Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 3 : Bertemu Rival


__ADS_3

Alexa tersenyum kaku, dalam hatinya menggerutu. Namun ia bertahan demi meraih cinta pujaan hatinya. Liburannya kali ini harus mendapat hasil. Tekad dan ambisinya yang kuat, seringkali mendapat hasil sesuai ekspektasinya. Tidak heran jika di usianya yang masih muda, dia berhasil menjadi CEO hebat di negaranya.


"Memang, makanan kesukaan Kak Hansen apa, Bi?" tanya Alexa.


Nyonya Mahendra menghentikan gerakannya sejenak, ia nampak berpikir keras. "Apa ya? Bibi juga nggak tahu. Kelamaan di Australia nih jadi bingung makanan favoritnya apa aja," sahutnya terkekeh.


"Yah, kalau dia nggak suka gimana, Bi?" rengek Alexa menggigit kuku-kukunya.


"Seenggaknya harus dicoba dulu. Kamu jangan terlalu ambil hati kelakuan Hansen ya. Dia memang seperti itu orangnya. Nggak mudah akrab dengan orang lain. Sama Bibi aja nggak terlalu dekat. Kita jarang sekali bertukar kabar."


Kedua tangan wanita paruh baya itu masih sibuk mengolah adonan makanan. Alexa hanya mengangguk-angguk menanggapinya.


"Kita? Itu sih ibu aja kali yang nggak pernah komunikasi sama Kak Han. Jen malah nggak pernah libur hubungi Kakak," serobot Jennifer, adik Hansen satu-satunya yang baru saja keluar dari kamarnya.


Gadis yang baru berusia 17 tahun itu tinggal dan mengenyam pendidikan di luar negeri bersama orang tuanya, yang mengelola perusahaan di sana. Sudah 10 tahun mereka tidak bertemu sejak masuk Sekolah Dasar. Meskipun begitu, ia tidak pernah putus komunikasi dengan sang kakak.


"Berarti kamu tahu dong makanan favorit Kak Han?" Alexa tampak berbinar.


Jen memicingkan mata sembari melipat kedua lengannya. "Yakin bisa membuatnya?" cibirnya dengan ketus.


"Jen! Yang sopan kamu! Anak kecil tahu apa? Nggak usah sok tahu!" seru Nyonya Mahendra.


"Diih, kok ibu yang sewot! Yaudah terserah!" Jen membuka kulkas lalu mengambil sebutir apel dan menggigitnya sembari pergi dari dapur. Membiarkan dua perempuan itu melakukan kemauannya.


'Hmm! Liat aja, bukannya seneng tapi bakal ditendang jauh-jauh kamu!' gumamnya dalam hati kembali lagi ke kamar. Ia malas bertemu dengan orang caper seperti Alexa.


...🌴🌴🌴🌴🌴...


Terik mentari begitu menyengat siang itu. Alexa turun dari taxi yang ditumpanginya, di depan bangunan luas dan menjulang tinggi. Ia membenarkan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.

__ADS_1


Dengan langkah anggun dan elegan, Alexa melenggang masuk ke perusahaan besar milik Hansen. Rambut blondenya tergerai indah sehingga bergerak bebas tertiup angin. Pakaian yang dikenakannya pun rapi dan semi formal. Satu lengannya membawa sebuah paper bag yang berisi makanan.


"Selamat siang, bisa tolong tunjukkan di mana ruangan Kak Hansen?" tanya Alexa di depan meja resepsionis.


"Maaf, dengan siapa? Apakah sudah membuat janji sebelumnya?" sahut salah satu resepsionis.


Alexa membuka kacamatanya. Kecantikan khas bule yang tampak, membuat perempuan yang berdiri di depannya berdecak kagum. Raut wajahnya tenang namun tegas. Bibir merahnya menyunggingkan senyum tipis.


"Saya calon istrinya. Sengaja tidak membuat janji karena ingin memberinya kejutan. Tinggal tunjukkan saja di mana ruangannya," sahutnya tenang masih tersenyum lembut.


"Hah?!"


Raut keterkejutan jelas terlihat pada dua wanita yang bekerja sebagai resepsionis tersebut. Mereka saling pandang satu sama lain dan sama-sama mengedikkan bahu.


