Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 32. Kedatangan Leon


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, Gerry menemukan titik lokasi Khansa berada. Gerry segera menyerahkan pada atasannya. Leon mengerutkan keningnya. Terlihat jelas, jika saat ini Khansa berada jauh dari Villa Anggrek. Bahkan ada di luar kota.


“Ngapain Khansa di sana?” gumamnya dalam hati mengamati lokasi tersebut.


Kerutan pada keningnya semakin dalam saat melihat keadaan di sekitarnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sana.


“Simon! Cepat menuju ke sini sekarang juga!” tegas Leon menyerahkan Ipad milik Gerry yang sudah menunjukkan petunjuk arah. Feelingnya tidak pernah meleset dan kali ini ia yakin Khansa berada dalam bahaya.


Hansen yang berada di samping Simon mengambil benda itu, ia pun menjadi petunjuk arah, agar Simon bisa lebih fokus menyetir dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


“Ger, kerahkan beberapa pengawal menuju ke sana juga! Simon, tambah kecepatan!” sentak Leon menggebrak sandaran kursi kemudi. Ia merasa mobil bergerak lambat, tangannya menyugar rambutnya yang sudah tidak rapi itu. Padahal saat ini, Simon sudah melajukannya dengan kecepatan sangat tinggi.


Gerry pun segera melakukan perintah tuannya tanpa banyak bertanya. Pandangan Leon semakin menajam. Kedua tangannya terkepal dengan kuat bertumpu di atas pahanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa terkejut dengan kedatangan Hendra. Bukan hanya pria itu saja, derap langkah yang sangat banyak terdengar mendekat. Khansa menyebar pandangannya, ternyata Hendra membawa sekelompok pengawal berbaju hitam. Mereka segera bersiap dengan posisi masing-masing sesuai perintah Hendra.


Khansa masih berdiri memapah Bibi Fida yang semakin melemah. Ia menelan salivanya, tidak mungkin saat ini untuk melawan puluhan orang itu. Meski dalam hati panik, Khansa tetap berusaha tenang.


“Khansa, kamu mau membawa Bibi Fida ke mana, hah?” sentak Hendra melangkah semakin dekat, mengikis jarak di antara keduanya.


“Ehm, bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?” ucap Khansa balik bertanya karena penasaran.


Hendra tergelak tawanya tepat di hadapan Khansa. Membuat gadis itu mundur beberapa langkah masih dengan Bibi Fida di sampingnya.


“Hahaha! Aku selalu tahu, kamu itu sangat cerdik, Sasa. Makanya aku bawa anggota pengawalku untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Dan akhirnya, kamu sungguh datang,” jawab Hendra dengan tatapan berubah tajam. Seperti hendak menelannya hidup-hidup.


Khansa menghela napas panjang, “Hendra, kondisi Bibi Fida sudah sangat lemah, beliau harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang juga. Penyakitnya sudah parah. Tolong biarkan kami pergi!” pinta Khansa dengan nada tenang.


“Baiklah, kamu boleh membawanya pergi tapi dengan satu syarat!” tegas Hendra membungkukkan tubuhnya, menyamakan tingginya agar sejajar dengan wajah Khansa. “Kamu harus tetap tinggal untuk menyelesaikan transaksi yang tertunda!” sambungnya dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Khansa mengerutkan alis, jelas sekali kalau kini Khansa tidak punya kuasa untuk menolak, karena memang Bibi Fida sudah ada di tangannya. Bisa saja, nyawa Bibi Fida akan terancam karenanya.


“Kalian! Bawa orang tua itu keluar dari sini!” perintah Hendra pada pengawal di belakangnya.


“Baik, Tuan!” jawab dua orang pengawal lalu maju ke depan dan segera membawa Bibi Fida naik ke mobil.


Setelah melihat Bibi Fida sudah berada di mobil, Hendra mencengkram bahu Khansa dan menyeretnya ke dalam rumah. Khansa meringis, karena cengkeraman itu sangat kuat dan dia tidak sempat mengelak.


Hendra menutup pintu dengan kakinya, lalu mendorong Khansa ke atas ranjang kecil yang biasa digunakan untuk tidur oleh Bibi Fida.


