
"Enggak mau!" tolak Leon dengan tegas.
"Leon, ayolah, Sayang! Ini terakhir kalinya aku tidur sama Emily. Abis ini seluruh waktuku buat kamu," rengek Khansa berkaca-kaca menarik-narik kemeja Leon.
Siapa yang tega melihatnya? Bahkan kini air mata itu berjatuhan dengan begitu derasnya. Leon mengembuskan napas berat, menarik kepala Khansa ke dalam dadanya. "Iya, iya. Sudah, jangan nangis," jawabnya pasrah.
"Jadi?" Khansa memastikan.
"Silakan Nyonya Sebastian. Aku ke rumah Hansen saja yang lebih dekat," balas Leon tak bersemangat.
"Terima kasih suamiku!" Khansa memeluk pria itu dengan erat.
Khansa segera turun setelah mendaratkan ciuman sekilas di bibir suaminya. Ia melambaikan tangan, sembari berjalan mundur. Kebetulan di belakangnya, masih luas belum tersentuh dekorasi apa pun.
Leon hanya menatapnya lekat tanpa ekspresi. Bagaimana pun, kebahagiaan wanitanya selalu yang utama.
Setelah Khansa menghilang dari pandangannya, Leon menjalankan mobilnya menuju kediaman Hansen. Di sana pasti sudah ramai sanak saudara yang berkumpul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Loh, Kak Leon? Sendirian?" tanya Simon menyambut kedatangannya.
Hansen mengernyitkan keningnya, terkejut dengan kedatangan saudaranya yang nampak kusut itu.
"Hmmm! Han, kosongkan kamar. Aku tidur sini malam ini!" gumam Leon berjalan gontai menerobos masuk.
"Kakak bertengkar dengan kakak ipar?" Hansen menyentuh lengan Leon hingga pria itu kembali menoleh.
Leon menatapnya sinis, menghentakkan tangannya. "Tidak! Hanya saja, malam ini dia minta pisah ranjang!" sahut Leon melanjutkan jalannya.
Sontak, sepasang mata Hansen dan Simon melebar seketika. Mereka saling melempar pandangan dengan raut terkejut. Kemudian buru-buru berlari menyusul Leon yang sudah sampai di lantai atas. Tepatnya kamar Hansen.
"Kak Leon!" pekik Simon dan Hansen bersamaan.
Leon enggan menjawab, ia tidur dengan posisi tengkurap, masih bersepatu dengan bantal menutup kepalanya.
Dua pria bersaudara itu tampak khawatir, mereka segera menghampiri Leon. Mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. "Kak! Apa maksudnya? Kakak bertengkar dengan kakak ipar?" Mereka bahkan bertanya serentak.
__ADS_1
"Enggak juga! Sasa tidur di rumah Emily. Aku di sini. Kan pisah ranjang namanya?" elak Leon malas membuka bantalnya. Suaranya sedikit teredam namun masih terdengar di telinga Hansen dan Simon. Keduanya tampak menghela napas lega sembari mengurut dada.
"Yaudah, kalau gitu giliran kita tidur bertiga. Nggak akan mungkin bisa lagi 'kan setelah ini?" celetuk Simon berpendapat.
Seketika Leon bergerak, membalikkan tubuhnya lalu memimpuk bantal tepat ke wajah Simon yang secara refleks ditangkap. "Nggak! Sana keluar kalian semua!" serunya menguasai ranjang Hansen.
Calon pengantin pun hanya bisa mendengkus melihat kelakuan calon ayah itu. "Yaudah, Kak. Kalau gitu kami tinggal ya. Kalau butuh apa-apa kami siap. Panggil saja, atau telepon juga boleh. Selamat istirahat Kak Leon!" ucap Hansen merengkuh bahu Simon dan mengajaknya keluar.
"Ayo!" ajak Hansen.
Simon pun menurut. Mereka segera keluar kamar. Kebetulan semua persiapan sudah selesai, mereka pun beranjak ke kamar tamu untuk beristirahat.
"Baru nemu nih, pemilik rumah diusir dari kamarnya sendiri. Hahaha!" ejek Simon tertawa terbahak-bahak.
"Udah deh, jangan berisik! Aku lagi cari cara biar bisa merem nih. Dari tadi deg-degan banget!" Hansen merebahkan tubuhnya, memejamkan mata sembari menumpukan lengan di wajahnya.
Bukannya pergi, Simon semakin menggodanya. Ia memeluk saudaranya itu, "Ciyee yang besok lepas lajang!" godanya.
"Iih! Apasih! Sana cari kamar lain kalau rese! Aku butuh ketenangan!" sembur Hansen melotot tajam, menepis tangan dan kaki Simon agar menjauh darinya.
