Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 97. Permintaan Kedua


__ADS_3

"Baiklah! Ayah setuju. Ayah tidak akan menceraikan ibumu," jawab Fauzan mantap dengan senyuman yang lebar.


Yenny mengangkat satu sudut bibirnya. "Oke, tunggu saja. Nggak sampai 24 jam Yenny akan mendapatkannya."


"Ayah benar-benar bangga padamu, Yenny." Fauzan terdiam sejenak. "Kenapa kamu bisa ada di sini, Nak?" tanyanya kemudian.


Yenny tidak menjawab, ia memutar tubuhnya lalu masuk ke kamar inap Maharani. Rasa penasaran yang membuncah membuat Fauzan bergegas mengekorinya.


Fauzan sedikit tersentak melihat pemandangan di depannya. Maharani tergolek lemas tak berdaya di atas ranjang. Bahkan luka-luka di tangan dan kakinya terpapar jelas karena tidak dibalut dengan perban.


"Gara-gara terlambat penanganan, luka ibu mengalami infeksi. Benda kotor yang melukainya adalah penyebab utamanya. Dan sekarang virus dan bakteri itu telah menyebar pada organ vital ibu. Jika saja aku tidak datang tepat waktu dan membawanya ke sini, ibu tidak akan tertolong lagi," jelas Yenny menatap ibunya dengan sendu.


Fauzan ternganga mendengarnya, ia tidak mengira jika luka Maharani akan separah itu. Matanya mengerjap perlahan, tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Meski ia benci wanita itu, namun Fauzan juga tidak bermaksud untuk membiarkannya mati dalam keadaan seperti itu.


"Maaf, ayah tidak bermaksud ...."


"Sudahlah, Yenny tahu. Ayah seperti itu karena marah pada ibu. Maafkan ibu, Yah. Yang terpenting, Ayah harus pegang janji ayah untuk tidak menceraikan ibu!" Yenny kembali menegaskan. Fauzan mengangguk.


"Sepertinya Ayah harus kembali ke kantor. Ayah nggak bisa tenang sebelum kondisi perusahaan stabil kembali," ucap Fauzan menatap jam di lengannya.


Yenny mengangguk tanpa suara. Jihan yang sedari tadi mendengar percakapan ayah dan kakaknya hanya melongo. Ia terheran karena begitu mudahnya sang kakak meluluhkan ayahnya. Padahal, saat ia membujuk untuk memanggil dokter justru dimarahi habis-habisan.


"Kak?" panggil Jihan usai tersadar dari keterkejutannya.


Yenny menoleh sekilas, tangannya meraih ponselnya dan kedua jarinya mengotak-atik benda itu.


"Kok kakak bisa bujuk ayah semudah itu?" tanya Jihan antusias.


Pandangan Yenny beralih pada Jihan, lalu menempelkan satu telunjuknya di bibir menyuruhnya untuk diam. Sedangkan tangan lainnya menempelkan ponsel di telinga. Jihan segera merapatkan bibirnya sesuai perintah sang kakak. Namun menajamkan telinga untuk menguping.


Cukup lama Yenny mendengar nada sambung di yang terdengar di telinganya. Sampai, sebuah suara bariton yang sangat dia tunggu-tunggu terdengar di ujung telepon.


"Halo!" Suara itu seketika membuat Yenny berdebar-debar. Sudah sejak lama, Yenny menyukai pria itu.


"Halo, apa kabar Tuan Leon? Ini aku, Yenny Isvara," sahut Yenny dengan nada manja sembari memainkan rambutnya.


Di seberang sana, Leon yang tengah berkutat dengan pekerjaannya berhenti sejenak. Ia menyandarkan punggung kokohnya pada sandaran kursi kebesarannya.


"Hemm ... ya, ada apa?" tanya Leon dengan nada sopan.


"Apa kamu masih ingat, beberapa tahun lalu kamu menjanjikan tiga hal padaku," ucap Yenny.

__ADS_1


"Ya, katakanlah," sahut Leon dengan cepat.


"Aku mau kamu memberikan investasi dana sebesar 10 Milyar pada Perusahaan Isvara," pinta Yenny.


"Oke! Itu saja?" Tanpa berpikir panjang, Leon mengiyakannya.


"Ya, itu permintaan keduaku saat ini."


"Baiklah!" Leon lalu memutuskan sambungan telepon itu.


Yenny tersenyum puas, ia lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Jihan segera menghampirinya. Cukup tercengang, bagaimana bisa begitu mudahnya Yenny mendapatkan uang yang begitu banyak.


Sementara itu, Leon menatap asisten Gerry yang duduk di hadapannya. Sedari tadi, dia memang berada di ruangan Leon untuk membahas pekerjaan yang tertunda.


"Asisten Gerry!" panggil Leon membuat pria itu segera mendongak.


"Investasikan dana sebesar 10 milyar pada Perusahaan Isvara!" perintah Leon meletakkan ponsel di meja.


Gerry mendelik, ia mengerjap beberapa kali dengan mulut terbuka. "Anda serius?" tanyanya memastikan.


Leon mengangguk, "Ya!" sahutnya singkat.