“Hendra, jangan macam-macam denganku!” tegas Khansa mengacungkan jari telunjuknya ke depan muka Hendra. Ia terpundur hingga tersudut dinding. Hendra terus menyudutkannya, merangkak naik dan semakin mendekat pada Khansa.


Tangan Hendra mengulur, hampir menyentuh cadar Khansa, tatapan Khansa berubah menjadi dingin dan langsung mengarahkan jarum ke bagian belakang leher Hendra.


Namun gerakan Khansa terbaca oleh Hendra. Tangan lebarnya segera mencekal lengan kecil Khansa dan mencengkeramnya dengan kuat.


“Sasa, aku terlalu mengerti dirimu, trik kecilmu ini tidak bisa lolos dariku!” bisik Hendra semakin mendekatkan wajahnya.


Khansa memfokuskan kekuatan pada lengannya, tatapannya masih sama, menatap nyalang dan penuh kebencian pada dua manik hitam Hendra. Beberapa saat kemudian, Khansa menghempaskan tangan kekar Hendra lalu menendang perut pria itu hingga menjauh darinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua  mobil kini berhenti tepat di belakang mobil Hendra. Mereka lalu turun dengan wajah dingin dan penuh amarah.


Kedatangan Leon beserta anak buahnya sontak mengejutkan para pengawal Hendra.


Tanpa diperintah, mereka semua segera menyerang, bahkan Hansen dan Simon juga ikut turun tangan. Leon pun turut  menghadapi pengawal-pengawal itu dengan keahliannya dalam bela diri.


Satu persatu para pengawal Hendra berjatuhan. Penyerangan tak terduga itu membuat mereka kalang kabut dan panik. Sehingga tidak ada persiapan sama sekali.


“Tuan, saya menemukan seorang wanita tua di dalam mobil” pekik seorang anak buah Leon yang berhasil menerobos pertahanan dalam mobil itu.

__ADS_1


Leon bergegas melihat kondisinya. Wajah renta yang sudah sangat pucat dengan tubuh yang sangat lemah.


“Segera bawa ke rumah sakit sekarang juga!” perintah Leon pada beberapa anak buahnya.


“Baik, Tuan!” sahut mereka bergegas melajukan mobil itu ke rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa beranjak turun dari ranjang dan bergegas untuk keluar dari rumah itu, Hendra menggeram marah.


“Kurang ajar!” pekik Hendra. Ia paling benci ditipu dan dikhianati oleh Khansa, Hendra bergegas menarik  Khansa ke dalam pelukannya, Hendra menunduk mencubit dagu Khansa, mengarahkan wajah cantik itu tepat ke hadapannya.


Hendra ingin mencium Khansa, “Sasa, kamu tidak seharusnya membuatku marah! Aku sudah bilang kalau kamu ini milikku, hati dan ragamu semuanya milikku!” tegas Hendra tanpa mau dibantah. Satu lengan Hendra merengkuh pinggang Khansa dengan erat.


“Lepas! Jangan pernah sentuh aku! Lepaskan aku, Hendra!” pekik Khansa berusaha memberontak. Dia tidak mau dicium oleh Hendra. Khansa terus menggerakkan kepalanya dan memukul-mukul dada Hendra, mencakar lengan pria itu bahkan menginjak kakinya juga. 


Khansa sadar pria itu sudah bukan kak Hendra yang dulu dikenalnya lagi.


Mendengar teriakan Khansa, Leon mengalihkan pandangan ke rumah itu. Ia semakin murka. Gerahamnya mengetat dengan kedua tangan yang terkepal dengan kuat. Matanya menyalang merah.


“Kak! Selamatkan kakak ipar! Serahkan ini semua pada kami!” seru Simon yang masih menghajar beberapa orang di hadapannya.


Leon mengangguk, ia memukuli setiap orang yang menghalanginya untuk mencapai pintu rumah itu dengan membabi buta, mematahkan leher, lengan juga kaki mereka. Leon sudah berada di puncak kemarahan. Seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsa. Tidak terlalu sulit menghadapi para pecundang seperti itu.


Sampailah ia di depan pintu, lalu mendobrak pintu itu dengan sangat kuat, hingga pintu terbuka lebar.


“Lepaskan tangan kotormu darinya!” Suaranya tegas penuh penekanan. Tatapan matanya sangat dingin melihat laki-laki yang berani menyentuh istrinya.


 


Bersambung~

__ADS_1


 


__ADS_2