
Sebuah tembakan pertama kali dilesatkan, suaranya menggelegar memekakkan telinga. Leon menghentikan langkah sejenak, matanya memicing saat menangkap Gerry berdiri tak jauh darinya, tengah membidik sasaran. Leon tahu, asistennya itu tidak akan pernah menggunakan senjata jika tidak benar-benar dalam kondisi terdesak.
Belum sempat Hendra menarik pelatuknya, Gerry dengan sigap mendahuluinya saat melihat pria itu membidik tuan nya. Raut wajah Gerry sama bengisnya dengan Leon.
Badan tegap Leon memutar, ia menemukan satu tangan Hendra berlumuran darah. Bahkan kemungkinan peluru tersebut menembus lengannya. Leon kembali menghampiri Hendra, Khansa masih tenang dalam dekapannya. Ia sama sekali tidak merasa keberatan, tubuh Khansa terlalu ringan baginya.
"Aaaarrghhh!"
Ujung kaki Leon sengaja menginjak tangan Hendra hingga memekik kesakitan. Darah segar semakin mengucur dengan derasnya. Hendra hampir kehabisan napas. Keringat dingin mengalir deras di wajahnya. Mata elang Leon sama sekali tidak ada pancaran iba.
"Kamu lupa? Dulu sudah pernah aku peringatkan agar tidak menyentuh Khansa, karena aku akan mematahkan lenganmu. Tapi kamu mengabaikannya. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Sekarang nikmatilah!" tegas Leon bersuara dingin lalu berbalik menuju rumah.
Rasanya Hendra mau mati saat itu juga. Beberapa anak buah yang tersisa hendak menolongnya. Namun polisi sudah keburu datang, membuat mereka berhamburan keluar melarikan diri.
Semua pelayan berlarian ke depan saat mendengar suara tembakan. Mereka membelalak kaget ketika melihat pemandangan di hadapannya. Banyak sekali orang tergeletak tak berdaya di halaman luas rumah tersebut.
"Panggilkan dokter kandungan! Pastikan perempuan!" seru Leon dengan nada dingin saat melalui para pelayan tersebut.
"Hah? Ba ... baik, Tuan!" sahutnya tergagap. Buru-buru mereka membubarkan diri dan salah satunya menghubungi dokter spesialis sesuai yang diminta Leon.
Lelaki itu meniti tangga satu per satu, Khansa masih bersandar nyaman di dada bidangnya. Raut wajahnya masih menyeramkan. Rahangnya mengeras dengan kening berkedut kasar.
Perlahan Leon merebahkan wanita kesayangannya itu di atas ranjang. Manik elangnya menatap lekat wajah pucat dan mata yang masih tertutup rapat itu. Tangannya terulur membelai puncak kepala Khansa.
Sedang tangan satunya dipaksa menjulur pada perut datar Khansa. Meski awalnya gemetar dengan irama detak jantung yang bergelombang, ia berhasil meletakkan telapak tangan lebarnya di sana.
Matanya terpejam lalu menarik napas berat. Ada sengatan aneh yang menelusup hatinya. Getaran-getaran halus terasa menembus dadanya, saat tangan itu mampu bergerak lembut.
"Permisi, Tuan! Dokter sudah datang!" seru seorang pelayan setelah mengetuk pintu.
Leon membuka mata, menoleh sekilas dengan tatapan tajam. Dilihatnya perempuan cantik mengenakan seragam kedokteran sedang mengangguk saat mata mereka beradu. Senyum cantik pun terurai di bibir merahnya.
"Cepat periksa istri saya!" perintah Leon dingin tanpa membalas senyuman itu. Ia berdiri tak jauh dari ranjang Khansa.
"Baik, Tuan." Dokter itu segera mengeluarkan alat-alatnya dan memeriksa Khansa.
Serangkaian pemeriksaan dilakukan dengan hati-hati. Apalagi saat melihat aura dingin yang menguar dari wajah Leon. Dokter bergerak cekatan, mulai dari tensi, pupil mata, denyut nadi dan detak jantung. Tanpa berani mengeluarkan suara. Lalu beralih memeriksa kandungan Khansa.
"Dia disuntik sesuatu! Apakah itu berbahaya?" Leon akhirnya bersuara meski masih dengan nada datar sambil melipat kedua lengannya.
__ADS_1
"Sepertinya ini hanya obat tidur, Tuan. Tapi ...."
"Tapi apa?!" sentak Leon memotong ucapan dokter yang menggantung.
"Dosis yang diberikan sangat tinggi, karenanya Nyonya masih belum bisa membuka mata. Sejauh ini keadaannya sangat baik. Janin yang ada di kandungannya juga dalam keadaan baik. Beliau memiliki antibodi yang bagus," jelas sang dokter setelah selesai dengan serangkaian pemeriksaan. Suaranya sedikit bergetar karena teriakan Leon. Tapi ia berusaha meredam kegugupannya.
Leon menatapnya dengan tajam. Dokter itu merasa tidak nyaman juga ada sedikit ketakutan. Ia pun beralih membereskan barang-barangnya.
"Anda yakin?" tanya Leon memastikan.
Dokter tersebut mengangguk mantap. Ia kembali menegakkan tubuhnya memberanikan diri menghadap pria di sebelahnya. "Iya, Tuan. Saya sangat yakin. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika Anda ragu bisa dibawa ke rumah sakit sekarang. Kekebalan tubuh Nyonya sangat baik," paparnya.
Leon mengangkat satu tangannya ke atas lalu mengibaskannya. Dokter pun segera pamit undur diri. Gerry sudah berjaga di depan kamar setelah membereskan semua kekacauan di luar. Polisi segera meringkus Hendra dengan pasal berlapis. Gerry tidak dinyatakan bersalah, karena ia menembak untuk melindungi diri. Aparat sudah mengenal pria itu dengan baik.
