Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 27 : Maaf


__ADS_3

Emily menelan salivanya beberapa kali yang masih tak mampu membasahi tenggorokannya. Wajahnya semakin panik ketika melihat Hansen yang menatapnya dengan tajam.


"Han," panggil Emily.


Hansen mengembuskan napas berat. Lalu melepas cengkeraman tangannya dan memeluk tubuh kecil Emily yang kini tengah bernapas tak beraturan.


"Maaf membuatmu takut. Aku hanya tidak suka ada orang yang merendahkanmu. Sekalipun kamu bukan siapa-siapa. Aku tetap akan memperjuangkanmu," ucap Hansen membelai rambut Emily lalu mencium keningnya.


Hati Emily merasa terenyuh sekaligus berbunga-bunga dengan pengakuan Hansen. Gadis itu menyentuh sebelah pipi Hansen, menggesekkan ibu jarinya perlahan pada permukaan kulit pria itu. Membuat getaran halus pada dada Hansen.


"Terima kasih, Sayang," ujar Emily dengan senyum lebarnya.


Hansen membalas senyuman itu tak kalah lembut. Ia bergerak mengikis jarak di antara keduanya. Wajah mereka hampir berbenturan, napas hangat mereka pun saling bertumbukan dan dapat mereka rasakan seiring debaran jantung yang menggema di dalam sana.


Hansen sedikit memiringkan kepalanya, membuang jarak hingga bibirnya bertemu dengan bibir kecil dan tipis milik Emily, menyatu dalam pagutan lembut. Tangan lebar Hansen bergerak pelan pada kepala Emily.


"Kak!" Tiba-tiba terdengar suara Jennifer diiringi ketukan pintu.


Sontak, Hansen segera bangkit dari tidurnya. Mengatur deru napas yang sudah berantakan. Ia menoleh pada Emily yang juga sama, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Keduanya melempar tawa sembari menyeka bibir masing-masing yang basah.

__ADS_1


"Kak Han!" teriak Jen lagi masih mengetuk pintu. Namun suaranya terdengar lemah. Tidak berteriak seperti biasanya.


"Ya!" sahut Hansen beranjak berdiri, mengayunkan kakinya menuju pintu dan membukanya.


Pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat Jennifer yang tampak berantakan. Kedua matanya masih sembab bahkan isakan kecil sesekali terdengar dari bibir mungilnya.


Mereka terdiam, saling menyelami pandangan itu dalam-dalam. Hansen sendiri tidak bersuara, menunggu sang adik yang mengganggu ketentramannya.


"Kak Han," Lagi-lagi hanya itu yang terucap. Jennifer menggerakkan bola matanya ke sembarang arah. Ia menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga. "Apa ... apa aku masih adik kakak?" tanya gadis itu bersuara lirih dan terbata-bata.


Hansen tak menjawab, membuat Jennifer menundukkan kepala dalam. Matanya kembali memerah. Dadanya terasa sesak mengingat pertengkaran Hansen dan ibunya tadi.


"Tapi, Ibu ...." Jennifer merasa tidak enak atas semua perlakukan ibunya pada Hansen.


"Sssttt! Jangan mikir macem-macem. Urusan ibu bukan urusanmu. Sekolah aja yang bener. Kalau nggak bagus nilaimu jangan kuliah di sini! Malu-maluin nanti!" canda Hansen yang segera mendapat tinju dari lengan kecil Jennifer.


"Aku sering juara tau!" ucapnya.


"Butuh bukti, bukan omong kosong saja!" tambah Hansen meregangkan pelukannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Jennifer membeliak. "Jadi! Jadi aku boleh kuliah di sini, Kak?" pekik Jennifer berbinar.


Hansen mengedikkan kedua bahunya sembari mengerlingkan mata. Ia memutar langkah lalu kembali masuk. Emily membereskan kotak P3K yang sempat berserakan.


Hansen mengulurkan tangannya ke hadapan Emily agar dibalut perban. Sedangkan Jennifer ikut masuk dan menubruk punggung kekar sang kakak, memeluknya dengan erat. "Makasih, Kak!" serunya.


"Istirahat, Jen. Udah dua malam kamu nggak ketemu kasur," celetuk Emily mengintipnya sembari tersenyum kecil melihat keakraban dua kakak beradik itu. Ia membalut luka Hansen dengan sangat rapi.


Jennifer menggeser tubuhnya, hingga kini bisa berhadapan dengan calon kakak iparnya. "Kak Emily, maafin ibu ya," bisiknya dengan nada tak enak.


"Iya, aku baik-baik aja. Kan ada Kak Han," sahut Emily menatap genit pada lelaki itu. Hansen mencebikkan bibir lalu mengusap wajah Emily yang terlampau imut dan menggemaskan itu.


"Ehm!"


Suara deheman di ambang pintu mengalihkan perhatian mereka semua. Serentak mengarahkan pandangannya pada seseorang yang berdiri di sana.


Bersambung~


.

__ADS_1


__ADS_2