Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 58. Salah Asisten Gerry


__ADS_3

Mendengar derit pintu yang tertutup, Khansa segera menyibak selimutnya dengan cepat. Beranjak duduk dan bersandar, “Pergi beneran? Aku kan cuma … malu! Ah Leon sialan!” Khansa menutup mukanya yang masih merah dengan kedua tangannya. “Atau jangan-jangan ketemu sama simpanan?” gumamnya memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya sembari mengira-ngira.


Lelah, kantuk yang sempat mendera tiba-tiba hilang seketika. Khansa mengangkat kepala saat mendengar dering ponselnya menggema di kamar itu.


Segera ia turun dan meraihnya dari dalam tas. Jihan tengah meneleponnya, sempat memutar bola matanya malas sebelum akhirnya mengangkatnya.


“Hmm!” ucap Khansa menempelkan ponsel pada daun telinganya.


“Khansa, kamu nggak lupa ‘kan? Kalau besok malam acara pertunanganku dengan Kak Hendra. Kamu wajib datang loh, Sa. Buktiin kalau kamu udah enggak ada rasa sama Kak Hendra. Jangan lupa ajak suamimu. Ooops! Aku lupa suamimu lagi sekarat ya. Hahaha!” terang Jihan tertawa lebar.


“Tenang saja, aku pasti datang,” sahut Khansa yang sama sekali tidak terpancing emosi.


“Ooiya jangan mengajak pria-pria simpananmu. Bikin malu keluarga kita nantinya!” ujar Jihan mengingatkan.


“Ada lagi?” balas Khansa dengan malas.


“Aku rasa cukup deh. Jangan sampai terlambat ya, Sa. Aku tunggu kehadiranmu! Kamu pasti nyesel deh kalau nggak dateng. Pesta ini sangat mewah, nanti aku kirim undangan beserta lokasinya,” ujar Jihan jumawa.


“Ya.” Khansa lalu mematikan sambungan ponselnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Hansen yang baru saja kembali dari bergosipnya dengan Simon melihat Leon memasuki kamar tak jauh darinya. Ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Justru memutar langkah menuju kamar yang dipesan Leon.


Leon memesan kamar presiden suite lainnya, ia bergegas mandi. Hansen masuk dan mengedarkan pandangan di ruangan itu. Ia tidak melihat tanda-tanda Khansa di sana. Ia lalu duduk di sebuah sofa menuangkan wine yang ada di meja. Tak berapa lama, Leon keluar dengan memakai pakaian tidur berbahan sutera. Kain berwarna hitam itu sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


“Hansen? Sejak kapan di sini?” tanya Leon terkejut saat menutup pintu kamar mandi.


“Tadi waktu kakak mau masuk. Setahuku, kamar kakak bukan di sini. Apa Kak Leon bertengkar sama Khansa?” tanya Hansen menyelidik.


Leon mendudukkan tubuhnya di samping Hansen. Kepalanya bersandar pada sandaran sofa. Kakinya menyilang di atas paha, sembari terus bergerak. Senyum terus tersungging di wajahnya. Kebahagiaan terpancar di sana. Hal itu justru membuat Hansen mengerutkan keningnya heran.


“Dih, malah senyum-senyum sendiri. Minum?” Hansen menuangkan wine dan mengulurkannya pada Leon.


Leon menerimanya, menegakkan kepala lalu menyesapnya sedikit. Masih tersenyum, kini menatap segelas wine di tangannya yang terus ia gerakkan.

__ADS_1


Hansen menggelengkan kepalanya. “Sepertinya Khansa sangat mempengaruhi suasana hati Kakak. Kadang marah kaya orang kesetanan. Terus sekarang senyum-senyum sendiri, bikin merinding,” ucapnya mengusap tengkuk.


Leon tersenyum, menatap Hansen dan berkata, “Iya, aku sangat senang hari ini, Khansa cemburu hebat karena sebuah telepon. Waktu di luar negeri, Susan lancang mengangkat telepon dari Khansa dan gara-gara itu kami bertengkar hebat,” akunya meletakkan gelas di meja. Leon meraih rokoknya, mulai menyulut dan mengembuskan asapnya. Ia menikmati setiap sesapan dari benda itu.


“Oh iya? Dia mengaku seperti itu?” tanya Hansen menaikkan sebelah alisnya.


