Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 103. Kambuh


__ADS_3

Khansa memejamkan kedua kelopak matanya. Menarik napas dalam-dalam, memikirkan semua beban di dada juga otaknya. Lalu menyemburkan semua beban itu bersamaan dengan embusan napasnya. Sedikit mengurangi rasa sesaknya. Tubuhnya yang sedari tadi menegang juga perlahan mulai melemas.


"Emily," ucap Khansa dengan suara bergetar.


"It's okay, Beib. Tumpahin semuanya, nggak perlu pura-pura kuat di depanku." Emily pun berkaca-kaca, ia mengulurkan kedua tangannya untuk mendekap erat sahabatnya itu.


Emily tahu begitu berat beban yang pikul gadis itu sendirian, bahkan sejak bertahun-tahun lamanya. Ia mengerti bagaimana perjuangan Khansa untuk berdiri dengan kedua kakinya sampai detik ini. Jikalau dirinya yang berada di posisi Khansa, sudah bisa dipastikan Emily akan memilih untuk mengakhiri hidupnya saja.


Khansa menangis dalam diam. Emily pun membiarkan bajunya basah karena air mata Khansa. Tangannya mengusap punggung Khansa dengan lembut, memberikan kekuatan pada wanita itu. Tanpa ditanya pun Emily tahu apa yang dirasakan Khansa saat ini. Sudah berjuang mati-matian, lagi-lagi harus dijatuhkan orang terdekatnya.


Khansa pandai menyimpan kesedihannya dari orang-orang. Namun tidak di hadapan Emily. Apalagi setelah mengetahui Leon yang diam-diam berhubungan dengan Yenny.


Cukup lama Khansa menumpahkan kesedihannya. Kini ia menegakkan duduknya, meregangkan pelukannya.


"Udah puas?" tanya Emily merapikan rambut Khansa. Khansa mengangguk, "Senyum dong. Habis ini kita yang membuat mereka menangis, membayar semua air matamu yang keluar," lanjutnya meremas kedua tangan Khansa.


"Yah, target pertamaku adalah Maharani," ucap Khansa tersenyum menyeringai sambil menghapus air matanya.


"Kapan kita mulai bergerak? Lebih cepat lebih baik. Aku sudah nggak sabar," ucap Emily mengepalkan satu tangannya.


"Mungkin besok, kita lihat waktu yang tepat. Dia 'kan sudah sekarat. Kali aja langsung dipanggil malaikat," ujar Khansa dengan tatapan mengerikan.


Emily tertawa, "Sadis! Aku suka. Tapi lebih sadis dia yang udah fitnah ibu kamu dan merebut ayah kamu dengan cara yang licik."


Penyelidikan Emily selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Skandal perselingkuhannya, juga memfitnah Stephani di hadapan Fauzan. Maharani selalu dilindungi oleh orang-orang kuat, berikut beserta tim humasnya yang menekan berita miring tentangnya. Emily sempat menceritakannya sewaktu mereka di Bali.


Khansa mengangkat satu tangannya. "Sstt, Emily. Jangan lanjutkan lagi. Darahku bergejolak ingin segera membunuhnya sekarang," ucapnya.


Tangan Emily menutup bibirnya dengan rapat sembari mengangguk dan terkekeh. "Kita makan malam di luar ya. Aku lapar nih. Mana kulkas masih kosong, soalnya pulang dadakan," ajak Emily menoleh pada Khansa.


"Jam sepuluh nih, udah malem banget. Delivery aja deh," sahut Khansa.


"Oke!" Emily meraih ponselnya dan segera memesan beberapa makanan siap saji. padahal cuma dua orang saja. Namun, ia memesan sangat banyak.


Satu jam kemudian, pesanan mereka berdatangan. Kedua gadis itu bersemangat menjemput makanan mereka. Mata Khansa tanpa sengaja melihat mobil Leon yang masih terparkir di bawah sana.


Khansa mendekati pagar pembatas, ia memperjelas penglihatannya untuk memastikan. "Kenapa dia masih di sini?" gumamnya memicingkan mata.

__ADS_1


Ia menangkap sesuatu yang aneh dari balik kaca depan yang tembus pandang itu. Matanya membelalak, tangannya menutup mulut yang sedikit terbuka. Dadanya berdegub dengan kencang.


Khansa berlari masuk ke apartemen dan meletakkan bungkusan makanan di meja. Lalu berbalik hendak keluar.


"Sasa! Kamu mau ke mana?" teriak Emily.


"Leon!" balas Khansa berteriak pula sambil berlari.


Emily tidak mengerti, namun karena penasaran yang membuncah Emily ikut berlari keluar mengikuti Khansa. Khansa nampak panik, jemarinya menekan-nekan tombol lift agar segera terbuka. Kedua kakinya terus bergerak tak tenang.


Hingga pintu lift terbuka dan ia segera masuk untuk turun ke lantai bawah. Emily ikut panik dibuatnya. Namun tidak berani bertanya.