"Tuan, Anda yakin? Anda ingin berperang dengan nyonya? Anda tahu sendiri bagaimana hubungan nyonya dengan keluarga Isvara!" teriak Gerry secara refleks, melepaskan kacamatanya. Karena ia tahu betul, bagaimana kemarahan Khansa bisa memengaruhi Leon.


"Hah?!" Gerry benar-benar tidak habis pikir dengan bossnya itu.


Ia akui, Yenny Isvara memang cantik dan berbakat. Tapi itu dulu, sebelum Khansa kembali dari desa. Menurut Gerry, saat ini wanita tercantik di matanya adalah Khansa.


"Kenapa? Cepat lakukan sekarang!" perintah Leon lagi.


Namun Gerry masih bergeming mencoba mencerna semuanya. Ia benar-benar tidak habis pikir Leon mau melakukannya demi Yenny. "Tuan, mohon izin," Gerry menundukkan kepala. "Kalau terjadi sesuatu antara Anda dengan nyonya, tolong jangan seret saya," pinta asisten Gerry.


Rasanya masih trauma saat Leon memarahinya habis-habisan gara-gara pasangan itu sedang bertengkar. Ia tidak mau terkena imbasnya lagi. Leon hanya melempar tatapan tajam. Ia memainkan ujung bolpoin dengan satu tangannya.


"Ya!" sahut Leon singkat.


Gerry pun segera mengurus administrasi mengenai investasi besar-besaran itu. Meski dalam hatinya masih meragu. Pikirannya melayang pada Khansa, jika saja wanita itu mengetahui hal ini.


'Enggak ikutan ya, Nyonya. Ini semua suami Anda sendiri,' gumam Gerry dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Lima tahun yang lalu~


Leon sudah menjadi pengusaha sukses sejak ia berusia 22 tahun. Kecerdasannya, mampu membuatnya lulus akademi melalui jalur akselerasi. Kehebatannya mengelola perusahaan menjadi incaran para pesaing bisnis yang dikalahkannya.


Suatu ketika ada yang mensabotase mobilnya, Leon mengalami kecelakaan parah. Mobilnya menghantam dinding pembatas jembatan dan terjebur di sungai yang alirannya cukup deras.


Tubuhnya hanyut terbawa arus hingga tersangkut di bebatuan yang cukup besar. Hingga dua hari setelahnya, seorang gadis remaja menemukannya dan dengan telaten mengobati luka-lukanya.


Di bawah alam sadarnya, Leon bisa merasakan setiap sentuhan lembut gadis yang mengobatinya itu. Hangat, dan penuh kasih yang tulus.


Ketika ia tersadar, keadaannya belum pulih sempurna. Pandangannya masih buram, lukanya cukup parah. Namun ia berhasil melewati masa kritisnya meski tanpa pengobatan medis.


"Aku di mana?" gumam Leon bertanya-tanya.


Pandangannya mengeliling, meski kepalanya serasa berputar-putar. Leon terbatuk karena tenggorokannya yang kering dan terasa gatal. Tiba-tiba seorang gadis berlari ke arahnya menanyakan keadaannya dan memberikan segelas minuman.


"Minumlah, Kak. Ini ramuan herbal untuk membantu memulihkan tenagamu," ucap perempuan yang tak lain adalah Khansa.


Masih di ambang kesadaran, Leon pun dibantu duduk dan meminumkannya. Meski sempat hampir memuntahkannya karena begitu pahit di lidah.


Leon merebahkan kembali tubuhnya yang berputar-putar. Ia bertanya kronologi kejadian bagaimana bisa Leon berada di tempat itu. Khansa pun menjelaskan bagaimana ia menyelamatkan Leon beberapa hari yang lalu.


Keadaan Leon berangsur pulih, ia kehilangan identitas dan juga alat komunikasinya. Perlahan Leon teringat dengan keluarganya. Khansa meminta bantuan tetangga untuk meminjam ponsel.


Hanya nomor asisten Gerry yang dihapal oleh Leon. Dengan cepat Leon memerintahkan asistennya itu untuk menjemputnya. Begitu mendengar bosnya selamat, Gerry sangat terkejut sekaligus bahagia. Ia segera menjemput Leon di desa tempat Khansa tinggal. Butuh waktu berjam-jam untuk dia sampai.


"Aku akan mencarimu lagi. Ambillah ini. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku," ucap Leon menyerahkan sebuah batu giok hijau yang melekat di kalungnya. Satu-satunya benda yang tersisa di tubuhnya.


"Terima kasih, Kak. Tidak perlu sungkan. Aku sudah lama belajar ilmu pengobatan. Dan rasanya senang sekali bisa menolong Kakak," jawab Khansa menerimanya. Leon adalah pasien pertama Khansa.


Gerry telah tiba di tempat tersebut. Ia segera memapah Leon yang masih ada beberapa luka serius yang harus ditangani oleh medis. Terutama di bagian kepalanya. Mobil SUV yang membawa Leon perlahan menghilang dari pandangan Khansa.


Leon mengira, gadis penyelamatnya adalah Yenny Isvara.


Bersambung~


Perlahan akhirnya terbukaa...


Loh? Kok bisa Yenny? Kek mana tuh? Sabaarr... neext part yaa 😄😄😄


jejak dan likenya jan lupaa... maap belum sempet bales...

__ADS_1


lopeee sekebon cabee 🥰🥰😙🌶


 


__ADS_2