dari penampilan Jennifer.
Hati Jen seolah berbunga-bunga. Sampai-sampai tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
"Kenapa perhatian banget sama aku?" tanyanya memperhatikan wajahnya yang tampak semakin manis setelah polesan make up dari tangan Bara.
__ADS_1
Bersambung~