Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 67. Pelayan


__ADS_3

Susan duduk dengan gelisah karena Leon pergi terlalu lama. Berkali-kali ia menatap jam di lengannya, namun meski jarum terus berpindah angka, Leon tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


“Iiih kemana sih, Leon? Masa dianggurin begini!” desahnya menghentakkan kedua kakinya. Matanya terus menatap lantai atas terakhir kali Leon menghilang.


Sampai pada akhirnya, ia merasa kesal dan memutuskan untuk mencari pria itu. Susan melongokkan kepala ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihatnya. Para pelayan masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Susan mengendap-endap menaiki anak tangga dengan langkah sangat pelan. Takut jika benturan heelsnya mengalihkan perhatian orang-orang.


Sesampainya di lantai atas, pandangan Susan langsung terarah pada pintu kamar yang terbuka. “Pasti ini kamar Leon,” gumamnya tersenyum merapikan rambut dan pakaiannya.


Namun saat ia menerobos masuk, matanya membelalak karena melihat pemandangan yang tak biasa dari seorang Leon.


Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali memastikan bahwa laki-laki itu memang benar Leon. Rasanya tak percaya Leon bersikap selembut itu, juga dengan ekspresi yang sangat manis. Yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Khansa dan Leon menoleh saat mendapati seseorang yang berada di ambang pintu, belum sempat masuk karena tubuhnya terpaku. Leon segera menarik tangannya lalu berdehem.


“Chief Susan, ngapain kamu kemari?” tanya Leon dengan nada rendah sembari mengerutkan keningnya. Ia berdiri memutar tubuhnya ke arah pintu.


“Eee … itu ….” Susa menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. “Anu … maaf, Tuan. Tadinya saya mau ke toilet. Tapi malah nyasar ke sini. Maafkan saya, Tuan,” ujarnya terbata. Ia seperti maling yang tertangkap basah. Mencoba mencari alasan yang masuk akal.


“Kenapa tidak tanyakan saja sama pelayan?” tanya Leon menatapnya datar.


“Tadi, semua pelayan sibuk, Tuan. Dan aku sudah tidak bisa menahannya. Jadi aku coba cari sendiri,” katanya.


Khansa menyebikkan bibir sambil memutar bola matanya malas. ‘Dasar wanita ular! Pasti hanya akal-akalannya saja, cantik sih cantik tapi bad attitude. Nggak sopan banget main nyelonong kamar orang. Diih murah meriah kek barang diskonan! Leon juga sama sekali nggak marah! Dasar buaya darat!’ gerutunya dalam hati menatap suaminya dengan sebal.


Khansa beranjak dari duduknya, Susan mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga kakinya. “Emm … dia siapa, Tuan?” tanya Susan menunjuk Khansa dengan tatapan remeh. Apalagi melihat bajunya yang tertutup dan tidak menampilkan lekuk tubuhnya.


“Dia adalah ….


“Pelayan! Saya pelayan di Villa ini!” sambar Khansa memotong ucapan Leon. Ia melempar tatapan tajam pada Leon yang sedang mendelik ke arahnya, lalu melenggang pergi meninggalkan kamar begitu saja. Tidak peduli pada Susan dan Leon.


Leon tercengang dengan ucapan Khansa. Ia berkacak pinggang dan terlihat kesal. Namun hanya bisa menghela napas.

__ADS_1


Susan tampak mengedarkan pandangan di ruangan luas itu. Nuansa kamar khas laki-laki yang dominan dengan warna cokelat muda. Susan semakin kagum, karena kamar tersebut nampak sangat rapi dan bersih untuk seorang pria.


‘Atau jangan-jangan ini kamar pelayan itu? Tapi kenapa Leon di sini? Bersikap manis pula!’ batinnya bertanya-tanya.


“Ehm!”


Deheman Leon membuyarkan kekaguman Susan. Ia sampai tidak sadar bahwa Leon sudah berdiri di sebelahnya. “Ayo turun katanya kebelet? Aku tunjukkan toilet tamu!” ucap Leon menarik pintu kamarnya hingga tertutup rapat. Hampir saja muka Susan terantuk benda berbahan kayu jati itu, jika saja kakinya tidak segera mundur beberapa langkah.


‘Kenapa dia dingin lagi? Padahal tadi bersikap sangat manis!’ gumam Susan menatap Leon yang semakin menjauh.


Susan tidak peduli, dari awal Susan sudah menargetkan Leon karena pria itu sangat memikat.


