
Jane sedikit menegang karena tidak menyangka Fauzan masih tersadar, gerakan tangannya terhenti, ia menahan napasnya sesaat dengan degub jantung yang berdentum kuat.
Fauzan menoleh dalam keremangan cahaya. Kemudian bergumam sendiri, “Steph, kamu sudah kembali?” Mata Fauzan yang redup berbinar ketika melihat sosok Stephani di sampingnya. Jane bergeming, tubuhnya sedikit gemetar, namun demi misinya Jane diam saja, tidak mengelak saat Fauzan memeluk dan menindihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kesialan mungkin tengah menimpa Khansa. Saat berjalan di pelataran bar, Khansa mengurangi kewaspadaannya. Ia melangkah dengan santai, sambil mendengar kasak-kusuk lalu lalang orang yang membicarakan Jihan telah memukuli Jane hingga babak belur.
Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya, ia sudah mengira ini pasti akan terjadi. Namun, terbesit rasa iba dalam hatinya. Ia berhenti sejenak, ingin memastikan kondisi Jane. Saat berbalik, lengannya ditarik oleh seseorang.
Khansa menghempaskan cengkeraman tangan itu, lalu memutar tubuhnya. Pandangannya berubah tajam. Dadanya berdegub saat sosok pria yang sangat ia benci kini menemukannya.
“Apa maumu?” seru Khansa dengan nada dingin mengusap bekas cengkeraman Hendra, seolah jijik dengan cekalan itu.
Hendra tersenyum, “Sasa, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Ayo ikut, karena kamu tidak akan percaya kalau tidak melihatnya sendiri.” Hendra hendak meraih lengan Khansa kembali, namun dengan segera gadis itu menjauhkannya. Menatap uluran tangan Hendra dengan tajam.
“Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu, asalkan kamu ikut bersamaku,” ujar Hendra mengangkat kedua tangannya.
“Hmm!” jawab Khansa singkat.
Simon mengerutkan kening, menajamkan pandangannya. Ia ingat betul bahwa pria itu adalah Hendra. Sepertinya dia tengah menebak apa yang akan dilakukan Hendra saat ini.
Simon segera kembali ke ruangannya di mana tadi ia menghabiskan waktu bersama dengan para orang kaya di Kota Palembang. Kebetulan tadi ia sedang ada keperluan dengan manajer bar dan menemukan Khansa yang bersikap mencurigakan.
Pria itu berjalan santai menuju ke ruangan sembari menelepon seseorang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa masih bergeming, deru napasnya yang kasar terlihat jelas dari cadar yang dikenakannya. Ia menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
“Ayo, Sa!” ajak Hendra menoleh pada perempuan di sebelahnya.
“Tidak. Kamu jalan duluan!” sahut Khansa masih melayangkan tatapan tajam.
__ADS_1
Hendra mendengkus kesal, ia membuang napas kasar meletakkan kedua tangan di pinggangnya, menghirup oksigen banyak-banyak dan membuangnya melalui mulut. “Oke, tapi kamu harus tetap mengikutiku. Ini sangat penting.” Akhirnya pria itu mengalah.
Hendra memimpin jalan dengan Khansa mengekorinya dari belakang. Hingga langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan mewah.
Hendra tersenyum menyeringai saat masih menemukan Khansa di belakangnya. Ia lalu membuka pintu itu dan masuk ke sana.
Ruangan mewah yang sudah dipenuhi oleh asap rokok yang membumbung tinggi di udara. Bahkan mampu memudarkan pandangan mereka. Khansa menggerakkan tangannya perlahan untuk memperjelas penglihatannya.
Ada banyak bos di Palembang ditemani beberapa wanita cantik dengan pakaian yang kurang bahan. Salah satunya adalah Leon Sebastian yang tampan.
Mereka tengah duduk melingkar mengitari sebuah meja besar, setiap pria di sana terlihat digelayuti wanita sexy lebih dari satu orang.
Hingar bingar musik menggema di ruangan, juga kerlap kerlip lampu temaram, tidak menyadarkan seorang pun di sana dengan kedatangan Khansa dan Hendra.
“Lihatlah sendiri, Sa!” Hendra menunjuk Leon yang sedang memangku dua wanita, juga seorang wanita lain mengalungkan lengannya di leher pria tampan itu. Leon menghisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskan pada para wanita di depannya namun justru membuat mereka tertawa dan semakin bergelayut manja dengannya.
