Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 30 : Mundur Teratur


__ADS_3

Semua terdiam, hanya saling melempar pandangan saja. Mata Alexa tak lepas dari netra tajam Hansen. Melihat itu, Emily merengkuh lengan Hansen dan merapatkan tubuhnya. Menegaskan bahwa pria itu miliknya.


"Aku ... minta maaf. Tidak seharusnya memaksakan kehendak yang tidak mungkin bisa kugapai." Alexa mulai bersuara, meski masih terdengar bergetar. "Terutama, padamu, Emily. Maaf karena aku menyinggung dan menyakitimu. Semoga, kalian bahagia selamanya. Aku sekalian ingin pamit, karena masa cutiku sudah habis," ucapnya menunduk dan menyeka air matanya.


Gadis itu membungkuk lalu buru-buru berbalik. Ia tidak bisa mengeluarkan banyak kata karena takut semakin tidak bisa membendung kesedihannya.


"Tunggu!" seru Emily melepas lilitan tangannya.


Alexa berhenti, namun tidak membalikkan badannya. Emily berjalan mengikis jarak di antara mereka. Lalu meraih salah satu tangan Alexa dan menggenggamnya.


"Jika kamu merasa tidak mendapatkan yang terbaik, jadilah yang terbaik itu untuk orang lain. Semoga kamu menemukan cinta yang sesungguhnya, Alexa. Bukan hanya sekedar obsesi saja. Kamu akan benar-benar bahagia jika saling mencintai, bukan cinta sendiri," ucap Emily tersenyum lembut.


Alexa memaksa bibirnya untuk tersenyum, kepalanya bergerak perlahan, mengangguk meski samar. "Terima kasih," ucapnya melepas tautan tangan Emily dan melenggang pergi.


Tidak ada yang menahannya, juga tidak ada yang berucap apa pun lagi. Hansen kembali meraih jemari Emily dan berjalan beriringan. Tuan Mahendra melangkah menuju kamarnya.


Bara mengekorinya di belakang, tak sengaja Jennifer menyenggol lengannya. Keduanya berhenti dan saling melempar pandang. "Apa!?" sentak Jen mendongak, karena Bara lebih tinggi darinya.


"Situ yang nyenggol saya loh!" geram Bara memicingkan mata.


"Terus? Masalah?!" tantang gadis itu.


Jennifer tidak mau kalah. Ia berkacak pinggang dan semakin merapatkan tubuhnya pada Bara. Lelaki itu segera mundur untuk menghindarinya.


"Apasih?" tanya Emily saat Bara menguasai tangan Emily yang lain.


"Tuh, adeknya Hansen. Bar-bar banget, nggak ada lembut-lembutnya jadi cewek!" adu Bara mencebikkan bibir melempar pandangan ke depan.


"Cocok tuh sama kamu yang lembut," sahut Emily terkekeh.


"Diih! Ogah, sama ketua preman kayak gitu," cibir Bara masih menempel pada Emily. Hansen hanya menatapnya dengan tajam. Namun Bara tentu saja memgabaikannya.


Jennifer tidak terima, ia melayangkan cubitan keras di pinggang Bara. Hingga membuat pria itu berteriak kesakitan. "Adududuh! Setan!" pekiknya menghempaskan tubuh kecil Jennifer.


Hampir saja jatuh ke lantai kalau saja tidak segera ditangkap oleh lengan kekar Bara. Tubuhnya terhuyung ke belakang, sedangkan Bara sedikit membungkuk menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Kedua tangan kecil Jennifer mencengkeram kedua sisi kemeja Bara.


Keduanya saling menatap lekat, jarak yang hanya beberapa inchi saja bisa membuat Jennifer meremang karena napas hangat yang menerpa kulitnya.


"Hei! Ngapain kalian?" ucap Emily menyentuh bahu Bara.


Karena terkejut, refleks Bara melepaskan lengannya. Sayangnya kakinya tersangkut keduanya jatuh ke lantai bersamaan. Dan tangan Bara melindungi kepala Jennifer agar tidak membentur lantai. Sedang tangan lainnya menopang tubuh agar tidak menindih gadis mungil itu.


"Ya ampun!" pekik Emily menutup mulutnya.

__ADS_1


Bara membantu Jennifer duduk, keduanya berdiri bersamaan. Hansen menatap mereka dengan tatapan tajam sembari melipat kedua lengannya. "Berani-beraninya!" gerutu Hansen.


"Apa? Aku nggak ngapa-ngapain!" Bara melangkah terlebih dahulu, tidak mau orang lain tahu jika saat ini wajahnya memerah.


"Kak Bara makasih!" seru Jen tersenyum, menggigit bibir bawahnya.


"Hmm!" balas Bara mengangkat tangan tanpa menoleh.


Hansen menjitak kening Jennifer yang senyum-senyum sendiri. "Jangan genit! Di rumah aja kamu!" serunya dengan tatapan tajam.


Jen hanya mendesis, mengusap-usap keningnya. Lalu kembali tersenyum saat melihat punggung kekar Bara yang semakin menjauh.


"Jen! Kakak pulang ya!" pamit Emily mencium kedua pipi calon iparnya itu.


"Hati-hati, Kak. Salam buat Kak Bara. Makasih, udah respek," bisiknya di telinga Emily karena takut jika terdengar Hansen.


Emily meregangkan pelukannya. Ia hanya tersenyum melihat Jen yang menaik turunkan kedua alisnya, lalu mengangguk. Emily melambaikan tangannya dan berjalan keluar menyusul Hansen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu semakin merangkak naik, malam pun sudah semakin larut. Remang cahaya berpendar di kamar, Khansa mengerjapkan kedua matanya. Tubuhnya terkunci oleh lilitan lengan suaminya.


