
Di toilet, wajah Susan merah padam. Ia mengguyur mukanya itu dengan air yang mengalir dari kran wastafel.
“Huufft! Oke Susan, sepertinya memang tidak mudah. Sudah melangkah sejauh ini, harus pepet terus sampai dapat! Jangan semangat dan tetap putus asa!” serunya mengepalkan tangan.
Susan menepuk bibirnya, “Eh salah! Jangan putus asa dan tetap semangat! Hem!” Ia mengangguk di depan cermin, menatap pantulan sebagian tubuhnya yang sedang mengepalkan tangan.
Setelah merasa lebih baik, Susan meraih alat make upnya yang ada di dalam tas. Ia mengeringkan wajahnya yang masih terdapat bercak air dengan tissu yang selalu dibawanya.
Setelahnya, kembali menyapukan bedak, merapikan alis dan maskara yang sudah luntur, terakhir memberi sapuan blush on dan lipstik dengan warna yang cetar.
“Kalau sampai Tuan Leon masih tidak tergoda, jangan-jangan ada yang salah sama dirinya,” gumamnya membayangkan Leon yang abnormal. “Tapi, tenang aja, kalau memang benar aku akan bikin Tuan Leon kembali ke jalan yang lurus!” lanjutnya.
Susan pun kembali ke ruang tamu dengan kepercayaan diri yang meningkat. Kaki jenjangnya berlenggak lenggok layaknya model yang berjalan di atas catwalk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sini kamu!” sentak Leon masih dengan tatapan tajam.
Khansa mengerucutkan bibirnya, “Aku kan cuma bales aja. Kenapa jadi aku yang salah?” gumamnya merasa terhakimi. Namun meskipun begitu ia menurut, berdiri dengan jarak beberapa meter dari Leon.
“Sini!” perintah Leon melambaikan tangannya sembari mengendikkan kepala.
Khansa melirik sekilas, lalu menggeser kakinya satu langkah lebih dekat.
“Lagi!” titah Leon karena jarak yang masih cukup jauh dari jangkauannya. Khansa mendengkus namun tetap menuruti perintah pria itu.
“Lagi!” perintahnya sampai ia bisa meraih lengan Khansa dan menariknya. Hingga tubuh Khansa tertarik dan terjatuh di pangkuan Leon.
Kedua tangan Khansa sontak berpegangan pada bahu Leon. Mata indahnya membulat dengan sempurna. Hampir saja bibir mereka saling beradu, namun hidung mancung mereka bisa menahan gerakan keduanya.
Beberapa saat kemudian, Khansa tersadar dan hendak beranjak dari duduknya. Namun tangan kekar Leon merengkuh pinggang ramping Khansa agar tetap duduk di atas pahanya.
“Lepasin!” ucap Khansa mencoba melepas lilitan tangan Leon.
“Marah?” goda Leon mengurai senyuman di bibirnya.
Khansa memberontak, masih berusaha melepaskannya. Namun ia kalah tenaga. “Enggak! Siapa juga yang marah!” elaknya dengan wajah memerah.
“Tuh, wajah merahmu sudah mengatakan kalau kamu sebenarnya marah,” ucap Leon merapatkan tubuh Khansa padanya.
Alhasil Khansa hanya membuang mukanya, karena memang saat ini ia menahan amarah dan wajahnya sudah memanas sedari tadi. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Leon. Pria itu terus menggodanya.
“Masih menyangkal?” lanjut Leon dengan suara rendahnya.
“Enggak! Ngapain juga aku marah. Nggak penting, lagian terserah kamu mau ngapain aja!” sahut Khansa dengan sewot.
“Hahaha! Sasa, kamu makin lucu aja deh kalau marah kayak gini. Lagian ngapain sih harus berperan jadi pelayan? Hm?” Leon menaikkan kedua alisnya.
Khansa bingung menjawabnya. Nggak mungkin dia mengaku kalau sedang kepo dengan Leon bersama wanita itu. “Ya ‘kan karena ....” Gadis itu tak berani menatap Leon.
__ADS_1
“Apa?” tuntut Leon menyentak tubuh Khansa semakin merapat, namun Khansa segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang memegang pundak Leon.
“Aku hanya mau bantu Paman Indra aja.” Sontak jawaban itu membuat Leon menyemburkan tawanya.
“Baiklah-baiklah, aku turuti maumu. Dasar pelayan! Sekarang buka ini dan suapi aku!” Leon memerintahkannya untuk membuka permen yang ia raih.
Khansa mendecakkan lidah. Ia memberengut kesal dengan kemesuman suaminya.
“Ayo, layani majikanmu, buka dan suapkan ke bibirku,” lanjut Leon manja menatap kedua manik mata Khansa bergantian.
Ia tak berdaya melihat Leon seperti itu. Mau tidak mau Khansa pun membukanya. Lalu menyuapkan permen itu pada bibir Leon. Suasana sedikit membaik. Tiba-tiba dengan iseng Leon menggigit jari Khansa dengan gemas.
“Aw! Kok digigit? Jariku bisa patah! Dasar buaya!” umpat Khansa berkaca-kaca menarik tangannya lalu mengibaskannya. Umpatannya dikhususkan untuk menyindir Leon, yang refleks keluar dari mulutnya.
“Sakit ya? Mana lihat, aku obati,” ujar Leon dengan tampang jahilnya.
