Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 214. Dia selalu penuh kejutan


__ADS_3

Pasangan suami istri itu terdiam sesaat. Keduanya terhenyak dengan celoteh polos gadis kecil itu. Mata mereka mengerjap pelan, "Mmm ... Nanti dicari sama mama, Nak!" ucap Khansa menunduk mengusap rambut Cheryl dengan lembut.


"Mama kerja terus, pulangnya malam! Cheryl sendirian sama Mbak aja!" adunya yang secara tidak langsung mengatakan bahwa ia kesepian, hanya melewati hari bersama pengasuhnya.


Khansa kembali menoleh pada Leon, keduanya saling menatap lekat. Jika tidak memikirkan perasaan Jihan, sudah pasti mereka dengan senang hati menerima anak itu seperti keinginannya dulu.


"Cheryl, mama 'kan kerja buat Cheryl. Sabar ya, suatu saat nanti mama pasti akan menemani Cheryl terus. Sebentar lagi Om sama Aunty bakal pulang ke Indonesia. Jadi, kita bisa sering ketemu," ujar Leon memberi pengertian.


Sontak anak itu menegakkan tubuhnya, matanya berbinar cerah. "Benarkah? Kita akan main dan liburan bareng terus?" pekik Cheryl. Bibirnya menyungging senyuman sangat lebar.


"Iya, Sayang. Sabar dulu ya!" balas Khansa.


Tepat di pemberhentian cable car, mereka segera turun untuk menikmati pemandangan dari ketinggian 1200 mdpl. Sedang yang lain sudah berpencar mengelilingi wisata tersebut.


Cheryl tak sedikitpun lepas dari gendongan Leon. Sepanjang berkeliling, Leon juga terus menggenggam erat tangan Khansa. Keindahan hamparan bukit, hutan, tebing-tebing batu di sekitarnya begitu memanjakan mata. Tak ketinggalan laut Jepang pun bisa terlihat dari puncak Mt. Seroak Korea Selatan. Pepohonan pun tak kalah indahnya, apalagi saat ini memasuki musim gugur. Warna dedaunan berubah menjadi merah dan kuning.


"Leon, kamu lelah? Sini gantian," ucap Khansa mengulurkan kedua tangan saat melihat Cheryl bersandar di dada bidang Leon dengan mata tertutup setelah beberapa lama berkeliling.


"Tidak, aku sama sekali tidak merasa lelah," elak Leon tersenyum manis.


"Sepertinya, dia merindukan sosok ayah. Dia sampai tidak mau lepas dari kamu, Sayang," gumam Khansa menyentuh puncak kepala Cheryl dan membelainya.


Akhirnya mereka memutuskan pulang karena hari sudah hampir malam. Tidak ada acara lagi malam itu. Karena esok, nenek dan yang lainnya akan kembali ke Indonesia. Usai makan malam, mereka segera beristirahat. Cheryl tidur di antara Leon dan Khansa. Kebahagiaan mereka pun membuncah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu minggu kemudian ....

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah siap semua?" tanya Leon dengan nada serius bersandar di kursi kerjanya.


"Sudah, Tuan. Tinggal menunggu kedatangan Tuan dan Nyonya," sahut Gerry di ujung telepon.


"Baiklah, jemput kami jam empat sore di tempat biasa."


Leon kembali menyimpan ponselnya, ia kembali menatap tiga bawahannya yang menunduk dalam, seperti ada ketidak relaan ketika Leon berpamitan kembali ke negara asalnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Mata elangnya menatap satu persatu orang-orang kepercayaannya.


"Kalian kenapa? Tugasku sudah selesai. Semua sudah berjalan dengan baik. Tinggal menjalankan sesuai prosedur saja. Kalau ada masalah sedikit saja segera kabari saya!" ucap Leon menegakkan duduk.


Ketiganya tersentak, "Baik, Tuan. Kami mengerti," sahut Vincent menunduk dalam. Tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan satunya.


"Miss Hana, kamu temani Vincent berjuang di sini. Kumpulkan para staff utama dan katakan jika semua kendali ada di tangan kamu Vincent. Saya sudah tidak ada waktu lagi. Sedangkan Lily, kamu harus ikut kembali ke Indonesia. Istriku mungkin masih butuh dampingan," tunjuk Leon membagi tugas.


"Baik, Tuan!" sahut mereka serentak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon menemukan pintu balkon terbuka, beberapa tirai melambai di udara karena embusan angin yang sangat kencang. Langkahnya memelan lalu memeluk wanita itu dari belakang. Khansa terkejut lalu menyentuh kedua lengan Leon.


"Mikirin apa, Sayang? Kok sampai nggak dengar aku panggil?" tanyanya menunduk tepat di telinga Khansa.


"Mmm ... aku pasti akan sangat merindukan tempat ini," sahut Khansa menghela napas, tak mengalihkan tatapannya ke depan.


"Kita bisa datang kapan saja jika kau mau. Ayo, pesawat sudah siap," ucapnya.


Khansa mengangguk, mereka segera bergegas menuju bandara. Hana, Lily dan Vincent mengantarkan mereka berdua. Khansa memeluk erat tubuh Hana yang matanya mulai memerah. Hingga tangisnya pun pecah.

__ADS_1


"Jangan sedih, Miss. Sesekali aku akan datang ke sini," ucap Khansa menepuk punggungnya.


"Hati-hati, Nyonya!" balas Hana.


Lily akan menyusul esok hari, karena dia belum ada persiapan sama sekali. Perjalanan udara yang panjang pun tak terasa. Leon dan Khansa mendarat di Palembang tepat pada pukul 16:00 WIB. Ternyata Gerry sudah siap di tempat itu.


"Selamat sore, Tuan dan Nyonya. Apa kabar?" tanya Gerry membungkukkan tubuhnya.


"Kabar baik Asisten Gerry, terima kasih," sahut Khansa menjawab dengan ceria.


Gerry segera membukakan pintu mobil sembari membungkuk hormat. Setelahnya segera duduk di balik kemudi dan menjalankan mobilnya.


Perjalanan yang ditempuh terasa sangat lama. Hingga mobil berhenti di suatu tempat. Khansa mengernyit bingung. Karena sama sekali tidak mengenal tempat tersebut.


"Sayang, aku ada kejutan untukmu. Tapi sebelumnya kamu harus ganti pakaian dulu," ucap Leon menepuk tangannya dua kali.


Lalu muncul dua orang wanita cantik yang tersenyum lembut ke arah keduanya. Mereka langsung memperkenalkan diri sebagai MUA di Kota Palembang.


"Kejutan? Apa nih?" tanya Khansa penasaran kembali menatap sang suami.


"Rahasia! Sana masuk! Kalian berdua, kerjakan tugas dengan baik!" tegas Leon menatap tajam dua MUA itu.


"Baik, Tuan!" ujarnya serempak membungkukkan tubuh. Kemudian mempersilakan Khansa masuk ke sebuah kamar.


Leon mendaratkan tubuhnya di kursi depan ruangan itu. Menyulut sebatang rokok, menyesapnya kuat dan mengembuskannya ke udara.


"Iiiss, dia selalu penuh kejutan dan bikin penasaran," gumam Khansa melenggang diiringi dua MUA tersebut.

__ADS_1


"Nyonya benar-benar beruntung. Suaminya sangat tampan, kaya dan penuh kejutan. Aku juga mau punya suami seperti beliau," celetuk salah satu MUA yang seketika mendapat tatapan tajam dari Khansa.


Bersambung~


__ADS_2