
"Apa tuh?" tanya Khansa penasaran. Dia menatap laptop Leon yang menunjukkan suatu loading mencapai 80%, yang Khansa sendiri tidak mengerti proses apa itu.
"Mau lihat live nya nggak?" Leon menaik turunkan alisnya.
Kening Khansa semakin mengerut dalam. Ia memutar bola matanya saat melihat Leon yang susah sekali ditebak. "Apasih? Suka banget bikin orang penasaran!" gerutu Khansa menjauhkan tubuhnya.
Senyuman khas yang hanya tampak saat bersama Khansa terus mengembang di bibir Leon. Ia membelai rambut panjang Khansa, lalu menangkup kedua pipi wanita itu. "Bersiaplah, dandan yang cantik tapi tetep pakai cadar. Biar cantikmu hanya aku yang bisa lihat," ujar Leon menggerakkan kepala Khansa ke kiri dan kanan.
"Sumpah ya ngeselin banget. Tiap ditanya pasti nggak pernah dapet jawaban yang memuaskan. Harus mikir dulu, itupun nggak pernah bisa nangkep jawabannya," gerutu Khansa berdiri sembari membuang mukanya.
Leon terkekeh sembari beranjak dari duduknya. Satu lengannya merangkul bahu Khansa dan menariknya keluar dari ruangan tersebut. Membiarkan kinerja laptopnya selesai dengan sendirinya.
"Jadi, mau ikut nggak? Atau aku pergi sendiri nih?" goda Leon berbisik di telinga Khansa.
"Ikutlah!" sembur Khansa dengan cepat melempar tatapan tajam pada pria itu.
"Iya, iya, Nyonya. Jangan galak-galak gitu dong, makin gemes!" tutur Leon hendak menggigit pipi Khansa namun perempuan itu segera menjauhkan wajahnya.
Langkah kaki Khansa pun dipercepat, meninggalkan suaminya yang berjalan santai di belakangnya. Ia segera bersiap sesuai titah Leon. Sebuah gaun mewah tanpa lengan, berwarna putih menjuntai hingga ujung kakinya. Ia juga merias wajahnya begitu cantik. Leon sampai tidak berkedip saat pandangannya mengarah pada cermin. Tubuhnya segera bangkit dari ranjang lalu mendekat.
"Nyonya Sebastian! Kenapa kamu cantik sekali," gumam Leon melingkarkan lengannya di perut ramping Khansa. Menghirup dalam-dalam ceruk leher Khansa, yang membuat gadis itu menggeliat kegelian.
"Leon, jangan seperti ini!" rengek Khansa menggerakkan bahunya.
"Sssh ... Hah!" Leon mendesis karena istrinya itu terlalu menggemaskan juga, menggairahkan.
Khansa menggelengkan kepalanya lalu tersenyum sembari mengenakan kain penutup sebagian wajahnya. Leon menjentikkan jarinya, "Perfect!" ujarnya.
Mereka lalu turun menuju garasi. Malam ini, Leon memilih Rolls Royce berwarna hitam mengkilap sebagai kendaraan yang mengantarkannya.
Mobil mewah itu melaju dengan santai, Khansa enggan bertanya mau dibawa ke mana. Ia pasrah saja, sesekali memperbaiki penampilannya yang sudah terlihat rapi.
__ADS_1
Tak berapa lama, mereka sampai di kediaman keluarga Ugraha. Khansa melirik suaminya sambil tertersenyum. Di dalam mansion megah itu tengah diadakan acara anniversary berdirinya rumah sakit swasta milik keluarga tersebut.
Tamu undangan yang hadir adalah sebagian dewan direksi rumah sakit, beberapa dokter dan juga seluruh karyawan di perusahaan mereka. Tidak ada pengecekan kartu undangan, sehingga Leon dan Khansa bisa menyelinap dengan mudah.
"Ke sana aja," tunjuk Leon dengan dagunya.
Detak jantung Khansa mulai berdebar hebat. Dia belum pernah menginjakkan kakinya di mansion tersebut. Tangannya melingkar erat di lengan Leon. Tatapannya berubah waspada.
Suami istri itu berjalan anggun dan berwibawa menuju sebuah stand minuman tanpa ada yang curiga. Di tempat itu lokasinya cukup strategis, tidak terlalu tersorot cahaya namun bisa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Kilat amarah Khansa kini memancar saat ia bisa melihat keberadaan Hendra beserta ayah ibunya yang tengah sibuk bercengkerama dengan beberapa dewan rumah sakit mereka. Sesekali tawa mereka menyembur, membuat gemuruh di dada Khansa serasa ingin meledak.
