Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 45. Mission Complete!


__ADS_3

Khansa tersenyum puas, melihat pemandangan yang sangat bagus di depannya. Ia segera mundur dan meninggalkan tempat tersebut sebelum Hendra menemukannya.


Jihan sangat marah, kedua bola matanya melotot tajam seolah siap melemparkan tombak api. Emosinya membuncah, seluruh tubuhnya menegang, gemuruh dalam dadanya meletup-letup.


“Apa yang kau lakukan, Jane? Beraninya kamu menyentuh Kak Hendra!” teriak Jihan menggema di ruangan tersebut.


Jane membelalakkan kedua matanya, berusaha menyadarkan diri menepuk-nepuk pipinya. Kemudian segera menjauhkan diri dari tubuh Hendra, Jihan sungguh sangat marah.


“Dasar murahan! Tidak tahu diri!” sembur Jihan mendorong bahu Jane hingga terhuyung ke belakang.


Hendra hanya berdiam diri dengan ekspresi datar, sudah banyak wanita yang memeluk dirinya dan Hendra tidak pernah memperdulikan mereka. Ia juga tidak peduli dengan perseteruan dua wanita itu. Fokusnya saat ini adalah bertemu dengan Khansa.


“Jihan, di mana Khansa? Tadi dia bilang ada di sini?” tanya Hendra yang tak acuh dengan kemarahan wanita itu.


“Nggak tahu! Sudah pergi mungkin.” Jihan menjawab tanpa menoleh pada laki-laki yang dicintainya. Ia fokus menatap nyalang sahabatnya yang berani menusuknya dari belakang. Sampai-sampai Jihan tidak begitu peduli dengan kehadiran Hendra. Yang ada di otaknya sekarang hanyalah bagaimana caranya memberi pelajaran pada Jane.


‘Jadi tadi dia bener di sini? Aku harus segera menemukannya.’ Hendra bergumam dalam hati. Lalu bergegas keluar sembari mencoba menghubungi Khansa.


“Sasa!” seru Hendra frustasi berjalan cepat dengan ponsel terus menempel di telinganya. Menunggu suara operator berubah menjadi nada sambung.


Pandangannya mengeliling, sesekali tubuhnya berputar untuk memastikan kehadiran gadis bercadar itu. Perempuan yang mampu menjungkir balikkan hatinya. Namun sayang, kesalahannya sungguh fatal hingga untuk mendapatkan maaf saja, sangat tidak mungkin.


Khansa tahu jika saat ini Hendra mencarinya. Ia tengah bersembunyi di balik dinding, yang tidak mungkin bisa ditemukan oleh pria itu.


Sorot mata penuh kebencian dan dendam memenuhi rongga dadanya. Apa pun alasannya, Khansa tidak akan pernah bisa maafkan Hendra.


“Tunggu saja saat Bibi Fida sembuh, akan aku kuliti kamu, Hendra jika terbukti semua kebusukanmu!” geramnya mengepalkan tangan hendak menghantam dinding. Namun tiba-tiba ada yang menahan lengannya hingga tak merasakan sakit karena benturan dinding.


Khansa segera berbalik, menghempaskan lengannya dengan kuat hingga terlepas. Dadanya berdegub kencang saat ada seseorang yang menyadari kehadirannya.


“Tu … tuan Simon,” ucap Khansa menelan saliva yang terasa berat.


“Kakak ipar ngapain di sini?” Simon melongokkan kepala, matanya juga bergerak ke kiri dan kanan mencari orang yang sekiranya dia kenal.

__ADS_1


“Eee … sedang ada urusan sedikit,” sahut Khansa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


“Sendiri? Mana Kak Leon?” tanya Simon mencecar pertanyaan pada gadis itu.


Jantungnya selalu berdenyut nyeri saat mengingat Leon. Entah rasa bersalah atau rindu yang mendominasi, Khansa sendiri pun tidak tahu.


“Aku, sendiri.”


Simon menatap Khansa penuh tanya. Ia memicingkan mata penuh curiga. Khansa yang mengerti tatapan itu buru-buru menjelaskan, “Tadi aku ketemu sama Jihan sebentar dan sekarang aku mau balik ke rumah sakit lagi untuk menjaga Bibi Fida,” jelas Khansa.


“Lalu kenapa bersembunyi?” tanya Simon menyelidik.


“Saya permisi, Tuan Simon,” ucap Khansa mengangguk dan pamit undur diri mengabaikan pertanyaan Leon.


Mata Khansa kembali waspada ketika berjalan keluar. Saat ini ia harus menghindari Hendra.