"Kenapa? Kalian meragukan saya? Perlu saya telepon Nyonya Agnes, ibu beliau?" tantang Alexa masih dengan gaya santai dan percaya diri.


Mendengar panggilan akrab bahkan berani menghubungi Nyonya besar, mereka pun segera tersadar dari lamunan keterkejutan.


"Ok, thank you!" ucap Alexa beralih menuju lift yang segera mengantarnya ke ruangan Hansen.


Heels setinggi 7 cm membentur lantai marmer di lorong, menuju ruang Presdir. Sekretaris yang sibuk bergelut dengan pekerjaannya, kini mengangkat kepala saat merasa ada seseorang yang memperhatikannya.


"Apa Kak Han ada di ruangannya?" tanya Alexa dengan nada ramah.


Kening sang sekretaris mengerut dalam, "Maaf, dengan siapa?" tanyanya dengan tatapan serius. Apalagi mendengar panggilan yang akrab pada bossnya itu.


"Saya calon istrinya. Diminta ke sini oleh Nyonya Agnes untuk membuat kejutan pada Kak Han," sahut perempuan itu dengan percaya diri tinggi sembari menyibak rambut panjangnya ke belakang.


Masih terbengong dan rasanya tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Alexa. "Apa?!"

__ADS_1


Tanpa mendengar sahutan lagi, Alexa melenggang pergi dengan senyum puas melihat keterkejutan para karyawan. Ia mengira mereka adalah penggemar Hansen, yang tidak rela jika Hansen telah memiliki calon istri yaitu dirinya.


Alexa masuk ke ruang kerja Hansen. Sangat luas, tertata apik, bersih dan rapi. Ia sangat kagum dengan desain interior ruangan yang sangat luas dan elegan itu. Ia berjalan pelan sembari melihat-lihat. Hingga mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran Hansen yang sangat nyaman.


Sementara itu, Hansen baru saja mengajak Emily keluar karena sebentar lagi memasuki waktu istirahat. Ia tak melepas APD sekali pakai dan membuangnya ke tempat yang sudah disediakan. Menyisakan jas lab saja.


"Mau makan apa, Sayang?" tanya Hansen meraih ponselnya membuka sebuah aplikasi.


"Apa aja deh, samain kamu aja, Sayang," sahut Emily merengkuh lengan Hansen satunya dengan erat.


Mereka melangkah serentak menuju ruangan Hansen terlebih dahulu untuk meletakkan jas putih pada keranjang yang tersedia di sana, yang mana akan di laundry oleh petugas nantinya.


Pintu terbuka, Emily dan Hansen bersenda gurau saat hendak memasuki ruangan. Bahkan tawa Hansen terdengar menggelegar saat mendengar candaan Emily. Gadis super ceria itu memang paling bisa membuat pria dingin tertawa.


Sontak, Alexa tersentak dan menegakkan duduknya. Kedua matanya melebar dengan sempurna melihat kedekatan Hansen bersama seorang wanita yang ia anggap karyawannya. Karena saat ini Emily masih mengenakan seragam perusahaan tersebut.


Emily menghentikan langkah kakinya saat matanya bersitatap dengan wanita asing yang duduk dengan angkuh di kursi kebesaran Hansen. Sepasang alisnya saling bertaut. Bibirnya mengatup dengan rapat.


Hansen yang baru saja selesai memesan makanan kembali memasukkan ponselnya. Ia juga otomatis menghentikan langkahnya juga, menatap Emily yang mematung dengan tatapan aneh.


"Sayang! Ada apa?" tanya Hansen bingung.


Perlahan Emily menggerakkan kepala, menatap nanar sang kekasih. Tubuhnya terasa gemetar dengan lutut yang seolah kehilangan tulang tempurungnya. "Siapa wanita itu?" tanyanya dengan tatapan menuntut.


"Wanita mana?" Hansen bertanya balik karena belum menyadarinya.


Emily meluruskan pandangannya lagi. Dadanya seperti ada gumpalan bom dan hampir meledak. Matanya sudah memerah. Ia mengedikkan kepala, hingga Hansen mengarahkan pandangan ke depan.


"Alexa? Ngapain dia ke sini?" gumam Hansen mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Kamu mengenalnya?" tanya Emily. Keduanya kembali saling menatap lekat.


Bersambung~


__ADS_2