
"Hansen!" panggil sang ayah ketika melihat putranya melenggang pergi dengan pakaian rapi, tanpa menyapanya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk sarapan bersama keluarganya itu.
Langkah pria itu terhenti, ia mengembuskan napas berat berdiri membelakangi ayahnya. Matanya mengerjap lelah, satu tangannya masuk ke saku celana sedang lengan lainnya menggantungkan jas di sana.
"Hansen! Mau ke mana kamu?" tambah wanita paruh baya yang masih cantik meski usianya sudah lebih dari separuh abad.
"Kantor!" sahutnya singkat tanpa menoleh. Ia kesal dengan sikap orang tuanya yang seenaknya sendiri dan tidak mau mendengarkannya.
"Hansen! Hargai tamu kita dong. Alexa jauh-jauh datang dari Australia untuk bertemu denganmu!" tambah wanita itu yang tak lain adalah Nyonya Mahendra.
Hansen mendengkus kesal, gerahamnya mengetat dengan tangan terkepal kuat. "Saya tidak memintanya datang ke sini!" geramnya menoleh sekilas.
Dada pria itu bergemuruh saat mengingat percakapannya semalam. Yang mana orang tuanya kekeuh ingin menjodohkan Alexa, putri rekan bisnis Tuan Mahendra di Australia. Gadis pekerja keras, yang sudah menjadi CEO termuda di sana.
"Hansen, kamu masih mencari yang seperti apa lagi, hah? Alexa itu gadis yang sempurna. Di usianya yang masih muda, dia bahkan sudah menjadi seorang CEO hebat di negaranya. Dia juga cantik, keluarganya terhormat, Hansen!" cerocos sang ibu berdiri di hadapan Hansen sambil melipat kedua lengannya.
Hansen menilik jam di tangannya, lalu menatap ibunya sembari meletakkan kedua lengan di bahu. "Bu, sudah kukatakan sebelumnya, aku sudah mempunyai pilihan sendiri. Aku akan membawanya ke sini nanti malam. Sekarang aku harus ke kantor," ucapnya pelan menahan emosi dalam dadanya.
Sebuah kecupan di kening sang ibu, ia tinggalkan. Lalu melenggang pergi dengan tergesa tanpa menyapa gadis yang melihatnya dengan tatapan memuja.
Sekian lama menyendiri, kedua orang tua Hansen pun berinisiatif menjodohkannya dengan perempuan yang perfect di mata mereka. Kompleks perumahan yang berdekatan membuat dua keluarga itu sangat dekat.
Nyonya Mahendra selalu menceritakan tentang putra kesayangannya. Sempat melihat beberapa foto, Alexa tampak tertarik dengan pria itu. Sehingga, saat mengetahui mereka hendak pulang ke Indonesia, Alexa mencari alasan agar diperbolehkan ikut.
"Anak itu benar-benar!" ujar Nyonya Mahendra menekan kepala dengan kedua tangan lalu kembali ke meja makan. "Aduh, maaf ya Alexa. Hansen memang susah berkomunikasi dengan orang yang baru dikenalnya. Ayo makan, kamu mau yang mana?" ucapnya merasa tidak enak.
"It's ok, Bibi. No problem," sahut Alexa tersenyum getir lalu melanjutkan menyuapkan makanan. Meski tenggorokannya serasa teronggok, susah untuk menelannya.
Sedangkan Tuan Mahendra sendiri tidak mau ambil pusing. Ia menikmati sarapan paginya dengan tenang dan santai. Sejatinya dia paham bagaimana watak anaknya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Denyut di kepala Hansen rasanya semakin keras. Gemuruh di dadanya pun semakin berdentum kuat. Tangannya mencengkeram setir mobil dan sesekali memukul untuk meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Mobil hitam miliknya itu melaju dengan kecepatan tinggi. Wajahnya dingin dan bereaksi keras mengingat ibunya yang terus memaksa untuk mendekatkannya pada Alexa.
Hubungannya dengan Emily kembali harus diuji. Setelah menahan kesabaran selama bertahun-tahun, menunggu dengan setia sesuai keinginan sang kekasih yang masih bertengger manis di puncak karirnya. Kini harus berhadapan dengan keinginan keras orang tuanya.
Ternyata, Hansen tidak menuju ke kantornya. Melainkan berhenti di kediaman Emily. Pria itu keluar dari mobil, meninggalkan jas di sana hanya mengenakan kemeja panjang yang rapi dengan balutan dasi di lehernya.