"Minum dulu," ucap Leon ketika merasakan cengkeraman tangan Khansa semakin kuat.
Khansa mengangguk, meraih salah satu gelas itu dan meneguknya perlahan. Leon menatap jam di pergelangan tangannya. Bibirnya tersungging senyum tipis.
Dan tiba-tiba beberapa pria kekar berseragam polisi menerobos masuk ke pesta. Mereka serentak berjalan ke tengah podium. Kehadirannya menyita perhatian seluruh tamu undangan.
Kedatangannya saja sudah mengundang perhatian, ditambah dugaan tersebut membuat semua orang menganga tak percaya. Terutama Tuan dan Nyonya Ugraha. Kepemimpinan rumah sakit sudah berpindah tangan pada Hendra, sehingga ia dan beberapa jajarannya yang ditangkap oleh polisi.
"Apa maksud Anda, Pak?" teriak Nyonya Ugraha.
"Maaf, Nyonya. Kami harus membawanya silakan datang ke kantor polisi untuk pembelaannya." Polisi tersebut langsung memborgol kedua tangan Hendra dan menggelandangnya ke kantor polisi.
"Tidak bisa begitu dong, Pak. Jangan bawa anak saya!" pekik Nyonya Ugraha tidak terima putranya ditangkap. Ia memberontak, namun sang suami menahannya.
"Tenanglah!" tegas Tuan Ugraha.
Tidak ada perlawan dari Hendra, dia masih syok. Tubuhnya pun membeku. Tidak pernah menyangka sebelumnya ini akan terjadi. Saat kakinya melangkah bersama pria berseragam itu, matanya tidak sengaja menangkap Khansa yang sedang menatap tajam ke arahnya. Hendra juga beralih pada pria di sebelahnya yang menunjukkan wajah tak kalah garangnya. Meski dalam cahaya yang temaram.
Sempat terkejut dan membelalak, pasalnya pesta yang ia gelar tertutup. Hanya karyawan dan para bawahannya saja yang diundang. 'Bagaimana bisa Khansa datang ke sini?' gumam Hendra dalam hati tidak memutuskan kontak mata sampai ia keluar dari pintu utama.
__ADS_1
"Tunggu lima detik dari sekarang," ujar Leon terus menatap jam tangannya. Setelah tepat lima detik, Leon beralih menatap orang-orang di sekitarnya.
"Tring!"
"Tring!"
Notifikasi pesan ponsel semua orang yang ada di sana berbunyi bersamaan. Termasuk ponsel Leon dan Khansa. Buru-buru mereka semua langsung membukanya.
Alangkah terkejutnya mereka, di sana terpapar jelas obat-obatan illegal yang selama ini digunakan di rumah sakit swasta milik Keluarga Ugraha.
Tak hanya itu, berita kematian Kakek Khansa akibat mall praktek dari salah satu dokter rumah sakit tersebut juga terungkap dalam chat yang masuk pada ponsel mereka, lengkap beserta bukti-bukti dari penelitian di perusahaan kimia terbesar Kota Palembang.
"Leon?" tanya Khansa menoleh pada sang suami. Jemarinya sampai bergetar membacanya.
Pria itu pun menatap ke arahnya. Ia mengurai senyum lebar di bibirnya, "Bukan hanya orang-orang di sini, tapi seluruh penjuru Kota Palembang mendapatkan berita ini. Ini masih permulaan, Sayang," tuturnya membelai puncak kepala Khansa.
Dengan keahliannya, Leon bisa membrodcast berita tersebut pada nomor ponsel semua orang di wilayah yang dia tentukan melalui jaringan besar dari perusahaannya.
Tuan Ugraha yang juga membuka pesan tersebut, melebarkan kedua bola matanya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Satu tangannya menekan dadanya, tubuh pria tua itu terhuyung dan mengerang kesakitan.
"Yah! Ada apa?" tanya Nyonya Ugraha menyentuh lengan suaminya. Ia belum membuka ponselnya karena memang ingin fokus menemani sang suami yang kesehatannya sudah menurun beberapa tahun terakhir.
"Aaarrgghh!" erang pria tua itu lalu terjatuh tidak sadarkan diri.
"Ayah! Yah bangun!" teriak Nyonya Ugraha. "Tolong! Tolong!" lolongnya, namun tak ada satupun yang mau mendekat. Mereka hanya saling pandang dan mengedikkan kepala saja.
Bersambung~
__ADS_1
Thankyou yaa supportnya lewat like komen gift dan votenya. senin niih... yuk vote 😄😄