Khansa berlari keluar saat lift sudah mendarat di loby. Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang dilaluinya. Khansa terus berlari dengan kencang hingga mencapai mobil Leon.


Beberapa petugas keamanan berseragam hitam sudah berjajar di sebelah mobil Leon, sebagian ada yang berusaha mengetuk jendela mobil Leon.


"Pak, minggir. Dia suami saya. Tolong semuanya menjauh, demi keselamatan Anda semua," ucap Khansa dengan napas terengah-engah.


Mereka semua saling berpandangan, Emily menyentuh jemari Khansa yang dingin. Jantung Khansa seolah ingin meloncat keluar dari tempatnya. Ia tidak pernah mengira Leon akan kambuh. Padahal selama ini, Leon berhasil menguasai dirinya dan sudah lama penyakitnya tidak kambuh.


"Emily tolong, kamu juga menjauh ya. Pak, tolong, saya akan mengatasinya." Khansa menangkupkan kedua tangan di dada sembari menatap mereka satu per satu.


"Leon," panggil Khansa dengan suara lembutnya sembari mengetuk.


Tubuhnya gemetar melihat wajah Leon yang sudah dipenuhi luka memar juga, bahkan keningnya berdarah. Leon membenturkan kepalanya pada setir mobil berulang kali.


"Leon, Leon buka pintunya," ulang Khansa mengangguk saat bersitatap dengan Leon. Matanya menyiratkan permohonan.


"Tenang, sekarang buka pintunya ya," lanjut Khansa membujuknya. Sorot mata tajam Leon mulai meredup.


Perlahan tangan Leon terulur untuk membuka pintu mobil. Khansa segera mengambur memeluk Leon. Mengusap kepala juga punggung lebar Leon dengan lembut dan pelan. Khansa mengerutkan kening saat merasakan sesuatu di belakang kepala Leon.


Leon memejamkan matanya, menahan gejala penyakitnya yang sudah lama tidak muncul. Sentuhan-sentuhan Khansa, suara Khansa membuatnya tenang seketika. Meski deru napasnya memburu.


Emily menganga melihat wajah Leon yang babak belur. Seperti melihat jiwa yang lain. Emily juga takjub dengan Khansa yang bisa menenangkan pria itu. Khansa memang wanita berhati lembut. Namun ia bisa berubah menjadi serigala saat ada yang mengusiknya.


"Sa," ucap Emily dari kejauhan setelah beberapa saat. "Gimana?" tanyanya.

__ADS_1


"Udah nggak apa-apa," balas Khansa menoleh pada Emily masih memeluk Leon.


"Bawa ke atas aja. Nggak tega lihatnya," ucap Emily, Khansa mengangguk. Ia lega karena masih belum terlambat. Tidak tahu apa jadinya jika Khansa tidak keluar malam itu. Ini di luar dugaan.


Leon masih bersandar nyaman di dada Khansa. Gadis itu menangkup kedua pipi Leon, mendongakkan wajah tampan itu, menatapnya dengan lembut. "Aku obatin dulu lukanya, ikut ke atas ya," gumam Khansa. Leon hanya mengangguk, seperti anak kecil yang menurut kata ibunya.


Khansa meminta bantuan dua petugas keamanan untuk memapah Leon. Tubuhnya yang mungil kesulitan jika harus membawanya bersama Emily yang sama-sama bertubuh kurus.


"Terima kasih ya, Pak. Maaf merepotkan," ucap Khansa setelah Leon direbahkan di sofa.


"Sama-sama. Tidak perlu sungkan, Nona. Ini tugas kami, permisi," balas pria kekar itu lalu keluar apartemen Emily.


"Emily kamu ada kotak P3K?" tanya Khansa menatap Emily yang bergeming.


Gadis itu mengangguk dengan cepat. Lalu bergegas mencari kotak pertolongan pertama itu. Khansa duduk di lantai tepat di samping kepala Leon.


Emily menyerahkannya, turut duduk di samping Khansa. Memperhatikan sahabatnya itu mulai mengolesi salep dan mengobati luka-luka Leon. Saat melihat sebelah alis Leon, lagi-lagi Khansa tercengang karena terdapat bekas luka cukup panjang hingga telinganya. Namun selama ini nampak samar, karena ia tidak pernah memperhatikan Leon dari dekat. Biasanya Khansa memalingkan muka dengan cepat saat mereka saling berhadapan.


"Sa, apa yang terjadi dengan Leon?" tanya Emily.


Bersambung~



Mas Le: "Thor! Uyy Thor!!"


😒: Apa sih berisik banget!


Mas Le: Makasih ya, Thor...


😒: Hilih, baek baekin kalo ada maunya doang. jangan Seneng dulu ya! 😏 tunggu tanggal mainnya.



🥰 : Eh ada pawangnya.... titip ya Mbak Sasa. Aku ikhlas diapa-apain.


....

__ADS_1


🥰 : Maksudnya Mas Le, Mbak 🤞


__ADS_2