Leon melangkah keluar, Gerry langsung membungkuk hormat. "Tuan, kami dapat kabar dari Nyonya Maharani," lapor sang asisten.
"Nanti saja. Kembalilah ke kantor. Saya mau menemani Khansa," balas Leon dengan tatapan datar.
"Baik, Tuan," sahutnya patuh.
Sepeninggalnya Gerry, Leon kembali masuk dan menutup pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, menyimpan oksigen sebanyak-banyaknya. Matanya terus tertuju pada wanita cantik yang terbaring di atas ranjang.
Leon mengembuskan napas kasar, lalu merebahkan diri di sebelah Khansa. Merapatkan tubuhnya dan memeluknya erat. Ada setitik penyesalan yang mulai menyeruak.
"Sayang, maaf!" bisik Leon di telinga Khansa.
Lengan kekarnya melingkar erat di perut Khansa. Kepalanya bersandar di ceruk leher wanita itu. Menghirup dalam-dalam aroma yang selalu ia rindukan.
"Maaf!" Kata itu terucap berulang-ulang sampai rasa kantuk pun mulai menderanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari semakin merangkak sore, Khansa mengerjapkan matanya yang masih terasa berat untuk dibuka. Ia merasa ada beban menindih tubuhnya.
Dan saat membuka mata sepenuhnya. Ia tidak percaya Leon tengah memeluknya dengan begitu erat. Tangannya menjulur menyentuh pipi Leon untuk memastikan.
"Ini, bukan mimpi?!" gumamnya pelan.
Hatinya seperti dihujani ribuan bunga. Bibirnya mengembangkan senyum yang begitu lebar. Jantungnya seolah melompat-lompat di dalam sana. Ingin berteriak meluapkan kebahagiaan.
__ADS_1
"Leon!" panggil Khansa pelan menyentuh pipinya.
Pria itu langsung terbangun saat suara lembut menelusup di pendengarannya. Pandangannya menengadah hingga saling bertaut dengan manik sayu Khansa. Begitu lama dan dalam, keduanya menyelami tatapan itu.
"Leon kamu berat," rintih Khansa yang segera membuat Leon terjingkat.
"Sa! Kamu bangun!" seru Leon terhenyak lalu menyingkir dari tubuh Khansa. Namun tangannya segera menangkup pipi wanita itu, menyatukan kening keduanya. "Maaf!" lanjutnya dengan suara berat.
Khansa menautkan kedua alisnya, "Kamu baik-baik saja?" Bola matanya bergerak menatap manik elang Leon bergantian. "Kamu enggak kesakitan lagi?" sambungnya antusias.
Leon menarik kepala Khansa, menempelkan pada dadanya yang berdegub hebat. Berkali-kali ia menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. "Masih, tapi aku berusaha melawannya. Demi kamu, juga ...." Air matanya keluar tanpa permisi. Kalimatnya sempat terjeda sebentar. "Demi anak kita. Ya, anak kita," lanjutnya dengan suara bergetar.
Khansa mendongak, matanya berkaca-kaca melihat kesungguhan Leon. "Kamu pasti bisa, Sayang. Kamu akan menjadi ayah yang baik juga hebat. Dan kelak dia akan berteriak bangga memiliki ayah sepertimu," ucap Khansa memberi semangat.
"Jangan jauh-jauh dariku. Aku sungguh tersiksa beberapa hari ini," keluh Leon menelusupkan wajahnya di dada Khansa.
Perempuan itu mendelik, ia menepuk bahu Leon. "Hei, Tuan Muda. Yang menjauh 'kan Anda sendiri kenapa nyalahin saya?" sanggah Khansa sedikit kesal.
Leon mensejajarkan wajahnya dengan Khansa, "Iya, Nyonya. Maaf, saya salah. Siap menerima hukuman," ujarnya penuh penyesalan.
Jemarinya berangsur meraih cadar Khansa, membukanya dengan perlahan hingga sebuah pahatan sempurna mahakarya Tuhan kini terpampang di matanya. Paras cantik yang selalu membuatnya berdebar dan menguras pikiran sepanjang waktu. Senyuman yang begitu lembut terukir di bibir tipis Khansa.
Tak kuasa Leon membiarkannya begitu saja. Ia segera menyambar bibir merah Khansa, mereguk manisnya layaknya madu, menyesapnya penuh kerinduan yang terpendam selama beberapa hari.
Derap jantung keduanya bermarathon, ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Khansa pun membalasnya dengan menggebu, ia juga merasakan kerinduan yang teramat dalam.
Leon melepasnya ketika keduanya sama-sama kehabisan napas. Mereka berlomba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kini bibirnya beralih menyusuri leher seputih susu milik Khansa. Kelembutan dan aroma wangi yang terendus semakin mendesak bagian bawah Leon.
Tubuh Khansa mengejang, menggigit bibir bawahnya agar suaranya tertahan. Namun sentuhan dan sesapan bibir Leon membuatnya terbuai dan tak kuasa menahan desahannya.
Suara lembut Khansa semakin membuat Leon bersemangat dan melonjakkan hasrat yang terpendam. Jemarinya menurunkan resliting gaun Khansa, menyusuri setiap jengkal kulit halus istrinya. Napasnya berembus berat. Matanya sayu dan berkabut.
"Bolehkah?" Leon meminta izin. Suaranya teramat berat, menahan hasrat yang sudah membumbung tinggi.
Bersambung~
😏 Suudzon aja teros!
__ADS_1