Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 148. Sakit yang Sesungguhnya


__ADS_3

Seluruh tubuh Fauzan bergetar hebat, tangisnya tak terbendung lagi. Fauzan tahu, Bibi Fida adalah pelayan yang paling dekat dan setia dengan Stefanny. Semua yang terucap dari mulut Bibi Fida pasti bisa dipertanggungjawabkan.


Dadanya sesak mendengar kalimat demi kalimat curahan hati Stefanny yang disampaikan pada Bibi Fida. Kedua tangan pria itu terangkat, menarik rambut pendeknya dengan kuat.


"Stefanny!" teriaknya berderai air mata.


Ia menyesal karena sudah dibutakan rasa cemburu. Terbakar dengan hasutan Maharani yang kian menggerogoti hatinya. Sampai-sampai, dia tidak peduli dengan semua pengakuan Stefanny. Bahkan sering mengabaikannya di saat-saat terakhirnya.


Fauzan menangis sampai dadanya terasa sesak. Kepalanya berdenyut nyeri, wajahnya memerah karena terus menangis sedari tadi.


Sampai rekaman itu berhenti, Fauzan masih terisak. Dia meraih ponsel Khansa, membuka galeri foto untuk mencari gambar Stefanny. Dan saat dia scroll ke bawah, Fauzan menemukannya. Foto masa kecil Khansa bersama mendiang ibunya. Dua perempuan yang sangat mirip. Bagai pinang di belah dua.


"Maaf!" Isak tangisnya terus menggema di ruangan itu. Tubuhnya bergetar hebat hingga perutnya terasa ngilu. Fauzan menciumi foto tersebut lalu memeluk ponsel itu dengan erat.


Kemudian setelah beberapa lama Fauzan meraih sebuah stopmap yang diletakkan Khansa di sampingnya. Tangannya gemetar meraihnya. Perlahan ia membukanya. Pandangannya semakin buram karena air mata, tangannya terus menyeka air mata itu agar lebih jelas lagi.


Satu per satu huruf dia baca, hingga sampailah dalam kalimat yang menyatakan bahwa hasil tes DNA antara Khansa dan Fauzan cocok 98%. Lagi-lagi Fauzan menangis tersedu-sedu. Dia memeluk stop map tersebut dengan erat.


"Khansa! Maaf!" teriak Fauzan di tengah isak tangisnya.


Jatuh ke dalam jurang penyesalan di sisa hidupnya, adalah rasa sakit yang sesungguhnya. Kesakitan yang tidak akan pernah bisa disembuhkan. Apalagi penyesalan itu tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa seseorang. Sungguh, Fauzan sangat tersiksa saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit yang berbeda, Maharani telah selesai menjalani operasi kemarin. Pandangannya kini kosong mengarah pada langit-langit kamar, air matanya terus mengalir di kedua pelipisnya.


"Bu," panggil Jihan menyentuh tangan ibunya.


"Kaki ibu, Jihan!" Maharani terisak karena kehilangan salah satu kakinya dari lutut hingga telapak kakinya.


"Ini lebih baik, Bu. Jika tidak diamputasi, kaki ibu akan membusuk dan lukanya bisa menyebar ke mana-mana," ucap Jihan yang juga ikut sedih atas apa yang menimpa ibunya.


Maharani kembali menangis menjerit. Ia memukul-mukul pahanya. "Kenapa? Kenapa harus berakhir seperti ini, Jihan!" teriak Maharani frustasi.


Jihan menahan tangan ibunya. Ia pun terisak melihat kondisi sang ibu yang memprihatinkan seperti itu. Maharani terus menangis meraung sambil memukuli kakinya. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang mulai menjalar di tubuhnya. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana dia menjalani hari-hari ke depannya. Maharani tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.


"Ibu," ucap Jihan menangis sesenggukan sembari memeluk ibunya. Jihan tidak tahu lagi bagaimana cara menenangkan ibunya. Seluruh ruangan itu dipenuhi dengan tangisan dan raungan Jihan juga Maharani.

__ADS_1


Setelah cukup lama mereka menumpahkan kesedihan, Maharani melepas pelukan anaknya, "Jihan, kakakmu di mana? Dia pasti bisa membelikan ibu kaki palsu. Iya 'kan? Ibu pasti bisa berjalan normal lagi seperti orang-orang," ucap Maharani menyeka air matanya dengan kasar.


Jihan menunduk, "Ibu, Kakak di penjara," ucapnya dengan lirih.


"Apa?! Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Lalu siapa yang membayar biaya rumah sakit ini kalau bukan kakakmu, hah?" teriak Maharani membelalak.


Jihan beralih duduk di kursi samping ranjang ibunya. Kepalanya masih menunduk, ia menelan salivanya sebelum akhirnya mengungkapkan semuanya.


"Ibu, kakak dituntut Tuan dan Nyonya Sebastian. Dia dipenjara selama 10 tahun. Dan semua biaya rumah sakit ini, Jihan mengambilnya dari rumah ayah. Semua perhiasan, emas dan aset-aset penting Jihan jual. Masih ada sisa sedikit untuk biaya hidup kita ke depannya, Bu. Karenanya Jihan pergi jauh dari kota. Agar jejak kita tidak terlihat. Kita harus memulai hidup baru, Bu. Jihan takut ayah marah dan akan menjebloskan Jihan ke penjara," papar Jihan tidak berani menatap ibunya.