Tangannya meraih jemari lentik Khansa. Ia perhatikan, memang bekas giginya tercetak jelas dan menimbulkan warna kemerahan. Lalu Leon mendekatkan bibirnya dan hampir menciumnya. Namun buru-buru Khansa melepaskannya.
“Sudah tidak apa-apa!” ucap Khansa menoleh. Tubuhnya terasa panas dingin. Jantungnya serasa berlomba lari di dalam sana.
“Permennya enak banget lho. Aku yakin kamu belum pernah merasakannya. Ini permen import dari luar negeri. Mau coba? Sini gantian aku yang suapi,” kata Leon meraih tengkuk Khansa dan mendekatkan bibirnya.
Tangan Leon satunya meraih cadar Khansa dan hampir menyibaknya, sedangkan Leon sudah menjulurkan permen dari mulutnya. Khansa mengerti maksud menyuapi ala Leon, Khansa membelelakkan kedua matanya lalu menepis tangan Leon dan memukul-mukul dada pria itu.
“Iiih dasar tuan muda mesum!” umpat Khansa, wajahnya semakin memerah.
Tangan Leon mengendur, ini kesempatannya untuk melepaskan diri. Susan kembali saat Khansa hampir beranjak dari paha Leon. Dan matanya menangkap ekspresi Leon yang terlihat sangat bahagia, kemudian beralih pada Khansa yang mukanya masam. Terlihat sekali walau hanya dari matanya.
“Ehm, Tuan Leon,” panggil Susan. Khansa segera menjauh dari tubuh Leon dan meraih kemocengnya. Dengan kekesalan yang membuncah membuat Khansa memukul-mukul sandaran sofa yang tak jauh dari Leon.
Debu-debu berterbangan di sekitarnya membuat hidung Leon pengar dan bersin berkali-kali.
“Hei, pelayan! Bisa tidak nggak usah pake acara ngamuk kalau lagi kerja!” sembur Leon menutup hidungnya.
Khansa menegakkan tubuhnya, menatap malas Leon lalu sedikit membungkuk, “Maaf Tuan Muda,” ucapnya tidak ikhlas.
“Chief Susan! Beristirahatlah di kamar tamu untuk makan malam nanti.” Leon beranjak dari duduknya. “Paman Indra!” seru Leon memanggil kepala pelayan.
Paman Indra datang tergopoh-gopoh. “Iya Tuan Muda,” sahutnya membungkuk.
“Antarkan dia ke kamar tamu!” ucap Leon menunjuk Susan.
“Baik, Tuan. Mari Nona,” ajak Paman Indra mengulurkan lengannya untuk menunjukkan jalan.
“Ah, baiklah Tuan. Saya permisi dulu,” ucap Susan dengan manja dan memamerkan senyum terbaiknya.
Leon berjalan santai menuju kamarnya. Senyumnya kembali terurai di bibirnya. Kepalanya menoleh pada Khansa yang mematung dan kini menatapnya dengan tajam.
“Silakan, Nona. Selamat beristirahat,” ucap Paman Indra membukakan pintu kamar tamu.
__ADS_1
“Terima kasih,” sahut Susan melenggang masuk dan menutup pintu.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Ia sangat takjub dengan keindahan setiap sudut Villa Anggrek. Bahkan kamar tamunya saja tertata sangat rapi dan mewah. Susan sangat mengaguminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, Leon dan Susan sudah bersiap untuk makan malam. Mereka tengah duduk di kursi yang melingkari meja makan. Sedangkan Khansa menyibukkan diri di dapur. Hampir semua pelayan sungkan padanya, bahkan ada yang melarangnya juga. Namun Khansa terus meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa, hanya ingin membantu.
“Nyonya, nanti tuan bisa marah,” cegah salah satu koki yang sedang meletakkan makanan di mangkuk yang tersedia.
“Bibi tenang saja, Leon tidak akan marah. Nanti aku marahin balik!” sahut Khansa terkekeh sambil menyentuh bahu wanita paruh baya itu.
Pelayan itu tersentak, ia kagum dengan sifat Khansa yang baik tanpa memberi jarak antara majikan dengan pelayan.
“Nyonya,” ucapnya terharu.
“Percayalah, Bi. Bilang aja kalau nanti Leon marah. Aku pasti akan memarahinya balik!” Khansa tertawa hingga kedua matanya menyipit. Suasana pun menjadi hangat. Mereka ikut tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di meja makan, Susan sedang mengambil sedikit nasi beserta beberapa lauk yang terhidang.
“Emm … Tuan, malam ini boleh saya boleh menginap di sini nggak? Aku nggak berani pulang, karena di rumah nggak ada orang. Keluargaku lagi ke rumah nenek di luar kota. Barusan mereka menghubungiku,” pinta Susan memelas.
“Hmm, ya,” jawab Leon singkat tanpa menatapnya.
Susan tak percaya semudah itu ia diizinkan untuk menginap di sana. Dalam hati ia pun bersorak dan bahkan ingin melompat-lompat.
“Beneran, Tuan?” ujarnya memastikan.
“Ya, tidurlah di kamar tamu!” ucap Leon dingin dengan tatapan datar.
“Terima kasih banyak, Tuan Leon!”
“PYARRR!”
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang pecah menggelegar dari luar pintu ruang makan.
Bersambung~
Ini mbak sasa versi aku. kalau nggak cocok di benak kalian, mari menghalu versi masing-masing 😂😂 anggep aja pas buka cadar depan mas le..
Mbak Dil pinjem potonya yak...
__ADS_1