Pria dingin, tegas, berwibawa dengan segenap ketampanan yang luar biasa, baginya itu sudah sangat memikat. Ditambah kekayaan pria itu yang melimpah. Benar-benar pria sempurna sebagai pendamping hidup. Apalagi tadi saat melihat sisi lain Leon yang ternyata bisa bersikap lembut. Hatinya semakin meleleh melihatnya.


Susan berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi wanita milik Leon. Tekadnya semakin bulat, dengan semangat membara untuk bisa memenuhi keinginannya tersebut.


“Lurus aja ke sana, toilet ada di sebelah dapur,” tunjuk Leon saat sampai di lantai dasar.


“Emm … sepertinya, saya nggak jadi numpang toilet, Tuan.” Susan menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Susan ingin selalu berada di dekat Leon.


“Oh! Maafkan saya, Tuan.” Susan bergegas pindah setelah mendengar suara dingin yang keluar dari tenggorokan Leon. “Sepertinya saya merasa ingin ke toilet,” pamitnya menahan malu dan bergegas pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa sedari tadi mencari keberadaan Paman Indra, sampai pada akhirnya ia menemukan pria paruh baya itu tengah mengawasi para koki yang sedang memasak.


“Paman!” panggil Khansa semakin mendekat.


Paman Indra berbalik, segera membungkuk saat melihat nyonya mudanya. “Iya, nyonya muda. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya kembali berdiri tegap.


“Ada yang bisa aku bantu nggak, Paman?” Khansa bertanya balik.


Paman Indra mengerutkan dahi, bibirnya terkatup sempurna, tidak berani berucap apa pun. Khansa menyadari bahwa kepala pelayan itu tidak akan berani menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


“Ayolah, Paman. Mmm … kasih aku kemoceng atau sapu gitu,” rengek Khansa memohon.


“Maaf nyonya muda, tapi ….”


“Paman tenang saja, aku akan bertanggung jawab kalau Leon marah. Sekarang di mana kemocengnya?” tukas Khansa menengadahkan tangan.


Setelah berpikir sejenak dan melihat Khansa yang terus meyakinkannya, ia pun mengiyakan permintaan konyol Khansa itu. Meski ia tidak mengerti maksud dan tujuannya.


“Baik, Nyonya. Tunggu sebentar,” ujar Paman Indra mundur dan mengambil apa yang diminta Khansa.


Pandangannya menoleh pada Leon yang sedang berbicara di ujung tangga dengan Susan. “Kok cepet?” Khansa mengendikkan kedua bahunya.


Setelah mendapatkannya, Khansa segera menjalankan perannya sebagai pelayan. “Terima kasih, Paman!” ucapnya berbalik menuju ruang tamu, di mana Leon berada. Namun Khansa tak melihat keberadaan Susan, mungkin karena dia fokus menunggu kemoceng sampai tak sadar jika Susan pergi ke toilet.


Leon menautkan kedua alisnya saat melihat Khansa sedang berjalan ke arahnya sambil membawa kemoceng. Khansa hanya memicingkan mata, menaikkan dagu dan mengabaikan tatapan Leon.


Gadis itu mulai membersihkan guci, meja, segala macam akrilik dan pajangan yang tak jauh dari jangkauan Leon. Mata Leon tak berhenti menamatkan setiap gerakan Khansa.


Leon asyik mengamati Khansa, lalu tiba-tiba dengan jahilnya Leon mengambil permen di hadapannya lalu melemparkan pada Khansa.


“Aw!” desis Khansa menyentuh kepalanya. Karena permen tersebut tepat mengenai kepalanya lalu terjatuh di meja depannya. Bukan karena rasa sakit, namun lebih ke rasa terkejutnya.


Khansa mendelik pada Leon yang terkekeh meski samar. Khansa pun membalasnya. Ia meraih permen itu dan melemparkan kembali pada Leon dengan sangat keras. Ternyata, tepat mengenai kening pria itu.


Leon mengusap keningnya, “Dasar pelayan! Berani sekali melempar benda ke kepala majikanmu!” pekiknya melotot tajam.


Bersambung~


Ini Mas Le versi akuu ya. ingat versi aku! Fiks no debat! kalau gak srek di hati kalian mari menghalu sendiri versi kalian.wkwkwk


Babang Jii pinjem potonya yak.. semoga kamu gak liat 😆😆


__ADS_1




__ADS_2