"Sayang, lepas dulu!" ucap Khansa pelan, takut mengejutkan suaminya. Leon justru semakin mengeratkan pelukannya.


Pria itu membuka kedua manik hitamnya. Mencium keningnya lama sebelum akhirnya melepaskannya. Leon juga ikut turun dari ranjang besarnya.


"Mau ke mana?" tanya Khansa yang masih menggantungkan kedua kakinya.


"Nganter kamu!"


"Hah?!" Khansa melebarkan kedua mata dan mulutnya. "Aku cuma mau pipis, Sayang! Bukan mau pergi jauh ...." elak Khansa.


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Leon sudah membawa tubuh Khansa dalam gendongannya. "Justru karena ke kamar mandi, aku khawatir."


"Yaampun, Leon. Aku bukan putri duyung yang bakal berubah kalau kena air!" sahut Khansa tertawa terbahak-bahak sembari mengeratkan pegangannya pada kedua bahu Leon.


Leon juga ikut tertawa dengan candaan istrinya, ia berjalan sembari mencium bibir Khansa sekilas dan menggesekkan hidung mereka. Bagi Khansa, sikapnya itu terlalu berlebihan.


Namun tidak bagi Leon, pernah kehilangan membuat ketakutan tersendiri di benaknya. Apalagi dia pernah mendengar, jika wanita pernah mengalami keguguran, kehamilan berikutnya juga rentan pada trimester pertama. Karena itulah, Leon sangat takut dan begitu menjaga Khansa.


"Jangan ikut masuk, Sayang!" larang Khansa mendorong dada suaminya yang hampir ikut masuk, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Pria itu menyandarkan punggung di dinding luar. Dadanya berdebar lembut mengingat ada dua calon anaknya yang tumbuh di rahim istrinya. Kebahagiaan yang membuncah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu, Khansa keluar. Ia menahan suaminya yang hendak menggendongnya lagi. Kepalanya menggeleng dengan perlahan. "Aku mau ke dapur dulu. Laper, haus juga," ucap Khansa berjalan meninggalkan suaminya.


"Tunggu!" Leon melebarkan langkah lalu menyamakan hentakan kakinya dengan sang istri. Menggenggam jemari istrinya dan sesekali menciumnya. Khansa hanya tersenyum geli melihat betapa bucinnya sang suami.


Khansa membuka kulkas untuk memilih apa yang hendak ia makan. Leon hanya memperhatikan, duduk di sudut meja dengan kedua lengan yang dilipat di depan dada. Pandangannya beralih pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Mau bikin apa, Sayang?" tanya Leon berjalan mendekati istrinya.


"Nasi goreng aja yang cepet. Udah laper banget soalnya," sahutnya tanpa menoleh. Kedua tangannya sibuk menyiapkan bahan-bahan. Termasuk bahan pelengkapnya, ada sayur, sosis, telur dan daging beku.


Leon menoleh ke kiri dan kanan, hingga menemukan apron yang tergulung di lemari kecil berbahan kaca. Ia meraih satu lalu mengenakannya pada tubuh Khansa, menyimpulkan talinya ke belakang.


Khansa berhenti sejenak, ia beralih menatap sang suami dan tersenyum. "Terima kasih, suamiku!" ucapnya berjinjit mencium pipi Leon.


Tak hanya itu, ketika Khansa berbalik, Leon juga merapikan ikat rambut Khansa yang berantakan. Agar tidak mengganggu kegiatan memasaknya. Setelah diikat, digulung ke atas hingga memeperlihatkan leher jenjang dan putih milik istrinya. Menghirup aroma wangi yang selalu menguar dari tubuh sang istri.


Tentu saja tak menyiakannya. Leon memeluk Khansa dari belakang dan menciumi leher Khansa. Wanita itu terjingkat, tubuhnya merinding seketika.


"Leon! Jangan ganggu dulu!" geramnya menghentakkan satu kakinya, berbalik dan mendorong dada suaminya.


"Nanti biar jadi nasi goreng rasa cinta, Sayang!" ucap Leon tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.


"Apasih? Yang ada nggak kelar-kelar nanti. Perut aku udah keroncongan sedari tadi. Jadi, tolong ya, Tuan Leon Sebastian. Kali ini jangan ganggu Nyonya dulu." Khansa mendorong tubuh suaminya menuju kursi makan yang cukup berjarak dari dapur.


"Duduk dulu di sini sampai aku selesai!" titah Khansa mengangkat pisau dapur dengan wajah yang menggemaskan.


"Tapi ...."


"Tidak menerima tapi! Lima belas menit aku selesai! Kalau kamu di sana bisa-bisa sampai matahari terbit nggak bakal selesai!" sembur Khansa.


"Haha! Iya, iya. Ampun, Nyonya!" ucap Leon menangkup kedua tangan sembari menunduk.


"Bagus!" sahut Khansa lalu berbalik menuju dapur.


Leon memutar duduknya. Tepat sekali bisa melihat Khansa yang sangat cekatan dari kejauhan. Ia selalu dibuat kagum oleh setiap harinya oleh wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya usai sarapan, seperti biasa Leon akan mengantar istrinya terlebih dahulu ke rumah sakit. Lily, sang bodyguard mengundurkan diri karena harus menempuh pendidikannya terlebih dahulu. Leon pun tidak masalah dan tidak mau mencari pengawal lagi, karena ia sendiri yang akan menjaga istrinya.


Saat mobil hendak masuk menuju basemen, Khansa meminta menghentikannya saat netranya menatap ke arah UGD. "Sayang, berhenti di sini!" Leon pun menurut, dan wanita itu segera berjalan cepat menuju UGD.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2