Sementara itu, di sebuah privat room Bar 1949, kini hanya ada Jihan dan Jane di dalam ruangan. Degub jantung Jane bertalu kuat sampai terasa nyeri. Ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya yang panas dingin.


“Ji, I … ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku, tadi hanya….”


Ditatap seperti itu seluruh tubuh Jane gemetar ketakutan. Apalagi suara Jihan yang melengking memekakkan telinga. Jane berusaha menyentuh tangan Jihan, ia mencoba menjelaskan.


“Jihan, aku … aku tadi tersandung. Tidak sengaja terjatuh dan kebetulan Kak Hendra ada di depanku. Kami tidak sengaja saling berpelukan, percayalah Ji,” ratap Jane mengeluarkan air mata.


Jihan tidak percaya begitu saja. “Omong kosong! Aku melihat sendiri kalau kamu memeluk Kak Hendra. Dasar ****** kamu, Jane!” teriak Jihan menampar pipi Jane dengan sangat keras, hingga tubuh Jane terhempas ke lantai.


Jihan lalu menjambak rambut panjang Jane dan menyeretnya keluar ruangan. Jihan seperti orang kesetanan.


“Aarrggh! Ampun Jihan,” rintih Jane menyentuh kepalanya yang terasa nyeri.


“Ampun kamu bilang? Perhatian semuanya!” Jihan menghempaskan rambut Jane dengan keras. Jane sudah terlihat begitu memilukan. Semua orang di club itu menoleh padanya. Jihan berniat ingin mempermalukan Jane di hadapan semua orang.


“Wanita ini bener-bener tidak tahu malu! Dia mencoba menggoda calon suamiku. Padahal selama ini kami berteman baik. Tapi ternyata dia menusukku dari belakang. Dasar jalangg!” teriak Jihan. Napasnya menderu dengan kasar. Dadanya naik turun dengan cepat, pikirannya berkabut dipenuhi emosi.

__ADS_1


Semua orang berbondong-bondong mengelilinginya. Mereka langsung menghakimi Jane. Tak sedikit yang memandang wanita itu dengan tatapan meremehkan.


Jane menggelengkan kepalanya. Ia bahkan bersujud di bawah kaki Jihan. “Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu Jihan, maaf … maafkan aku,” ucapnya berderai air mata.


Jihan masih merasa panas di hatinya. Ia menendang tubuh Jane hingga terjengkang ke belakang.


“Aku selalu memberikan apa yang kupunya padamu! Tapi ini balasanmu padaku, Hah?! Dasar tidak tahu diri!” Jihan terus mengumpat dan merutuki Jane.


“Maaf,” lirih Jane menangis ketakutan.


Jihan berjalan mendekati Jane, menjambak rambut Jane lagi hingga terdongak ke atas. Air mata Jane mengalir di kedua pelipisnya.


“Maaf! Maaf! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu! Perempuan murahan dan tidak tahu malu sepertimu tidak pantas mendapatkan maaf!” cetus Jihan membenturkan kepala Jane pada tepi meja yang ada di dekatnya.


Jihan melenggang pergi  meninggalkan Jane yang meringkuk di atas lantai. Jane ketakutan sampai menangis terisak-isak.


Tanpa mereka sadari, salah satu penonton pertengkaran mereka adalah Fauzan. Ia baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien.


Mendengar suara putrinya, Fauzan bergegas mendekat namun tidak melerai atau pun menenangkannya. Hanya mengamati apa yang terjadi di hadapannya.


Setelah melihat Jihan melenggang pergi, Fauzan berjalan mendekati Jane. Ia memakaikan sebuah mantel untuk menutupi kedua bahunya yang terbuka.


Jane mendongak menatap pria paruh baya yang kini ada di hadapannya. Wajah gadis itu sungguh memilukan, sembab dan ada beberapa luka lebam di kepala dan juga pipinya.


Fauzan membantu Jane berdiri. “Bukankah kamu ini sahabat baik Jihan? Kenapa bisa jadi begini?” tanya pria paruh baya itu.


Semua orang akhirnya membubarkan diri setelah melihat kedatangan Fauzan.


Bersambung~


Like komennya jangan lupa ya sayang2kyuu... karna itu aja penyembuh saat daku sedang down. Makasih banyak banyak... sampai jumpa dii... entah kapan nunggu outline lagi dari editor. 😘😘😘 Lope sekebon cabee buat semua supportnya 🌶🌶🌶💞💞💞


Sambil nunggu update lagi, mampir yuk ke bawah sini. Biarpun temanya poligami tapi ceritanya seru, nggak bertele-tele, seruu.. coba deh..

__ADS_1



__ADS_2