"Enggak! Mau nemenin malam terakhir jadi jomblo!" kekeuh Simon enggan berpindah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu suasana berbeda di kamar Emily. Khansa dan Emily melakukan banyak hal. Seperti saat ini, mereka mendapat massage gratis dari pihak WO. Selain itu, mereka juga dipakaikan lulur dan masker wajah spesial, agar besok keduanya tampak fresh.
Dua perempuan itu sangat menikmatinya, sembari mengenang masa-masa kecil mereka. Tertawa saat mengingat kejadian-kejadian lucu, menangis kala mengingat kejadian yang menyakitkan.
Selesai dengan semua proses itu, mereka mengenakan gaun tidur yang senada. Dua perempuan itu tengah asyik bermain monopoli, yang kalah wajahnya harus dicoreng dengan lipstik. Tawa pun memekik dari keduanya.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Sudah hampir lewat tengah malam, mereka masih asyik menikmati waktu berdua. Yang tidak akan terulang lagi esok hari. Emily dan Khansa saling membersihkan wajah teman sekaligus sahabatnya itu.
"Semoga kamu bahagia Emily!" ucap Khansa setelah membersihkan wajah Emily.
Emily membuka matanya. Keduanya saling bertatapan sendu. Persahabatan selama puluhan tahun yang terjalin, seolah membentuk ikatan sendiri melebihi persaudaraan.
"Kamu juga!" Emily menangis lalu memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, karena kamu tidak pernah pergi meninggalkan aku. Bahkan disaat aku dibuang oleh semua orang. Kamu juga selalu ada buat aku. Tanpamu mungkin aku tidak bisa melalui semua ini dengan baik. Aku sayang banget sama kamu Emily!" Khansa pun mulai sesenggukan dan mengeratkan pelukannya.
Emily tak dapat berucap apa-apa, karena tenggorokannya tercekat. Ia hanya mengangguk beberapa kali sembari menguatkan pelukannya. Isak tangis saling bersahutan di kamar pengantin itu.
Beberapa waktu berlalu, keduanya sudah lebih tenang. Emily meremas jemari Khansa. "Sampai kapanpun aku akan selalu ada untukmu. Aku juga sayang banget sama kamu, Sa. Apalagi besok status kita meningkat jadi saudara!" ucap Emily tertawa.
"Udahan nangisnya, besok bengkak matanya. Aduh, calon pengantin nggak boleh sedih. Gimana kalau kita nonton film action favorit kita. Aku yakin, ini adalah tontonan kita yang terakhir," ucap Khansa menyeka air mata Emily.
"Ide bagus!" Emily lalu beranjak mengambil laptopnya, membawanya ke atas ranjang.
Setelahnya ia segera keluar kamar, tak lama kemudian kembali dengan potongan-potongan buah, biskuit dan minuman di atas nampan.
"Karena kamu hamil, camilannya kita ganti ini ya! Biar twins sehat!" cetus Emily meletakkannya di hadapan Khansa.
"Aunty pengertian banget. Kami emang lagi lapar," celetuk Khansa memegang perutnya yang sedikit membuncit. Ia pun segera memakannya sedikit demi sedikit.
Emily membuka laptopnya, memutar film-film favorit mereka sewaktu masih single dulu. Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Khansa pun meminta untuk menyudahinya. Mereka harus beristirahat.
Emily membereskannya, Khansa merebahkan tubuhnya. Namun pikirannya tiba-tiba melayang pada sang suami. Matanya enggan untuk terpejam.
"Kenapa?" tanya Emily saat mulai bergabung di bawah selimut yang sama.
"Kok tiba-tiba perasaanku nggak enak ya?" gumam Khansa meremas dadanya yang berdetak kuat.
"Jangan nakutin dong. Tidur aja yuk. Udah mau pagi nih," ucap Emily memiringkan tubuhnya.
"Aku takut Leon kenapa-napa. Bentar ya," ucap Khansa beranjak bangun dan mengambil ponselnya.
Ia mencoba menelepon pria itu. Menunggu dengan sabar sembari mondar-mandir di kamar Emily, mendengar nada sambung yang tak kunjung terjawab.
"Suamimu di mana, Sa?" tanya Emily ikut terbangun.
"Di rumah Hansen. Tadinya aku suruh nginep sini, tapi nggak mau. Duh kok nggak diangkat ya!" Khansa tampak khawatir.
"Tidur kali!" seloroh Emily.
"Tapi perasaanku nggak enak." sanggah Khansa menolak tenang.
__ADS_1
"Aku coba telepon Hansen!" sahut Emily yang juga bergegas meraih ponselnya.
Bersambung~