"Selamat pagi, Pa, Ma!" sapa Hansen mengangguk dengan sedikit senyum di bibirnya.
Tuan Frans tengah berdiri di teras, karena hendak berangkat ke kantor. Sedangkan sang istri setia mengantar keberangkatannya seperti biasa.
"Han? Tumben pagi-pagi datang?" tanya Monica menatap lembut calon menantunya itu.
Mereka sudah sangat dekat, panggilan masing-masing pun sudah berubah seiring berjalannya waktu.
"Iya, Ma. Emily masih tidur?" sahut Hansen.
"Iya, masih sepertinya. Masuk aja, Han!" ujar Monica mempersilakan.
Hansen mengangguk lalu berpamitan masuk dan langsung menuju kamar Emily. Tanpa sengaja bahunya bersinggungan dengan bahu Bara. Ia langsung melirik tajam pria itu.
"Ck! Apasih?! Mana Emily?" elak Hansen menepis tangan Bara.
Bara memutar kepalanya sedikit gemulai, mengarahkan pandangan ke lantai atas sembari menyibak sedikit rambut yang jatuh di keningnya.
"Keknya masih tidur deh tuh anak. Nggak dikunci biasanya," sahut Bara santai kembali menatap Hansen.
Hansen mengernyitkan keningnya. "Kamu pernah masuk kamarnya?" selidiknya penuh curiga.
"Di sini sih enggak pernah, ganteng. Kan aku sering lihat mama dobrak pintu si ratu tidur itu," sahutnya menarik kedua sudut bibirnya lebar hingga kedua matanya menyipit.
Hansen memutar bola mata malas, kembali melangkah mengabaikan lelaki berjiwa perempuan itu. Perlahan ia menaiki tangga hingga mencapai pintu kamar Emily. Ia menggerakkan tangannya, mengetuk benda persegi panjang di depannya dengan perlahan.
"Emily?" panggil Hansen pelan sembari mengetuk pintu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban setelah beberapa saat. Perlahan ia menarik handel pintu hingga terbuka. Kakinya membentur marmer dengan perlahan, mendekati ranjang besar Emily.
Hansen berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan saku celana. Kepalanya sedikit bergerak ke samping memperhatikan Emily yang masih tidur pulas.
Satu lengannya terulur menyibak rambut Emily yang menutupi sebagian wajahnya. Polos, cantik alami, selalu berhasil membuat dadanya berdebar tidak karuan.
Rasa dingin yang menempel di pipi, membuat Emily mampu menembus batas kesadarannya. Ia mengerjapkan mata perlahan. Terkejut ketika matanya menangkap Hansen di kamarnya.
"Ayang!" serunya menutup wajah dengan kedua tangan karena malu.
"Bangun, aku mau bicara," balas Hansen mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Aduh, aku mandi dulu deh." Emily hendak beranjak namun dengan cepat Hansen menahan pergelangan tangannya.
"Enggak usah, kamu tetep cantik di mataku. Dengarkan aku," pinta Hansen menangkup kedua pipi Emily dan menatapnya lekat.
Hansen menghela napas panjang, membelai pipi bening dan putih milik sang kekasih. "Emily, nanti malam aku jemput jam 7. Kamu harus segera menemui orang tuaku," ujarnya dengan tatapan serius.
"DEG!"
Jantung Emily seakan bermarathon, jauh hari ia sudah menyiapkan diri akan hal ini. Namun tetap saja, membuatnya panik dan takut. Khawatir jika nanti kedua orang tua Hansen tidak menerimanya.
"Na ... nanti malam?" tanya Emily. Ada setitik kebahagiaan yang membuncah di hatinya. Namun, ketakutannya lebih mendominasi. Dadanya kini bertalu dengan kuat.
"Tidak menerima alasan apapun. Kamu harus sudah siap. Lima tahun sudah cukup untukku bersabar, jangan minta aku menunggu lagi!" tegasnya dengan tatapan tajamnya.
Emily mengangguk, "Iya baiklah," sahutnya tersenyum. Ia juga merasa ketakutan jika suatu hari nanti Hansen habis kesabaran lalu meninggalkannya. Meski selama ini, kesetiaan pria itu tidak perlu diragukan lagi.
"Aku ke kantor dulu! Buruan mandi. Udah siang gini masih molor aja!"
"Iih nanti dulu dong!" sergah Emily beranjak dari duduknya.
Bersambung~
__ADS_1
Bestiee... makasih yang masih mau nungguin lanjutannya... happy enjoy 🤗