Hati Khansa berdenyut nyeri, seperti ditusuk ribuan jarum. Matanya memerah diringi degub jantung yang begitu kuat.
Sesak, dada Khansa seperti dihimpit beban yang sangat berat. Sampai untuk bernapas saja, ia merasa kesulitan. Matanya mulai berkaca-kaca, tenggorokannya tercekat. Hendra melihat jelas perubahan ekspresi Khansa.
Khansa berbalik dan berlari pergi, ia tidak ingin melihat hal itu lagi, Hendra mengejar Khansa dan menghadang langkahnya. Khansa memalingkan pandangan dari pria di depannya itu.
“Apa kamu menyukai dia, Sa?” tanya Hendra menyentuh kedua bahunya.
Khansa segera menepis dan mundur beberapa langkah. “Jangan pernah menyentuhku!” geram Khansa menatap tajam sembari menaikkan telunjuknya tepat di depan muka Hendra.
“Jadi benar kamu menyukainya?” ulang Hendra sekali lagi.
Khansa diam, tidak menyangkal. Ia kembali menatap ke arah lain. Hendra mengerti, diamnya Khansa sudah menjawab semuanya.
“Sa, dia itu pria hidung belang! Kamu tahu? Aku sering melihatnya bermain dengan para wanita sexy di sini. Buka matamu, Sa. Kamu menyukai orang yang salah,” ujar Hendra menjelekkan Leon.
“Aku memang tidak tahu dia dari marga mana, tapi yang jelas, dia selalu berkumpul dengan orang-orang di kota ini. Dan kamu pasti tahu bagaimana pergaulan mereka. Kamu tadi melihat sendiri bukan? Bahkan bukan hanya satu wanita yang menemaninya, tiga sekaligus, Sa.” Hendra terus mengolok Leon untuk merubah perasaan Khansa pada Leon.
__ADS_1
Khansa mendengkus kasar, menoleh pada Hendra dengan tatapan tajam. “Apa maumu sebenarnya?” tantang Khansa melipat kedua lengannya di dada.
“Kembalilah bersamaku. Bukankah saat ini Bibi Fida sudah di tanganmu?” ujar Hendra tanpa tahu malu.
Khansa mendecih, “Dengar ya Tuan Hendra yang terhormat! Apa kamu pikir, kamu lebih baik dari mereka? Kamu pun sama saja! Bahkan kamu lebih menjijikkan dari pada mereka!” seru Khansa meremehkannya.
“Tapi perasaanku masih sama, Sa. Aku masih mencintaimu, aku menginginkanmu. Jangan jatuh cinta pada orang yang salah, Sa.” Hendra masih berusaha keras.
“Hendra!” sentak Khansa dengan suara lantang. “Apa kamu lupa dengan apa yang pernah kamu lakukan kepadaku, hah? Apa kamu amnesia sekarang? Justru aku akan semakin salah jika kembali jatuh ke pelukanmu!” berang Khansa melotot tajam.
“Aku tahu, aku salah. Maafkan aku yang mudah terhasut oleh Jihan. Aku tidak bisa melupakanmu, Sa,” ucap Hendra menurunkan nada bicaranya.
Khansa tertawa sumbang, “Pergilah. Aku sama sekali tidak berminat pada pengkhianat seperti kamu. Apalagi orang yang pernah membuatku jungkir balik menjalani hidup selama bertahun-tahun,” ucap Khansa menatap lurus ke depan.
“Sa.”
“Pergi!” sentak Khansa menunjuk pintu keluar.
Hendra lalu menyerah untuk mendapatkan Khansa dan melenggang pergi.
Tubuh Khansa melemas, dadanya naik turun dengan napas tak beraturan. Ia tidak mengerti kenapa Leon bisa membuat dirinya sakit hati. Padahal selama ini Khansa selalu menutup rapat pintu hatinya. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Tiba-tiba seorang manajer bar datang menghampiri Khansa. “Hei, ngapain kamu di sini? Bukannya mengantar minuman untuk para tamu malah bersantai ria di sini!” bentak manajer itu menarik tangan Khansa.
“Tunggu! Tapi saya bukan pelayan di sini!” seru Khansa mengelak.
Namun manajer itu kekeh dan tidak mau mendengarkannya. Ia mendorong Khansa masuk kembali ke ruangan mewah hingga tepat di hadapan para pria yang duduk di sana.
Salah satu pria yang duduk itu, mendongak dan matanya berbinar saat melihat Khansa, “Wah, ada wanita cantik!”
Bersambung~
__ADS_1