“Enggak! Haha. Tapi aku bisa melihat dari gestur tubuhnya udah kebaca,” sahut Leon tertawa lalu kembali menyesap rokoknya, Hansen ikut tertawa mendengarnya. Mereka berbincang hangat mengenai banyak hal.


Terdengar suara pintu diketuk. Leon beranjak dan bergegas membukanya. Tampak sang asisten tengah berdiri di depannya dengan beberapa dokumen di tangannya.


“Tuan, saya bawakan dokumen yang Anda minta,” ucap Gerry membungkukkan badan memberi hormat.


“Masuk!” ucap Leon dengan dingin. Seketika ia berubah, Hansen menggeleng tak percaya. Pria itu seperti memiliki kepribadian ganda.


Leon menutup pintunya dan duduk di tempatnya semula. Sementara Gerry berdiri di sampingnya mengulurkan sebuah dokumen ke hadapannya.


“Silahkan, Tuan!”


Leon meraih dokumen itu dengan kasar lalu membantingnya di meja. “Gerry! Kenapa kamu tidak mengingatkanku bahwa Susan pernah mengangkat teleponku!” berang Leon menatapnya tajam.


“DEG!”


“Maafkan saya, Tuan,” ucap Gerry tidak berani membantah. Padahal menurutnya itu bukan hal yang penting.


“Dan lagi, kenapa tadi Susan yang berbicara denganku? Pakai ponselmu pula!” lanjut Leon melipat kedua lengannya, bersandar pada sofa. Ia mendongak masih melempar tatapan tajam pada Gerry. Gery merasa ketakutan, tidak disangka Leon akan peduli dengan hal seperti itu. Biasanya juga tidak masalah, baik dia maupun Susan sama saja.


“Maaf, Tuan. Chief Susan mengatakan bahwa ponselnya lowbat. Dan ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya,” jelas Gerry ketakutan, padahal ia merasa itu bukan kesalahannya.


“Lain kali jangan pernah biarkan dia bicara denganku di telepon! Sampaikan ke kamu saja!” teriak Leon membentaknya.


Hansen mencekal lengan Leon, “Jangan menakuti Asisten Gery seperti itu, Kak,” ucapnya menengahi.


Gerry sudah berkeringat dingin. Jantungnya berpacu kuat, ia teringat bagaimana kejamnya Leon ketika marah.


“Asisten Gerry, Kak Leon dan Khansa bertengkar karena masalah itu. Jadi aku harap kejadian itu tidak terulang lagi,” jelas Hansen yang baru bisa dimengerti Gerry kenapa bossnya semarah itu.

__ADS_1


“Baik, Tuan. Mohon maafkan saya,” sahut Gerry yang hanya bisa menunduk. 


Leon mengangguk, menyugar rambutnya ke belakang lalu meraih dokumen yang sempat ia banting tadi.


Ketukan pintu kembali terdengar, tanpa disuruh  Gerry bergegss membukakan pintu. Ia melihat Chief Susan yang tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


“Chief Susan, ngapain kamu ke sini?” tanya Gerry di ambang pintu.


“Aku datang membawakan sup untuk Tuan Leon,” ucapnya memerlihatkan rantang ke hadapan Gerry.


Saat Leon kembali menelepon Gerry, kebetulan mereka memang telah bersama. Susan tahu keberadaan Leon melalui percakapan tersebut.


“Sebentar, aku izin Tuan Leon dulu. Tunggu di sini,” tutur Gerry meninggalkan Susan kembali masuk ke dalam, gadis itu mengangguk.


“Tuan, Chief Susan datang membawakan sup untuk Anda, bolehkah dia masuk?” ujar Gerry melapor.


Hansen dan Leon sontak menoleh ke arah pintu. Mereka bisa melihat Chief Susan yang memakai thank top crop berlapis blazer berwarna hitam dengan rok bahan yang sangat pendek. Dandanannya begitu mencolok. Di tangannya membawa sebuah rantang makanan.


Wanita itu melebarkan senyum, saat pandangan dua tuan muda tengah mengarah padanya.


Hansen tersenyum, merasa Chief Susan punya maksud lain sampai datang mengantar sup untuk Leon siang bolong begini.


Hansen merasa Khansa tidak sembarangan cemburu. Kelihatannya Chief Susan sudah lama menaruh perasaan pada Leon.


Asisten Gerry masih menunggu jawaban tuan mudanya, Leon beralih menatap pria itu. Sedangkan Chief Susan masih dibiarkan berdiri di ambang pintu.


Bersambung~


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2