Maharani terperangah mendengarnya. Tubuhnya terpaku, tidak pernah menyangka hidupnya akan mengalami jungkir balik hingga seperti ini.


"Tapi, kemarin Jihan juga melihat berita di televisi kalau ayah mengalami masalah di perusahaannya. Dia dibawa polisi juga, Bu," lanjut Jihan.


"Apa?!" teriak Maharani sulit percaya.


"Ibu, kita harus segera keluar dari sini. Kalau tidak biaya akan semakin membengkak. Sedangkan uang yang Jihan pegang akan semakin menipis, Bu," ucap Jihan memainkan ujung gaunnya.


Sedari dulu Jihan hanya tahu cara menghabiskan uang, ia tidak mengerti bagaimana cara mengelola uang dengan baik. Oleh karena itu, sebanyak apa pun uang yang dia pegang lama kelamaan akan habis juga.


Maharani mengacak rambutnya. Sudah kehilangan salah satu kakinya, sekarang harus tinggal di kontrakan. Baru membayangkan saja sudah membuatnya frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hansen sudah bersemangat datang ke kediaman Frans dengan alasan untuk berkonsultasi mengenai penelitian bahan kimia yang dipakai untuk obat-obatan kakek Khansa. Frans yang saat itu berada di rumah, tak segan mengundang Hansen sekalian makan siang.


Perusahaan ayah angkat Emily, merupakan kompetitor terbesar dari perusahaan Keluarga Ugraha. Sama-sama bergerak dibidang produksi obat-obatan. Selain itu Frans juga memproduksi berbagai jenis produk kecantikan yang pemasarannya sudah mencapai ke luar negeri.


"Tuan Hansen, selamat siang," sapa Frans menghampiri Hansen yang sudah duduk di kursi tamu.


"Siang, Tuan Frans!" balas Hansen berdiri dan menjabat tangan pria paruh baya itu.


"Mari kita makan siang terlebih dahulu. Kebetulan istri saya masak banyak siang ini," ajak Frans.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan!" elak Hansen yang tidak enak.


Namun Frans terus memaksa. Hingga Hansen sungkan jika menolaknya. Saat duduk di meja makan, mata Hansen mengedar seperti mencari-cari seseorang.

__ADS_1


Monica yang paham dengan gelagat Hansen, menendang kaki suaminya. Pasangan suami istri itu saling memberi kode melalui tatapan mata.


"Pa, Emily sudah makan siang belum ya. Dia 'kan suka lupa makan tuh kalau lagi kerja." Monica mencoba memancing pembicaraan.


"Telepon aja, Ma. Anak itu memang ceroboh dari dulu," sahut Frans setelah menelan makanannya.


"Ah nanti aja deh nunggu dia telepon, Pa. Takut ganggu syutingnya," lanjut Monica kembali menyuapkan makanan.


Hansen berdehem sejenak, "Eee jadi Emily sudah kembali ke Bali?" tanya pria itu.


"Loh, Anda tidak tahu ya, Tuan? Dia sudah kembali tiga hari yang lalu. Huh padahal udah lama nggak pulang, tapi di rumah cuma sebentar aja," keluh Monica.


Pria tampan itu terdiam sejenak. Selama tiga hari terakhir dia memang terlalu fokus dengan penelitian obat-obatan itu. Hansen tidak bisa mempercayakan pada siapa pun. Dia turun tangan sendiri karena tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Apalagi ini menyangkut keluarganya.


"Oh, mungkin sedang banyak pekerjaan, Nyonya," sahut Hansen dengan tenang. Meskipun dalam hatinya bergemuruh.


Setelah makan siang, Hansen dan Frans tengah berdiskusi di ruang kerja. Mengenai pencampuran bahan-bahan kimia yang dia temukan beserta efek sampingnya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hansen beranjak pulang setelah hari sudah hampir gelap.


"Terima kasih banyak, Tuan Frans. Maaf karena telah mengganggu waktu Anda," ucap Hansen menjabat tangan pria itu.


"Bukan masalah besar Tuan Hansen. Kebetulan saya tidak ada jadwal urgent hari ini. Senang bisa membantu," balas Frans dengan ramah.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Salam untuk Nyonya Frans," pamit Hansen membungkuk lalu melenggang pergi dari rumah itu.


Sesampainya di mobil, Hansen terdiam. Ibu jarinya menggesek setir mobil, pikirannya melayang. Tak lama kemudian, Hansen mengeluarkan ponselnya. Ia menggulirkan layar kontak hingga berhenti pada nama Emily.


Lama dia menatapnya, jemarinya terus bergerak di atas layar. Ingin menelepon tapi ragu. Beberapa saat kemudian, akhirnya dia menekan gengsinya untuk menghubungi Emily terlebih dahulu.


Tak butuh waktu lama, telepon langsung dijawab. "Halo!" Terdengar suara laki-laki di seberang telepon.


Hansen mengerutkan dahinya. Dia kembali menatap layar ponsel memastikan bahwa ia tidak salah sambung. Saat kembali mendengarkan, lagi-lagi suara pria yang terdengar. Hansen mengatupkan bibirnya dengan rapat, dengan kening yang berkerut dalam.


Bersambung~



__ADS_1


__ADS_2